Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Cerdiknya adikku dan mengalahku


__ADS_3

"Tapi Ayah itu 'kan punya Kakak?" kata adikku bertanya kepada ayahku. Melihat bolu cokelat yang terletak di atas meja tepatnya di dalam bungkus plastik yang telah terbuka. Sekilas aku melihat ayahku kembali dan bertanya. "Tapi kenapa Ayah membeli bolu pandannya cuma ini?" tanya adikku merengek bercampur gurat wajah penuh tanda tanya. Berdiri dan melayangkan bolu kukus pandan yang setengah lagi baru habis di udara tepat kedua sorot bola matanya.


Ayahku langsung memutarkan badannya di ikuti oleh kedua tangannya yang mengeluarkan belanjaan dari dalam plastik. "Tadi Ayah terlambat sedikit datang. Jadi, begitu Ayah sampai bolunya cuma tinggal segitu," balas ayahku dengan gurat wajah sesal.


"Cuma satu, Yah?" tanya adikku kembali seakan belum yakin.


Aku yang masih meneguk air minum terus mendengarkan obrolan mereka berdua. Air mineral yang bening begitu terasa sejuk ketika masuk melewati tenggorokan. Sementara obrolan ayah dan adikku belum juga usai.


"Eem!" balas ayahku kembali dengan gurat wajah senang sambil mengulangi pekerjaannya yang sedetik terhenti gara-gara ingin menjawab pertanyaan adikku yang tersus menerus ingin tahu.


Mereka masih senang berbicara di tengah kehausanku. Aku semakin serius mendengarkan perbincangan mereka yang entah kapan akan selesai.


"Ayah, kalau cuma segini. Pasti harganya lebih murah?!" sambungku bertanya sambil menelan air minum yang melewati tenggorokan. Melirik bolu yang terletak di dalam plastik. Memegang gelas.


"Tidak juga Nak! Itu harganya tidak terlalu murah dan tidak terlalu mahal, hehehe!" jawab ayahku. Nyengir melihat aku dan adikku yang terlalu ingin tahu.


"Ayah kalau tidak mahal. Besok belikkan lagi ya ,Yah!" suruh adikku mengiba bercampur dengan suara yang terlihat sedang mengunyah bolu sambil melihat tangannya yang sudah kosong.


Ayahku begitu sibuk terlihat dan dia sedang bergulat dengan dunia dapurnya sehingga dia terlihat seakan dengan berat hati menjawab semua pertanyaan kami.


"Besok ya Nak! Kalau Ayah dapat uang yang banyak, insyaallah Ayah akan membelikannya lagi buat kalian berdua," sambung ayahku dengan melayangkan senyuman tipis kepada kami berdua.


"Baik Ayah," balasku dengan lembut. "Sekalian es lilin juga ya, Yah, hehehe!" lanjutku nyengir.


Menaruh gelas di atas meja tepat di sebelah kompor. Sekilas aku teringat dengan permainan anak Bp yang aku tinggalkan begitu saja ketika aku tanpa sengaja melihat kotak rokok milik ayahku yang terletak di dalam keranjang sampah.


"Ayah, aku pergi, ya!" pamitku meminta izin memohon kepadanya.


"Iya Nak! Oh, iya ! Anak Ayah yang dua ini udah makan pagi?" tanya ayahku dengan lekat menatap kami.


"Udah, Yah. Aku juga udah minum obat," jawabku dengan nada suara lembut. Menatap ayahku yang lagi sibuk.

__ADS_1


"Alhamdulillah Nak." Ayahku memutar kepala dan memutar badan sedikit miring melihat kami yang tepat di sebelah belakangnya sedikit dan menghentikan tangannya yang memegang belanjaan yang di keluarkannya. "Kalau kalian udah makan. Jadi, Ayah senang mendengarnya. Berarti sebentar lagi Anak Ayah yang dua-dua ini akan cepat besar," puji ayahku dengan lembut dan penuh dengan kasih sayang mengelus kepala kami berdua.


"Iya Ayah. Kalau kami udah besar pasti Ayah senang," kataku langsung.


Hahaha! Ayahku tertawa sumringah setelah mendengar ucapanku dan melihat kami berdua yang menjadi pelepas lelahnya.


Kami berdua pun langsung dipeluknya sambil berdiri. "Nak, kalau Kalian nanti udah besar jangan bertengkar, ya!" pinta ayahku dengan lembut memohon. Menatap kami berdua dengan wajah datar dan senyuman tipis dengan kedua bola mata bercampur dengan hati yang sedih.


"Ayah aku gak akan pernah bertengkar nanti kalau udah besar," ucapku. Berdiri melihat ayahku yang cukup tinggi dariku.


"Iya Ayah. Kami berdua akan menjadi Anak Ayah yang baik," sambung adikku dengan senang.


Ayahku terlihat begitu senang setelah mendengarnya dan lelahnya yang berjam-jam dia habiskan di jalan kini seakan terobati dengan melihat kami berdua yang saling sayang menyayangi satu sama lain. Aku pun turut bahagia merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh ayahku. Ayahku yang sedari kecil mengurus kami seakan menjadi penyemangat bagi kami berdua setelah kematian ibu kami.


"Ayah sekarang aku bermain dulu," kataku pergi dari pelukan ayahku.


"Iya Ayah, aku juga. Si Dottie-ku pasti sudah bangun. Nanti ia nangis, Yah," kata adikku langsung mengikutiku dari belakang.


"Iya Ayah," teriak adikku yang berlari masuk kamar.


Krek!


Baugh!


Adikku pun langsung menabrak tubuh mungilku yang lemah. "Aaugh!" Aku pun langsung menjerit mengelus tungkai kakiku yang masih luka.


"Kenapa Kak? Sakit ,ya?" tanya adikku dengan gurat wajah acuh. Melirikku sinis.


Tubuh mungil yang sedang mengalami penurunan langsung menatap adikku dengan lirih sambil menahan rasa sakit yang belakangan ini menempel di lutut.


"Kakak terlalu dekat ke pintu. Jadi, aku gak melihatnya," kata adikku dengan raut muka seakan ikut bersedih. Menatapku yang meringis menahan rasa sakit.

__ADS_1


Luka yang sudah setengah mengering kuembus dengan lembut sambil menutup kedua mata untuk menghilangkan rasa nyeri.


"Ana, kenapa kau gak hati-hati?" tanyaku dengan penuh sesal. Menatap wajah adikku yang seakan berpura sedih.


"Mana aku tau Kak. Aku gak liat. Jadi, Kakak nyalahin aku," balas adikku dengan sedikit raut muka ingin menangis.


Aku langsung panik melihatnya seketika itu dengan berat hati aku terpaksa mengalah demi mengelakkan hukuman dari ayahku dan cercaan adikku.


"Ssttt, Ana diam! Kakak minta maaf," pintaku dengan tulus memohon kepadanya sambil menyeret kaki yang lemah ini menghampiri dan memeluknya. "Ana, jangan nangis, nanti Ayah menghukum kita berdua," bujukku dengan lemah lembut menenangkan hati adikku yang sedih.


Tubuh mungil ini lagi-lagi tetap kalah dengan air mata adikku dan suaranya yang lebih besar volumenya dariku.


"Ana, Kalau Ayah melihat kita bertengkar lagi pasti Ayah sedih," kataku pelan. Memeluk adikku yang berdiri. Di ikuti oleh pikiranku kembali mengingat nasihat ayahku tadi sewaktu kami masuk kamar untuk bermain.


Aku masih terus berusaha membujuk adikku yang sewaktu -waktu tanpa disadari bisa saja mengadu pada ayahku.


"Ana, jangan nangis, ya!" pintaku memohon pada adikku yang bercampur panik dan khawatir. Menarik adikku duduk di atas tempat tidur di ikuti oleh kedua belah tangan ini merangkulnya. "Kakak tadi lupa, kalau kau mudah nangis," gumamku pelan dengan suara samar -samar melihat lurus ke depan dengan pandangan kosong yang panik.


Huhuhu! Suara tangis adikku akhirnya pecah dalam keheningan kami berdua. Sontak aku pun kembali panik melihatnya yang tetap mengeluarkan air mata.


"Ana, Kakak mohon diamlah! Jangan menangis," bujukku semakin lembut mengelus pundak adikku.


"Huhuhu! Kakak jahat. Kakak marahi aku hanya gara-gara itu!" sambut adikku dengan nada suara tangis yang sedikit ditahannya agar tidak terdengar oleh telinga ayah kami yang lagi sibuk di dapur. Menunjuk lututku dengan kedua bibirnya.


"Iya, tapi... ." Aku menatap adikku dan diam. Aku tidak lagi melanjutkan ucapanku seterusnya. Beberapa saat aku melihat adikku dan berpikir kalau adikku begitu cerdik sehingga lagi-lagi aku harus mundur dan membuatku harus mengalah.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2