
"Jadi, seperti itu, ya," kataku. "Bagaimana kalau Kakak melemparnya kejauhan?" tanyaku. Mengerjitkan alis.
Adikku menghela. "Ya, jangan sampai kejauhan lah, Kak," Membungkukan setengah badannya dengan lemas.
"Baiklah. Akan Kakak coba, tapi ingat kalau Kakak salah lempar, kau harus bantu Kakak." Mengeluarkan suara parauku yang meriang.
"Iya, aku akan berusaha sebisaku," sahut adikku setengah keyakinan.
Aku pun, mulai melakukan sesuai instruksi adikku dengan setengah hati. Aku ayunkan bola kasti sesuai dengan arahannya.
Puk!
Trank!
Aku langsung melebarkan kedua bola mata dengan lebar,menatap dinding kamar ayahku yang terkena lemparan bola. Tubuh lemahku langsung terjerembab ke lantai tanpa sepatah kata pun, keringat dingin yang menempel di tubuh mungilku yang lemah kini terasa membasahi tubuh.
Aku langsung panik sampai meratapi dinding kamar ayahku dan memutar pikiranku, membayangkan apa yang akan di berikan ayahku padaku nanti, akibat dari kecerobohanku yang membuat dia terpaksa harus bangun dari tidurnya.
"Siapa itu?" jerit ayahku mengeluarkan suara yang keras.
Aku langsung terhenyak sambil menatap adikku yang sedikit terlihat tenang. Suara ayahku yang keras memenuhi gendang telingaku tidak membuatnya getir sedikit pun. Dia bagaikan mendengar suara nyanyian yang indah, terlihat dari wajahnya yang rileks.
Spontan aku berdiri melihat adikku yang tidak memberi reaksi apa pun. Dia masih bisa menarik sedikit bibirnya melihatku yang gugup.
"Kau ini bukannya menolong Kakak, malah melihat Kakak, seperti itu!" rintihku mengeluarkan emosi.
"Apa yang harus aku perbuat, Kak. Semuanya sudah terjadi. Aku saja kaget," balasnya. "Bolanya, lemparannya terlalu kencang." Menatapku dengan lesu.
"Huh! Kau ini, lagi-lagi berdalih. Kau memang selalu membuatku berkubang di dalam jebakanmu." Mengeluarkan wajah piasku.
Adikku langsung membeku seakan dia merasa bersalah karena telah membuatku ketakutan. Bibir yang tadi di tariknya kini dihilangkannya, ketika dia melihat amarahku yang lebih besar untuk pertama kalinya.
"Kak, maaf. Aku tidak bermaksud untuk menjebak Kakak." Menatap nanar dengan kedua bola mata yang redup.
"Maaf, hanya itu saja yang bisa kau katakan berkali-kali." Memutar pandangan. "Sekali saja kau mendengarkan apa yang Kakak sampaikan padamu." Mendelik dengan penuh penekanan.
Hu hu hu!
Adikku tersengal dengan tangisnya yang pecah, seakan dia berpikir kalau aku akan menelannya. Aku lalu memutar kepala sambil memijat keningku yang pusing, sesekali aku mendengus dengan kesal, membuang semua yang menggumpal di hatiku.
"Sudah, Dek. Jangan mena...". Menghentikan ucapanku.
"Liyan, suara apa itu tadi?" tanya ayah meninggi dari balik tirai.
Aku langsung membuka suara dan menghadap tirai. "Ti-tidak ada apa-apa, Ayah," jawabku sedikit terbata dengan wajah panik.
"Kalau tida ada apa-apa! Lalu suara apa yang Ayah dengar tadi itu, ha?" tanya ayahku menyelidik.
"Itu suara bola Ayah," sahut adikku.
"Jadi, kalian bermain bola di kamar, iya?!" pekik Ayahku bertanya pada kami.
__ADS_1
"Iya, Ayah," jawabku.
"Siapa tadi yang melemparkannya ke dinding?" tanya ayahku semakin marah. "Ha?" Berhenti sejenak. "Kalian 'kan tahu, kalau Ayah lagi istirahat." Suara ayahku semakin meninggi.
Aku begitu syok mendengarnya, tubuhku langsung lemah dan lemas, sekarang aku hanya bisa menelan kemarahan ayahku dan menganggapnya sebagai hidangan penutup.
"Kami Ayah," jawab adikku dengan berhati-hati.
"Kami tidak sengaja, Ayah." Merasa bersalah.
"Jadi, kalian berdua yang melemparnya, iya?" tanya ayahku kembali.
"I-iy... ." Menutup mulut dan menoleh ke arahku.
"Tidak Ayah," jawabku dengan kejujuran. "Yang melemparnya Liyan, bukan Ana." Aku menjawabnya dengan memberi kebenaran.
"Kau ini. Selalu membuat Ayah kesal dan emosi. "Kau itu selalu membuat ulah Liyan," rintih ayahku dengan suara yang sedikit jauh.
"Kak, kenapa Kakak memotong pembicaraanku?" tanya adikku mendelik. "Kalau Kakak di hukum, aku pasti kena?!" Menghembuskan napas kekesalan.
Diriku yang malang hanya bisa meratapi nasibku yang menyedihkan. Kakiku yang lemah tetap aku paksa untuk berdiri, sebisa mungkin, inilah hari demi hari yang aku lalui untuk berlatih, agar aku tidak terlihat lemah dalam keadaan yang menjepit diriku sewaktu-waktu.
Ayahku yang berdiri di balik tirai, masih mengoceh dengan puas. Kata-kata sindiran yang terus terngiang di telinga hingga menyesakan dada.
Adikku merututi kebingungannya dengan kerutan keningnya yang menjebak diriku semakin dalam.
Ruangan kamar yang bisu sekarang terdengar bagaikan, seperti tempat ring tinju yang ramai dengan teriakan, hidup dan mati.
"Ini semua gara-gara mu," bisikku dengan penuh penekanan.
"Ya, iya lah! Jadi, gara-gara siapa? Kalau bukan gara -gara mu." cecarku dengan mendelik.
"Liyan, Ana. Kenapa kalian di situ masih berteriak?" tanya ayahku dengan pekikan yang keras.
"Ayah kami tidak lagi berteriak. Kami cuman bercerita saja," sahut adikku sambil menyusun batu, menutupi kebenaran.
"Oh!" Ayahku menurunkan volume suaranya. "Dimana Kakak mu?" tanya ayahku.
"Iya Ayah." Aku segera menjawab pertanyaan ayahku.
"Kalian tidak bertengkar 'kan?" tanya ayahku kembali ingin tahu.
"Tidak Ayah," jawabku .
"Ya sudah , Ayah mau pergi dulu." Bayangan segera menjauh dari balik tirai.
"Kak. Ayah mau pergi kemana?" Adikku segera menatapku dengan penuh tanda tanya.
"Kakak tidak tahu," jawabku sedikit acuh. "Kalau kau mau tahu, tanya saja sana!" usulku.
"Ya, Kakak benar juga." Adikku menyibak tirai kamar ketika mendengarkan usul dariku.
__ADS_1
Dia pun keluar sambil memutar kepala dengan acuh, menatap langkah ayahku yang sedikit gontai.
"Ayah emang mau kemana?" tanya adikku mengejar ayahku.
"Ayah mau pergi mencari nafkah, Nak," jawab ayahku dengan lembut.
Adikku dan ayahku masih terus berbincang, sementara aku masih di dalam kamar dengan kesal sampai membuat seluruh tubuhku terasa panas bagaikan terbakar oleh api. Amarah yang menjulang tinggi kini menguasai diriku. Suara ayah dan adikku masih juga terdengar meskipun, jaraknya cukup jauh dariku.
"Kenapa Ayah cepat sekali pergi?" tanya adikku.
"Kalian tidak bisa membuat Ayah beristirahat dengan tenang," tandas ayahku.
"Maaf 'kan kami Ayah," pinta adikku dengan lirih.
"Lain kali, kalau kalian seperti itu akan Ayah hukum," kata ayahku dengan tegas. "Apa kakak mu sudah sembuh?" Ayahku kembali ingin tahu.
"Ana tidak tahu, Ayah," jawab adikku.
"Kenapa kau tidak tahu? Seharusnya kau tahu, Kakak mu itu sakit atau tidak." Ayahku memberikan peringatan.
"Maaf Ayah." Adikku memohon maaf kembali kepada ayahku.
"Jangan memohon maaf pada Ayah. Minta maaf lah pada Kakak mu. Ayah tahu, kalau kau selalu membuat Kakak mu tertindas." kata ayahku dengan suara datar.
"Ayah sebenarnya, Ana tidak seperti itu. Ana hanya ingin melihat Kakak tertawa," ujar adikku menjelaskan.
"Kau itu, selalu melakukan pembelaan untuk dirimu sendiri dengan kesedihan. "Ana, Kakak mu itu lagi sakit, ingat! Jadi, permintaan Ayah, jangan terlalu menyuruh Kakak mu untuk mengikuti kehendakmu."
Adikku suaranya seketika menghilang, tanpa sepatah kata pun dan tidak terdengar memenuhi ruangan yang kosong kembali, hanya suara ayahku yang terdengar sesekali menggema memecah kesunyian.
"Kau seharusnya menjaga kakak mu dengan baik. Kalian itu cuman berdua. Jadi, kalian harus saling memberi kasih sayang satu sama lain."
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
Cherry Jovanka Emilia bersahabat bernama Neva Aurelia Hadinata dan Steve Roger Timothy.
Kala itu Cherry tak mampu membayar uang Sekolah di karenakan Ibunya sakit-sakitan. Ayah Cherry sendiri sudah meninggal dunia sejak dirinya berusia 7 Tahun.
Neva yang iba kepadanya, meminta tolong kepada Kakaknya bernama Lucas Zander Hadinata seorang CEO di perusahaan Axosha Jewelry untuk menolong.
__ADS_1
Lucas dan Cherry pun bertemu. Lelaki muda mapan itu tak menyangka bahwa gadis ini akan menjungkir balikkan kehidupannya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?