Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Ke khawatiran Ayah


__ADS_3

"Kalau saja, Kakak tidak terlambat pulang. Mungkin, tidak ada kejadian seperti ini?!" sindir adikku menyinggung diriku kembali. "Kejadian di mana, aku dimarahi sewaktu pulang sekolah," Menatapku dengan sendu.


Aku langsung memutar wajahku menatap adikku. "Dek, Kakak minta maaf. Sebenarnya, Kakak tadi di sekolah, memang ada jam tambahan membaca puisi dan sewaktu pulang Widia, juga ke hausan," Menatap udara kosong dengan mengingat kejadian.


"Emang, baca puisi untuk apa, Kak?" tanya adikku ingin tahu.


"Tidak untuk apa-apa. Cuman latihan saja! Masuk ke daftar nilai," jawabku.


"Lalu, kenapa sampai jam pulangnya lama?" tanya adikku kembali.


"Tadi, Bu Dona ada rapat di kantor. Jadi, dia agak telat masuk kelas," jawabku kembali.


"Pantesan Kak. Tadi, semua murid banyak di luar. Kami pun, tadi bermainnya cukup lama," balasnya.


Berdiri dengan tubuh yang lemah. "Sewaktu kau pulang sekolah. Apa Ayah sudah di rumah?" tanyaku.


"Iya. Aku saja bingung, Kak. Kenapa Ayah cepat sekali pulang?" keluhnya dengan penasaran. Mengerjitkan bibir.


Mendengar keluhan adikku. Aku diam dan mengangguk pelan.


"Lalu. Apa Ibu di marahi oleh Ayah, juga?" tanyaku menyelidik.


"Iya. Dia pun, di marahi juga oleh Ayah, Kak," jawab adikku.


"Ayah memang keterlaluan, Dek," ujarku.


"Keterlaluan bagaimana, Kak?" Memutar kepala menatapku. "Ayah itu tidak keterlaluan, Kak. Dia sayang pada Kakak. Makanya, dia selalu mengkhawatirkan Kakak. Sampai-sampai harus memarahi siapa pun." rintihnya pelan.


"Kalau Ayah sayang pada Kakak. Dia tidak mungkin memarahi kalian?!" Gerutuku dengan kesal. "Sampai-sampai, Kakak pulang sekolah harus mendapat amukan dari kalian berdua."


"Kak, kalau begitu mana aku tahu?! Kenapa Kakak tidak bertanya pada Ayah saja?" usul adikku. "Selagi Ayah di sini!" Menatapku dengan lekat.


Aku terperanjat sedikit, mendengar usulan dari adikku yang manja.


"Kau benar, Dek. Kenapa Kakak tidak bertanya pada Ayah saja?" Melihat pintu dapur tempat Ayahku tadi keluar.


"Iya," jawab adikku mengangguk membenarkan.


Seketika, adikku diam dan menatapku dengan wajah menantang. Apakah aku berani atau tidak? Dia terus menatap lurus sambil mengangguk pelan.


Aku begitu jengah dan sebal. Melihatnya yang menantangku dengan lembut.


"Gimana? Kakak berani, bertanya pada Ayah?!" tantang adikku menaikan alis. Tersimpul manis.


"Akan Kakak coba?!" Menatap wajahnya yang menantang.


"Hm! Akan aku lihat, kalau Kakak berani," Tersenyum manis. Melempar pandangan dengan wajah tawa meledek. "Aku akan lihat. Apakah Kakak berani..." Menekan ucapannya. "...atau Kakak akan terdiam..., seperti putri malu," Menggoyang tubuh pelan sambil menyilang kedua tangan ke belakang dengan wajah senyum yang menantang. Menaikan alis.


Helaan napasku begitu kasar, melihat adikku yang menantang dengan ancaman yang manis. Ingin rasanya, aku meremas semuanya menjadi abu, agar tidak ada lagi yang menyelinap untuk masuk.


"Kenapa? Kau Sepertinya tersenyum . Seolah-olah kau tahu yang akan terjadi?!" Menatap adikku sekilas.


"Tidak Kakak. Aku tidak tahu. Apa yang akan terjadi? Karena aku bukan seorang penyihir," dalihnya dengan wajah menahan tawa mengejekku. "Tapi, Ayah kenapa lama sekali, ya? Hm!" Berpikir sambil menaruh telunjuk di bibirnya dengan penuh tanda tanya.


Refleks, aku membuang wajah dengan sembarang, menghilangkan kekesalan yang menimpa.


Sementara, adikku yang berdiri semakin puas melihatku yang resah dan gelisah. Wajahnya kian, semakin merona melihatku yang kalut.


"Kalau Ayah tiba. Apa yang ingin Kakak bilang? Ayo, atur sekarang, Kak! Jangan sampai Kakak berpikir di depan Ayah," ledeknya.


"Kau jangan meledek Kakak, ya," sergahku dengan frustasi.


"Meledek sedikit 'kan, engga apa-apa, Kak?! Untuk menguji nyali Kakak. Berani atau tidak?!" ujar adikku dengan menarik bibir tersimpul manis.


"Nanti, akan Kakak pikirkan. Kau pergi lah," desakku sedikit kesal. Mendorong tubuh adikku.


"Ya, sudah! Kalau begitu, aku mengambil mainanku dulu!" Menatap dengan wajah tertawa. "Daaa, Kakak! Selamat berjuang!" Beranjak memutar badan sambil melambaikan tangan.


Seketika aku semakin kesal dengan sekal-kesalnya. Hembusan napas kasar pun, keluar dengan spontan. Melihat adikku yang begitu bahagia, menari-nari di atas deritaku.


Adikku kemudian, berjalan lurus menghampiri lemari pakaian yang berdiri tepat di sebelah meja makan ayahku yang letaknya, tepat di ruang tamu kami yang kecil. Dia terlihat mengambil beberapa mainan yang tersusun rapi di dalam box kecil lemari pakaian kami.


"Dek, kau serius?" tanyaku. Mendelik.


"Serius apa, Kak?" tanya dengan bingung.


"Mau bermain?" lanjutku.


"Ya, iya, Kak! Aku mau bermain. Aku bosan di sini," rengek adikku.


"Kau mau bermain apa? Itu yang kau bawa mainan, apa? Di dalam plastik?!" Menatap adikku dengan menyelidik.


"Gambar-gambaran, Kak!" cetus adikku dengan penuh penekanan. Berjalan.


"Jadi, nanti kalau Ayah bertanya tentangmu, bagaimana?" tanyaku dengan kepanikan.

__ADS_1


"Kakak bilang saja, aku bermain," sarannya dengan santai.


"Kalau Ayah marah, bagaimana?" teriakku dengan keras.


"Aku akan bicara nanti sama Ayah! Kakak tenang saja!" jeritnya dari jauh. Menghilang dari balik pintu.


Tubuh lemahku pun, kembali lemas. Menunduk yang tidak tahu, entah untuk siapa dan untuk apa? Lirikan kedua bola mataku masih saja tertuju pada jalan yang di lalui adikku tadi, dengan jengah aku harus menghadapi tingkah adikku lagi.


Suara batuk kecil pun, terdengar sayup di telingaku dengan jelas.


"Ayah," gumamku pelan. Berdiri mematung dengan cemas.


Langkah kaki yang sedikit keras pun, terdengar menginjak lantai dapur. Injakan yang cukup membuat aku tersentak dan menatap dengan gelagapan.


"Liyan! Ngapain kau berdiri di situ?!" tanya ayahku dengan suara dingin. Sorot matanya yang tajam menatap tanpa berkedip sedikit pun.


Aku begitu syok, mendengar panggilannya yang menggelegar memenuhi setengah ruangan. Dia begitu antusias menatapku dengan menyimpan sejuta kekesalan.


"Liyan!" Panggil ayahku dengan sorot mata yang tajam. Menunggu jawaban dariku.


"Ti-tidak ada apa-apa, Ayah!" jawabku dengan sedikit terbata. Meremas jemari dengan gemetar.


"Lalu, ngapain kau berdiri di situ?!" tanya ayahku dengan menyelidik.


Spontan aku menunduk dan tanpa sengaja, aku mundur ke belakang sedikit untuk menghindari pekikan ayahku yang menggema.


Meliriknya dari ekor mata yang begitu tajam mendelik.


"Meminum obat Ayah," jawabku singkat.


"Meminum obat?!" Menatapku dengan penuh tanda tanya. "Jadi, kau baru meminum obatmu!" bentak ayahku. "Huh! Liyan. Kenapa kau bisa seceroboh itu?" lanjutnya dengan kesal. "Jam segini, kau baru minum obat! Kau mau sembuh atau tidak?!" pekiknya dengan sedikit meninggi.


Ayahku yang masih berdiri, semakin menggigit gerahamnya dengan kuat. Berkali-kali dia menghembuskan napas menahan semua amarah.


"Sekarang, Ayah tanya, kenapa kau bisa sampai terlambat minum obat?!" Menatapku dengan tajam. Mengulangi kembali pertanyaannya.


Aku yang gemetar semakin tersudut membeku seorang diri.


"Liyan, baru selesai makan, Ayah!" jawabku dengan sedikit gugup.


"Baru selesai makan?! Kenapa lama sekali, kau baru makan? Apa tidak ada yang mengambilkan nasimu?" pekik ayahku dengan sedikit meninggi.


"A-ada Ayah," Dengan gugup.


"Lalu! Kenapa kau sampai terlambat makan?!" tanya ayahku yang berpura-pura tidak tahu.


"Ha! Kenapa kau diam saja?" Menatapku yang membisu. Jawab pertanyaan Ayah!" teriaknya.


Aku yang gugup dan gelagapan tiba-tiba, mendengar sedikit siraman penyejuk dari arah yang tidak aku ketahui, ketika aku dalam keadaan tertunduk. Dia pun datang, seperti malaikat penyelamat untukku.


"Kau ini! Anakmu baru pulang dari sekolah, sudah kau marah-marahi tanpa ke jelasan," sanggah ibu sambungku.


"Sudah berapa kali aku bilang. Jangan pernah ikut campur, kalau aku memarahi Anakku!" bentak ayahku dengan kekesalan.


"Aku tidak ikut campur. Aku hanya kasihan melihat Anakmu. Baru pulang sekolah. Kau sudah memarahinya," Menatapku dengan senyum tipis untuk melihat reaksi ayahku terhadapku kerena telat pulang sekolah.


Aku yang malang, hanya bisa diam dan merintih pelan di dalam hati. Menyusun semua ke pedihan yang mengiris dengan apik. Mengatur semua dengan lihai agar terjadi senyum manis di akhir, sebagai penghibur diriku sendiri.


Untaian kata-kata pedas semakin meremas hatiku dengan lembut. Ia begitu damai masuk tanpa celah kekurangan sedikit pun.


Menari-nari dengan gembira bersama air mata yang menganak di pelupuk mata. Menghabiskan waktu yang tersisa dengan segenap kepalan tangan yang tidak berarti.


Menatap diri yang mematung tidak berdaya. Berada ditengah ke ambiguan yang bisu. Mengisi lelah yang semakin menggunung menimbun. Membutakan jalan untuk keluar dari cengkeraman yang begitu menggulung batinku, dengan irama pekikan yang mengaum yang mencabik semua belas kasih sayang.


Dengusan kekesalan begitu terdengar, bagaikan dentuman peledak yang memenuhi awan dengan kegelapan.


Sementara, ibu sambungku masih ingin bermain-main dengan ke puasannya, sambil menyunggingkan senyum smrik dari kejauhan menatapku. Dia terlihat seperti orang yang mendapat mainan baru.


"Aku tidak tega saja melihatnya. Dia begitu lelah pulang, berjalan di panas hari. Apa kau tidak kasihan dengannya?" Menatap Ayahku sekilas. "Aku saja kasihan dengannya," lanjutnya. "Bagaimana kalau Anakmu makin sakit?" Menatapku.


Ayahku hanya diam mendengarnya sambil menatapku dengan lekat. Berjalan selangkah mendekati pintu kamarnya.


"Apa benar, kau baru pulang sekolah?" tanya ayahku menyelidik.


Pertanyaan ayahku bagaikan petir yang menyambarku di siang bolong. Menutup semua pikiran dengan sambarannya yang mematikan dan membuka mulut berkata dengan jujur.


"I-iya, Ayah," jawabku terbata dengan segala ketakutan.


Ayahku pun, mengurungkan niatnya untuk istirahat. Seketika, dia menyeret kakinya berjalan duduk di kursi. Sementara, ibu sambungku terlihat sedikit bahagia melihatku yang gugup.


Aku begitu terkepung dengan ombak yang akan menggulung diriku hingga hanyut. Hanya tubuh lemah yang gugup yang menjadi sandaran terkuat untukku saat ini.


Ayahku semakin lama semakin mendelik menatapku. Dia terus melihatku dengan kerutan kening yang ketat.


"Liyan! Ayah ingin bertanya. Kenapa kau terlambat pulang? Ayah ingin mendengar penjelasan dari mulutmu sendiri!" pinta ayahku dengan jelas.

__ADS_1


"Tadi, kami di kelas ada jam tambahan, Ayah," jawabku dengan kejujuran penuh.


"Benar?" tanya ayahku dengan singkat. Menatapku dengan curiga.


"Iya, Ayah," jawabku.


Sementara ibu sambungku diam dan mendengarkan semuanya. Sesekali dia mendehem, seperti memberi setengah kebenaran sehingga mengusik ayahku dan menoleh ke arahnya.


"Liyan! Kalau hanya jam tambahan saja yang membuatmu terlambat pulang. Kenapa baru minum obat sekarang?" tanya ayahku menutupi yang dia ketahui.


Deg! Seketika aku menelan ludah ke panikan.


Memutar kedua bola mata, seakan batinku mengatakan, kalau ayahku telah menanyakannya ke sekolah. Bibir pucatku pun seketika bergetar.


"Sudahlah! Jangan terus interogasi Putrimu! Aku takut, kalau dia nanti bisa menangis," potong ibu sambungku.


"Ayah tadi, datang ke sekolahanmu! Kau katanya, sudah lama pulang. Sebelum kau pulang sampai ke rumah. Ayah sudah tiba di sekolahanmu!" Menatapku dengan dengan penuh tanda tanya.


"Ayah maaf. Tadi Liyan, menemani Widia membeli minum," jawabku. Menunduk lemas.


"Ooh! Jadi, kau lebih penting menemani temanmu! Dari pada ke khawatiran Ayahmu!" pekik ayahku mendengar jawaban dariku. Mendelik.


Aku yang bertemu pandang dengan ayahku semakin bingung, hingga menimbulkan ke gemetaran dalam tubuh lemahku.


"Bukan begitu Ayah!" Melakukan pembelaan pada diriku sendiri. Berdiri seperti patung.


"Lalu, bagaimana kalau bukan begitu?" tanya ayahku kembali ingin tahu . "Apa kau punya alasan yang lain, lagi?" Menatapku dengan tajam.


"Tidak Ayah," jawabku dengan getir.


Aku semakin depresi, hingga kebisuan pun, sesekali menjadi teman pelipur laraku. Setidaknya, aku sedikit menghindari amukan ayahku.


"Liyan! Lihat Ayah!" Menghela napas. "Lalu! Apa alasanmu? Ayah sudah berapa kali mengatakan padamu, Nak! Setelah pulang sekolah, langsung pulang ke rumah! Bagaimana, kalau ada di luar sana orang jahat yang mau menculikmu!" pekik ayahku. "Mau kemana Ayah akan mencarimu?!" Menatapku dengan sendu. "Di luar sana banyak orang jahat, Nak! Culik Anak berkeliaran di mana-mana! Setiap Ayah di luar. Ayah selalu mendengar Anak yang hilang." lanjut ayahku. "Ayah begitu khawatir dengan mu. Ayah pikir! Anak yang hilang itu adalah kau, Nak!" rintih ayahku sedikit mendalam.


"Sudahlah! Kau jangan terlalu posesif terhadap Anakmu," cetus ibu sambungku. Menyela pembicaraan ayahku dengan ku.


Sontak, ayahku memutar kepala menatapnya dan melebarkan kedua bola mata yang tajam.


"Sudah kubilang berapa kali. Jangan pernah ikut campur antara aku sama Anakku!" bentak ayahku. "Ini urusanku sama Anakku. Sudah berapa kali aku peringatkan. Biarkan, aku mendidik Anakku dengan caraku sendiri. Jangan pernah kau ikut campur! Aku yang tahu tentang Anakku dan bagaimana Anakku?! Kau cukup mendengar dan mengikuti apa yang aku perintahkan?!" serang ayahku semakin keras.


"Huh! Kau selalu ribut, kalau sudah mengenai Anakmu yang satu, itu!" gerutu ibu sambungku. Mendengus kesal.


"Kalau kau tidak suka. Silahkan kau pergi dari situ! Tidak ada yang menyuruhmu untuk berlama-lama, berdiri di situ!" pekik ayahku.


Huh! Ibu sambungku pun, mendengus dan pergi menghilang seketika. Memutar badan sambil menatapku dengan kekesalan.


Perlahan ayahku kembali memutar kepala menatapku.


"Siapa yang menyuruh singgah membeli minum?" tanya ayahku tanpa henti.


"Widia, kehausan Ayah, di tengah jalan," jawabku dengan kejujuran.


Seketika ayahku jengah dan menghela napas dengan dalam. Dia yang khawatir akan keselamatan anaknya di luar sana, semakin gelisah. Sementara anaknya, sama sekali tidak menghiraukannya.


"Liyan, harus bagaimana lagi Ayah mengingatkanmu, Nak?" Memijat keningnya. "Ayah semakin bingung melihatmu," rintihnya. "Semakin Ayah melarangmu, kau semakin berulah. Kalau begini saja ulahmu. Mulai besok, kau tidak usah lagi sekolah !" cetus ayahku. Memutar sorot mata keluar.


Sontak aku terperanjat mengangkat kepala. Meremas jemari sambil memutar bibir pucatku yang keluh.


"Ayah, maafkan Liyan," ucapku memohon dengan lirih.


Ayahku hanya diam sambil berpikir mendengarnya. Dia terus menatap dengan pandangan yang seperti memikirkan sesuatu.


"Ayah! Liyan janji. Liyan tidak akan membuat ulah lagi," Menatap ayahku yang memalingkan wajahnya dariku.


Kini aku pun, semakin khawatir dengan jalan pikiran ayahku. Dia begitu suka mengatakan, kata-kata itu yang memaksaku semakin berkutat mencernanya sendiri.


.


.


.


Terimakasih teman-teman yang telah memberikan like, komentar dan favoritnya.


🥰🤗🙏


Bersambung...


Sambil menunggu Author untuk Update!


Yuk! Baca juga novel dari teman aku Author yang lain!


Pasti engga nyesel deh, bacanya! 🥰❤️


__ADS_1


Jihan mengantarkan ibu mertuanya untuk melayat ke rumah teman pengajiannya. Namun ketika berada di rumah duka ada seorang anak kecil memanggilnya ‘Mamah’.


Abrisam seorang suami yang sangat mencintai istrinya. Namun takdir menentukan lain, istri yang sangat dicintainya meninggal dunia. Meninggalkannya dan anak mereka yang bernama Alika.


__ADS_2