Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Di kelas


__ADS_3

Widia menemani ku berdiri di samping dan mengawasi diriku yang akan berdiri. Dia begitu khawatir melihat diriku yang lemah hari ini.


"Liyan kalau kau tidak sanggup biar aku bantu." Pinta Widia." Berdiri.


"Tidak Widia, aku sanggup." Kataku Menatap Widia.


"Liyan, aku takut kalau kamu nanti jatuh." Seru Widia kembali menatapku dengan lekat.


Aku pun terdiam dan menunduk mendengar apa yang di katakan Widia sehingga membuat kepercayaan diriku down.


"Ayo, Liyan biar aku bantu sebentar lagi guru akan masuk." Lanjut Widia kembali. Mengulurkan tangannya.


Aku pun menganggukkan kepalaku menerima uluran tangan Widia. Aku berusaha bangun dan menyeret ke dua kakiku dengan perlahan.


Widia terlihat begitu tulus memapah ku di tengah -tengah murid yang berjalan.


"Liyan,besok kalau kamu tidak sanggup sekolah tidak usah masuk." Cetus Widia. " Nanti sakit mu makin parah." Lanjut Widia terus berjalan memapah ku. "Kasihan kamu nanti Liyan kalau kamu sakit di waktu ujian, kayak mana." Cetus Widia kemabli menatap ku.


Seketika aku terdiam mendengar apa yang disampaikan oleh Wida, aku merenungi dari setiap perkataan yang di sampaikan olehnya padaku.


"Ia Widia, aku tahu tapi aku pengen sekolah." Kataku dengan lirih menatap Widia yang berada disamping ku.


"Liyan tapi kalau kau memaksakan sekolah takut nya sakit mu makin parah." Sabung Widia dengan nada suara pelan.


Aku terdiam dan menunduk dan malu untuk melihat Widia. Hari ini aku rasanya terlihat seperti orang yang bodoh dan tidak berguna.


"Liyan sebaiknya kita panggil saja Ayahmu untuk menjemput mu." Cetus Widia melihatku dengan sendu.


"Aku takut, nanti Ayahku marah." Jawabku dengan pandangan kosong.


Widia pun diam menutup mulutnya dengan rapat seakan wajahnya mengatakan, mana mungkin ayahmu marah, seperti itulah yang kulihat dari ekor mataku.


" Widia jangan bilang sama Ayahku, ya." Pintaku dengan wajah memohon kepada Widia. "Nanti, kalau Ayahku tahu aku sakit, dia akan memarahi ku di rumah." Lanjut ku melihat lurus ke depan.


Widia langsung melihat ku dan mendengar permohonan ku sambil memapah ku berjalan menuju kelas.


Kami pun terus berjalan dengan tertatih-tatih di tengah halaman sekolah. Murid -murid terlihat bersilewaran dengan tawa yang ceria.


Wajah pucatku melihat mereka begitu senang seakan sakit yang menderaku hilang berlalu. Senyum tersungging pun hadir di bibir kecilku yang pucat.


"Widia kamu masih sanggup memapah ku." Kataku dengan pelan. "Kalau kamu tidak sanggup lepaskan saja, aku bisa kok jalan sendiri." Lanjut ku kembali dengan penuh keyakinan.


"Engga usah Liyan,biar aku bantu saja, aku sanggup kok." Sambung nya dengan tegas. "Nanti kalau kamu kenapa-kenapa, aku pasti di marahi oleh Ayahku." Ungkap Widia. Berjalan bersama ku.


"Di marahi ayahmu, kenapa?" Tanya ku ingin tahu. Melihat Widia.


"Ia,aku kan temanmu satu kelas,teman sebangku juga selain, itu kita satu kampung,rumah kita berdekatan dan orang tua kita pun berteman." Lanjut Widia dengan wajah datar. Melihat lurus ke depan.


"Engga apa-apa Widia, Ayahmu engga akan tahu kok. Aku engga akan bilang sama Ayah mu apalagi, Ayahku " Tandas ku.


Seketika Widia pun terlihat diam. Dia tidak membalas apapun walaupun dia ingin. Dia tetap melihat lurus ke depan dengan tegak.


Wajahnya seketika, terlihat sedikit masam mendengar perkataan ku tadi.


"Liyan kamu sakit ya." Tanya Septiani tiba-tiba berjalan di samping kami.


Aku dan Widia sontak terkejut mendengar suara tiba-tiba datang dari samping kami.


Wajah pucatku pun melihatnya malu dan menunduk. Sementara Widia diam dan terus berjalan.


"Kenapa engga di jawab?" Tanya Septiani melihat ku dan Widia dengan lekat. "Widia." Panggil Septiani kembali.


Widia yang berada di sampingku melirikku dengan gurat wajah panik seakan ia mengatakan, bagaimana kalau Septiani tahu. Aku yang melihatnya pun diam dan panik juga.


"Septiani kenapa kamu belum masuk ke kelas?" Tanya Widia dengan nada suara datar. Melihat Septiani dengan sedikit takut.


"Apa!" Sambut Septiani spontan. "Ini aku kan mau masuk kelas." Sambung Septiani. Berjalan di samping kami.


Sementara aku yang berada bersama mereka diam sambil menikmati langkah kakiku yang lemah dan mendengar kan setiap perkataan Widia dan Septiani.


"Widia, kita tidak ada tugas,kan ?" Tanya Septiani.


"Tidak." Jawab Widia dengan datar.


Di tengah-tengah pembicaraan mereka, tubuhku rasanya mulai melemah. Kakiku rasanya semakin berat untuk melangkah. Kehangatan yang tadi terasa di tubuhku kini mulai hilang. Keringat yang tadi tidak terlihat, kini membasahi keningku beserta dingin yang menusuk.


Widia dan Septiani terlihat semakin asyik dengan obrolan mereka. Sesekali aku melihat mereka yang bicara dengan serius.


"Liyan, cepat jalannya sebentar lagi guru datang." Seru Septiani. Berjalan bersama kami dan menatap ku.


"Ia." Jawabku tegas.


"Septiani, kan masih lama lagi." Sambung Widia.

__ADS_1


"Aku rasa tidak, coba lihat! Anak-anak aja sudah pada sunyi." Ucap Septiani. Menunjuk dengan memutarkan kedua bola matanya.


Aku pun segera menyeret kakiku dengan kencang sehingga membuat tubuh lemahku ingin tersungkur ke depan.


Widia yang berjalan bersama ku,dia pun mengayunkan kakinya dengan kencang sehingga membuat langkah kakiku tertinggal sedikit darinya.


Septiani yang telah berjalan lebih dulu mendahului kami,kini telah berada di depan kelas.


"Widia kau duluan saja ke kelas." Kataku dengan pelan. Menyeret kaki kecilku.


"Liyan, mana mungkin aku duluan ke kelas." Sambut Widia. Berjalan. "Kau kayak mana?" Tanya Widia.


"Widia dari pada kamu terlambat masuk." Ucap ku. "Sebaiknya kamu duluan saja." Lanjut ku.


Widia pun terlihat gusar, seakan dia mempertimbangkan perkataan ku. Dia masih berjalan memapah ku dengan wajah sedikit ketat.


"Liyan tidak usah, kita masuk kelas bersama saja." Pintanya dengan wajah datar.


Kami pun terus berjalan melintasi halaman sekolah yang luas. Melihat Widia yang terus memapah ku, seketika aku malu dan merasa bersalah, karena aku Widia jadi ikut merasakan beban ku.


Sementara Septiani yang berjalan lebih dulu dari kami terlihat telah berdiri di depan pintu kelas seperti, seseorang yang lagi menunggu. Sorot matanya melihat kami begitu tajam dan serius.


"Liyan kita sudah mau sampai. Ayo cepat!" Seru Widia yang berjalan bersama ku.


"Ia Widia." Sahutku spontan. Menyeret kakiku yang lemah.


Aku pun berjalan bersama Widia dengan kencang dan memaksa tubuhku yang lemah untuk tetap tegak. Pintu kelas yang terbuka lebar telah kami masuki.


Septiani pun langsung memutarkan badannya mengikuti kami yang telah masuk ke dalam kelas dari belakang.


Panas matahari tadi yang menembus kulit putihku kini tidak terasa lagi.


Aku dan Widia pun berjalan menuju meja kami. Sementara Septiani telah lebih dulu duduk di mejanya.


Aku menggeser tubuh mungilku yang lemah dan menyeret kakiku untuk duduk di kursi. Aku langsung menjatuhkan tubuh lemahku dan duduk dengan tenang.


Sementara Widia yang duduk di sebelah ku melihat ke depan pintu dengan memutarkan ke dua bola matanya. Aku yang melihatnya, bisa mengetahui kalau Widia sedang menunggu guru kami.


Ruangan kelas yang sudah lama tidak aku masuki membuat hatiku senang apalagi, mendengar tawa dan canda teman-temanku. Suara berisik yang selama aku sakit, aku tidak mendengarnya kini terdengar lagi oleh ku.


Papan tulis yang besar tergantung di dinding yang sudah lama tidak ku lihat, kini ku lihat kembali. Teman-temanku yang sudah lama aku tinggalkan kini aku lihat satu persatu. Apakah? Ada yang tidak bersama kami lagi atau ada yang belum aku kenal ataukah masih tetap sama seperti sebelum aku libur panjang.


"Widia itu siapa? Murid baru ya?" Tanya ku menunjuk dengan ke dua bola mataku.


"Sudah lama dia masuk?" Tanya ku ingin tahu. Melihat ke arah anak baru itu.


"Ia sudah lama. Selama kamu tidak masuk." Cetus Widia. Melirikku.


Aku begitu terperangah melihat semua perubahan bahkan,penambahan di dalam kelas kami.


Sorot mataku begitu tajam melihat anak baru yang belum aku kenal.


"Widia namanya siapa?" Tanya ku ingin tahu. Sorot mataku melihat anak baru itu.


"Namanya Nisa kalau aku tidak salah." Jawab Widia dengan wajah yang cuek.


"Nisa ya." Kataku. Memalingkan pandanganku kembali melihat mejaku.


"Kenapa Liyan kau mau kenalan?" Tanya Widia. Melihat ku lekat.


"Ia karena nanti kalau aku di suruh memanggil nya, aku kayak mana memanggilnya kalau aku engga tahu namanya." Kataku. Mengeluarkan buku dari dalam tas.


"Ia nanti, kalau jam istirahat akan ku kenalkan kau nanti dengan nya." Sahut Widia. Mengeluarkan buku dari dalam tas. "Tenang saja Liyan." Melihat buku yang di pegangnya.


"Ia,aku takut tiba-tiba nanti ada yang bertanya tentang namanya "siapa" padaku,aku mau jawab apa." Lanjut ku. Mengeluarkan kotak pensil.


Widia seketika menganggukkan kepalanya memberikan isyarat kalau dia akan mengabulkan permintaan ku.


Widia yang duduk di sampingku, melihat nya aku begitu senang. Wajah pucatku pun begitu hilang tertutupi oleh senyum tipisku.


Tak berapa lama seluruh murid yang ada di kelas pun semakin hening tak ada tawa,canda bahkan,suara bisikan pun tak terdengar.


Ke dua mataku melihat-lihat di setiap sudut dinding kelas dan sekalian juga aku melihat pintu kelas kami.


"Anak-anak selamat pagi." Sapa seorang guru yang bernama Bu Dona yang membuyarkan semua cerita kami.


"Selamat pagi Ibu guru." Sahut seluruh murid.


Bu Dona yang melangkah masuk langsung duduk di kursi kebesarannya.


"Pelajaran apa kita hari ini." Seru Bu Dona dari depan kelas. Menatap kami.


"Bahasa Indonesia Bu." Jawab seluruh murid.

__ADS_1


"Ya, sekarang buka halaman 30. Kita latihan sekarang ya!" Seru Bu Dona. Melemparkan pandangannya melihat kami. Berdiri.


Sontak aku terkejut ketika membuka dan melihat, di tambah lagi mendengar perkataan Bu Dona.


"Widia ini bagaimana?" Tanya ku pelan dengan gurat wajah bingung.


"Kamu coba baca dan cari tahu di halaman sebelumnya untuk menyelesaikannya." Ucap Widia. Melihat buku Bahasa Indonesia.


Wajah pucatku seketika lirih mendengar apa yang di sampaikan oleh Widia. Latihan ini begitu membuat ku lebih tertekan dari pada sakitku.


Aku begitu geram melihat diriku sendiri yang terlalu manja akan penyakit.


"Liyan kamu dapat, tidak?" Tanya Widia memastikan. Melirik ku.


"Ini aku lagi membacanya." Kata ku. Membaca buku.


"Kalau kau kurang tahu tanya sama aku aja." Lanjut Widia.


Aku yang lagi sibuk mencari jawaban untuk latihan ku. Tiba-tiba aku melihat dari ekor mataku, Bu Dona berdiri di samping meja kami melihat aku dan Widia.


Diriku yang duduk di bangkuku, rasanya membeku melihat Bu Dona berdiri dan melihat ke arahku.


"Liyan, kamu sudah masuk sekolah." Tanya Bu Dona. Berdiri.


Seketika Lidahku tiba -tiba keluh rasanya mendengar pertanyaan Bu Doana kepadaku. Wajah pucatku terasa berat ingin aku putar melihat Bu Dona.


Bu Dona pun terus melihat ku dengan sorot mata yang tajam dan wajah yang terlihat ketat.


"Ia Bu." Jawabku pelan sambil memutar kepalaku dengan perlahan. Gemetar.


"Apa kamu mengerti latihan yang saya berikan." Tanya Bu Dona kembali memastikan.


"Ia Bu, saya mengerti." Jawabku.


Bu Dona pun belum beranjak dari samping meja kami.


"Liyan! Jika kamu tidak mengerti nanti, bertanya,ya." Lanjut Bu Dona. Pergi.


Huh! Aku pun menghembuskan napas dengan kasar.


"Liyan,kamu tidak takut tadi sewaktu Ibu itu berdiri disini." Tanya Widia. Menatapku lekat.


"Takut." Kataku sambil nyengir dengan wajah malu. "Kalau kamu ?" Tanya ku kembali ingin tahu. Menulis.


"Ia sama, aku juga takut makanya, aku tadi diam saja engga melihat wajah Ibu itu." Kata Widia dengan jujur. "Kan tadi kamu lihat aku sedikit menunduk." Lanjutnya kembali.


"Asal kamu tahu Liyan, Ibu itu kemaren pernah marah, seram!" Celetuk Widia dengan melebarkan kedua bola matanya.


" Ia." Sahutku dengan wajah terkejut seakan aku tidak percaya.


Aku dan Widia pun terus berbicara dengan pelan sambil menyelesaikan latihan.


"Widia kenapa berbicara?" Tegur Bu Dona dengan sedikit keras. "Apa latihan mu sudah selesai?" Tanya Bu Dona. Menatap Widia tajam. "Kalau kau sudah selesai bawa latihan mu kemari dan silahkan istirahat." Lanjut Bu Dona.


" Belum Bu." Jawab Widia pelan menatap Bu Dona dengan wajah takut.


Widia yang duduk di sampingku begitu membeku dan gemetar. Begitu juga dengan ku yang menjadi teman ngobrol Widia.Aku juga merasa takut dan membeku juga gemetar sehingga membuat ku langsung menunduk.


Mendengar suara Bu Dona yang memenuhi setengah ruangan, membuat semua murid diam dan tidak bergerak sedikitpun. Semua terlihat menunduk sibuk dengan tugas masing-masing.


Bu Dona setelah melihat kami, dia pun kembali duduk sambil melihat buku yang ada di hadapannya.


"Liyan ak...." Panggil Widia.


"Ssst!... Nanti Ibu itu marah." Potong ku dengan isyarat menyuruh Widia diam.


Sorot mata Bu Dona pun kembali mengarah ke meja kami, terlihat dari sorot mataku yang layu.


Seketika aku memutar kedua bola mataku dengan spontan melihat buku yang ada di hadapanku.


"Widia makanya kau jangan ribut." Tegur Fikri yang duduk di belakang meja kami. Hahaha! Tawa renyah pun terdengar meskipun dengan kecil.


.


.


.


Teman -teman terima kasih telah memberi like, komentar, favorit..🤗🥰


❤️❤️❤️


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2