
Melihat Widia aku hanya menarik bibir dengan wajah senang dan sedikit kesal. Aku begitu ketus melihatnya karena ia telah mengatakan itu. Rasanya aku ingin sekali mencubit pipinya yang telah membuat gemes.
"Eh! Dari pada kita bicara, lebih baik kita menyelesaikan tugas kita yang di berikan oleh Bu Dona." Kataku melihat mereka sambil menarik buku tulis.
"Puisi, maksudmu Liyan?" Tanya Solihin.
"Ia." Jawabku sambil melihat Solihin dan membuka buku.
"Kalau begitu aku mengambil bukuku dulu. Kita mengerjakannya di sini, ya! Bersama-sama." Cetus Septiani menggeser bangku ke belakang. Ia pun berjalan menghampiri bangkunya dan mengambil buku.
"Baiklah! Aku akan mengambil bukuku dulu!" Ucap Rasyd berdiri dan melangkah mengambil buku yang berada di dalam tasnya.
"Rasyd tunggu!" Teriak Solihin berjalan mengejar Rasyd. Menghampiri bangkunya yang satu barisan meja dengan Rasyd.
"Liyan, emang kamu sudah dapat puisinya?" Tanya Widia dengan wajah sedikit kusut dan memelas.
Sepertinya Widia begitu malas untuk mengerjakan puisi terlihat dari gurat wajahnya yang begitu berat dan suara yang malas.
"Widia, kau puisi tentang apa?" Tanyaku ingin tahu melirik Widia. Membuka buku.
"Aku tidak tahu Liyan. Aku bingung!" Ucap Widia dengan sedikit uring-uringan. "Aku tidak tahu tentang puisi dan bagaimana cara membuatnya?" Keluh Widia melemparkan pertanyaan dengan harapan aku akan menjawab pertanyaannya.
Hm! Aku pun mengeram melihat Widia. Widia begitu membuatku gemes, masalah puisi saja ia tidak tahu. "Widia, kan sudah ada contoh di atas! Coba lihat!" Memutar sedikit kepala melihat Widia yang lagi kusut. Melirik bukuku sebagai isyarat agar Widia mau membuka buku.
"Aku tahu Liyan!" Ucap Widia dengan wajah kesal seakan ia mengatakan kalau aku tidak tahu apa yang di resahkannya.
"Lalu, apa lagi Widia!" Timpalku.
Seketika aku hening melihat Widia yang terus menggerutu terlihat dari wajahnya. Sesekali Widia melihat coretan buku tulisku dan menatapnya dengan lekat.
"Jadi, begitu Liyan!" Ucapnya dengan lirih.
"Ia Widia, seperti ini." Sambungku. Melihat buku tulis yang telah tergores dengan coretan pensil. Sebaris demi sebaris aku coret sampai memenuhi beberapa baris hingga terjadilah seperti bait.
Puisi untuk anak seusia kami memang cukup memeras otak dan imajinasi apalagi baru pertama kalinya kami melakukannya. Belum lagi kita harus bermain dengan perasaan kita sendiri dalam menuangkan isi tulisan. Bisa di bilang memakai hati. Semakin kita pandai memainkan perasaan dengan hati yang baik maka hasilnya akan semakin memuaskan. Belum lagi kita harus pandai mengatur Kata-katanya dan mengetahui beberapa kosa kata.
Inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi kami. Kami yang baru duduk di bangku kelas tiga sudah di tuntut untuk bisa membuat puisi meskipun, puisinya terserah pada diri kami sendiri tentang judulnya, bagus atau tidak.
"Liyan, kau sudah selesai?" Tanya Septiani. Tiba-tiba menarik bangku. Meletakan buku.
"Tapi mejanya cuman satu!" Keluh Solihin. Berdiri dengan wajah murung.
"Ia Solihin benar." Balas Rasyd.
"Rasyd, meja Fikri saja kita satukan!" Ajakku. Berdiri.
"Ya, sudah! Bangkunya akan aku tarik keluar dulu!" Seru Widia. Berdiri menarik kedua bangku kami.
Rasyd pun mengangkat bangku dan bangku Fikri keluar kemudian menyatukan meja Fikri dengan meja kami. Solihin pun turut andil dalam membantu Rasyd.
Kami begitu sibuk terlihat seakan kami sedang melakukan kerja kelompok. Meja yang telah di satukan menjadi dua kini membuat kami lebih leluasa. Sementara bangku kami terlihat begitu berdempetan, meskipun demikian tidak menjadi keluhan bagi kami. Kami mengerjakan puisi begitu tenang dan serius sekalipun kami terlihat bercanda.
Rasyd yang suka tertawa, sesekali ia melontarkan guyonan lawakan kepada Septiani yang galak. Belum lagi dengan Solihin yang suka menimpali di antara perdebatan kecil . Dia terlihat begitu senang karena mendapat kesempatan untuk melakukan kebiasaan buruknya.
"Kalian sudah sampai mana puisinya?" Tanyaku ingin tahu. Melihat tulisanku dengan senyum manis.
"Liyan, emang kau sudah siap?" Tanya Solihin. Mengerutkan kening.
"Ia! Liyan kan sangat suka puisi. Aku yakin kalau Liyan itu sudah selesai." Tandas Widia. Melirikku dengan gurat kekesalan di wajah polosnya.
Sepertinya aku merasakan kegelisahan Widia. Dia terlihat begitu kesal dengan pelajaran yang namanya puisi.
"Aku yakin! Pasti setelah ini, kita di suruh satu persatu maju ke depan." Cetus Widia kesal. Menulis.
"Sudah pasti Widia!" Sambung Septiani. "Kata Kakakku memang seperti itu, kalau puisi itu harus di bacakan di depan kelas satu persatu." Ungkap Septiani. Menatap Widia dengan keseriusan. Menulis kembali.
"Sebenarnya kan, lebih seru kalau kita satu persatu maju ke depan." Lanjutku. Menunduk dan menulis.
"Liyan, kau itu!" Gerutu Widia. "Kenapa kau tidak mendukungku?" Dengan kesal. Huh!
__ADS_1
"Widia, kau harus tenang jangan mengeluh." Ucap Septiani.
"Pelan-pelan kau pasti bisa nanti!" Ucap Solihin. Menatap Widia dengan wajah memberikan dukungan semangat untuk Widia.
Mendengar dan melihat mereka yang saling memberikan dukungan yang terbaik untuk Widia membuatku begitu terharu. Namun, tidak bagi seorang Rasyd ia begitu terlihat cuek, bahkan dingin sampai masalah tentang Widia. Dia tidak memberikan respon apapun. Ia hanya diam dan terus melanjutkan tulisannya.
Tidak ada satu patah katapun keluar walau hanya sekedar tawa kecil. Ia begitu antusias dengan puisi yang ia ketahui. Menulis dan menulis hanya itu yang ia lakukan selama dalam satu kelompok yang kami buat sendiri.
"Tapi, sepertinya Rasyd sudah selesai!" Candaku. Melihat mereka.
"Ia Liyan, kau benar Rasyd sudah selesai. Yee! Anak teladan!" Canda Solihin dan Septiani. Melihat Solihin dengan wajah tersenyum seakan terlihat menggoda Rasyd.
"Siapa yang siap?" Keluh Rasyd melemparkan pertanyaan yang membuat kami menjawabnya sendiri. "Aku masih menulis kalau aku sudah siap, pasti bukunya ini sudah aku tutup."
"Masa ia, bukunya kamu tutup!" Kata Widia. "Seharusnya bukunya kamu buka Rasyd di hadapan kami. Biar aku tahu bagaimana caranya?!" Widia begitu terlihat seperti orang yang sedih seakan ia menangisi dirinya sendiri.
"Untuk apa?" Tanyaku. Melihat Widia.
"Kamu mau mencontoh punyaku, ya!" Kata Rasyd ingin mengetahui yang sebenarnya.
"Widia tidak boleh mencontoh hasil dari karya orang lain." Ucapku dengan datar.
"Nanti Bu Dona tahu kalau kau itu melihat punya Rasyd." Sambung Solihin. "Kau mau di hukum oleh Bu Dona karena ketahuan mencontoh." Lanjut Solihin. Menatap Widia seakan ia mengetahuinya.
"Baiklah! Aku akan membuatnya sendiri dan aku tidak akan melihat punya kalian." Cetus Widia dengan sedikit kekesalan.
Melihatnya kami pun terdiam dan memutarkan kepala melihat buku masing-masing. Aku yang berteman dekat dengan Widia begitu khawatir kalau Widia selepas ini akan mendiamkan diriku dalam waktu yang cukup lama.
Wajahku begitu gelisah dan resah melihatnya. Ia begitu kesal sekali, sampai -sampai membuatku sedikit merasa bersalah. Begitu juga dengan temanku yang lain, mereka begitu khawatir dengan sikap Widia barusan.
Mengatakan yang demikian seakan-akan ia begitu kesal melihat kami semua.
"Widia, cepat selesaikan! Sebentar lagi Bu Dona pasti masuk!" Candaku dengan senyum bahagia karena telah membuatnya takut.
"Liyan! Pekik Widia pelan dengan wajah cemberut. "Kau begitu suka melihatku gemetar. Apa kau tidak membayangkan jika, Bu Dona sekarang ada di hadapanku." Rintih Widia. Seakan ia lagi membayangkan Bu Dona hadir di hadapannya berdiri dan melihat dengan tajam.
Kalau sampai itu terjadi, pasti Widia akan menutup bibirnya dengan perekat yang begitu kuat sampai ia tidak bisa bersuara pada siapapun.
"Ia Widia, puisimu kan belum selesai, kau bilang." Timpal Solihin.
"Emang, puisi siapa yang sudah selesai?" Tanya Widia ingin tahu dengan polos.
"Puisi Liyan!" Jawab Rasyd.
"Ia Widia, puisiku sudah selesai." Jawabku dengan bahagia. "Apa kau tadi tidak mendengarnya?"
"Tidak!" Menggelengkan kepala dengan wajah cemberut sambil menggelembungkan kedua pipi.
Wajahku begitu bahagia karena puisi yang aku anggap tidak bisa aku kerjakan ternyata telah selesai, meskipun aku mengalami sedikit rintangan. Namun, itu tidak menjadikan diriku untuk frustasi dan menyerah. Aku begitu bersemangat di samping tubuhku yang masih terasa begitu lemah.
Kepucatan di wajahku begitu jelas terlihat masih memenuhi dengan sempurna di wajah polosku. Begitu pandai, sepertinya aku hari ini! Tersenyum lebar dengan sumringah menutupi semua kelemahan yang aku rasakan.
Senyum yang terlihat gemilang di wajah pucat membuat temanku begitu bahagia, seakan mereka telah terlepas dari belenggu yang mengikat dengan kuat.
Tawa, ternyata telah mewakili kesehatan tubuh mungilku di hadapan teman-temanku. Aku harus berpura-pura sehat agar aku bisa melihat tawa mereka tanpa beban.
Terutama Widia yang selalu mengkhawatirkan keadaanku. Hari ini, ia seakan terbebas dari tugas berat yang selama ini di embannya. Padahal sebenarnya aku tidak pernah mengeluhkan apapun terhadap dirinya.
Ruangan kelas yang cukup luas yang bisa menampung beberapa murid. Kini hanya terdengar candaan kami dan tawa jenaka dari kelompok tugas yang kami buat sendiri.
"Widia jangan menyerah, teruslah berusaha. Aku yakin kau pasti bisa." Pintaku dengan memberi keyakinan terhadap Widia.
"Widia benar kata Liyan, kau harus berusaha. Puisi itukan begitu mudah! Kau hanya mengubah kata-kata demi kata." Saran Septiani. Mengayunkan buku ke udara dengan memperagakan gaya orang yang sedang membaca puisi. "Seperti ini kan Liyan!" Berdiri dan melirikku sambil tertawa. "Aku jadi, malu." Nyengir.
"Malu! Hahaha! Septiani sejak kapan kau jadi pemalu?!" Celetuk Solihin. Membaca buku bahasa Indonesia.
Seketika wajah polos Septiani diam dan terlihat memerah seperti menahan malu yang sebenarnya akibat dari ledekan Solihin.
"Septiani, kau jangan sedih, ya! Solihin memang seperti itu, dia suka membuat orang lain malu." Ucapku dengan datar. Melihat buku.
__ADS_1
"Liyan, sekarang kau akan menjadi pembelaku kan!" Pinta Septiani. Memohon berdiri sambil menatap buku.
"Aku tidak janji Septiani, aku bisa atau tidak membelamu." Ucapku dengan datar. Menunduk.
"Liyan, kau begitu ya!" Seru Septiani. Duduk sambil menatap buku dengan lirih.
"Septiani jangan menangis. Nanti Bu Dona tahu, kita akan kena hukum." Keluhku. Menatap Widia dengan wajah lirih seakan aku membayangkan hukuman dari Bu Dona.
"Yeii! Puisiku sudah selesai!" Teriak Widia dengan gembira. Melihatku dengan tatapan kebanggaan akan dirinya sendiri.
"Ia Widia! Aku jadi, senang kalau kau sudah selesai." Sambungku dengan rasa bahagia. Menatap Widia.
"Selamat ya! Widia akhirnya, kau berhasil juga!" Sambut Rasyd. Melihat Widia kemudian menulis coretan di bukunya kembali.
Kebahagiaan Widia begitu membuat kami tersenyum. Aku begitu senang sampai melupakan sakit yang aku derita saat ini.
"Tapi, kalian puisi tentang apa?" Tanyaku ingin tahu. Melihat mereka.
"Aku puisi tentang teman." Jawab Septiani. Melihat buku kemudian memutar pandangannya melihat Rasyd dan Solihin.
"Kenapa kau melihat kami?" Tanya Solihin dengan wajah menaruh kecurigaan pada Septiani.
"Jangan-jangan, dia buat puisi tentang kita karena kita telah menjahilinya." Sambung Rasyd. Menatap dengan wajah curiga.
Penulisan puisi yang di temani dengan keributan antara candaan dan sindiran. Membuatku menatap mereka dengan rasa takut. Wajah polosku yang pucat begitu panik melihat Septiani dan Rasyd beradu mulut.
"Sudah! Kalian jangan bertengkar, kenapa? Sekarang mari kita periksa kembali puisi yang kita tulis! Siapa tahu ada yang salah atau kurang cocok!" Ajakku. Membuka kembali buku.
"Ia! Kalian jangan bertengkar terus, malu! Nanti di dengar oleh Ecy dan Tania. Sebelum mereka di sini, mari kita periksa kembali puisi yang kita tulis." Seru Widia. Membuka buku.
"Ia! Liyan dan Widia benar!" Sambung Rasyd membuka bukunya sambil memegang pensil.
Begitu indah hari ini....!" Tiba -tiba Rasyd menghentikannya.
Septiani begitu tertegun mendengar apa yang di ucapkan oleh Rasyd. Ia terlihat diam menatap seakan ia menunggu kelanjutan dari puisi itu.
"Hei! Septiani kau nunggu apa?" Pekik Rasyd. Menatap Septiani.
"Tidak apa-apa!" Cetus Widia sedikit kesal dan malu.
Puisi yang kami tulis kini telah selesai. Dan kini kami telah memiliki puisi masing-masing dari hasil pemikiran kami sendiri. Sekarang masalah tentang puisi telah selesai. Akan tetapi masalah tentang Ecy dan Tania belum selesai. Akankah masalah ini bisa berakhir seperti puisi ? Seperti yang ada di hadapan kami.
"Hai! Kalian lagi apa?" Tanya Ecy. Tersenyum dan menaikan alisnya. Berdiri dengan wajah smrik.
"Kalian mengerjakan apa?" Tanya Tania lembut. Menatap kami dengan penuh tanda tanya.
Tiba-tiba, kebahagiaan kami sirna seketika akibat mendengar suara yang menyapa dengan secara tiba-tiba. Perlahan aku memutar kepala melihat ke arah sumber suara. Sulit untuk di tebak, ternyata Ecy dan Tania telah berdiri di samping tepat di dekat kami.
Mereka begitu terperanjat ketika melihat aku menatap mereka dengan sedikit tajam. Mereka seakan tidak percaya bahwa aku bisa juga seperti mereka.
"Liyan, kami datang ke sini tidak ingin mengganggumu." Ungkap Ecy dengan wajah datar. Berdiri dan menatapku.
"Ia! Kami hanya ingin tahu kalian sedang apa di sini." Sambung Tania dengan polos.
"Baguslah kalau begitu! Berarti hari ini kalian sudah sadar! Ia kan Ucap Rasyd. Merasa sedikit bangga.
Begitu mendengar apa yang di sampaikan oleh Rasyd. Ecy dan Tania hanya diam dan saling tatap. Seolah-olah mereka mengatakan sesuatu yang rahasia.
"Aku rasa begitu! Lalu kenapa? Apa kalian tidak mau berteman dengan kami berdua." Lanjut Tania.
"Liyan, apa kau juga tidak mau berteman dengan kami." Tanya Ecy.
Serasa aku bagaikan terkena lemparan yang begitu keras. Aku begitu dilema dan bingung harus mengatakan ia atau tidak. Saat ini aku tidak bisa melakukan apapun. Aku begitu terjerembab seribu bahasa. Menatap mereka berdua dan temanku yang telah berada di dekatku setiap saat.
.
.
.
__ADS_1
Teman-teman terimakasih telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
Bersambung....