
"Jadi, bagaimana kalau Ayah belum tahu?" tanya adikku menatap ayahku yang murung.
"Iya, Yah. Kayak mana Ayah besok bekerja?" tanyaku pelan sambil menatap ayahku.
"Besok akan Ayah usahakan, bagaimana caranya? Agar bisa bagus kembali." Ayahku menatap keluar rumah.
"Kenapa harus menunggu besok?" tanya ibu sambungku. "Sekarang 'kan bisa. Ini mesti pula besok. 'Kan sayang engga dapat uang besok," tampik ibu sambung kami.
"Harinya sudah terlalu sore. Sebentar lagi malam," jawab ayahku dengan nada suara datar.
"Masih lama lagi malam," sambung ibu sambung kami.
"Mana pula lama." Ayahku langsung melihat ke arah jam dinding yang tergantung tepat di atas bangku. "Ini saja sudah jam 06 : 05 WIB. Sebentar lagi azhan," sela ayahku langsung.
"Azhan aja yang kau pikirkan," kata ibu sambung kami dengan kasar. "Kalau tidak itu. Anakmu lah! Alasanmu ada-ada saja," cecarnya.
"Itu bukan urusanmu," kata ayahku dengan penuh penegasan. "Urusanmu bagusi aja sholatmu! Jangan ada yang bolong -bolong!" lanjut ayahku melihat istrinya dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Di kasih tahu pun bagus-bagus kau tidak terima, cih." Ibu sambung kami membuang muka langsung.
"Kalau kau mengasih tahu jangan kau bawa- bawa masalah azhan!" Tatap ayahku dengan sinis. Dan juga masalah Anakku." sambung ayahku. "Itu saja yang sering kudengar kau ucapkan," Ayahku dengan kesal menghela napas kasar.
Mereka sekarang terlalu sering bertengkar. Ribut dengan alasan yang tidak jelas. Aku yang mendengarnya semakin depresi. Suara-suara keras itu bersahut-sahutan dengan tenang.
"Ayah, kalau besok Ayah mau pergi memperbaiki becak Ayah. Aku ikut ya, Yah," rayu adikku memohon sambil mengangguk.
"Iya, Yah. Aku juga pengen ikut dengan Ayah. Biar Ayah ada temannya nanti," sahutku.
"Tapi Anak Ayah besok 'kan sekolah." Ayahku langsung melihat kami berdua.
"Ayah, apa Ayah lupa? Kalau besok hari minggu," kata adikku.
"Apa iya, besok hari minggu?" Ayahku bangun dari duduknya melihat kalender. "Berarti ini sudah akhir bulan," gumam ayahku sambil memperhatikan tanggal di kalender.
"Ayah, kenapa Ayah bisa lupa hari?" tanya adikku.
"Apa karena Ayah tidak sekolah lagi? Hihihi!" Aku bertanya dengan geli. Seakan meledek ayahku sedikit.
"Hihihi! Mungkin karena Ayah sudah tua, ups!" Adikku tertawa geli menutup mulut. "Ayah maaf," kata adikku setelah adikku melihat ayahku meliriknya.
"Ayah, Ana sudah berani mengejek Ayah," ucapku menjahili adikku.
"Engga Ayah. Engga ada yang berani sama Ayah," ucap adikku langsung. "Ayah itu adalah orang yang paling kami takuti di rumah ini," ucap adikku perlahan menunduk dan pelan. Seakan dia merasa bersalah dan malu.
Aku pun langsung berpura-pura tidak mendengar hingga aku memutar badan melihat dinding seolah aku bertugas menghitung papan kamar ayahku.
Ibu sambung kami yang lewat melalui kami berhenti melihat keragaman tingkah kami yang seakan mengusik kenyamanannya.
Hihihi ! Aku yang tertawa bersama adikku pun nyengir melihatnya yang menatap kami bengong. "Ibu," panggilku pelan seakan menyapa seorang yang penting.
Dari kalangan anak kecil seperti kami ini. Tertawa puas adalah yang paling kami inginkan. Di tambah lagi tertawa bersama ayah adalah momen istimewa yang jarang terlewatkan oleh kami hari ini.
Ini adalah hal yang langka kalau ayahku mau tertawa melepaskan semua kesukarannya. Ini sangat jarang sekali terjadi. Di mana ayahku begitu senang sehingga aku dan adikku menatapnya melongo.
"Ayah, Ayah lucu sekali tertawa," ucap adikku.
"Iya Ayah. Ayah sih, jarang sekali tertawa." Aku melihat ayahku yang tidak seperti biasanya.
"Ayah lucu melihat Anak Ayah berdua ini. Baru kali ini Ayah menyadari kalau kalian berdua sangat kompak," ucap ayahku terharu.
"Iya, kau benar. Sekali lagi aku melihat bahwa kedua Anakmu memang kompak," sambung ibu sambung kami yang masih berdiri.
"Iya," jawab ayahku dengan bahagia. "Anakku adalah bintang kehidupanku. Tanpa mereka mungkin aku tidak bisa sekuat ini. Mereka selalu saja membuatku bahagia. Rasanya masalah yang kuderita sekaan tidak pernah ada." Ayahku berkata pada ibu sambung kami yang menyeringai mendengarnya.
Aku yang melihat dan mendengarnya tertunduk sambil bercampur haru dan sedih. Ucapan yang keluar dari ibu sambungku tidak bisa di pungkiri kalau dia memang tidak menyukai kebahagiaan kami. Wajahnya yang penuh kebencian begitu benci melihat aku dan adikku. Lekukan garis ketat di wajah menuanya pun tersirat menatap kami.
Mataku yang sedikit melemah menatapnya tanpa bergeming sekali pun. Tatapannya yang tidak menyenangkan menusuk dan membuatku refleks melihat kaki. Spontan denyut nadiku melemah setelah aku mendengar yang sebenarnya.
"Ayah, sekarang Ayah tidak sedih lagi, 'kan?" tanya adikku.
"Tidak. Ayah sekarang sudah tidak sedih lagi. Kedua Anak Ayah adalah peri penghilang kesedihan," ujar ayahku menimang masalahnya dengan bijak.
"Hihihi!" Tawa adikku menatapku. "Ayah yang paling cocok jadi peri... ." Adikku diam menatapku. "... adalah Kakak," bisiknya pelan di telinga ayahku. "Iya, kan, Ayah," ucap adikku seakan mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
Aku yang serba penasaran berjalan mendekati mereka berdua sambil mendekatkan telingaku ke dekat mereka.
"Mmm! Jadi, ini yang di rahasiakan adikku." Aku berdiri sambil mengangguk senang sebab aku telah mendengarnya. "Mereka pikir aku bodoh bisa di kelabui," gumamku pelan. Menahan senyum.
"Kenapa kau bilang Kakakmu?" tanya ayahku penasaran.
"Kakak 'kan cantik, Ayah," jawab adikku manyun. "Bahkan teman-temanku saja bilang... kalau Kakak itu cantik," sambung adikku seakan merasa dirinya rendah.
"Anak Ayah yang satu ini cantik juga , Kok," sambung ayahku memuji adikku yang duduk di pangkuannya.
"Tapi 'kan, cantikan Kakak, Yah," imbuh adikku. Melihatku sambil mengeluarkan sedikit kepalanya dari dadaku ayahku yang lebar.
Aku yang melihat adikku tanpa sengaja bertemu pandang. Aku pun menatapnya sambil menaikkan alis sebagai isyarat bertanya pada adikku dengan kedua netraku yang melebar.
"Ana, kau bilang apa pada Ayah?" tanyaku berpura-pura sambil memutar pandanganku sesekali melihat ibu sambung kami yang tadi membenci kami yang tertawa.
"Aku tidak bilang apa-apa, Kak," jawab adikku sambil melihat ayahku sekilas dengan wajah menyembunyikan sesuatu.
"Liyan, kau sangat mencurigai adikmu sekarang, ha?" tanya ayahku .
"Bukan begitu Ayah," jawabku cemberut. Menggemaskan.
"Kalian ada-ada saja! Dari tadi Ibu perhatikan kalian manja," timpal ibu sambung kami yang memutar langkah menjauh. "Bukannya kalian membersihkan ini. Malah kalian berkumpul di situ, Ayah dan Anak," cetus ibu sambungku ngedumel.
Setelah mendengar yang dikatakan oleh ibu sambung kami. Aku diam membisu, seperti orang yang merasa sedikit bersalah. Di sini rasanya seakan aku yang melakukan kesalahan sehingga menjadikan aku terasing tanpa sebab.
"Ayah, kami 'kan hanya ingin melihat Ayah tersenyum," ucapku dengan kalimat yang baik. "Tapi, kenapa Ibu mengatakan yang tidak baik pada kami?" Aku berjalan mendekat kepangkuan ayahku.
"Liyan, mungkin Ibumu sedikit lelah," ujar ayahku.
"Lelah karena apa, Ayah?" tanyaku ingin tahu.
"Apa lelah melihat kami, Ayah?" tanya adikku kembali. Bangun dari pangkuan ayahku.
"Mungkin lelah karena terlalu capek kerja, Kak," sambung adikku. Sok tahu.
"Tidak, Nak," jawab ayahku.
"Bukannya tadi Ayah bilang Ibu lelah, Yah?" tanyaku dengan penasaran.
Ayahku seketika terdiam. Dia seakan tidak bisa berkata-kata lagi. Ayahku hanya bisa menatap nanar sebagai jawaban atas keingintahuan kami. "Nak, sekarang kalian bermain dulu, ya," pinta ayahku.
"Ayah, tapi kami takut bermain," ucap adikku.
"Iya, takut di marahi," kataku menatap kakiku.
"Ibumu kalau lelah dia tidak akan bisa memarahi kalian," ucap ayahku.
"Kenapa tidak bisa, Yah?" tanyaku ingin tahu. Berdiri di hadapan ayahku.
"Iya, Yah. Padahal 'kan, Ibu sudah lelah," lanjutku lagi.
"Siapa bilang Ibu lelah?" ucap ibu sambungku kembali menghampiri kami. "Ibu itu tidak lelah. Kalau kalian ingin bermain. Bermain saja, ayo di sini!" ajak ibu sambungku.
"Ayah, kalau begitu kami bermain dulu, ya!" pinta adikku memutar badan melihat ayahku.
"Iya bermainlah! Tapi nanti setelah kalian selesai tolong bersihkan nanti!" harap ibu sambung kami yang mendadak baik.
"Iya Bu," jawabku langsung memutar badan melihat mainan lamaku.
"Anak BP," kataku pelan berbisik di telinga adikku. Berjalan mengambil kotak yang telah berabu.
Kotak mainan yang aku simpan di bawah kolong lemari aku ambil perlahan sambil mengembus debu yang memenuhi kotak yang telah sedikit memudar itu.
Wajah sumringah pun langsung terpancar dari kedua bola mataku yang bening. Mata bening sayuku begitu melebar seakan bahagia sekali rasanya saat ini.
Kotak itu pun kini aku dekatkan di hadapanku. Wajah sumringah yang tertoreh pun membuka kotak mainan lamaku. "Ana, Kakak membersihkan kotak ini dulu, ya." Aku secepat mungkin bangun dari duduk sambil membawa kotak itu keluar.
Hahaha !" Ayahku tiba-tiba tertawa mengejutkanku. "Ayah baru ini tertawa di buat oleh kalian," ungkap ayahku.
Aku yang tadi terkejut mendengar suara tawa itu refleks memutar badan melihat ayahku yang terbahak.
Hahaha ! Adikku pun tiba-tiba ikutan juga tertawa yang membuat aku tercengang melihatnya. "Jalan Kakak lucu sekali," ungkap adikku sambil mengayunkan telunjuknya ke udara menunjukku.
__ADS_1
Aku semakin menatap mereka dengan lekat. Aku tidak menyadari, bahkan tidak bisa mengetahui bentuk jalanku itu, seperti apa.
Aku semakin bertanya-tanya menatap diriku sendiri. Lucu sekali rasanya ketika aku melihat adik dan ayahku yang tertawa tanpa kuketahui sebab akibatnya. Rasanya aku ingin ikutan juga tertawa, seperti mereka. Akan tetapi, aku mengurungkannya langsung karena seperti yang kuketahui bahwa mereka menertawai diriku.
"Ayah," kata adikku.
"Iya Nak," sahut ayahku.
"Ayah tahu tidak?! Kalau Kakak tadi ingin tertawa juga, hihihi," kata adikku menggelitik hati.
"Iya." Ayahku melihatku. "Tapi, kenapa tidak jadi tertawa?" tanya ayahku penasaran melihatku dan adikku.
"Liyan, apa mainanmu berat?" tanya ibu sambung kami menghampiri.
Aku yang setengah membungkuk di udara memegang kotak mainan yang berdebu tidak bisa bersuara lantang, seperti mereka karena menahan kotak agar tidak terjatuh.
"Iya, Nak. Apa mainanmu berat?" tanya ayahku.
"Kalau berat Kak, sini aku bantu." Adikku langsung berjalan menghampiri sambil mengulurkan tangan bentuk pertolongan untuk menolongku.
"Engga usah. Kakak masih sanggup kok," tolakku sambil menggeser kotak ke arah kiri.
Adikku yang melihat penolakanku pun semakin berkerut dan menoleh ke arah ayahku. "ptfff." Adikku menutup mulutnya menjaga perasaanku supaya aku tidak malu.
Namun, adikku yang jahil tidak mau berhenti di situ saja. Dia juga melakukan gerakan menirukan tingkahku yang tanpa kusadari seperti orang tua yang renta.
"Hahaha !" Sontak ayahku pun tertawa terbahak seakan melepaskan beban diri yang memuncak menimpanya tadi.
Sementara adikku semakin senang menirukan gayaku yang berjalan dengan gontai dengan kotak mainan yang di penuhi oleh debu yang sedikit tebal.
"Kak, jalan Kakak seperti itu... ," menatapku. "... iya 'kan, Yah?!" Adikku memutar kepala melihat ayahku yang sumringah.
Wajah menua ayahku yang melingkari kedua ruas pipinya tersirat kebahagiaan sementara yang berusaha dia tunjukkan kepada kami untuk menjauhkan pikiran kami dari berpikir sepanjang waktu.
"Ayahmu baru ini Ibu lihat tertawa," tutur ibu sambung kami yang ikut tersenyum juga melihat tingkah adikku yang jahil. "Selama ini wajah Ayahmu selalu ketat." cetusnya. "Jarang sekali kita lihat tertawa," ucapnya.
"Tapi 'kan, Ayah sering tersenyum juga," sambungku sambil meletakkan kotak yang aku pegang dengan pelan di depan pintu. "Walaupun ayah sering dihadapkan masalah setiap hari," ucapku bangun kembali dari jongkokku.
Aku pun berjalan kembali masuk ke dalam mengambil kain lap yang tersimpan di dalam lemari dapur. "Ana, kau sangat senang, ya mengejek, Kakak." Aku membuka pintu lemari dan mengambil kain lap.
"Mengejek bagaimana?" tanya adikku yang berpura tidak mengakui.
"Kau mungkin Anak yang mempunyai bakat terpendam." Aku menutup pintu dan segera bangun.
"Hahaha !" Ibu sambungku tiba-tiba tertawa mendengar penyampaianku.
Aku pun seketika merasa heran dan melihat adikku yang berdiri di depan pintu memegang kotak mainanku. Dapur yang kini telah kutinggalkan kini terlihat sepi.
Kakiku yang melangkah sambil membawa kain lap itu terus melangkah sambil keheranan menatap ibu sambungku yang terlihat bahagia.
Sementara ayahku yang sedang duduk di bangkunya tidak merasa ada yang salah pada istrinya. Ayahku malah ikut tertawa dengan polosnya.
"Memang kalian itu seperti Anak yang kurang bahagia," sindir ibu sambungku dengan spontan. "Hahaha !" Dia pun semakin tertawa puas.
Tawanya yang melebar seakan menyentuh perasaanku menjadi tidak enak. Aku yang melintasi jalan yang bertepatan dengan tempatnya berdiri pun sangat malu sekali sehingga kain lap yang aku bawa pun terjatuh ke lantai.
Braugh! Kain pun berkibar melebar menutupi lantai.
Ibu sambungku yang menyeret ke ranjang pakaian pun duduk sambil melipat pakaian yang ingin di setrika oleh ayahku. "Makannya kalian begitu bahagia sekali hari ini." Ibu sambungku mulai melipat baju.
"Kami memang kurang bahagia... karena Ibuku sudah meninggal sejak kami kecil," balas adikku dengan kesedihan.
Aku yang telah sampai di depan pintu berjongkok dengan sendu setelah mendengar jeritan dari dalam hati adikku. Aku yang mengilap pun sambil menatap adikku yang mengatakan itu.
Betapa sedih wajah adik dan ayahku setelah mendengar yang dikatakan oleh ibu sambungku yang berbicara tanpa memikirkan perasaan kami.
Aku tidak bisa lagi berkata-kata. Hempasan batu besar yang telah menimpa kami kini terduduk manis memenuhi kebenaran yang sebenarnya kami tutupi dengan segala kepandaian.
"Bagaimana tidak? Kalian sekarang tertawa, seperti orang gila yang dijalan-jalan itu!" sambung ibu sambungku tidak berpikir sedikit pun.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...