
Aku langsung diam setelah mendengar perkataan ayahku. Aku yang selalu di tuntut sebagai anak pertama harus bisa mengendalikan sikap adikku yang tidak karuan dan lebih ke watak yang manja. Kini aku harus menyusun semuanya hingga bersih. Aku yang mendapat tugas dalam mengemban tanggung jawab dari setiap tindak tanduk adikku mengambil sapu dan memberikannya pada adikku.
"Ana, tolong sapu sampah itu!" seruku memberikan sapu pada adikku.
"Kak, aku tidak pandai menyapu," ucap adikku protes sambil memegang sapu.
"Makanya, kau harus belajar. Biar pandai," sambungku menyusun mainan.
"Tapi Kak, nanti sapuanku tidak bersih," tutur adikku melihat lantai yang berserakan.
"Kau pasti bisa. Makanya, belajarlah!" Aku menatap adikku. "Ayo cepat! Sapu mulai dari situ sampai ke sana!" Aku berdiri menunjuk memerintah dan memaksa adikku untuk menyapu.
Huuuuh! Adikku pun langsung bergegas cemberut dengan malasnya dia terpaksa mengerjakan perintahku sambil menyeret sapu membersihkan lantai. Serpihan kertas yang diguntingnya pun dia sapu mulai dari yang aku perintahkan hingga terkumpul semua.
"Liyan, sampai bersih buat lantai itu! Jangan ada lagi nampak Ayah sedikit pun terletak di situ!" kata ayahku dengan keras. Berjalan sedikit mundur sambil melihat aku dan adikku beberes.
"Baik Ayah," jawabku.
"Iya Ayah. Kami akan membersihkannya," sambung adikku sambil mengumpulkan sampah .
Ayahku hanya diam dan melihat kami yang bekerja membersihkan kamar. Ayahku berdiri di depan jendela kamar kami sambil menyikap tirai dengan lebar. Di dalam hal ini, hanya mata ayahku yang berkata kepada kami. Kedua bola matanya menatap tajam dan berputar mengikuti kami yang beberes.
Pelastik besar tempat sampah pun telah di letakkan adikku di atas lantai. Aku pun berjongkok membantu adikku membuka pelastik dengan lebar agar sampah yang berserakan dengan mudah di masukkan tanpa harus ada yang berjatuhan ke lantai kembali.
"Ana, masukkan sampahnya!" seruku pada adikku.
"Iya Kak, sabar! Ini lagi aku kumpulkan dulu semuanya," kata adikku.
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Ayahku yang berdiri kini beranjak dari sandarannya setelah mendengar suara adzan yang berkumandang. "Liyan, bersihkan semaunya! Jangan sampai ada lagi yang bertinggalan!" Ayahku memutar badan meninggalkan kami.
Aku yang lagi memasukkan sampah menatap ayahku yang berkata lalu pergi menghilang. Hari minggu bukanlah hari kebebasan bagi kami layaknya, seperti anak-anak yang lain.
Ayahku dalam menerapkan aturan yang dibuatnya tidak pernah memberikan kami kebebasan dengan leluasa. Dia malah semakin mengurung kami di rumah dengan alasan mengaji agar kami tidak lupa dengan huruf-huruf yang telah kami baca. Itulah yang membuat aku dan adikku berpikir dengan cerdik, bagaimana caranya? Kami bisa tetap bermain meski di dalam rumah. Namun, dari sedikit ketidak sukaan ibu sambung kami dengan kebahagiaan kami dia pun dengan segala cara untuk menggagalkannya.
Ibu sambungku memanglah seorang ibu. Itu terkadang terlihat dengan jelas . Namun, di sisi lain, dia juga terlihat sebagai teman yang selalu iri dengan kebebasan kami bermain di dalam. Jadi, sebisa mungkin dia harus bisa menghentikan kami bermain. Baik itu dia berteriak dengan keras, memarahi kami ataupun mengadu pada ayahku.
Ayahku yang setiap aturan yang di keluarkannya di langgar. Dia sangat marah sekali ketika mendengarnya. Ayahku yang tidak ingin di bantah, apalagi tidak di jalanan sesuai aturannya semakin memarahi kami dengan sejadinya.
"Kak, sudah bersih!" Adikku berdiri sambil menyeret pelastik sampah ke pinggir.
Aku yang membersihkan tempat yang lain pun melihat adikku dan melihat lantai yang di bersihkannya. "Kalau begitu, buanglah sampahnya ke tempat sampah!" seruku sambil memutar badan kembali menutup kotak mainan.
"Kayak mana? Sudah bersih semuanya?" Ibu sambungku membuka tirai bertanya.
Adikku yang membencinya tidak menjawab. Dia tetap melihat pelastik yang diikatnya. Aku yang melirik adikku dari ekor mata. Berdiri dan memutar pandangan ke arah ibu sambungku yang berdiri melihat kami. "Iya Bu. Semuanya sudah bersih," jawabku.
"Baguslah," balas ibu sambungku dengan gurat wajah yang licik. "Berarti, kalian tidak bermain lagi, 'kan?" tanyanya dengan wajah seakan menari-nari di atas penderitaan kami yang habis di marahi oleh ayahku.
"Iya Bu. Kami tidak bermain lagi malam ini," jawabku sedikit kesal.
"Baguslah kalau begitu. Jadi, semuanya telah selesai," Ibu sambungku pun langsung pergi.
"Huh! Dasar Ibu tiri!" gerutu adikku dengan wajah menahan kesal. "Untung saja aku tidak mau memenggilnya, Ibu," timpal adikku menatap kepergiannya dengan sinis.
"Ana, jangan kencang-kencang! Ssttt!" Aku menyuruh adikku diam. "Nanti dengar Ibu. Kita berdua bakalan di pukul ayah dengan tali pinggang. Kau mau?!" Menatap adikku dengan tajam.
Adikku seketika diam dan menunduk melihat pelastik yang teronggok di lantai. "Aku tidak suka dengan Ibu kesayangan Kakak itu. Mau sampai kapan kita seperti ini, Kak?" tanya Adikku. "Setiap kali kita bermain di rumah. Pasti Ibu kesayangan Kakak itu mengadu pada Ayah," ucapnya sedikit menyesali semuanya. "Ada saja yang ingin di sampaikannya pada Ayah." Adikku menatap jendela yang masih terbuka.
"Ana, Ibu tidak selama salah. Tadi 'kan, Ayah mengatakan, kalau kita tidak boleh bermain." Aku memberi pengertian pada adikku sambil berjalan menutup jendela.
"Iya Kak, tapi kita 'kan, masih kecil," imbuh adikku. "Seharusnya, Anak kecil itu bermain, bukan dimarahi," cetus adikku dengan kekecewaan.
"Dik, kadang kalau kita dimarahi bukan karena Ayah tidak sayang. Tapi karena Ayah takut kalau kita terlena dan asyik bermain," tandasku menasihati adikku.
Adikku begitu lesu setelah mendengar nasihatku. "Aku memang tidak salah... kalau Kakak itu, seperti orang tua, hahaha!" ledek adikku mengambil pelastik sampah.
"Seperti orang tua? Kau mengejek saja!" rajukku melihat adikku yang tertawa bahagia. "Dik, jangan mengejek, Kakak. Cepat buang sampahmu! Nanti keburu Ayah masuk lagi dan melihat sampah ini!" desakku mendorong tubuh adikku.
"Iya Kak," jawab adikku segera keluar.
Aku pun kembali memutar badan merapikan lantai yang belum terlihat rapi. Kotak mainan yang terletak di atas lantai pun aku angkat ke tempat penyimpanan semula.
__ADS_1
"Liyan, sudah beres semua?" tanya ayahku berteriak dari kamarnya.
"Sudah , Yah," jawabku pelan.
"Sekarang siap-siap mengaji," kata ayahku.
"Baik Ayah," sahut adikku menghampiriku menyusun mainan.
Aku yang duduk setengah di udara sambil menyimpan mainan di bawah kolong lemari menoleh ke belakang melihat adikku.
Lembaran kertas yang terletak di lantai entah dari mana. Mengingatkan aku tentang biodata yang diminta oleh Bu Dona. Aku langsung bangun sambil melihat pintu kamar ayahku sambil memegang lembaran kertas.
"Kakak lupa, Dik. Kalau Kakak disuruh guru Kakak menulis biodata lengkap," ungkapku melirik adikku yang berdiri di sampingku.
"Untuk apa Kak?" tanya adikku.
"Kakak tidak tahu. Tapi Bu Dona menyuruh besok harus terkumpul semua," ucapku.
"Kalau kami tidak ada di suruh," sambung adikku berjalan mengambil perlengkapan untuk mengaji.
"Kakak juga bingung itu untuk apa biodatanya?!" bisikku mengambil perlengkapan mengaji juga. "Tapi, semoga saja nanti Kakak tidak lupa memintanya pada Ayah." Aku melihat adikku sekilas sambil memakai mukena.
"Liyan, Ana, apalagi?! Kalian ini selalu saja berbicara. Entah apa yang kalian bicarakan?" tanya ibu sambungku berdiri di belakang.
Sontak aku dan adikku pun tersentak. Kami berdua pun refleks bertemu pandang seakan bertanya-tanya, ada apa dengan ibu sambungku? Kenapa dia bisa berdiri di belakang kami kembali ?
Kedua tanganku pun seketika terhenti ketika hendak memakai mukena. Sementara adikku terhenti setengah langkah ketika melihat ibu sambung kami juga hadir.
"Dari tadi Ayahmu menyuruh siap-siap," katanya dengan kedua bola mata mendelik.
Aku pun segera memakai mukena dan mengambil Iqro' dan membawanya. Ayahku pun telah bersiap menunggu kami untuk mengaji. Tikar dan rekal yang telah terletak dengan rapi aku hampiri sambil membaca Iqro'.
Malam ini aku harus bisa membacanya sebaik mungkin tanpa ada kesalahan sedikit pun. Aku yang duduk lalu membuka Iqro' yang telah aku letakkan di atas rekal. Kini kumulai membacanya, seperti biasanya. Begitu juga dengan adikku yang melakukan hal yang sama seperti ku. Dia pun membacanya begitu lancar dan tidak ada kesalahan sedikit pun. Dari tadi aku mendengar adikku yang mengaji membuatku kagum karena malam ini dia berusaha sebaik mungkin. Suaranya yang manja dan merdu membuatku dan Ayahku begitu senang.
Kegiatan rutinitas ini hampir setiap malam kami lakukan telah menjadi kewajiban yang tidak bisa di bantah. Aku yang telah selesai terlebih dahulu duduk di bangku ayahku dengan selembar kertas yang terletak di atas meja.
Suara adikku yang tidak kalah merdu dari ku. Telah selesai mengucapkan lafal huruf -huruf hijaiyah.
Tidak berapa lama aku yang melamun duduk seorang diri di bangku ayahku tersentak dan pensil yang aku pegang pun langsung terpelanting dengan keras kelantai.
"Ana!" jeritku sambil memukul tangan adikku yang jahil.
"Hahaha ! Pensilnya sampai terbang," kata adikku sambil menggeleng dan memegang Iqro'.
"Ana, huuuuu!" jeritku dengan geram mengigit kedua geraham sambil meremas jemariku dengan keras setengah di udara.
"Kak, Ayah tidak akan keluar," kata adikku memancing kekesalan.
"Ayah pasti akan keluar?!" balasku tidak mau kalah.
"Dari mana kakak tahu?" tanya adikku yang melihatku tidak percaya dengannya.
"Liyan," panggil ayahku. Berdiri di depan pintu.
"Ana, kenapa kau belum menyimpan Iqro ' mu ? tanya ayahku ingin tahu.
Adikku yang berdiri di dekatku terkejut mendengarnya. Seketika jemarinya yang tidak berdaya itu berhenti mencubit pipiku yang cabi dengan geram.
"Iya Ayah." Adikku pun segera melepaskan jemarinya yang masih menempel di pipiku sebelah kanan. Dia pun langsung masuk ke dalam kamar menyimpan mukena dan menyimpan Iqro'nya juga.
"Liyan, apalagi tidak makan?!" ucap ayahku mendekati bangku yang aku duduki.
"Sudah, Yah," jawabku.
"Anakmu, si Liyan itu belum makan malam," kata ibu sambungku.
"Yang mana yang benar?!" Ayahku menatapku. Seolah ayahku bertanya padaku.
Sorot mata ayahku yang tajam menatapku dengan lekat seakan ayahku ingin mengetahuinya langsung dari ku.
"Iya Ayah," jawabku melihat ke bawah langsung bangun dari bangku. "Aku belum makan, Yah," kataku berdiri sambil menarik selembar kertas yang terletak di atas meja.
Ayahku yang menjatuhkan tubuhnya di atas bangku sambil meletakkan piring yang telah berisi nasi. "Itu kertas untuk apa?" tanya ayahku melihat kertas sambil meneguk air minum.
__ADS_1
"Ini untuk biodata, Yah," jawabku.
"Biodata untuk apa?" tanya ayahku.
"Untuk guru kami, Yah," jawabku kembali. "Kami di suruh menulis biodata ,Yah. Katanya, ada perlu," lanjutku menatap ayahku yang menyuap nasi.
"Ooh," kata ayahku menggangguk.
"Jadi, kata guru kami. Besok sudah dikumpul ,Yah," ucapku.
"Sebentar ya, Nak. Ayah makan dulu," ucap ayahku. "Sekarang letakkan saja di sini. Nanti biar Ayah tulis," pinta ayahku.
"Iya Ayah." Aku pun langsung meletakkan kertas itu di atas meja.
"Jadi, sekarang pergi makan! Ajak adikmu," kata ibu sambungku mempersilahkan aku dan adikku.
Aku pun lantas memutar badan memanggil adikku di dalam kamar. "Ana, ayo makan!" teriakku memanggil adikku dari balik tirai.
Langkah adikku pun terdengar berjalan mendekati tirai. "Aku sudah siap, Kak." Adikku berdiri di hadapanku sambil berjalan menuju dapur. "Iya ayo lah." Aku pun ikut melangkah juga mengikuti adikku dari belakang.
Setelah nasi kami ambil. Kami berdua pun berjalan kembali ke ruang depan untuk makan. Piring yang aku bawa kini aku letakkan di atas lantai yang sering kami duduki. Aku dan adikku yang duduk berdekatan pun langsung menikmati nasi dan telur dadar sambal. Piring yang terlihat hanya ada nasi dan telur dadar membuat ibu sambung kami menegur kami. "Kenapa kalian tidak memakai sayur?" tanyanya penasaran.
"Mereka itu tidak suka sayur." Ayahku langsung memotong menjawab pertanyaan ibu sambungku.
"Seharusnya kau memaksa mereka supaya mau makan sayur," cetus ibu sambungku. "Kayak ini, ha? Ini 'kan, sayurnya enak. Daun ubi tumbuk." Ibu sambungku menatap kami berdua.
Hari ini adalah hari pertamaku memakan telur dadar sambal setelah sekian lama aku tidak bisa memakan makanan yang lain selain sup wortel dan sup ikan akibat dari penyakit yang kuderita.
"Seperti si Liyan, setelah dia kembali sembuh dia harus banyak makan sayur," tandas ibu sambungku melirik ayahku yang kulihat dari ekor mataku.
"Lama-lama, nanti mereka pasti akan mau makan sayur. Aku sangat percaya dengan kedua putriku," tukas ayahku.
Aku yang asyik menikmati makanan yang ada di dalam piring. Cukup mendengarkan ayah dan ibu sambungku sambil menyuap nasi perlahan demi perlahan ke dalam mulut. Sementara adikku yang duduk di sampingku pun melakukan yang sama, seperti yang aku lakukan yaitu, manyuap nasi juga.
"Liyan, ini biodatanya sudah selesai ayah tulis," kata ayahku sambil melihatku makan.
"Iya Ayah," kataku sambil meneguk air minum.
Aku pun langsung bangun dari duduk dan mengantarkan piring serta gelas ke dalam ember tempat piring kotor.
Baugh!
Aku mundur dan menabrak adikku yang berjalan mengikutiku dari belakang. "Ana, ngapain di belakang, Kakak?" tanyaku memutar badan melihat adikku.
"Mau menaruh ini!" Adikku mengayunkan piring dan gelas di udara tepat di hadapanku.
Aku pun lalu melangkah pelan sambil melihat adikku yang masih memegang piring dan gelas berjalan ke depan mengambil biodata yang telah di tulis oleh ayahku.
***
Biodata
Nama : Liyan Laiyina
T . Tgl : 02 Januari 1999
Alamat : Kampung sahabatku
Nama Ayah : Tiyo Satiyo
Nama Ibu : Helena
Anak ke : 1 dari dua bersaudara
Nama wali : Genghis
Aku lalu berjalan sambil membaca biodata yang ditulis oleh ayahku. Sebaris demi sebaris aku membacanya dengan seksama.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...