
Kaki yang diinjak pun seketika terlepas juga. Aku pun bangun dan berdiri dengan gempor sedikit menahan sakit.
Dari jauh aku menatap Tania dan Ecy yang telah jauh berjalan. Mereka sangat tenang rasanya terlihat dari langkah mereka yang melenggang.
Aku pun menyeret kaki dengan paksa. Tas yang terjatuh ke lantai segera aku sandang. Kini sekolah telah sepi hanya ada aku dan uwa kantin yang sedang bersiap menyusun barangnya ingin pulang.
"Liyaaan! Kau belum pulang," teriak uwa kantin melihatku.
"Belum wa," balasku menahan suara parau agar uwa itu tidak cemas mendengarnya.
"Hati-hati, ya!" teriak uwa itu kembali membilangnya.
Aku hanya melayangkan senyuman tipis terhadapnya. Waktu yang hampir beranjak berubah menjadi siang dan panas, selekas mungkin aku berjalan meninggalkan kelas.
Pulang sekolah sudahlah lama. Namun, aku masih tetap saja pulang terlambat. Kuatir bercampur cemas pun bersarang di dalam diri ini.
Kata-kata ayahku yang memberi peringatan semakin jelas terdengar menghantui. Sorotan mata yang tajam pun begitu senang menari-nari di pelupuk mata.
Belum lagi adikku yang pasti akan mendapatkan kecaman dari ayahku karena telah mengabaikan aku dan tidak menjagaku.
Itu semakin melilit hati ini. Wajah kusut bercampur panik semakin terpampang jelas di tengah jalan yang terik ini.
Hari memang panas. Tapi ketika aku menatap langit aku sangat terkejut melihatnya. Panas yang menyengat ternyata bercampur dengan awan mendung.
Sontak aku lekas mengayun kaki semakin kencang. Aku khawatir kalau hujan turun akan menimpa tubuhku lagi. Pikiran yang risau ini pun semakin membenam rasanya. Aku lekas menyeret kaki semakin kencang agar aku bisa selamat sampai rumah.
Langkah yang terus kuayun bersama lengan yang memegang tali tas dengan erat semakin menembus jalan sembarang. Tas yang salah bawa ini pun semakin terasa berat dan semakin menghambat langkah yang ingin kencang.
Aku hari ini terlihat, seperti anak yang sedang berkejar- kejaran dengan hujan yang akan turun. Setiap aku mengencangkan ayunan kaki. Awan mendung itu pun semakin mengejarku. Ia seakan tidak ingin beralih dariku secara sia-sia.
Suara bising kendaraan yang melintas pun seakan sama dengan aku yang ingin menghindari hujan terlihat dengan kencang berkejar- kejaran. Kendaraan yang lalu lalang itu semakin memekakan kedua telinga sehingga aku tidak mendengar apapun lagi.
Saat ini aku hanya fokus menatap jalan lurus ke depan dan melihat pinggiran jalan, mana tau ada batu yang melintang. Perjalanan seorang diri menuju rumah ini bukanlah untuk yang pertama kalinya. Aku sudah hampir setiap hari pulang seorang diri. Di tambah lagi ini aku tidak begitu dekat lagi dengan Widia dan sekarang sudah bertambah dengan adikku juga.
__ADS_1
Kenyataan ini sangat miris untuk ku. Aku seakan tidak punya teman lagi, teman untuk tempat berbagi. Semua telah menyingkir satu per satu. Mereka tidak mau lagi berteman, apalagi untuk bermain.
Ini masalah yang begitu berat. Aku tidak bisa membayangkan ke depannya. Aku semakin pesimis tentang persahabatan ke depannya. Terkadang aku sering berpikir kalau aku memang tidak layak untuk menjadi teman untuk sahabat-sahabatku dan juga adikku sendiri karena aku telah merampas kesenangan mereka.
Mendung yang semakin menggelap. Matahari pun sudah menghilang. Hujan yang semalam masih belum luput dari ingatanku. Ini malah terjadi lagi. Hujan pun dengan cepat turun menimpa bumi dan diriku.
Aku semakin resah harus berbuat apa. Kaki yang tadi sakit akibat injakan Tania tidak kuat untuk berlari. Aku semakin tertatih-tatih melangkah. Erangan terkadang keluar dari mulut ini menahan sakitnya.
Hati pun seketika sedih ketika aku mengingatnya kembali. Air mata pun tak lagi terbendung. Di tengah hujan yang cukup deras air mata menetes deras mengingat bullyan dari Tania dan Ecy.
Hujan semakin membasahi baju dan tas serta sepatu hitam yang lusuh. Sepatu yang hanya menutupi sebagian kaki kutatap dengan lirih. Aku tidak tau Tania dan Ecy sampai kapan akan menyiksaku di sekolah.
Siksaan itu seketika terlintas melewati pelupuk mata yang bengkak. Bola kasti yang mendarat dengan ramah di tubuh ini pun, sekilas terpampang di tengah hujan.
Aku masih mengingatnya ketika Tania dengan sengaja melemparkan bola itu kepadaku. Dia begitu senang terlihat ketika melemparkan bola itu padaku. Sebagaimana dia melempar bola ke pohon. Pohon yang tidak pernah bisa merasakan sakit.
Aku terus berjalan. Hujan pun tidak jua mereda walau hanya sebentar. Aku terus mengayun langkah agar cepat sampai. Di tengah jalan ini, aku panik bercampur cemas mengingat ketika aku sampai di rumah nanti.
Wajah ayah dan ibu sambungku semakin terlihat jelas. Muka kecewa itu pun semakin menjepit batin ini.
"Iya," jawabku.
"Mana kawanmu?" tanya Widia seakan menyindirku.
Di tengah hujan yang mengguyur aku menatap wajah Widia. Dia menarik bibirnya tipis seakan wajah jahatnya menertawaiku. Aku semakin menajamkan tatapan di tengah hujan melihatnya. Dia yang tadi bertanya dengan tidak percaya aku ternyata, kalau dia selama ini di sekolah telah berpura-pura baik.
Itu semakin jelas memberikan jawaban untuk ku. Pantas saja selama ini dia tidak pernah bercerita tentang ayahnya dan ayahku lagi. Aku semakin menelan pil pahit di tengah hujan yang turun.
"Liyan, kau hati-hati, ya! Jangan sampai terjatuh!" katanya menyeringai. Kata-katanya itu begitu pedas menyentuh hati.
Aku seakan tidak bisa menatap bumi dengan tegak. Aku hanya bergulat dengan kesedihan saja sekarang. Diam menunduk manahan malu itulah yang bisa kulakukan saat ini.
Aku pun terus berjalan melihat Widia yang berjalan dengan payungnya jauh di depanku.
__ADS_1
Melihat perubahan sikapnya yang mendadak sangat mengguncang diri ini. Satu per satu aku kehilangan orang -orang yang menyayangiku karena alasan yang ambigu.
Tubuh basah ini pun tidak terasa telah terhenti tepat di depan rumah.
"Kak Liyan, apa kabar?" teriak seorang anak perempuan menanya kabarku.
Deg!
Aku sontak menghentikan langkah. Kaki sebelah kiri yang akan melangkah, tiba -tiba mengayun di udara. Kaki ini sebenarnya menjadi penentu untuk ku masuk atau tidak ke dalam rumah.
"Aku kabar baik," jawabku memutar badan perlahan dan menoleh ke arah sumber suara.
Sorot mata pun bersinar bercampur sumringah ketika melihatnya.
"Andrini," gumamku pelan bercampur bahagia.
Hatiku seketika terobati ketika melihatnya. Hanya dialah saat ini temanku satu-satunya yang mungkin bertahan lama. Andrini memang lebih muda usianya dariku. Tapi dia begitu bagus dalam berteman.
"Kak, nanti kita bermain, ya?!" teriaknya dari teras rumah bercampur hujan.
"Iya, kalau hujannya reda," jawabku.
Mengurungkan diri untuk masuk.
"Andrini, kita bermainnya nanti, ya," kataku kembali dengan senang mengulanginya berteriak di tengah hujan.
Suara dari dalam rumah pun belum ada terdengar keluar. Hujan masih senang terlihat memanjakan mereka yang sedang berada di dalam rumah.
"Kakak ganti baju dulu, ya!" kataku dengan nada suara senang.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...