Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Menelan ludah


__ADS_3

"Iya, Nak, Ibu tau. Ibu juga sebenarnya suka," sambung ibunya yang menjauh dari kami.


"Ya, sudah suruh saja orang itu pulang. Ngapain di sini!" cibir anaknya.


Sejenak ibunya diam dan tidak bicara apapun. Dia seakan terjebak oleh dirinya sendiri. Duduk dan menatap kami, itulah yang dia lakukan.


Kami berdua yang masih berdiri sedikit pun tidak berani menaikkan kepala melihat mereka. Kami hanya diam termangu sambil menghitung jam ayahku pulang.


"Kak, orang ini gak suka sama kita," bisik adikku pelan. Berdiri seperti orang yang takut.


"Ssttt!" Aku menyuruh adikku diam. "Ana, ini 'kan rumah kerabat Ayah yang tempat penitipan becak," ucapku.


"Iya, Ayah kalau menitipkan becaknya memang di sini," sambut adikku. "Orang ini jahat semua, Kak," papar adikku. Bergerak pelan.


Kepalaku langsung menunduk melihat ke bawah dan sesekali aku angkat melihat ke arah jendela. Di mana tempat ayahku sering menyimpan becak dayungnya.


"Kak, aku capek berdiri," rintih adikku, menggerakkan tubuh kecilnya.


Setelah mendengarnya aku sangat bingung harus melakukan apa. Tubuh mungilku yang lemah pun terasa sama seperti yang dialami adikku, lelah dan ingin duduk.


"Liyan, Ana. Kalau mau duduk. Duduk saja di situ!" serunya. Berdiri membelakangi kami.


Aku dan adikku langsung bertemu tatap. Segelintir kesedihan terlihat di kedua bola mata kami . "Ana, duduklah!" suruhku, melirik lantai sebagai isyarat.


"Kita duduk sama-sama, Kak," ajak adikku dengan wajah memohon.


Dengan berat hati terpaksa aku duduk di atas lantai bersama adikku. "Ana, kita duduk di sini aja," kataku, menunduk.


"Kak, Ayah lama pulang, gak?" tanya adikku yang merasa tidak nyaman.


Kami yang duduk berdua. "Ana, mungkin Ayah bentar lagi pulang," sambungku. Duduk menenangkan hati.


Rumah yang sangat asing ini sangat menyekap diri yang malang. Sesabar mungkin aku membujuk adikku agar dia bisa bertahan demi waktu yang cukup lama.


"Dik, Ayah bentar lagi pulang, kok," ucapku kembali melihat adikku yang gelisah dan menatap terus keluar.


Duduk di depan pintu itu sangat menenangkan diri. Melihat orang yang melewati depan rumah membuat aku tidak begitu resah. Malah semakin membuat aku bersemangat.


"Dik, sebentar lagi Ayah balik, kok. Jangan takut!" harapku sangat cemas.


Wajah adikku sangat cemberut dan bercampur gelisah ingin lekas kembali ke rumah.

__ADS_1


"Kakak, tau jalan pulang ke rumah?" tanya adikku. Duduk dan berputar menatapku.


Shock sekali aku mendengarnya. Rengekan adikku ingin pulang tiada henti. "Ana, sebentar lagi Ayah pulang, kok," kataku dengan lembut.


"Nak, ini ada makanan!" kata ibunya, mengayunkan sebungkus jajan.


Aku dan adikku refleks memutar kepala melihat ke arah mereka. "Ma, ini makanannya untuk ku," katanya, mengambil jajan.


"Iya, itu untuk mu," balas sang ibu yang melayangkan sorot mata tajam ketika melirik kami.


"Iya, Ma," jawabnya langsung.


Brak!


Jajan pun di buka olehnya dan terlihat oleh kami berdua. Kepingin itulah yang kurasakan beserta adikku.


"Kak, Ayah gak ada ngasih kita jajan?" tanya adikku, melayangkan kedua tatapan yang menyedihkan.


Aku menunduk sedih sambil menelan ludah. "Gak ada, Dik," jawabku.


Raut muka adikku sebegitu sedihnya mendengar jawaban dariku. "Kak, tapi aku pengen jajan. Aku lapar, Kak," bisik adikku pelan, melihat keluar.


"Ma, jajannya enak. Kenapa cuma segini, Ma?" tanyanya menyindir dengan sengaja.


"Ma, kalau habis kita beli lagi. Jangan kasih sama orang itu!" ucapnya, melihat sinis ke arah kami.


Sedih bercampur aduk itulah yang terngiang di dalam diri saat ini. Sepatah kata sangat menyayat dengan tajam mengiris dada. Tidak banyak harap yang kuinginkan selain segera pulang ke rumah.


"Ma, aku tadi beli jajan," ungkap anaknya. Berjalan mengambil sebungkus makanan dari dalam lemari kecil. "Ini, Ma," katanya, menyerahkan jajan di tangan ibunya.


"Nak, jajanmu habiskan saja semua. Nanti kau kelaparan," kata sang ibu yang sangat membenci kami.


Air mata berusaha aku tahan agar tidak jatuh dan membuat adikku ikut sedih. Duduk di depan pintu tanpa sambutan hangat setelah kepergian ayahku sangat memukul diri teronggok di sudut pintu.


"Mama tenang saja. Jajannya tinggal sedikit lagi," sambungnya sambil menjilat tangannya.


"Nah, 'kan kalau begitu kamu pintar," puji sang ibu.


"Namanya juga Anak Mama, ya harus pintar," sambutnya dengan senyum picik.


Plastik jajan yang terletak di atas lantai kutatap sambil menelan ludah. "Dik, siapa tau? Dia ngasih jajannya sama kita,"lanjutku dengan segala keyakinan yang polos.

__ADS_1


Mendengarnya adikku hanya diam saja. Sedikit dia tidak mau menjawab, apalagi melihat ke arah bungkus jajan yang terletak.


"Nak, kalau setiap hari kau jajan, pasti kenyang juga," ucap ibunya seolah mengejek kami.


"Ya, iyalah, Ma. Namanya, juga jajan. Mama 'kan tau kalau aku suka jajan," terangnya, melihat jajan yang sedang dia makan.


"Kak, kalau Ayah ngasih jajan. Pasti aku udah beli itu!" ungkap adikku, menunjuk warung yang terlihat di seberang jalan.


Tekstur jajan yang aku lihat begitu sangat menyelerakan. Namun, apa boleh buat aku hanya bisa menelan ludah sebagai penawar kepingin.


"Dik, nanti kalau Ayah udah pulang, kita beli jajan," paparku, mengisi hati adikku yang kosong.


Raut mata yang sendu bercampur harap menunduk sekilas. "Kak, kenapa Ayah gak ngasih kita jajan?" tanya adikku kembali dengan rengekkannya.


Kebingungan kurasakan sangat menarik kedua mata berpaling darinya seketika. "Kakak juga lupa bawa uang," cetusku, menatap jajan yang tergantung di warung sebelah jalan.


Pintu rumah yang kami duduki langsung memampangkan banyak jajan yang tergantung di warung depan.


"Kakak, kepingin beli itu!" ucapku, menunjuk permen long bear dengan kedua mata.


Melihatku adikku langsung diam bersama wajah penuh harapnya. "Kak, makanya kita pulang saja. Biar kita bisa jajan di rumah," saran adikku mengangguk sambil menarik lenganku. "Yuk, Kak. Kita pulang," ajaknya dengan enteng.


Hal ini sungguh sedih bagiku. Ingin bergerak tapi aku tidak berdaya. "Dik, sebentar! Kita tunggu Ayah pulang dulu," bujukku lemah lembut sambil menahan adikku yang ingin berdiri.


"Tapi, Ayah lama kali, Kak," rengek adikku.


Dengan sabar aku terus merayu adikku untuk tetap duduk. "Ayah, 'kan lagi cari uang yang banyak buat beli es," tuturku.


Muka sinis anak dan ibu itu yang bercampur kebencian tidak luput dari menatap kami. Mereka berdua sangat geram terlihat. Sekilas pandanganku bertemu pandang dengan mereka.


"Ma, emang mereka itu siapa?" tanya anaknya yang ingin tahu.


"Itu Anak kerabat Mama," jawab sang ibu dengan berat hati.


"Iiss, kenapa Mama punya kerabat kayak gitu?" keluhnya bertanya. "Ma, mendingan yang kayak semalam itu. Uangnya banyak. Kalau itu kerabatnya Mama. Aku suka," tandasnya.


Bungkus jajan yang kosong terbang terbawa angin dan teronggok tepat dihadapan kami. Air ludah yang kutelan karena kepingin menjadikan aku ingin mengambil bungkusnya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2