Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Menerima raport


__ADS_3

Setelah semua terjadi di dalam rumah. Sekarang saatnya aku dan adikku menerima hasil belajar kami setelah satu tahun menginjak bangku sekolah yang kami duduki saat ini.


"Liyan, setelah pulang sekolah nanti langsung pulang !" pinta ayahku dengan segenap permohonan. Besarnya harapannya agar aku tidak terlambat seperti semalam.


"I-iya Ayah," jawab sedikit ragu dan gugup. Aku pun melirik ayahku dengan keraguan yang menggantung. Ayahku pun menatapku dengan penuh tanda tanya bercampur keraguan juga. Dia sepertinya bimbang kalau aku akan menempati janji.


"Semalam, Ayah tidak memarahimu karena Ayah keburu mau sholat," katanya menjelaskannya dengan gurat wajah yang datar.


Aku yang mengikat tali sepatu sebelah kiri pun melirik ayahku kembali yang mengatakan itu dengan nada suaranya yang datar.


"Ayah, maaf 'kan aku," kataku menatap ayahku dengan gurat wajah sedih bercampur sesal.


"Ibu tidak yakin kalau kau menepati janjimu," sambungnya. Mengangakat piring kotor.


Aku langsung meliriknya yang secara tiba-tiba datang dan memotong pembicaraan kami, di ikuti oleh kedua mata ini melihat langkahnya yang berjalan membawa piring kotor itu.


"Ibumu benar Liyan, kau pasti gak akan ingat, apa yang kau bilang ini!" tandas ayahku memberi uang jajan.


"Di tambah lagi ini hari kalian menerima raport," sambung ibu sambungku kembali berjalan ke ruang tamu untuk mengangkat gelas.


Aku jadi, takut kalau itu memang benar. Aku lupa sama yang kubilang ini.


"Jangan buat Ayahmu ini bingung, Nak, mencarimu," katanya mengambil sepatu yang sering dia pakai untuk kerja mencari nafkah. "...Ayah bingung harus mencarimu di mana?" katanya mengulanginya kembali seakan mengasih tau keresahannya ketika dia tidak melihatku, di ikuti oleh kedua tangannya mengambil topi yang tergantung tepat di dekat pintu kamarnya.


Mendengar yang di utarakan ayahku ini. Aku semakin berpikir kalau ayahku benar-benar mencemaskanku. Dia sangat panik dan histeris ketika tidak melihatku di rumah setelah dia pulang.


"Liyan, lagi pula Ayahmu sering bilang kalau kau tidak ada di rumah. Dia sangat khawatir da... ." Ibu sambungku pun lalu diam melihat ayahku yang sengaja memotong pembicaraannya.


"Bagi Ayah kau adalah pengobat lelah Ayah, Nak!" sambung ayahku memotong pembicaraan ibu sambungku.


"Iya, Ayah," jawabku mencium punggung tangannya. Berjalan keluar meninggalkan rumah yang menjadi tempat aku berkumpul dengan orang tua dan adikku.


"Kak Liyan! Tunggu Aku!" jerit Andrini memanggil.


Kaki pun berhenti dan memutar badan ke belakang. "Andrini...!" kataku pelan. Menatapnya dan memegang sakuku.


"Kakak pergi sendiri?" tanyanya. Menghampiriku. "...si Ana di mana, Kak? Biasanya Kalian selalu pergi berdua," kata Andrini melemparkan pertanyaan yang membuatku bingung bagaimana harus menjawabnya.


"...bahkan setelah pulang sekolah pun aku tidak melihat dia pulang bersama Kakak," ucapnya kembali sambil memeluk botol minumnya yang terasa berat.


"Botol minummu berat, ya?" tanyaku ingin tahu. Mengalihkan topik pembicaraan.


"Iya, Kak. Ibuku terlalu penuh mengisinya," katanya melihat botol minum yang dipeluknya.


"Botol minummu juga besar," kataku.


"Kata Ibuku, aku harus banyak minum. Apalagi ini panas, katanya," terang Andrini melihat wajah dan tanganku. "Tapi Kakak gak bawa minum hari ini?" tanyanya melayangkan tatapan penuh selidik melirikku.

__ADS_1


"Iya," jawabku singkat.


"Kenapa Kak?" tanyanya semakin antusias.


"Karena cepat pulang," jawabku langsung singkat.


"Hehehe !" Nyengir. "Benar. Kita cepat pulang. Ini 'kan menerima raport," katanya dengan gurat wajah seakan baru ingat.


Kami berdua pun terus berjalan. Sepanjang perjalanan aku dan Andrini sesekali bergantian membawa botol minumnya.


"Minummu terlalu berat," terangku. Seperti orang yang berlari kencang kelelahan ketika memegangnya. "Kenapa gak pakai botol minum yang kecil?" tanyaku meliriknya, di ikuti oleh kakiku yang terus berjalan.


"Aku tidak punya yang kecil, Kak," jawabnya dengan nada suara datar.


"Mmm!" Aku mendehem ringan setelah mendengar alasan Andrini.


Pagar sekolah pun telah kami masuki. Aku dan Andrini pun berpisah di tengah halaman sekolah.


"Kak, terimakasih, ya. Udah mau memegangkannya," ucapnya membelokan langkah.


"Iya," aku tersenyum manis membalas ucapannya.


"Liyan, kau pergi dengan siapa itu?" tanya Widia tiba-tiba bersama dengan ku.


Aku terkaget langsung memutar kepala ke samping. "Widia, aku pikir entah siapa," kataku menetralkan diriku yang tersentak. "...itu Andrini," kataku.


Aku dan dia pun terus berjalan. "Anak, dekat rumah," jawabku langsung.


Kami pun terus berjalan menuju kelas tanpa membawa tas.


"Aku gak kenal dengannya," ucap Widia menjelaskan.


"Rumahnya di dekat rumahmu, kok. Kayak mana kau mau kenal sama dia. Kau 'kan jarang keluar rumah," sambungku.


"Iya, makanya mungkin aku tidak kenal," lanjutnya menyesali pertanyaan sendiri.


Anak -anak pun telah banyak yang sampai. Mereka berbaris rapi di dinding sekolah. Ada yang tertawa sambil lempar -lemparan sobekan kertas, ada yang jongkok sambil melamun, ada yang menyapu dan mengilap kaca.


Aku yang telah masuk ke kelas melihat teman-temanku termasuk Nisa menyapu dan membersihkan laci mejanya.


"Liyan, kalian kenapa datang bersama ?" tanya Nisa sedikit heran.


"Emang kenapa ?" tanya Widia.


Aku yang meletakan tas membelakangi Nisa mendengar keheranannya melihat aku dan Widia.


"Tadi kami jumpa di jalan," kataku memutar badan tepat ke arahnya, di ikuti oleh kedua mata melirik Widia yang sedikit gugup.

__ADS_1


"Gitu aja pun, Widia tidak mau menjawab," timpal Nisa kesal.


Aku masih melirik Widia yang sedikit malu dengan pertanyaan Nisa.


"Anak-anak! Sudah masuk semua?" tanya Bu Dona.


"Sudah , Bu," jawab kami.


"Siapa yang tidak hadir? Ada?" tanyanya melirik satu per satu muridnya.


Aku refleks terikut dengan Bu Dona yang menatap seluruh siswa-siswinya.


"Kayaknya hadir semua, Bu," jawab Fikri yang masih selaku ketua kelas.


"Pudan, apakah dia hadir?" tanya Bu Dona kembali seakan dia mengetahui kalau Pudan sakit.


"Hadir, Bu," jawab Fikri. Di ikuti oleh Pudan. "Saya hadir, Bu," sahutnya dari belakang.


"Mmm." Bu Dona pun mengangguk sambil melihat kembali seolah dia masih memikirkan sesuatu. "...dan Liyan, apakah hadir ?" tanyanya ingin tahu. Melihat ke arah barisan meja kami.


"Hadir, Bu," jawab Fikri dan yang lain.


Aku pun mengangguk memberi isyarat dengan hormat kalau aku hadir. Aku yang sedikit takut bercampur malu melirik seluruh teman-temanku. Terkhusus Tania dan Ecy tidak terkecuali juga Septiani.


Aku begitu shock dan terkejut ketika melihat wajah mereka begitu masam setelah mendengar bu Dona menyebut namaku.


Mereka bertiga pun sepertinya tidak suka mendengarnya. Termasuk Tania dan Ecy mereka berdua sangat benci mendengar nama itu. Seakan dia mengingat kejadian pulang sekolah itu.


"Liyan, kau mendapatkan nilai yang sedikit menurun," kata Bu Dona dengan nada suara kecewa.


Aku pun sontak terkejut membelalak lebar.


"...dan hari ini kamu tidak mendapatkan ranking," cetus Bu Dona yang membuat hatiku di remas.


Seluruh murid pun melayangkan sorot mata seakan tidak percaya menatapku. Aku yang melihat sorot mata itu merasa malu dan menunduk.


"Hari ini juara satu di pegang oleh Fikri," ucap Bu Dona dengan senang.


Bu Dona pun dengan menahan rasa sedihnya menatapku. "Biasanya yang memegang ini Liyan," katanya dengan menghela napas berat bercampur kecewa. "Tapi ini Liyan turun menjadi ranking tiga," terangnya.


Aku pun sangat sedih dan terpukul mendengar nilai dan rankingku turun.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2