
Tidak berapa lama saatnya. Perawat yang berada didalam ruangan dokter pun berdiri memanggil namaku dari depan pintu.
Ayahku dan Ibu sambungku pun bergegas berjalan menuju ruangan sang dokter. Seketika, aku pun lemas tidak berdaya mendengar namaku dipanggil. Dengan nada yang cukup lantang perawat itu memanggil namaku. Diam! hanya itu yang bisa aku lakukan. Bibirku yang kecil yang terlihat pucat dan sedikit gemetar kini terkatup! Diam seribu bahasa.
Tubuhku yang terlihat rapuh, lemah terkulai. Memaksa langkahku untuk segera menuju ruangan yang terlihat didepan mata. Panas tubuhku yang bercampur dengan kedinginan terasa menusuk ke tulang ku. Sampai membuat perih terasa.
Beban penyakit yang begitu berat. Aku pikul, kini terasa dipundak ku. Semakin hari, aku merasa semakin letih. Kerinduan yang begitu besar akan kesembuhan aku kini semakin sirna secara perlahan. Waktu yang kujalani belum memberikan jawaban akan kesembuhanku.
Tubuh mungilku yang dulu terlihat segar kini tampak seperti daun kering layu yang jatuh ketanah dengan malu.
Tanah yang aku injak dengan kaki kecilku yang menopang tubuh mungilku terasa lemah kini tak berdaya. Semakin hari, semakin ingin menghilang. Injakan kaki kecilku pun kini seakan tidak terlihat jejak diatasnya.
Mata kecilku yang sayu menatap nanar kedepan pintu yang dimana? Seorang perawat berdiri menanti kedatanganku.
Ayahku dan ibu sambungku pun telah berjalan dengan langkah yang begitu cepat. Langkah yang penuh dengan tanda sebuah, keyakinan. Keyakinan yang sangat optimis akan kesembuhanku.
Panas tinggi yang menyerang tubuhku selama satu minggu membuat tubuh mungilku yang langsing dan begitu cantik. Kini terlihat kurus kering dan tidak berdaya.
Mataku yang dulunya begitu bercahaya akan, sinar yang dipancarkannya. Kini terlihat memerah dan terasa begitu panas serta berair.
Ketika diriku yang terlihat diam pun kini mulai bertengkar. Bertengkar dengan perang batin yang begitu bergejolak. Melihat ruangan dokter yang baru pertama kali aku memasukinya begitu menyeramkan! Tanganku pun, kini terasa dingin. Aku berjalan lurus menatap kedepan sang perawat sambil meremas jemari kecilku. Cengkeraman yang aku buat akan jemariku semakin kuat. Rasa takut kini mulai membayangi segala pikiranku kearah yang begitu aneh. Sontak jarum suntik yang begitu menakutkan bagiku kini mulai terlihat jelas didepan kedua mataku. Bola mataku pun kini bergerak dengan begitu cepat. Rasanya, aku ingin berlari ketempat yang jauh dengan begitu kencang tanpa, meninggalkan jejak sedikitpun.
__ADS_1
Belaian tangan yang begitu hangat kini mulai terasa dipundak ku menyentuhku dari belakang. Sontak aku seketika, terkejut dan memutar badanku kebelakang. Untuk melihat siapa? Gerangan yang menyentuh tubuh mungilku dengan tangan hangatnya. Ternyata! Sang perawat yang kini, telah berdiri tepat di sampingku tanpa kusadari.
"Mari,nak! Kita masuk kedalam!" Katanya meraih tanganku dengan senyum hangat.
Aku yang diam pun, terlihat begitu bengong dan seperti orang yang terlihat bodoh. Aku pun memutar kepalaku mencari ayahku. Dengan kedua bola mataku. Aku menatap ayahku dengan memohon pertolongan. Kalau aku tidak mau masuk kedalam ruangan. Ayahku pun berdiri dan diam melihatku. Sementara ibu sambungku yang berdiri maju lebih selangkah dariku. Menatapku dengan penuh harapan.
"Ayo! Liyan,kita masuk! Dokter sudah menunggu kamu didalam." Mengulurkan tangannya meraih tanganku. Aku pun dengan refleks mengulurkan tanganku juga. Seketika, kami pun berdiri didepan pintu ruangan yang telah dibuka oleh perawat. Mempersilahkan kami masuk kedalam ruangan. Dengan hati yang ketakutan dan langkah yang berat. Aku yang melihat pintu pun seketika, memutarkan kembali kepalaku kebelakang. Tepat ke ayahku yang berdiri diluar. Mataku dan mata ayahku pun bertemu pandang. Dengan senyum hangat ayahku menatapku dengan isyarat kalau semuanya, akan baik-baik saja.
Wajahku pun seketika terlihat seakan menangis dengan bibir kecilku yang bergetar. Seketika, aku ingin berhenti melangkah. Namun, lagi-lagi semuanya tidak bisa aku lakukan karena aku harus mengikuti semuanya dengan rencana ayahku dan dokter.
Ayah, aku takut! Jeritku didalam hati. Bayangan jarum suntik pun terlintas dikepalaku.Aku takut disuntik Ayah! Langkahku pun terus aku kayuh yang terus beriringan dengan rasa takut!
" Selamat pagi!" Sambut seorang dokter yang duduk di kursinya dengan senyum. Mendengar suara dokter yang begitu lembut. Ketakutan ku pun seakan menghilang. Wajah dokter muda yang begitu cantik dan terlihat lembut. Mengubah aku menjadi berani. Rona wajahnya mampu menghilangkan semua rasa takut yang menyelimuti aku. Seakan hatiku kini tersenyum dan menghilangkan semuanya.
"Selamat pagi juga, Bu dokter!" Ibu sambungku pun menyambut dengan hangat. Tangannya yang tadi masih menggenggam tangan kecilku masih terlihat begitu erat.
" Adiknya, sakit apa,Ibu?" Dokter itu menanya kepada ibu sambungku.
"Ini,dokter! Badannya panas! Sudah kami beri obat tapi, tidak sembuh juga!"
"Sudah berapa lama,Ibu?" Dokter muda itu pun menghampiri aku dan memeriksa detak jantungku. Dia pun, begitu teliti memeriksa tubuhku. Mulai dari kepala sampai kaki dia memeriksanya. Termometer pun, kini dia ambil dan dia pakaikan kepadaku. Untuk mengukur suhu tubuhku. Tidak berapa lama. Dia pun kembali mengambilnya dan memeriksanya.
__ADS_1
"Panasnya tidak terlalu tinggi, Ibu! Tidak terlalu membahayakan." Ibuku yang duduk di kursi. Tepat didepan sang dokter pun, mengerutkan keningnya. Mendengar apa? Yang disampaikan oleh dokter muda itu.
"Apa? ia, dok! Tapi, dokter selama, ini panasnya menurut kami Sepertinya tinggi, dok!" Mendengar apa yang disampaikan ibu sambungku. Dokter itu pun, menunjukkan raut wajah yang semakin bingung. Sementara, aku masih berbaring di tempat tidur pasien. Dengan nada yang sedikit lembut. Dokter muda itu, mencoba mengatakan yang baik agar ibu sambungku tidak khawatir.
"Begini,Ibu! Mungkin, itu hanya perasaan Ibu saja ketika menyentuhnya. Apa ibu punya termometer?" Tanya dokter itu kembali kepada ibu sambungku.
Dokter muda itu pun, melihat aku yang berbaring dengan tatapannya yang begitu lembut." Ibu tidak usah khawatir! Apakah? Dia ada riwayat step kalau, panasnya tinggi?"
"Tidak, dokter, selama ini dia sakit saya tidak pernah melihat dia kejang-kejang." Jawab Ibu sambungku. Sambil menggenggam jemarinya. Dia pun memutar kepalanya ke arahku.
Aku pun merasa begitu nyaman.Tubuh lemahku begitu bersahabat ketika dibawa berbaring sejenak. "Jadi,begini Ibu! Untuk hari ini! Kita kasih resep aja dulu,ya?" Dengan pandangan yang begitu lekat. Dokter muda itu pun menulis resep untukku. Ibu sambungku hanya mengangguk sebagai persetujuannya.
Dokter muda spesialis anak itu pun menulis resep. Dengan begitu serius.
Keadaan pun hening sejenak!
Tidak berapa lama. "Ibu! Ini resep yang harus Ibu tebus!" Menyerahkan selembar kertas kepada ibu sambungku. Ibu sambungku pun, menerima resepnya. "Maaf dokter! menebusnya dimana,ya?"
Dokter muda itu pun tersenyum. "Mengambilnya di apotek kita Ibu!" Ibu berjalan lurus aja dari ruangan ini! Nanti, Ibu pasti menemukannya disitu ada bacaannya kok,Ibu!" Dengan ramah dokter muda itu menjawab pertanyaan Ibu sambungku. Dengan begitu cermat aku dan ibu sambungku pun berjalan menuju apotek untuk mengambil obat aku.
Bersambung....
__ADS_1