
"Baik Ayah," jawabku dengan nada suara manja. Aku pun naik dan duduk manis di pangku oleh ibu sambungku.
Sementara adikku dia sudah lebih dulu naik dan duduk tepat di samping ibu sambung kami. Gurat wajah yang masam masih mewarnai perjalanannya sampai ke tempat piknik.
"Liyan, kalian nanti jangan lasak ,ya!" pinta ayahku sambil mengayuh becak.
"Iya Ayah," jawabku dengan senang. Melihat baju yang sudah lama tidak pernah di pakai setelah ayahku membelinya.
"Ayah apa di sana ngeri?" tanya adikku dengan penasaran bercampur khawatir setelah ayahku memberi kami sedikit larangan.
"Tidak Nak. Tapi Ayah takut kalau kalian nanti lasak dan jatuh," jawabnya dengan panjang lebar.
"Ayah tenang saja kami tidak lasak kok, Yah," kataku dengan nada suara nyaring yang bercampur dengan embusan angin.
"Tapi kalau Ana, Ayah kuatir," kata ayahku. Melirik adikku. "Karena dia sangat lasak," tandasnya dengan nada suara cemas. Menatap lurus melihat jalan.
"Ayah, aku tidak akan lasak, kok," sambung adikku yang duduk memeluk boneka kesayangannya.
"Baguslah kalau kau tidak lasak," timpal ibu sambung kami menyahut dengan spontan.
Aku seketika melirik adikku setelah ibu sambung kami mengatakan itu. Adikku betapa piasnya melihatnya. Dia seakan rasanya ingin membalas perkataan istri baru ayahku itu.
"Kalau kau lasak, kau tidak akan bisa di temukan. Di situ sangat ramai," lanjutnya dengan nada suara datar dan raut muka yang dingin.
Aku semakin menyimak apa yang di katakan oleh ibu sambung yang menjadi teman kami di rumah.
"Ayah masih lama lagi baru sampai?" tanya adikku menukar topik pembicaraan. Seakan dia risih berlama-lama duduk satu bangku dengan ibu pengganti kami.
"Nak, sebentar lagi kita pasti sampai, kok," balas ayahku terus terang. Mengayuh becak dengan kencang.
"Liyan, nanti kau jangan bermain air di sana! Nanti kau sakit pula, habis lagi uang untuk mengobatkanmu," bisik ibu sambungku di telinga. Aku yang duduk di pangkuannya pun mengangguk pelan bercampur sedih.
Sementara ayah dan adikku masih asyik dengan kesibukan mereka sendiri. Adikku yang terlihat bermain dengan bonekanya sedangkan ayahku terus membawa becaknya dengan berhati-hati mengelakan para pengendara roda dua dan roda empat yang salip menyalip sama kendaraan yang lain.
Sementara aku duduk manis diam mematung di pangkuan istri ayahku.
"Ayah kalau di sana ada permainan gak?" tanya adikku ingin tahu. Memecah kesunyian.
"Ada," jawab ayahku.
"Banyak tidak Ayah?" tanyaku kembali setelah mendengar jawaban ayahku.
"Permainan di sana tidak terlalu banyak, Nak," jawab ayahku dengan singkat.
"Kalau tidak banyak. Ngapain kita ke sana , Yah," kata adikku dengan nada suara kesal. Seakan dia tidak terima dengan apa yang didengarnya.
"Kalau kau tidak mau. Kau tidak usah ikut. Tunggu saja di becak ini!" timpal ibu sambung kami yang risih mendengar ocehan adikku.
__ADS_1
Huhuhuhu !
Adikku seketika tiba-tiba menangis dan membuat aku dan ayahku kuatir.
"Ana, kau kenapa nangis?" tanya ayahku panik.
Adikku makin terus menangis. Dia sangat sedih karena timpalan dari ibu sambung kami.
"Ana kau diam! Jangan menangis. Nanti kita pulang! Kau mau!" bentak ibu sambungku berbisik di telinga adikku yang masih kudengar dengan jelas.
Aku sangat cemas dan sebal melihat ibu sambung kami yang sangat keterlaluan.
"Dengar Ana, kalau kau mau tetap liburan. Kau harus diam," ancam ibu sambungku sedikit.
"Ana, kau kenapa menangis Nak?" tanya ayahku yang panik dan khawatir.
"Ana, diamlah nanti matamu merah. Bedakmu nanti bisa hilang," kataku membujuk adikku.
Ayahku pun terlihat semakin panik. Jalan yang sedikit terjal pun dia tembus begitu saja hingga becaknya ingin terjungkal.
"Ayah hati-hati!" teriakku yang berpegangan kuat pada bak becak.
"Iya Nak," sahut ayahku yang berusaha keras menyeimbangkan becaknya agar selamat.
"Itulah kau terlalu ceroboh," kata ibu sambung kami yang memegangku dengan kuat.
Ibu sambung kami langsung memutar kepala menoleh ke arah samping kanan tepat tempat di mana adikku duduk. "Kau juga! Bonekamunya yang kau cemaskan," bentaknya.
Adikku langsung meliriknya dengan tajam bercampur kesal. Aku yang menoleh mengerjitkan kedua mata menatapnya. Embusan angin yang kencang membuat aku sangat kesulitan membuka mata.
"Rambutmu sudah membuat mataku sakit," ucap ibu sambung yang memangkuku.
Jalan yang panas bercampur embusan angin membuat aku sangat haus.
"Ayah aku haus," kataku dengan suara parau menahan tenggorokan yang kering.
"Haus, Nak?" tanya ayahku panik. "Liyan, kita ini sudah mau sampai, sebentar lagi, ya. Karena minumnya Ayah susun di belakang," kata ayahku. Membelokan becaknya ke tempat parkiran.
"Sekarang kita sudah sampai. Sekarang turunlah," pinta ayahku menyuruh kami untuk segera turun .
"Yah, ini tempat pikniknya?" tanya adikku melongo.
"Iya, Nak," jawab ayahku.
"Kenapa jelek kali ?" tanya ibu sambung kami mengejek. Menatap sekeliling dengan gurat wajah jijik.
Deg!
__ADS_1
Ayahku langsung diam. Dia seakan malu di buat dirinya sendiri karena gagal memilih tempat yang bagus.
"Aku cuma bisa membawa piknik ke sini," balas ayahku menjawab pertanyaan ibu sambung kami dan sekaligus menjawab pertanyaan adikku yang terheran melihat tempatnya.
"Ayah, kenapa harus kesini?" tanya adikku yang berat hati mendatanginya. "Di sini 'kan banyak nyamuk," katanya mengeluh.
Sementara aku diam dan berjalan melihat ke sekeliling tempat piknik pilihan ayahku.
"Sudah airnya tidak bersih. Tempatnya tidak cantik. Orang yang datang kemari pun cuma sedikit," keluh ibu sambung kami mendengus kesal. "Bisa tidak cari tempat yang lebih bagus," katanya dengan sindiran pedas.
Berdiri menatap sekeliling dengan jeli.
"Ayah ini namanya hutan," timpal adikku dengan gamblang.
"Nak, tapi di sini juga 'kan ada orang," terang ayahku.
"Iya Ayah. Banyak juga Anak-anak bermain ke sini," balasku dengan senang melihat anak- anak seusiaku yang pandai berenang dan melompat dari atas lalu terjun ke bawah. "Ayah mereka itu ngapain ?" tanyaku ingin tahu. Menunjuk anak-anak yang berlomba naik ke atas jembatan.
"Mereka itu berenang, Nak," jawab ayahku senang karena melihat aku yang tidak banyak protes seperti adik dan istrinya.
"Ayah, kalau nanti aku sudah besar aku mau jadi, seperti itu!" pintaku dengan kagum menunjuk dan melihat mereka yang berlom-lomba ingin terjun ke sungai.
"Tapi itu berbahaya, Nak. Kalau kita tidak pandai berenang," lanjut ayahku menerangkannya.
Sementara adik dan ibu sambungku hanya diam saja dan kesal karena kecewa melihat tempat piknik.
"Ayah, ayo kita ke tempat lain saja!" ajak adikku dengan rengekannya. Menarik lengan ayahku dan memeluk bonekanya. "Di sini yang ada cuma pohon kelapa sawit. Dan juga airnya jorok," keluh adikku dengan gurat wajah yang cemberut.
"Nak, Ayah hanya bisa membawa kalian liburan ke sini. Lagi pula kalau kita ingin berlibur tidak perlu ke tempat yang mewah dan mahal yang penting hati kita senang dan kita bahagia," balas ayahku.
"Bahagia ?" pekik ibu sambung kami bertanya. "Mau bahagia bagaimana? Kalau tempatnya aja sejelek ini. Coba lihat! Hanya ada pohon kelapa sawit, bahkan tempat duduknya saja tidak ada. Apalagi airnya seperti itu," tandas ibu sambung kami sedikit mengejek tempat pilihan ayahku.
"Tempat permainan juga tidak ada Ayah. Hanya ban itu saja!" tunjuk adikku dengan nada suara yang sebal.
"Itu ban apa, Yah?" tanyaku ingin tahu setelah adikku mempermasalahkan yang dilihatnya.
"Itu ban mobil gerobak," jawab ibu sambung kami dengan keras bercampur kesal.
.
.
.
Bersambung...
Tidak berapa lama adikku
__ADS_1