
Pagi hari yang cerah membuat ku seperti anak yang baru terlahir kembali penuh dengan tawa dan senyum yang membawa begitu banyak kebahagiaan. Malam yang membuat kedua mataku tertutup dengan lelap kini telah berlalu menjauh dariku.
Hari ini senyuman indah pun terlukis di wajahku yang pucat. Semangatku hadir menemani dalam setiap langkah gontaiku. Lelah yang kurasakan seakan tidak ada bersama ku lagi. Udara dan sinar matahari pagi yang selama ini tidak pernah mengenal ku kini akan menyapa dan menemani ku kembali.
Teman sekolah, pelajaran dan guru yang selama ini tidak pernah aku lihat,kini akan hadir bersama ku kembali. Canda tawa yang gemuruh akan aku lihat kembali mengukir di setiap waktuku.
Tas sekolah dan sepatu sekolah yang telah lama beristirahat kini akan aku pakai kembali memulai hari ku.
Wajah pucatku yang selama ini menutupi senyumku kini segera menghilang. Aku pun seketika mengembangkan kedua pipiku sambil tersenyum.
Pakaian seragam yang telah lama tersimpan di dalam lemari kini telah menggantungkan di tubuh mungilku yang lemah. Tungkai kakiku yang lemah pun kini telah menopang tubuhku dengan kuat. Tas sekolah kini telah duduk di samping bersama ku.
"Kakak jadi sekolah." Sapa adikku. Menghampiri ku.
"Jadi dek." Sahutku dengan wajah ceria.
Adikku seketika terlihat begitu senang melihat ku bahagia hari ini. Dia terus berdiri tegak di sampingku sambil menatap ku dengan lekat. Pandangannya yang lurus menatapku seakan tidak mau ia abaikan hari ini.
"Kak akhirnya,ayah memberi izin juga ya untuk kakak sekolah." Kata adikku. "Padahal, Ayah sudah bilang kalau kakak engga boleh sekolah, tapi semalam karena mie goreng, kakak jadi bisa, hahaha!" Ejek adikku sambil tertawa.
"Ia dek." Kataku. Menyisir rambut.
Aku yang berdiri di depan cermin sambil menyisir rambut, menatap diriku yang terlihat bahagia hari ini. Jemari lemahku pun memegang sisir dengan erat. Wajah pucatku begitu terlihat merona.
"Kak, hari ini kakak bahagia sekali. Aku jadi ingin mengajak kakak main kelereng kembali." Ledek adikku kembali.
Sontak aku memutarkan kepalaku melihat adikku yang berdiri di sampingku, meledekku dan tersenyum, dengan wajah kesal aku menatap adikku mendelik.
"Kak jangan marah,nanti dengar ayah kakak tidak jadi sekolah." Canda adikku.
Aku seketika memutarkan kepalaku kembali melihat cermin sambil menahan amarah ku. Sesekali aku melihat wajah adikku yang tersenyum seakan dia menyukai kemarahan ku hari ini.
"Kak sudah sisiran nya." ucap adikku. "Nanti kita terlambat." Menatap ku. "Ini kan hari pertama kakak sekolah,anak baru gitu!" Ledek adikku kembali. Tertawa.
Mendengar ledekan adikku, hatiku yang tadi bahagia kini harus kembali pilu. Adikku begitu senang mengejek ku hari ini sementara aku yang berdiri di depan cermin terus melihat senyum wajahku yang pucat.
"Liyan!" Panggil ayahku sedikit keras. Berdiri.
"Ia Ayah." Jawabku. Meletakkan sisir.
"Kak,aku takut kalau Ayah berubah lagi." Sela adikku. Menghampiri ku.
Seketika aku memutar kepalaku menatap adikku yang berdiri di sampingku. Aku diam dan memutarkan kembali kepalaku melihat cermin.
"Masa ia Ayah berubah lagi." Gumamku kecil. Menatap diriku di cermin.
Adikku tetap diam menatap ku dan melirik ayahku.
"Ada apa Ayah?" Tanya ku ingin tahu. Menghampiri ayahku.
"Kamu tidak jadi sekolah." Selidik ayahku. "Kalau kamu tidak jadi! Di rumah saja istirahat meskipun,kamu sudah baikan." Lanjut ayahku. Menyiapkan sarapan.
Aku menatap adikku dengan wajah seakan aku tidak rela kalau aku tidak sekolah dan harus berdiam diri lagi di rumah. Wajah pucat yang berseri tadi kini terlihat sendu mendengar ucapan ayahku yang membuat wajahku tidak bersemangat menatap ayahku.
"Ayah, tapi ayah bilang, kakak hari ini sekolah, kan." Potong adikku. Berjalan.
"Kamu ini selalu memotong pembicaraan Ayah." Kata ayahku kesal. Mendelik.
Adikku seketika menghentikan langkahnya diam dan memutarkan badannya menatap ku.
Aku panik melihat adikku dan ayahku sehingga aku memasang wajah memohon untuk adikku dan menggeleng kan kepalaku pelan sebagai isyarat memberi jawaban untuk adikku agar dia diam.
Melihat ku,adikku memutarkan badannya kembali.
"Liyan kamu jadi,sekolah?" Tanya ayahku ingin tahu. Menaruh makanan.
"Jadi,Ayah. Liyan jadi sekolah." Jawabku dengan tegas. Berdiri. "Lagian Ayah kami sebentar lagi mau ujian." Menatap ayahku.
"Ayah tahu kalian mau ujian, tapi kalau sakit kan di kasih keringanan." Lanjut Ayahku.
Seketika wajah cemas ku pun terlihat jelas menggores di wajahku . "Ayah,tapi Liyan sudah sembuh kok." Lanjut ku. Meremas jemariku.
"Apa kamu sudah yakin." Kata ayahku dengan penasaran. "Berarti selama ini kamu bohong." Mendelik.
Melihat sorot mata ayahku, aku terperanjat sedikit ketakutan. "Ayah bukan! Liyan bukan bohong." Tandas ku.
"Ia Ayah." Sahut adikku. "Kak Liyan benar memang sakit." Berdiri di sampingku.
"Kak sudah ku bilang sepertinya Ayah tidak menepati janjinya." Bisik adikku di telingaku.
"Kakak engga percaya." Melirik ku.
Rasanya tubuh lemahku kembali dan rapuh. Aku menunduk dan diam seribu bahasa menatap dengan pandangan kosong. Seakan separuh jiwaku pergi meninggalkan ku.
"Liyan,kata Ayahmu benar." Sambut ibu sambung kami. "Kalau pun kalian ujian itu kan engga jadi masalah untuk mu." Berdiri. "Orang sakit kan di kasih keringanan." Menatapku.
Mendengar ibu sambungku hancur sudah impianku dan senyumku tadi, kini menjadi kenangan yang membuatku kecewa.
__ADS_1
"Ayah, Liyan mohon,izinkan Liyan sekolah. Liyan sudah ketinggalan pelajaran." Pintaku dengan lirih menatap ayahku.
"Kak pagi ini, kakak harus berdoa sama Allah banyak-banyak biar kakak di kasih sekolah." Bisik adikku. "Jangan cuman berdiri dan memohon sama Ayah itu engga akan terjadi." Ledek adikku. Berdiri dan tersenyum.
Mendengar adikku yang terus meledekku membuat ku semakin down dan frustasi.
Jemari lemahku rasanya tak ada di sampingku menemaniku.
" Di tambah lagi ibu kesayangan kakak bicara." Lanjut adikku. Menyeringai.
"Ayah, kasihan kakak dia sudah memakai pakaian seragamnya." Kata adikku. Menghampiri ayahku sambil menggenggam jemari ayahku. "Lagian kakak kan, sudah bisa semalam bermain." Lanjut adikku. Memohon dengan wajah lirih.
" Itukan cuman bermain. Jadi,berbeda sama sekolah." Kata ayahku tegas. "Kalau bermain itu cuman sebentar, lagian permainan kalian dekat dari rumah dan juga tidak lama." Lanjut ayahku. Meletakan makanan.
"Tapi Ayah,sekali ini saja." Pintaku. menghampiri ayahku.
"Liyan, Ayah itu takut kalau kamu nanti tiba-tiba jatuh pingsan." Sambung ayahku. Menyerahkan piring yang berisi makan kepadaku. "Makan dulu." Kata ayahku.
Wajah senduku pun terlihat begitu sedih melihat nasi yang ada di tanganku. Air mataku kini menganak di pelupuk mata melihat seragam yang telah terpasang rapi.
"Liyan,duduk makannya." Kata ibu sambung kami.
Adikku yang berjalan sambil memegang piring yang berisi nasi menatap ku dengan kasihan. Wajahnya terlihat ingin sekali menolong ku tapi dia tidak berdaya.
"Kak, ternyata mereka jahat." Cetus adikku.
Aku pun duduk manis mengikuti Perintah ayahku bersama piring yang berisi makanan sarapan pagi.
Jemari lemahku kini ku ayunkan dengan perlahan untuk meraih sendok yang terletak di atas piringku. Sorot mataku yang sayu menatap makananku dengan wajah yang sendu.
Adikku yang jail dan nakal serta menyebalkan kini menjadi teman dalam kesedihanku.
"Kak makanlah nanti kakak sakit engga jadi sekolah lagi." Kata adikku pelan. Mengunyah.
"Iya Liyan,apa kata adikmu betul, makanlah nanti kamu sakit dan tidak jadi, sekolah." Sambung ibu sambung kami. Minum.
Aku pun menganggukkan kepalaku pelan sambil menunduk. Menatap lirih nasi yang ada dihadapan ku dengan tangan yang berat aku menyuapkan ke dalam mulutku.
Aku melihat ayahku dari ekor mataku duduk di kursi kebesarannya menatap ku dengan lekat. Dia begitu miris melihatku yang tidak bersemangat.
" Liyan kamu yakin hari ini mau sekolah." Tanya ayahku kembali.
"Ia Ayah." Jawabku. Melihat dari ekor mataku.
Ayahku seketika diam langsung menyantap makanan yang ada di hadapannya. Dia terlihat begitu serius.
Semua terasa begitu hening tak ada sepatah katapun yang keluar walaupun hanya sekedar tawa kecil.
Aku yang masih memikirkan tentang diriku yang ambigu hari ini semakin membuat ku depresi. Rumah yang setelah sebulan mengekang ku rasanya tak ingin rela melepaskanku.
"Liyan, hari ini Ayah izinkan kamu sekolah." Cetus ayahku. Menatapku.
"Apa! Sambut ibu sambung kami. "Dia kan masih sakit." Menatapku.
"Ia siapa tahu hari ini dia sembuh." Sambung ayahku. Meneguk air minum.
Seketika wajah sendu ku berubah merekah dengan mengembangkan senyum.
" Ayah kalau begitu kami berangkat sekarang." Kata adikku. Berdiri.
Seketika ayahku tersenyum melihat adikku yang begitu antusias berdiri.
"Ia, anak ayah hati-hati,ya!" Harap ayahku.
"Ia Ayah." Tandas adikku. Menatap ku.
Aku pun langsung beranjak dan berjalan mengambil tas yang terduduk di lantai. Seketika aku menyandang nya dengan begitu semangat.
"Ayah kami pergi dulu!" Pamit ku pada ayahku.
"Hati-hati kalian jangan nakal dengarkan apa kata guru.Belajar yang betul." Seru ayahku.
"Kalian engga mau di antar oleh ayah mu." Sambung ibu sambung kami. Menatap kami.
" Tidak usah, kami berjalan saja . Lagian kami kan pergi bersama. Nanti, di jalan juga kami bertemu dengan teman yang lain." Kata adikku.
"Ayo kak." Sambut adikku menarik lenganku pelan.
Kami berdua pun pergi melangkah kan kaki keluar pintu sambil mencium punggung tangan ayahku yang berdiri di depan pintu melihat kami keluar.
Sementara ibu sambung kami pun ikut mengantarkan kami keluar. Dia berdiri juga di depan pintu tepat di hadapan ayahku. Kami pun mencium punggung tangannya.
"Kami pergi Ayah,Ibu." Lanjut kami. Melangkah.
Perjalan kami pun begitu ramai selain, aku dan adikku yang pergi jalan kaki, anak -anak lain pun ada juga yang pergi berjalan kaki seperti kami.
"Kita ini terlambat atau tidak ya kak, sampai di sekolah." Kata adikku.
__ADS_1
"Kakak tidak tahu dek tapi kayaknya kita perginya terlalu lama. Sambut ku. Berjalan.
"Kakak kan selalu seperti itu." Sungut adikku. "Pergi sekolah terlalu cepat." Ejek adikku. Melirikku.
Sepanjang perjalanan begitu menyenangkan bagiku.Tidak terasa kaki yang ku kayuh ternyata telah sampai di gerbang sekolah. Adikku seketika tersenyum melihat gerbang sekolah yang ia masuki.
"Coba lihat mereka." Kata adikku. Mengayunkan telunjuknya ke udara. "Mereka berkumpul ramai di situ ngapain ya, kak." lanjut adikku.Berlari.
"Ana tunggu." Teriak ku.Berjalan kencang.
Halaman sekolah baru pertama kalinya aku masuki setelah sekian lama aku istirahat karena sakit. Tungkai kakiku yang lemah kini tiba-tiba mau terhempas. Mataku kini menatap dengan berputar membuat jalanku gontai.
Tubuh mungilku yang sebelumnya telah membaik kini memburuk kembali. Panas dingin menyelimuti diriku saat ini.
Sementara adikku telah lebih dulu berlalu meninggalkan ku sendiri. Aku yang berjalan dengan pandangan gelap membuat ku seakan meraba tempat yang bisa untuk aku singgahi sebentar.
"Liyan kamu kenapa?" Tanya salah seorang teman. Menghampiri ku.
Aku yang memaksa tubuhku terus berjalan hanya tersenyum tanpa mendengar apa yang dia tanyakan. Hari ini membuat ku begitu dilema.
"Liyan kamu sakit, ya?" Tanyanya. Menatapku.
"Tidak." kataku. Menutupi kebenaran.
"Benar." Katanya. "Tapi aku lihat kamu sepertinya sakit." Sambung nya.
Mendengar pertanyaannya aku masih diam berjalan sambil menatap lurus dengan menjaga diriku agar tidak terlihat seperti orang sakit.
"Widia, kita sudah sampai di kelas." Kataku. Menatap pintu kelas.
"Ia,engga terasa ya Liyan ternyata, kita sudah sampai." Ulangnya kembali.
Aku pun melangkahkan kakiku yang lemah dengan tegar. Seketika aku melihat sekeliling kelasku yang telah banyak perubahan. Kedua mataku terus menatapnya sementara kakiku terus melangkah menuju mejaku.
"Liyan kamu ngapain ke situ." Tanya Widia. Berhenti.
Spontan aku terkejut dan diam dengan kebingungan seakan Widia tidak tahu kalau ini adalah mejaku. Wajahku pun seketika terlihat seperti orang bodoh.
"Mau duduk." Kataku. Memegang tas.
"Kita sudah pindah bangku." Sambung Widia.
"Apa!" Seketika aku terperanjat seakan tidak percaya kalau meja ku telah berubah.
"Pindah di mana?" Tanyaku. Berjalan.
"Kita sudah pindah di meja situ." Kata Widia. Mengayunkan telunjuknya.
Aku langsung mengikuti telunjuk yang di ayunkan Widia dan berjalan mengikutinya.
" Kita duduk di sini." Lanjut ku. Melihat meja.
" Ia, kita sekarang duduk di sini." Sambung Widia. Melihatku.
kedua bola mataku pun aku pasang dengan lebar melihat meja dan kursi yang akan aku duduki sambil diam aku langsung menaruh tas yang aku sandang.
"Liyan, kamu lama sekali sakitnya." Tanya Widia.
"Ia,ini saja aku belum sembuh total." Lanjut ku.
"Ha! Jadi, bagaimana nanti kalau kamu tiba-tiba sakit di sini." Kata Widia. Terkejut.
Melihat wajah Widia seakan dia tidak percaya kalau aku sanggup untuk mengikuti pelajaran sampai selesai. Dia terlihat begitu cemas melihat ku.
"Liyan,kau yakin kau sanggup." Sambung nya kembali. "Tadi saja kamu sudah mau pingsan." Lanjutnya. Melihatku dengan lekat.
"Aku sanggup kok. Kita kan cuman belajar saja." Ucapku. Melihat Widia.
"Tapi kita ada upacara bendera hari ini." Kata Widia dengan tegas.
Seketika aku terdiam mendengarnya kalau kami upacara bendera hari ini. Seketika tubuh mungilku yang lemah gemetar.
"Terus kamu nanti kayak mana." Lanjut Widia kembali.
Seketika wajah bingung Widia dan aku pun terlihat dengan tajam menatap pintu kelas.
"Sebaiknya kamu tidak usah sekolah dulu. Kamu itu masih lemas." Kata Widia.
.
.
.
Teman-teman sekali lagi terimakasih atas dukungannya like, komentar, favorit.🥰🤗
❤️❤️❤️
__ADS_1
Bersambung...