Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kekonyolan Part 2


__ADS_3

"Sepertinya Bu Dona engga akan menyuruh kita masuk." Ucapku melihat lorong kelas.


"Liyan, Bu Dona terkadang, seperti peri bisa tiba- tiba datang dan tiba-tiba menghilang." Sambung Solihin dengan melebarkan kedua bola mata.


Emm! Septiani berdehem membenarkan apa yang di ucapkan oleh Solihin.


"Aku rasa, kita ini istirahat panjang dan pulangnya mungkin sore hari." Keluh Widia. Berdiri memutar badan ke sana kemari. Gelisah.


"Kalian mau sampai kapan berdiri di sini! Aku sudah lelah!" Keluhku memasang wajah murung.


"Liyan, kalau kita ke kelas sekarang, mereka masih di situ. Aku takut!" Kata Septiani berjongkok sambil menulis-nulis di tanah.


"Kau bilang kau takut, hahaha!" Fikri tertawa. "Sejak kapan kau takut sama orang?! Yang ada ha..." Tiba-tiba Fikri berhenti dan menutup mulut dengan rapat. Mengerutkan wajah sedikit mundur ke belakang dengan rasa ketakutan melihat Septiani yang kelihatan mulai galak ingin menerkam.


"Ha,...apa? Ha!" Sambung Widia, refleks mengayunkan ranting pohon ke arah Fikri. "Awas kau Fikri! Nanti kubilang, kau sama Ibuku. Biar Ibuku besok datang ke sekolahan memarahimu." Lanjut Septiani. Menunduk dengan sendu.


"Fikri, Septiani sudah! Jangan bertengkar lagi. Aku lagi sakit! Nanti kita semua kena hukum lagi, kayak yang dulu." Tegurku pelan. Memohon. "Kalau nanti kita di hukum, aku engga sanggup berdiri." Menatap Fikri dan Septiani. Menunduk sambil melirik Widia. Cemberut dengan kesal.


Tubuhku yang lemah rasanya, seperti terkena pukulan kayu yang besar hingga membuat aku menjatuhkan tubuh dan menunduk. Lengan yang lemah mulai mengambil ranting pohon yang tadi di pakai oleh Solihin menulis tanah.


Kekesalan yang masih menggunung merubah wajah menjadi benang kusut seketika.


"Liyan ranting yang kau pegang itu untuk apa?" Tanya Fikri dengan penasaran. Menatapku dengan lekat. Mulai sedikit menjauh bersama rasa takut.


"Ranting yang mana? Yang ini?" Sambil mengayunkan ke arah Fikri. Sontak Fikri terperanjat dan memundurkan tubuhnya sedikit ke belakang dengan wajah yang getir menatapku, seakan aku sudah tahu apa yang sedang ia pikirkan. "Sebenarnya ranting ini untuk memukulmu." Sontak Fikri terperanjat menatap ranting dengan lirih.


Hahaha! Tawapun terdengar begitu keras.


Panas tubuh yang terasa, kembali meningkat datang dengan membawa dingin yang menusuk tubuh. Dingin yang semakin melebarkan sayapnya mengisi ruang-ruang kosong dari setiap kulit yang menyelimuti tubuh mungil yang lemah ini. Tak berdaya dan ingin terkulai, itulah yang aku rasa saat ini.


Rintihan kembali terdengar di setiap relung waktu yang berjalan menemani. Butiran debu pun bertebaran menutupi rasa sakit tubuh ini. Sakit yang menganak, semakin lama semakin menggelitik tanpa rasa simpati. Sesuka hati datang dan sebarat rasa ingin pergi.


Udara panas yang menerpa tubuh ini, serasa begitu ideal yang memaksaku untuk tetap bertahan, tanpa teriakan sedikitpun. Keramahannya menyapa tubuh mungil yang lemah, memaksa aku mengangkat tangan dan kaki untuk berdiri.


"Kita masuk kelas saja, yuk!" Ajakku menoleh mereka. "Aku sudah lelah, harinya begitu panas." Keluhku. Gelisah.


"Liyan, sebentar lagi, ya! Kalau kau kepanasan, kau duduk saja di sini!" Seru Fikri. Melirik bongkahan semen yang tepat di sampingnya.


Begitu berat dan kesal hatiku ingin meluluskan permintaan mereka , terutama Fikri. Huh! Mau tidak mau, suka tidak suka. Aku harus menuruti ke inginan Fikri yang konyol.


Secara terpaksa aku menyeret kaki yang lemah duduk di tempat yang di perintahkan oleh Fikri.


Mata redup semakin perih rasanya. Bibir yang pucat kini semakin kering dan pecah, seperti tanah yang di landa oleh kemarau. Lengan yang lemah semakin gemetar menyentuh apapun.


"Widia, Septiani kita ke kelas saja, yuk!" Ajakku pelan. Memutar kepala ke belakang.


"Ya sudah, ayolah! Aku juga kepanasan di sini!" Ucap Widia. Menatap awan yang di selimuti sinar matahari begitu terik sehingga membuat kedua mata tidak bisa terbuka dengan sempurna.


Sepertinya keluhanku di dengarkan dengan senyum aku mengayun langkah dan mengatur tubuh mungil yang lemah dengan tegak. Ternyata, kebahagiaan bisa mengalahkan sakit yang mendera, seolah-olah aku tidak pernah sakit. Hm! Tersenyum.


Bersama matahari yang bersinar, aku memutar badan menghampiri Widia yang begitu tulus menolongku sebagai teman. Aku begitu terharu melihat Widia yang selalu berada di sampingku selama aku sakit. Dia tidak pernah lelah dalam mengajari tentang ketegaran dan tidak boleh menangis. Kalau aku menangis, dia akan memberiku sebuah solusi yang membuatku berhenti menangis.


"Ya sudah! Ayolah! Menunggu Fikri di sini bisa haus aku." Sambung Septiani. Memutar badan sambil memijat keningnya yang terkena paparan sinar matahari.


Bersama senyum yang indah aku perlahan berjalan dengan langkah gontai menghampiri Septiani juga. Septiani adalah teman yang galak. Bisa di bilang dia seperti monster kalau lagi marah. Apalagi melihat teman yang di sayangi olehnya di sakiti. Nalurinya langsung keluar ingin menerkam musuh dengan *****. Tapi, di balik itu Septiani mempunyai sisi lain yang jarang di ketahui oleh orang lain. Apalagi orang yang tidak begitu dekat dengannya. Ada sisi yang unik dari dirinya yang membaut semua orang akan terheran dan tertawa apabila melihatnya.


Dia tidak pernah melupakan permainan orang-orangan yang sering ia mainkan dengan peralatan sekolahnya! Yang kerap kali membuat dia bertengkar dengan Fikri.


Septiani selalu memainkannya di saat pelajaran akan di mulai, bahkan setelah bel istirahat ia pun memainkannya kembali.


Tak jarang kalau Fikri suka menarik mainannya. Di samping jam belajar yang terganggu, dia juga seorang ketua kelas yang bertanggung jawab untuk menertibkan belajar mengajar di dalam kelas.


Sementara aku yang menjadi teman mereka selalu berusaha untuk menjadi penengah di antara pertengkaran mereka. Kerap kali aku mendapat teguran dari guru ketika aku bersuara untuk meredakan pertengkaran mereka. Akhirnya yang membuat aku dan Widia terkena hukuman bersama mereka.


"Ia, kita masuk saja, ayo!" Ajak Rasyd. Berdiri dan mengikat tali sepatu yang ingin lepas. Berjalan sambil mengerutkan kening dari sinar matahari yang menembus wajah polosnya. Menunduk sambil mendengus karena merasa letih. Aku begitu kasihan melihatnya. Dia selalu menjadi tumbal ke jahilan oleh Fikri, baik itu di hadapan guru maupun kami temannya. Rasyd kerap kali mendapat hal-hal yang tidak terduga dari Fikri, baik itu mengenai tugas piket maupun dari yang lain. Tak ayal kalau Rasyd sering di panggil oleh guru tentang masalah yang tidak pernah dia lakukan maupun dia ketahui. Terkadang Rasyd kesal melihat Fikri, namun demi persahabatan, dia berusaha menahan semua dengan tawa jenaka.


"Kalau begitu kita bersama masuk ke dalam kelas. Tempat kita belajar! Untuk menyingkirkan musuh!" Seru Rasyd sambil menaruh tangan di atas udara sebagai isyarat untuk persahabatan yang akan terus mendukung dan membela satu sama lain. Kami kemudian melemparkan tangan di udara dengan semangat dan senyum yang merekah.


Sakitku rasanya hilang seketika, mendung pun berlalu dengan senyum. Tawa kecil merekah terlihat melukis di wajah kami semua. Rasyd yang begitu pandai dalam mempersatukan persahabatan berdiri bersama kami dengan semangat. Tak jarang begitu banyak kami yang menyukai berteman dengannya, bahkan tidak sedikit dari anak kelas lain yang sebaya dengannya maupun di atasnya. Rasyd anak yang mudah tertawa, ramah dan tidak mudah marah.

__ADS_1


Tak jarang banyak anak cewek yang ingin berteman dengannya, walau hanya sekedar menanyakan tentang tugas rumah. Akan tetapi Rasyd tidak pernah menanggapi mereka, malah dia lebih suka berbicara dengan ku.


Setiap kali aku menyinggung tentang mereka kepada Rasyd, jawaban Rasyd cuman satu, dia selalu bilang, aku tidak tahu! Sangat aneh!


.


.


.


Kami pun beranjak menuju kelas yang tadi kami takuti untuk menghampirinya. Berjalan perlahan sambil menyeret tungkai kaki yang lemah dengan langkah yang terlihat malu untuk menginjak bumi.


"Liyan, kalau nanti mereka mengejekmu lagi, bagaimana?" Tanya Septiani. "Aku rasa, mereka akan melakukan itu lagi padamu." Menatap lurus ke depan.


Menghela napas, hanya ini yang bisa aku lakukan demi menjawab pertanyaan dari Septiani. Gemetar begitu terasa jemari ini di saat menyentuh rok sekolah yang kupakai.


Pintu kelas yang terbuka lebar begitu sepi, tak ada satu anak pun yang terlihat berjalan, bahkan bayangan pun tidak terlihat. Begitu sepi, seperti tak berpenghuni. Biasan matahari yang masuk menerpa Kelas terlihat terang menyinari bumi.


Kantor yang katanya ramai kini terlihat sepi. Tak ada lintasan yang terlihat jelas melewati pintu.


"Hei! Mau kemana kalian?!" Teriak seorang dari arah yang tidak kami ketahui. Seketika aku memutar kepala perlahan melihat ke arah sumber suara di barengi oleh Fikri dan yang lain.


"Bu Dona!" Cetus Septiani dengan lemas.


"Fikri kemari!" Panggil Bu Dona dengan berteriak. Berdiri tepat di dekat kantor.


Begitu terperanjat Fikri terlihat seketika ia melirik kami sambil mengerutkan bibirnya dengan wajah sedikit kecewa. Raut wajah yang tadi tidak terlihat guratan benang, ini malah terlihat. Bahkan raut wajahnya sedikit masam.


"Fikri, sana! Di panggil Bu Dona, ayo!" Seru Rasyd mendorong tubuh Fikri.


"Eh! Aku malas, kau saja yang menemui Bu Dona, kenapa?" Ucap Fikri melihat Rasyd dengan menanyakan, apakah Rasyd mau atau tidak?


"Kenapa harus aku?" Keluh Rasyd. "Kau kan ketua kelas, aku cuman wakil." Tolak Rasyd.


"Apa engga bisa? Sesekali wakil yang menggantikan ketua." Cetus Fikri. Kesal.


"Giliran Bu Dona, aku yang kau suruh. Coba giliran yang lain di saat jam belajar, kau maju duluan, agar tidak belajar!" Sindir Rasyd. Memalingkan wajah.


"Ya sudah! Kita kembali ke kelas." Seruku berjalan.


"Anak -anak! Kalian masuk sekarang ke kelas!" Perintah Bu Dona dengan keras. Mengayunkan tangan ke udara.


"Bu! Tapi kan masih istirahat, Bu!" Sahut Rasyd dengan sedikit keras. Memasang wajah sedikit khawatir.


Sontak kami terdiam dan ikut menatap Rasyd dengan wajah terperanjat seakan kami tidak bisa mempercayai apa yang kami dengar dan lihat. Aku dan yang lain pun saling bertemu pandang dengan wajah khawatir. Bu Dona yang melihat kami memutarkan sedikit kepala, melirik begitu tajam dan kesal mendengar apa yang di bilang oleh Rasyd. Seketika aku menelan ludah kepanikan dengan berat.


"Widia, kita bakalan di hukum lagi!" Keluhku dengan lemas. Menatap Septiani yang berdiri tegak di sampingku.


"Heh! Rasyd awas kalau sampai kami di hukum gara-gara kau, ya! Awas! Akan ku bilang kau nanti sama Ayahku." Bisik Septiani dengan polos. Mendelik.


"Bu Dona, engga akan menghukum kita." Tandas Solihin.


"Dari mana kamu tahu?" Sambung Widia.


"Ya, aku tahu! Kita engga akan di hukum karena bersama Liyan." Lanjut Solihin.


"Apa? Bersama aku?" Lanjutku dengan penuh keheranan. Melihat Solihin.


Begitu kesal hatiku saat ini. Ingin sekali aku menarik Solihin dan mengadukannya kepada Bu Dona dan ayahku karena telah berani mengkambing hitamkan diriku yang lemah tak berdaya.


Begitu ketat aku menatapnya sehingga melupakan sakitku yang mendera selama ini.


"Kenapa kau bilang seperti itu Solihin?" Tanyaku dengan menunggu jawaban darinya.


"Ia Solihin, Liyan benar! Kenapa?" Sambung Rasyd.


"Coba lihat! Itu si Fikri. Dia bawa apa itu?" Ucap Septiani. Mengalihkan perdebatan.


Sontak kami pun menghentikan perdebatan yang akan menimbulkan keretakan di dalam persahabatan kami. Perlahan kami memutar kepala melihat ke arah yang di tunjuk oleh Septiani.

__ADS_1


Septiani memang selalu seperti ini. Di saat persahabatan kami sedikit mengalami pelik yang mengarah pada keretakan. Ia selalu mencoba hal-hal yang membuat kami berhenti, begitu juga dengan Rasyd. Rasyd yang bertubuh seimbang dengan Fikri tingginya. Melihat ke arah Fikri dengan tawa jenaka. Hahaha! Ledeknya melihat Fikri yang lagi resah.


Melihat tawa jenaka Rasyd akan atasannya membuat aku ikut menarik bibir sedikit.


"Hahahaha! Fikri baru kali ini dia mengangkat bangku. Hahaha!" Ledek Septiani dengan senang.


"Ia! Pasti dia nanti kesal padamu Rasyd ." Sungut Solihin.


"Kesal kenapa? Karena mengangkat bangku!" Timpal Widia.


"Kenapa dia harus kesal? Itukan sudah jadi tugas seorang murid, apalagi kalau di suruh guru, ya kan!" Balasku dengan tegas.


"Liyan benar!" Cetus Rasyd.


"Tapi....!" Seketika Rasyd diam dan tidak melanjutkan apa yang ingin dia katakan.


Wajah Rasyd kini terlihat kusut sambil menggaruk kepala dan menghembuskan napas kasar.


Mereka begitu betah berlama- lama di bawah terik matahari yang menyengat ini. Tubuh ini rasanya ingin sekali berbaring, meskipun hanya duduk bersandar di bangku sekolah. Huh! Sesekali aku menghela napas melihat temanku Rasyd yang ingin melihat Fikri berlama-lama.


"Tapi,...apa Rasyd?" Tanyaku dengan ingin tahu.


"Tidak ada apa-apa, Liyan." Jawabnya.


"Aneh!" Sahutku mendengus. Memutar kepala melihat Widia dan Septiani.


"Septiani, ayu kita ke kelas sekarang, kasihan Liyan dia lagi sakit." Ajak Widia. Diam dan masih menatap Bu Dona.


"Anak-anak! Ngapain kalian lagi berdiri di situ!" Pekik Bu Dona.


Dari jauh wajahnya tidak terlihat seperti biasa. Jika, Bu Dona bersuara keras seperti itu, aku sudah bisa menebak raut wajahnya. Aku pun menunduk dan memutar badan melangkah.


Tubuh lemahku pun kini berjalan dengan menyeret tungkai kaki yang lemah masuk ke dalam kelas. Kelas yang adem dan tempat kami membuka buku sambil mendengarkan penjelasan dari guru. Kelas yang tempat kami saling bertemu dengan teman dan berbicara walaupun hanya sekedarnya. Tempat kami berdiskusi dan tawa jenaka, meskipun dengan diam-diam, seperti orang yang bersembunyi. Tempat guru memberi nasehat untuk seorang murid yang baik maupun teguran bagi murid yang melanggar aturan atau murid yang ribut. Hahahaha! Begitu mengagumkan.


"Liyan, kamu kuat berjalan!" Tanya Rasyd yang berjalan bersama kami.


"Ia, aku sanggup!" Jawabku. Berjalan melihat Rasyd dan memutarkan kembali kepala melihat bayangan kaki yang melangkah. "Aku harus sanggup kalau tidak aku tidak akan sekolah." Sambungku.


"Kenapa tidak sekolah Liyan?" Tanya Solihin.


"Ia Liyan kenapa?" Sambung Rasyd kembali.


"Ayahku tidak suka melihat aku jadi Anak yang lemah. Ayahku bilang kalau kau masih sakit lagi engga usah sekolah, libur saja!" Lanjutku.


"Liyan, Ayahmu memang betul! Kalau kau sakit engga usah sekolah. Libur saja!" Ucap Rasyd membenarkan.


"Libur saja!" Ucapku dengan keheranan. "Libur berapa lama?" Ucapku melanjutkan pertanyaan kembali kepada Rasyd.


"Liyan, sampai kamu sembuh." Lanjut Septiani.


"Aku tidak tahu! Aku memang di suruh Ayahku libur! Aku pikir libur untuk selamanya. Jadi, aku takut!" Lanjutku menekankan. "Engga akan sekolah lagi. Makanya, aku masuk." Melihat mereka dengan sendu.


.


.


.


Teman-teman terimakasih telah memberi like, komentar, dan favoritnya. 🤗🙏


Bersambung....


Sambil menunggu Author update!


Yuk! Baca novel dari teman aku Author yang lain!


Pasti engga nyesel deh, bacanya! 🥰


__ADS_1


Mouza yang ingin memberikan kejutan untuk kekasihnya justru malah mendapatkan kejutan tak terduga dari Alan, kekasihnya.


Dengan mata telanjang, Mouza melihat dengan jelas saat Alan sedang bercumbu dengan wanita lain di siang hari, terlebih wanita itu adalah calon kakak iparnya sendiri.


__ADS_2