
"Ban gerobak?" tanyaku pada diriku sendiri dengan bengong.
"Itu ban mobil gerobak," sambung ayahku menjelaskannya.
"Ayah aku kepingin naik itu," ucapku menunjuk ke arah ban yang bersusun tinggi sampai ke atas, di ikuti mata yang melirik ke arah ayahku yang berjalan.
"Kau mau naik itu, Nak?" tanya ayahku dengan senang. "Iya Ayah," jawabku dengan girang. Berlari kecil di belakang ayahku mengikutinya.
"Ana! Apa kau mau ikut juga?" tanya ayahku. Berhenti dan menoleh ke belakang tepat ke arah adikku.
"Tidak," jawab adikku ketus. Melemparkan pandangan ke arah yang lain. Cemberut bercampur sebal.
Ayahku langsung murung. Dia seakan kehilangan semangat hidup.
"Ayah, ayo! Aku mau naik itu," pintaku menarik lengan ayahku.
Jenjang kakinya yang panjang itu pun melangkah menembus jalan bebatuan yang kami lalui berdua. Sepanjang aku berjalan aku melirik ke sekeliling. Sedikit aku terperangah melihat pamplet yang terpampang besar di pintu masuk.
"Ayah itu nama sungainya ?" tanyaku. Mengayunkan telunjuk ke udara menunjuk bacaan besar yang terpampang di pintu masuk.
Ayahku pun refleks memutar kepala. "Iya Nak! Itu adalah nama sungainya," jawab ayahku menjelaskan dengan nada suara senang.
"Sungai Bilah," gumamku tertegun.
Aku lalu mengikuti langkah ayahku yang sedikit kencang menarik lenganku untuk bermain ban di sungai.
"Ayah, sungainya dalam tidak?" tanyaku ingin tahu. Melihat sungai yang mengalir.
"Tentu dalam dong, Nak," Sungai itu biasanya sangat dalam. Dan orang-orang pun banyak yang hanyut di sungai," lanjut ayahku menjelaskan.
"Kalau Anak-anak Ayah?" tanyaku semakin penasaran.
"Anak-anak apalagi," balas ayahku. "Mereka yang masih kecil dan tidak pandai berenang jangan coba-coba bermain di sungai!" kata ayahku memberi nasihat.
Aku tertegun menyimaknya. Ayahku begitu senang mengingatkan itu kepadaku agar aku semakin berhati-hati.
"Makanya jika nanti Anak Ayah pergi ke sungai hati-hati,ya!" pinta ayahku dengan harapan penuh. Melirik dan menggandeng tanganku.
"Iya Ayah," balasku. Berhenti dan menunggu ayahku mengambil ban yang di berikan sesuai antrian.
Bola mataku tidak jua mau berhenti. Ia masih terus berputar melihat -lihat sekeliling dengan antusias. Aku sangat terperangah melihat sekitaran sungai Bilah yang sedikit sederhana hanya ada pohon kelapa sawit yang berbaris di pinggir jalan yang dipergunakan untuk melintas. Di sisi lain ada juga beberapa pohon yang tinggi dan besar tumbuh di antara pohon kelapa sawit dan pohon-pohon kecil lain yang terlihat.
Sungai ini memang tidak seindah tempat piknik yang lain. Tapi aku sangat bahagia karena ayahku telah berusaha keras ingin membahagiakan kami, meski tidak di terima oleh adik dan ibu sambungku.
__ADS_1
Mereka sangat kesal dan kecewa melihat tempat yang tidak seperti mereka harapkan.
"Liyan, kemari Nak !" Ini sudah mau sore," panggil ayahku dengan sedikit keras melambaikan tangan ke udara.
"Iya Ayah," jawabku langsung berlari.
Baugh!
Ban itu pun di taruh ayahku dengan menghempaskannya di atas air.
Ban pun telah terletak di atas sungai yang mengalir. Ban itu terlihat bergerak kesana-kemari dengan lucu. Ban itu membuat aku melongo dan tergelitik melihatnya yang menari -nari di atas air.
"Liyan, hati-hati! Jangan bergerak terlalu lasak. Nanti kau terjatuh ke dalam," ucap ayahku yang memegangi ban yang aku naiki.
"Ayah, tapi kalau aku jatuh. Ayah 'kan ada di sini," kataku melihat ayahku dan sesekali melihat air yang bergerak membawa aku dan ban yang kunaiki.
Aku sangat lucu melihatnya. Ban itu sangat menggelitik hati hingga aku melupakan sekejap kekalutan yang melilit.
"Ayah, Anak-anak itu banyak sekali," kataku . Menatap ke atas jembatan.
"Iya mereka memang sering bermainnya di sini," balas ayahku. Mendorong ban yang aku naiki.
Sungai yang airnya dingin terus aku mainkan dengan tanganku. Kaki yang terayun ke dalam air sungai sangat menyenangkan menendang-nendang air seperti bola.
"Ayah airnya dingin," kataku dengan senang mengadu pada ayahku seakan aku menyampaikan padanya kalau aku sangat bahagia bermain di sini.
"Suka sekali Ayaaaah," jawabku dengan senang menyebut namanya dengan panjang dan lama.
"Tapi, Adikmu tidak mau ikut dengan kita ke sini," ucap ayahku lirih. Melirik adikku dari jauh.
Aku pun menaikan pandangan mengikuti sorot mata ayahku yang melihat adikku.
"Ayah, panggil saja Ana ke mari. Pasti dia mau," kataku membujuk ayahku.
Ayah yang ada dihadapanku diam sejenak melihat dengan serius ke arah adikku. Seakan dia menyimak dan menimbang yang aku katakan.
"Tapi nanti saja. Kau bermainlah yang puas Nak," ucap ayahku. Terus mendorong ban yang aku naiki. "Nanti kalau adikmu mau pasti dia datang ke sini," tandasnya dengan acuh.
Aku kembali bermain air sungai yang dingin. Air yang mengalir sesekali aku ambil dengan telapak tangan dan membasahi mukaku dengan girang.
Air sungai yang mengalir deras. Terlihat ada juga beberapa orang yang datang untuk bermain juga. Mereka sama sepertiku bermain ban dan juga menaiki boat yang tersedia untuk para pengunjung yang ingin berlayar mengelilingi seputaran sungai.
Aku sangat takjub melihatnya. "Ayah itu apa?" tanyaku ingin tahu. Menunjuk ke arah yang aku lihat.
__ADS_1
"Itu boat Nak," jawab ayahku. "Kalau kita mau tau sungai ini, seperti apa kita harus naik itu," tandasnya. Melirik boat yang terparkir rapi.
"Naik itu, Yah?" tanyaku dengan melongo.
"Ayah itu mahal tidak?" tanyaku menyelidiki.
"Itu mahal, Nak," balas Ayahku yang membawaku terus mengelilingi sungai.
Aku tersipu melihat anak-anak yang lain. Mereka sangat beruntung mempunyai ibu yang sangat menyanyangi dan juga mempunyai adik yang akrab sama Kakaknya.
Sungai Bilah yang cukup lebar dan luas semakin menyenangkan rasanya. Ayahku pun semakin asyik membawaku ke sana kemari bersama ban yang aku naiki.
"Ayah, aku juga mau ikutan," jerit adikku memanggil ayahku.
Sontak aku dan ayahku menoleh ke arah sumber suara.
"Kau mau ikut, Nak?" teriak ayahku bertanya pada adikku yang berdiri.
"Iya," jawab adikku langsung.
"Kalian jangan lama-lama. Nanti keburu malam," teriak ibu sambung kami berdiri tepat di belakang adikku.
Adikku pun langsung berlari menghampiri ayahku. Jalan yang terpampang untuk masuk ke dalam sungai pun di lalui.
Ayahku pun menarik ban yang kunaiki ke tepi sungai. Lalu ayahku naik sebentar menyambut adikku setelah dia menyuruhku untuk turun dari ban sebentar.
"Ayah kenapa Ayah lama sekali di sini?" tanya adikku sambil memeluknya.
"Ayah menunggumu. Pasti kau mau bermain juga 'kan?" kata ayahku dengan gurat wajahnya yang berusaha menggoda adikku agar adikku melepaskan rajukannya.
Hehehe ! Adikku pun tertawa malu melihat ayahku.
Ayahku lalu membawa adikku dan meletakannya di atas ban yang terletak diam di atas sungai.
"Kalian jangan lama-lama, ya!" teriak ibu sambung kami dari jauh. Duduk di atas tikar yang tergerai di atas tanah.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku ya 🙏🥰