Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Fikri yang kesal


__ADS_3

Kami bertiga kemudian berjalan menuju kelas sesuai dengan perintah Fikri. Aku yang di depan mengayunkan kaki yang lemah dengan gontai sambil bertanya didalam hati. Jalan yang lurus aku tatap dengan nanar bersama hati yang antusias merasa ingin tahu dari Septiani yang sebenarnya. Di bawah sinar matahari aku berjalan memutar kepala ke belakang melihat kedua sahabatku. Septiani dan Widia masih saja terlihat terbenam dalam permasalahan yang tadi.


Mereka tetap melangkah dengan kencang karena takut Fikri akan memarahi mereka dan kemungkinan besar mereka juga takut akan di hukum seperti yang lalu. Kakiku yang lemah ini lalu berhenti di tengah lapangan yang aku lalui bersama buku yang menemaniku. Aku tetap menunggu mereka semakin dekat denganku.


"Septiani, Widia, lihatlah jalan kalian! Jangan terlalu kencang seperti itu. Nanti kalian terjatuh." teriakku mengingatkan.


Dari jarak yang tidak terlalu dekat mereka menaikkan pandangannya di tengah matahari yang mulai naik melihatku. Mereka sama sekali tidak menjawabku hanya isyarat mata yang mereka tunjukkan.


"Awas ada batu!" Aku langsung memberi tahu. Septiani lalu melihat ke bawah setelah mendengarku berteriak mencari batu yang aku bilang setelah melihatnya mereka lalu bergeser melewati yang lain.


Matahari semakin memancarkan sinarnya yang menyentuh kulitku yang lemah bersama buku yang masih menemaniku serta sepatu hitam sederhana yang kupakai. Bayanganku pun terlihat berjalan mengenai pantulan sinarnya yang membias begitu menyilaukan mata ketika memandang. Terpaksa aku bergeser dengan pelan sebagai tanda kalau aku risih terkena sinarnya sambil menunggu kedua sahabatku.


"Liyan! Tunggu kami!" teriak Widia dari belakang yang membuat Fikri dan kedua pengikutnya menoleh ke belakang.


"Hei! Kalian cepat! Jangan berjalan seperti peragawati," celetuk Solihin yang jahil. Mereka terus berjalan.


Tungkai kakiku yang lemah berhenti melihat mereka yang masih memanas. Aku tidak bersuara sedikit pun setelah melihatnya, lalu aku kembali menaikkan buku di atas telapak tanganku untuk membaca pelajaran yang akan kami pelajari hari ini sambil berjalan aku melihat halaman buku yang tadi aku baca di bawah pohon. Aku kembali mengulangnya agar aku mengetahuinya sedikit, hingga saat ini aku tetap berjalan sembari berjaga melewati jalan yang kulalui dengan buku yang kubaca di atas telapak tangan.


Puk!


"Liyan! Perhatikan jalanmu! Jangan membaca di tengah jalan," tegur Septiani menepuk pundakku dengan terkejut.


"Nanti kau terjatuh Liyan," sambung Widia juga mengingatkan.


Aku yang refleks terkejut langsung menutup buku. "Aku memperhatikan jalanku juga," balasku.


"Kami pikir tidak," ucap Septiani yang salah paham.


"Kami pikir, kau membaca tanpa melihat jalan," sambung Widia.


"Mana mungkin aku tidak melihat jalan." Aku melihat pintu kelas yang telah sibuk di hampiri oleh anak-anak. Mereka berdiri mengambil barisan. "Mereka sudah mengambil barisan dan Fikri juga telah melihat kita," kataku berjalan menarik lengan Septiani. "Ayo cepat!" Berlari menghampiri Fikri yang melihat kami dari tadi.


Bruk bruk bruk!

__ADS_1


Kami bertiga pun sampai di barisan. Fikri yang sibuk mencari yang lain melihat kami yang sedang mengatur napas lelah karena berlari.


"Fikri, bel 'kan, belum berbunyi," kata Septiani sambil ngos-ngosan. "Kau itu, sok disiplin," lanjut Septiani kembali.


"Padahal Anak lain belum baris," sambung Widia menatap kelas lain. "Kau tahu engga. Liyan itu tidak bisa berlari. Dia sakit."


"Yang menyuruh kalian berlari itu siapa?" Sela Fikri. "Aku tidak mengatakan kita baris duluan. Aku cuman bilang, cepat kembali ke kelas itu saja!" Menoleh ke arah Rasyd dan Solihin seakan mengatakan yang sebenarnya.


Mendengar mereka yang beradu mulut. Aku mendekati mereka. "Fikri, bel ' kan, masih lama." Aku melihat jam yang tergantung didinding kelas.


"Liyan! Makanya aku suruh kalian sekarang ke kelas. Aku tahu kau itu sakit. Supaya kau tidak terburu-buru." Fikri menyela memberiku alasan.


"Benar Liyan. Kami itu perhatian padamu karena kita 'kan sahabat." Rasyd berdiri mengatakannya dengan penuh kasih sayang.


"Kalau kau terjatuh. Apa yang akan kami lakukan?" balas Solihin.


Begitu besar perhatian dari temanku sampai mereka memikirkan di luar dugaanku setelah mendengarnya dari Rasyd. Aku rasanya terharu, hatiku kini senang seketika. Keceriaan kecil kembali melukis di wajahku yang pucat. Ingin rasanya aku berteriak dengan keras hingga dunia mendengarnya kalau aku memiliki sahabat yang sangat peduli denganku.


Senyum indah di hatiku yang dalam, rasanya sayang sekali mereka tidak bisa melihatnya. Saat ini dunia berasa didalam genggamanku sehingga aku bisa berteriak dengan sedikit ke sombongan dan mengatakannya pada alam yang melihatku.


"Aku pasti bisa menjaga diriku agar tidak terjatuh. Aku juga melihat jalanku tadi," ucapku.


"Kami tahu Liyan. Tapi siapa yang bisa menjamin kau tidak akan terjatuh? Apalagi ketika kau melihat Bu Dona," sambung Fikri.


"Fikri ada benarnya juga," cetus Septiani spontan. "Kenapa samaku tidak, Fikri?" tanya Septiani sedikit cemburu.


"Tidak apa?" tanya Fikri bingung setelah mendengar Septiani. Keningnya terlihat berkerut dengan ketat.


"Fikri juga perhatian padamu Septiani." Aku sangat mengerti sekali yang dimaksud oleh Septiani. Dia seakan cemburu melihat perhatian Fikri padaku.


Aku jadinya merasa tidak enak hati karena perhatian dari mereka. Septiani memutar pandangan dan menutup suara dengan rapat. Badan mungilku yang pun beralih dari mereka juga.


Teng teng teng!

__ADS_1


Bel masuk seketika berbunyi. Septiani yang menutup suaranya bergegas mengambil barisan mengikuti anak -anak yang lain. Widia juga sembari mendekatiku dan berdiri di sampingku.


Fikri pun langsung menyiapkan barisan dengan rapi. Kami mengikutinya juga. Berbaris rapi menghadap ke pintu kelas dan berjalan masuk sesuai aba-aba dari Fikri.


Pintu yang terbuka pun kami masuki dengan hening. Sepatah kata tidak ada terdengar dari kami begitu juga denganku. Aku lalu duduk di bangku sebelum Widia dan kemudian meletakkan buku di atas meja.


"Widia, mungkin Fikri kesal karena kita tadi terlalu lama duduk." Aku melirik Fikri yang melihatku.


"Aku rasa iya, kau tidak lihat tadi wajahnya. Dia sangat kesal." Widia mengambil buku dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja sambil membukanya.


"Apa dia tidak mau berbicara sama kita lagi?" tanyaku merasa bersalah karena telah mengajak Widia tadi duduk di bawah pohon.


"Widia mencoba melihat Fikri dengan sembunyi-sembunyi. "Aku bingung dia marah atau tidak."


Penyesalanku kini semakin menyerang sehingga aku membuka buku tidak semangat. Dudukku yang kaku memperlihatkan kecanggungan yang mengusik kenyamanan Widia dan Fikri dari belakang.


"Liyan! Kenapa kau diam saja?" tanya Fikri merasa bersalah.


"Aku baik-baik saja Fikri," jawabku dengan nada suara berat.


Fikri dari belakang menatapku dengan rasa bersalah terlihat dari ekor mataku. Namun, setelah dia mendengarkannya dia sedikit merasa lega dan memalingkan sorot matanya dariku.


.


.


.


Teman-teman terimakasih telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2