Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Aku sendiri


__ADS_3

"Kakak juga tidur 'kan?" tanya adikku ingin tahu dengan nada suaranya yang lembut seakan dia membujukku ketika aku naik ke tempat tidur dan meliriknya tanpa kusadari.


"Iya, Kakak harus tidur karena Kakak sakit, Dik," balasku dengan lembut. Merapikan tempat tidur sebelum aku menidurinya.


Adikku melepaskan bonekanya dari pangkuannya dan meletakkannya di sebelah tempat tidurnya.


"Kak, Kakak masih sakit lagi, ya?" tanya adikku dengan nada suara yang rendah.


Aku spontan memutar kepala miring ke kiri melihat adikku. "Iya, tapi ini gak panas lagi kayak tadi," jawabku . Melirik adikku sambil menarik selimut.


"Baguslah Kak. Berarti aku bisa bermain lagi nanti, keluar," balas adikku dengan penuh harap. Melihat selimut yang ditariknya untuk menutupi tubuhnya.


Aku yang melayangkan lirikkan mata bercampur cahaya lampu yang setengah terang ke samping kiri melihatnya yang sudah mulai menutup kedua matanya sembari di ikuti oleh kedua tangannya yang memeluk boneka dengan erat.


Aku menatapnya dengan lekat sampai dia terlelap tidur. Boneka yang sering menjadi teman tidurnya tidak pernah terlepas sedikit pun darinya, apalagi malam ini. Boneka itu masih menemani dia yang cerewet dan cemburuan itu, apabila bila sudah mengenai kasih sayang ayah yang telah membesarkan kami.


Huh!


Napas pun aku Hela dengan kasar memutar kepala dan melihat lurus ke atas langit- langit kamar. Tubuh mungil yang lemah ini sangat mengusik pikiranku sebenarnya. Aku yang dulu sudah mulai tenang dan ceria kini mulai dihantui oleh penyakit yang kembali mendera.


Sebutir cahaya bening pun semakin sering terjatuh membasahi kedua pipi ini. Tidak ada lagi yang bisa aku harapkan sepertinya saat ini. Aku semakin pilu ketika sudah mengingat mengenai kesehatanku.


Aku seakan tidak bisa lagi untuk bermain seceria dulu, seperti anak-anak yang lainnya. Sejenak aku bersedih kembali ketika mengingat bermain dan sekolah. Aku semakin pilu bercampur khawatir, apabila aku terus menerus dilanda sakit yang berakibat fatal sampai membuat aku tidak bisa lagi bernapas dengan lega sebagai mana anak- anak seusiaku.


Air mata ini semakin deras terjatuh ketika melihat adikku yang tidak bisa lagi bermain sebebas dulu, layaknya bermain sebagai mana anak-anak pada umumnya.


Sesekali aku memutar kepala melirik dia yang masih terjaga dalam tidurnya. Dia begitu sedih dan terkekang, akibat dari tuntutan ayahku yang berusaha keras menuntutnya untuk menjagaku dan sekaligus untuk melatih adikku agar dia mempunyai rasa kasih sayang terhadap Kakaknya.


Ayahku melakukan itu hanya semata-mata untuk mengawasi adikku yang terlalu suka keluyuran di luar rumah tanpa mengenal waktu. Hal inilah yang mendesak ayahku untuk bertindak lebih tegas terhadap adikku. Lebih tegas dalam mengatur langkahnya. Namun, lagi-lagi yang paling menyedihkan di sini yang menjadi korban secara tidak langsung adalah diriku.


Ruangan kamar yang setengah redup ini membawa angan yang bercampur dengan kondisi tubuh yang mulai melemah, memutar bola mata melihat sudut tempat tidur. Di mana di tempat itu adalah mainan anak Bpku yang tersusun dengan rapi.

__ADS_1


Plak!


Aku pun reflek menepis selimut yang menutupi setengah tubuh mungil yang lemah ini dengan kasar dan terlempar begitu saja.


"Itu mainanku!" gumamku pelan sambil duduk dan menahan mata yang ingin terlelap.


Bergegas aku lekas menyeret tubuh mungil yang lemah ini serta tungkai kaki yang nyeri untuk mengambil mainan yang teronggok di atas lantai sambil berjaga agar tubuhku bisa bersahabat malam ini dengan ku.


"Aku ingin main ini," kataku pelan pada diriku sendiri. Melihat mainan yang teronggok dari atas tempat tidur.


Mainan itu begitu bersemangat sepertinya ketika aku ingin mengambilnya. Ia seolah menyerah begitu saja dihadapanku. Perlahan bercampur semangat tangan ini pun refleks mengambilnya dari bawah ke atas.


Kreeek!


Aku pun menyeretnya dengan pelan-pelan seakan berjaga dari pendengaran adikku yang sudah terlelap.


Baugh !


Mainan itu beserta dengan perlengkapannya pun aku taruh di atas tempat tidur dengan sedikit terhempas.


Suara tubuh adikku yang bergeser pun sedikit terdengar seakan menghalangi keberhasilanku yang sudah mengambil mainan.


"Ana," gumamku panik. Melihat adikku yang mulai merubah arah posisi tidurnya. Di ikuti oleh kedua tangan ini yang memegang mainan dengan erat serta berjaga dari sorot mata adikku yang tiba-tiba mungkin terbuka nanti tanpa kusadari.


"Ana, jangan bangun dulu, ya !" harapku memohon dengan gumaman yang pelan. Menyeret mainan yang sedikit banyak.


Plak!


"Oh, tidak !" jeritku pelan ketika melihat mainan itu terjatuh di antara tempat tidur dan kaki adikku.


Krak!

__ADS_1


Adikku pun menaikkan kakinya seakan dia terlihat menendang sebuah benda yang mengenai kakinya.


"Oh tidak ! Ana, jangan buka matamu," harapku dengan lembut. Melirik adikku sambil mengambil mainan yang menimpa kakinya dengan pelan-pelan.


"Kakak mau bermain," ucapku pelan. Membuka mainan dengan pelan-pelan dan sesekali memutar kepala melihat ke samping kanan sambil berjaga darinya yang masih terlelap.


Brak!


Mainan itu pun akhirnya, keluar dari tempatnya dan berserakan di atas tempat tidur. "Waaah, hihihi! Asyik aku bisa bermain ini dengan puas," gumamku berteriak senang menatapnya dengan bola mata berbinar. Di ikuti kepala memutar ke belakang melirik adikku.


Mainan itu pun mulai aku susun dengan serapi mungkin sesuai keinginanku. Aku sangat senang bercampur dengan tubuh mungil yang lemah.


"Hm, yang ini adalah Anaknya, yang ini Ayahnya dan yang ini adalah... ." Aku begitu sedih ketika hati ini ingin menyebut, ibunya.


Mainan itu pun sontak berhenti mengayun di udara, di ikuti oleh kedua mata menatapnya dengan lirih di tengah ruangan kamar yang setengah terang. Mainan anak Bp itu begitu samar kulihat bercampur dengan sedih.


Aku semakin mendekatkan anak Bp itu dihadapanku. "Ini adalah Ibunya," lanjutku dengan sedikit lirih. Melihat anak Bp yang menggantung di udara.


Aku begitu sedih ketika aku ingin menyebutkan, 'Ibu.' Sorot mata yang bercampur dengan ruangan kamar yang redup pun terus menatapnya dengan dalam.


Anak Bp itu mulai aku mainkan sesuai dengan keinginanku. Aku sangat suka bermain anak Bp karena aku bisa membuat alur cerita kehidupannya sesuai keinginanku dan aku juga bisa membuat mereka punya ibu atau pun tidak sesuai dengan keinginanku juga. Seandainya, ibunya sudah tiada aku bisa menghidupkannya kembali dan membatalkan kematiannya, itulah sebabnya kenapa aku menyukai permainan ini.


Hahaha ! Aku tertawa geli karena melihat keinginanku yang ambigu.


Dengan senang hati, aku pun melanjutkan permainanku pada malam yang mulai gelap. Aku semakin senang dan tersenyum karena permainan ini bisa aku sesuaikan dengan hatiku. Jika aku ingin merasakan keluarga yang bahagia aku bisa memainkannya layaknya sebuah keluarga yang bahagia nan ideal. Jika aku bosan dengan itu, aku akan merubahnya hidup di tengah keluarga yang penuh dengan konflik.


Itulah kenapa aku sangat menggandrungi permainan ini. Ini permainan yang membuat sedihku terobati dan merasakan aku bagaikan punya seorang ibu.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2