
"Hei, kalian mau lihat gak. Ada Anak yang terkurung, hahaha !" ejek salah satu dari mereka.
Wajah cemberut bercampur sedih pun tertoreh di ujung pagi yang menyingsing. "Dik, mereka jahat. Orang itu ngejekin kita," kataku mengadu.
"Di mana Kak?" tanya adikku langsung turun dari tempat tidur.
"Hei! Jangan ejekin kami, ya!" teriak adikku.
"Hahaha!" Mereka tertawa terbahak mendengarnya. "Kalau kalian gak ada kawan. Jangan marah-marah!" lanjut mereka tertawa sinis.
Setiap pagi kami selalu berdiri di depan jendela menatap keluar. Di dalam rumah berdua sambil menunggu ayah kami pulang dan membukakan pintu.
"Kak, jangan lihatin mereka. Nanti orang itu ngejekin kita," cetus adikku.
Sedikit banyak yang dikatakan oleh adikku ada benarnya juga. Aku pun tidak lagi melihat mereka sering-sering. "Ana, tapi suara ketawa mereka seru," kataku. Berdiri melihat ke arah mereka yang duduk di ujung halaman kami.
"Seru kenapa, Kak?" tanya adikku ingin tahu.
"Mereka bermain itu," ucapku pelan, menunjuk ke arah mereka yang bermain lompat tali.
"Kak, nanti kita bermainnya di rumah saja," sambung adikku. Berdiri di sampingku.
Permainan lompat tali sangat menarik perhatianku saat ini. Canda, tawa mereka yang tidak lelah terdengar begitu nyaring memekik telinga.
"Kak, mereka enak juga, ya. Bisa bermain di luar," ucap adikku lirih.
"Iya, kita kapan ya, Dik? Bisa bermain kayak gitu lagi?" tanyaku sambil melihat mereka yang asyik bermain ramai-ramai.
Berdiri di depan jendela itulah yang kami berdua lakukan. Tidak banyak kata yang terucap dari bibir ini ketika melihat keseruan dari mereka.
"Dik, kalau Ayah besok pergi. Kita di kasih keluar gak, ya?" tanyaku berpikir.
Suasana kediaman kami saat ini tidak begitu menyenangkan untuk dinikmati. Hari demi hari hanya rumah yang terkunci yang sering kami hadapi.
"Kakak, Ayah gak bakalan lagi ngasih kita keluar," sambut adikku lirih. "Karena Ayah takut kalau kita bermain jauh-jauh," tandasnya, melihat luar halaman yang kosong.
"Kita bilang aja sama Ayah. Kita bermainnya di sini!" cetusku, menatap adikku serius.
Raut muka adikku langsung menatapku bengong . "Bilang kayak mana, Kak?" tanya adikku berpura tidak tahu.
"Ana, kita bilang kalau kita mau menyapu halaman," cetusku dengan ide yang cemerlang.
Adikku seketika mendengarkannya sambil menunduk melihat jemari kecilnya yang menulis-nulis di jerejak jendela kayu.
"Ayah gak bakalan ngasih kita bermain, Kak. Ayah 'kan takut kalau kita hilang," balas adikku.
Sejenak wajahku langsung sepi menatap tirai kamar yang tergerai memanjang menutupi pintu kamar.
__ADS_1
"Kita coba saja, Dik. Siapa tahu Ayah mau ngasih kita keluar ?" tanyaku berpikir sambil menatap halaman yang kotor.
Rumah semakin lama semakin sunyi. Adikku yang tadi berdiri menemaniku kini menghilang tiba-tiba.
"Kak!" panggil adikku dari balik tirai.
"Iya," sahutku.
"Kakak 'kan mau bermain. Jadi, aku mau minta bantuan Kakak," kata adikku, mengintip dari balik tirai.
"Bantuan apa?" tanyaku terheran. Berdiri di depan jendela.
"Mengambil bonekaku, Kak," jawab adikku langsung.
"Apa?" tanyaku. Sontak aku langsung terkejut. Memutar kepala refleks melihat adikku. "Ana, Ayah udah bilang, "kalau mainan itu gak boleh diambil lagi," tuturku memberi tahu adikku yang mungkin lupa.
"Kak, tapi 'kan Ayah sekarang pergi," sambung adikku, menaikkan alisnya.
Keputusan adikku membuatku dilema. Napasku tidak begitu beraturan keluar. " Ana, kalau kita ambil. Berarti mainan Kakak," singgungku lirih. Berdiri tegak lurus menatap mainan milikku yang dalam masalah besar.
"Kakak takut, kalau mainan itu ditahan Ayah," dalih adikku.
Semakin berat rasanya aku ingin menjawab pertanyaan adikku. Sekujur tubuh mungil ini lemas dan ingin terjerembab ke lantai.
"Hei Liyan! Kalian kenapa berduri di situ saja?" tanya mereka dari luar.
"Hahaha! Mereka 'kan dikunci," ejek mereka menertawai puas.
"Liyan, kenapa nasibmu malang? Hahaha!" tanya salah seorang sambil tertawa.
"Iya, setiap hari dikurung," sambut mereka.
"Namanya, mereka 'kan, gak punya Ibu," ejek salah satunya lagi, melompat tali dengan tinggi.
"Makanya Liyan, jangan mau gak punya Ibu!" sahut mereka yang sangat membenci aku dan adikku.
Sungguh menyedihkan sekali terdengar. Ejekan itu begitu ringan keluar dari mulut mereka masing-masing. Raut muka yang pias ini. Ingin sekali mengigit mereka hingga *****.
"Liyan, kau dan Adikmu sangat kasihan! Kalian selalu dikurung," ucapnya.
"Sama kayak burung," lanjut mereka.
"Hahaha!" Tawa dari mereka yang semakin menjadi-jadi.
Air muka adikku sangat memerah bercampur kebencian. "Hei, tunggu ya! Nanti kalau aku udah bermain di luar. Kalian gak akan kukawan," timpal adikku.
"Siapa takut?" sambut mereka sambil melayangkan pertanyaan kepada ku.
__ADS_1
"Aku juga gak takut," balas adikku melayangkan jawaban terhadap mereka.
Perseteruan dan ejekan dari mereka dengan adikku semakin terdengar menyeruak. "Hei, Ana. Kalian itu gak punya mainan. Kalian 'kan gak punya uang," ejek mereka.
"Iya, 'kan. Hahaha!" lanjut mereka sambil tertawa .
Keributan semakin terus saja menyerang aku dan adikku. "Liyan, makanya. Jangan suka menangis! 'Kan kau jadi, dikurung di dalam rumah," ledek mereka.
"Kasihan!" teriak mereka mengejek.
Napasku sangat kencang berhembus keluar. Air mata ingin jatuh karena mendengar ejekan mereka yang sering menyerang kami.
"Liyan, kau kasihan sekali. Setiap hari dikurung, uuh!" sambung mereka mengejek.
Semua teman hari ini sudah tidak ada lagi yang mau berteman dengan ku. Segenap kesedihan bercampur kecewa menyelubungi diri ini.
"Aku gak dikurung, kok," balasku. Berdiri dan melihat mereka yang masih asyik bermain dan mengejek.
"Alah, bilang saja, kalau kau sudah bosan dikurung," sambung dari salah satu mereka yang tidak kukenal.
"Kak, orang itu jahat! Suka mengejek," lanjut adikku, menunduk sedih melihat lantai. "Makanya, aku gak mau bermain," ucap adikku.
Mungkin ini adalah yang terbaik, pikirku. Ejekan dari beberapa teman sangat mengguncang jiwa ini.
"Mungkin mereka tidak punya jajan?!" singgung salah seorang dari luar.
"Liyan, apa kalian gak punya jajan?" tanya mereka yang terlalu ingin tahu. Berjalan mendekatiku.
"Hei, emangnya kenapa? Kalau kami gak punya jajan?" tanya adikku sebal.
"Ana, jangan marah-marah! Nanti kau gak dikasih keluar, ptfff !" lanjutnya menahan tawa.
Melihat dia yang antusias ingin mengejek. Tubuh mungil ini langsung ingin menarik rambutnya sampai terlepas dari kepalanya.
"Hei, itu bukan urusanmu!" kataku. Berdiri di depan jendela.
"Siapa juga yang mau ngurus?" sesalnya melayangkan pertanyaan terhadap kami.
"Liyan, Ana. Ayah kalian gak sayang sama kalian," terang yang satu.
"Iya," balasnya.
"Masa kalian dikurung di dalam rumah. Padahal 'kan ini hari libur," terangnya. Berhenti bermain lompat tali.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...