Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Tumpukan baju


__ADS_3

"Iya Ayah," jawabku, memutar badan.


"Ana, apalagi tidak masuk kamar, nunggu Ayah hukum dulu," kata ayahku. Berdiri melirik adikku.


Dengan berat hati dan terpaksa adikku masuk kamar dan melupakan boneka kesayangannya.


"Kak, aku gak suka kalau Ayah memanggil Ibu kesayangan Kakak itu lagi balik ke rumah ini lagi," kata adikku.


Langkah kakiku yang lebih dulu maju ke depan mendengar ocehan adikku yang berjalan di belakangku.


"Kalau Kakak sama Ayah itu sama saja," cetus adikku.


Omelannya masih terdengar memenuhi setengah ruangan kamar. "Kalau Ibu kesayangan Kakak itu gak ada di sini 'kan enak," kata adikku, menarik selimut.


Tubuh mungil yang lemah ini pun aku rebahkan untuk meregangkan otot-ototku yang sudah lama terasa lelah akibat bermain sepanjang hari.


"Ana, ini udah malam sekarang kau tidur saja dulu. Nanti Ayah mendengarnya. Kita dihukum lagi," pintaku mengiba.


"Alah Kak, Kakak tenang saja. Ayah gak bakalan tau kok," jawab adikku. Sok tahu.


"Tapi kalau Ayah mendengarnya tiba-tiba, bagaimana?" tanyaku, melirik adikku. Di ikuti tubuh mungil yang lemah ini berbaring. "Sebaiknya kita tidur saja," kataku.


"Iya Kak," jawab adikku. Melihat langit-langit kamar.


Malam pun semakin bergulir dengan larut. Jam dinding yang tadi terdengar dentingannya kini tidak lagi.


🌵🌵🌵


"Liyan," teriak ayahku membangunkan mata yang terlelap.


"I-iya Ayah," jawabku sedikit terbata bercampur mata yang masih mengantuk.


"Ayah lihat di sudut lemari Ayah ada tumpukan baju," kata ayahku.


Selimut yang menutupi tubuh mungil yang lemah ini langsung terlempar begitu saja. Turun dan menghampiri ayahku.


"Ada apa Ayah?" tanyaku, mendekati ayahku yang duduk memakai sepatu.


"Di sudut lemari Ayah ada tumpukan baju. Apa itu bajunya kalian?" tanya ayahku, meneguk secangkir teh.


"Tidak Ayah," kataku, melihat ayahku yang meletakkan cangkir di atas meja.


"Kalau bukan punya kalian, lalu punya siapa?" tanya ayahku terheran. "Apa Adikmu yang suka bermain itu?" tanya ayahku semakin bingung.


Bibirku terus saja tertutup rapat. Berdiri dihadapan ayahku dengan gurat wajah penuh tanda tanya.


"Kami gak tau, Yah," jawabku.


"Apa punya Ibumu?" tanya ayahku, menatapku tajam bercampur tanda tanya.


Pikiranku pun mulai mengingat tentang semalam. Sebelum ibu sambung kami pergi meninggalkan kami tidak ada gelagat aneh yang mencurigakan terlihat.


"Aku juga gak tau Ayah," kataku yang masih di landa kebingungan. "Tapi Ibu semalam pergi dia gak ada bilang Ayah kalau menaruh baju di situ," lanjutku, melihat tirai kamar.

__ADS_1


"Percuma Ayah bertanya pada kalian. Apapun yang Ayah tanyakan kalian semua tidak tau," sesal ayahku sudah membuang waktunya terlalu lama. "Kalau begitu Ayah pergi kerja dulu, ya!" kata ayahku.


"Iya, Ayah," jawabku.


"Bilang sama Adikmu jangan keluar rumah. Kalau mau bermain. Bermain saja di dalam rumah," kata ayahku, menutup pintu. "Kunci pintunya kuat dari dalam Liyan. Nanti kalau ada yang memanggil jangan di buka pintunya," ucap ayahku.


"Iya, Ayah," sahutku, mengintip ayahku pergi dari balik pintu.


Bangku kayu yang sering digunakan ayahku untuk duduk dan makan pun aku seret sepelan mungkin untuk menutup pintu.


"Kak!" panggil adikku. "Kakak ngapain?" tanya adikku, membuka tirai.


Sontak aku terkejut. "Kakak lagi ngunci pintu," terangku, turun dan menyeret bangku kembali.


"Siapa yang nyuruh Kak?" tanya adikku.


"Ayah," jawabku langsung.


"Berarti Ayah udah pergi ?" tanya adikku terkejut.


"Iya, sudah," jawabku, melihat adikku yang cemberut.


"Kenapa Kakak gak membanguni aku?" tanya adikku sebal.


"Ayah tadi buru-buru," jawabku, melihat raut muka adikku yang berubah sedikit masam.


"Alah, Kakak pasti bohong lagi," rajuk adikku. Duduk di lantai.


"Kakak, engga bohong, Dik," kataku.


"Jadi, kau bilang Kakak hari ini bohong," ucapku. Duduk di samping adikku juga.


Seketika dia hanya diam saja sambil melihat jendela. "Kalau Ayah udah pergi. Kenapa jendelanya terbuka Kak?" tanya adikku bingung.


Sontak aku sedikit terkejut melihatnya. "Mungkin Ayah kasihan melihat kita, Dik," jawabku. Bangun dan berjinjit melihat keluar jendela yang tinggi.


"Hahaha!" Adikku tertawa geli melihat tingkah konyolku yang tidak masuk akal. "Kakak ngapain jinjit?" tanya adikku.


"Biar bisa melihat keluar," jawabku, memutar badan melihat adikku yang senang menertawai.


"Kakak gak bakalan bisa," katanya.


"Kenapa?" tanya tidak terima dengan ejekan adikku.


"Iyalah, 'kan tinggian jendelanya dari Kakak, hahaha!" kata adikku tertawa sambil menghampiri dapur.


Semangat yang tadi begitu kuat dan rasa percaya diri yang tinggi ingin melihat keluar menjadi turun karena ucapan adikku yang keluar begitu saja.


"Kau ngejek Kakak, ya," kataku, melihat adikku yang mengambil air minum.


"Siapa yang ngejek Kakak?" kata adikku melayangkan pertanyaan terhadapku.


"Itu tadi barusan apa?" kataku melayangkan pertanyaan kembali padanya.

__ADS_1


"Kak, jangan marahi aku! Aku takut," ucap adikku, meneguk air minum.


"Siapa yang marah samamu, Dik?" tanyaku panik setelah mendengarnya.


"Itu barusan 'kan Kakak marah samaku," jawab adikku tanpa menoleh sedikit pun dari mulut gelas.


Aku semakin tidak mengerti setelah mendengar ucapan adikku yang barusan diutarakannya.


"Engga, Dik. Kakak gak marah kok samamu," terangku dengan lembut.


Tubuh kecil adikku pun langsung dia putar tepat berhadapan lurus dengan ku. Wajah imutnya itu masih tetap terbenam di dalam mulut gelas.


"Ana, Dia pasti marah?!" gumamku pelan, melihat adikku yang kesal sendiri di dapur.


Plak!


Gelas pun di letakkannya di atas bangku. "Kak, air minumnya dingin," kata adikku.


Aku pun tiba-tiba terkejut melihatnya. Adikku yang kebiasaan sehari-harinya memang selalu seperti itu membuatku jengah.


"Tapi kenapa habismu juga?" tanyaku. Berjalan menghampiri adikku yang mukanya sedikit terlihat shock.


"Aku haus dan pengen minum, Kak," jawab adikku berpura menunduk sedikit lesu.


Sedikit banyak adikku sangat pandai dalam mengelabui agar aku panik dan cemas.


"Tapi Kakak sebenarnya bukan kepengen minum," ucapku.


"Jadi, apa Kak?" tanya adikku ingin tahu.


"Kakak pengen bermain keluar," kataku melihat jendela yang terbuka.


"Kak, jangan coba-coba keluar! Kakak 'kan sakit," ujar adikku, melebarkan kedua bola matanya.


Semangatku langsung meredup dan menunduk melihat kedua ujung kakiku yang lemah.


"Tapi 'kan Kakak ke pengen bermain," kataku melihat ke langit biru.


"Kalau Kakak sehat ya gak papa Kak. Kita keluar bermain. Tapi ini 'kan tidak," ungkap adikku.


Seketika aku langsung diam menutup bibir dengan rapat sambil sambil bersandar di meja kecil milik kami.


"Kakak jangan buat aku dihukum, Kak. Aku udah malas kalau harus dihukum lagi," terang adikku penuh penekanan.


"Kakak gak akan buat kau dihukum lagi kok," kataku dengan nada suara sesal. "Ana, kenapa di kamar Ayah ada tumpukan baju?" tanyaku.


"Aku gak tau Kak," jawab adikku enteng.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2