
Mendengar perkataan ayahku dia pun, mengerjitkan matanya.
"Ayah,ayah lihat!" Aku melihatnya dari ekor mataku yang kecil.
"Ia,lihat apa nak!" Ayahku yang menatapku sambil mengelus kepalaku dengan Penuh kasih sayang.
"Ayah, lihat apa?" Adikku yang tiba-tiba, hadir di dekat kami. Dia datang karena dia mendengar aku mengatakan," Ayah lihat"kepada Ayahku.
"Sudahlah, nak!" Ayah memeluk kami dengan kehangatannya.
Sementara, Ibu sambungku masih menikmati semua pembicaraan yang kami geluti dengan mengedipkan matanya sesekali.
"Ayah ayo kita makan, aku lapar."Adikku menarik lengan Ayahku sambil memegang perutnya yang keroncongan.
"Ia,sudah ayo!" Ayahku.
"Tapi, Ayah bagaimana dengan Ibu ini?" Aku terus menatap dia. Sementara, Ayahku sendiri tidak menghiraukannya bahkan, dia mengabaikannya.
Hmm! Ayahku mengeram.
Kejadian seperti apa ini? Sampai-sampai harus seperti ini semuanya. Yang satu cuek dan yang satunya lagi, berharap kalau dia dibelai oleh Ayahku dengan kasih sayang.
"Ayah coba, sekali lagi bangunkan Ibu itu!Kasihan, dia Ayah dia pasti kelaparan."Dengan lirih aku merayu ayahku supaya dia mau membangunkan Ibu sambungku.
"Nak,tadi kan sudah kita bangunkan. Tapi, dia tidak mau bangun. Lalu kita harus berbuat apa?"
"Ayah buatlah sesuatau yang bisa membuat dia bangun."Lagi-lagi aku memohon kepada ayahku yang jelas-jelas dia sudah memasang raut wajah masam.
Sementara, adikku yang duduk di sampingku begitu kesal melihat ku yang terus memaksa ayahku. Diapun, merapatkan duduknya tepat di sampingku sambil berkata pelan ke telingaku.
"Kak,sudah jangan paksa Ayah. Tadinya Ayah sudah berusaha kan! Membangunkannya, dia saja yang tidak mau. Kakak jangan terus mendesak Ayah. Kakak engga takut apa kalau Ayah marah."
Aku pun langsung diam!
Tapi, kasihan Ibu itu. Hmm! Mengeram.
Tapi, kalau dipikir-pikir memang benar sih, apa yang di katakan adikku.Mungkin Ayahku jauh lebih tahu daripada aku.
Ya,sudahla.Gumamku.
Melirik ke Ayahku!
Ayahku tidak mendengarkan apa yang barusan kami bicarakan kan. Kalau dia tahu kami membahas Ibu sambung kami yang tercinta itu sambil menghadapi hidangan makanan yang telah tersedia. Habis deh kami berdua!
Kayaknya bukan kami berdua la. Menghela napas panjang dengan sepiring nasi yang telah tersaji dihadapan ku. Melainkan aku sendiri, karena seperti apapun, perilaku adikku dia tetap anak kesayangan dimata Ayahku.
Berbeda denganku yang sedikit kesalahan ayahku langsung***.Mengingatnya, saja aku tidak berani. Dengan wajah yang takut."Liyan kenapa?" Seketika, aku mengangkat kepalaku dan tersenyum tipis kepada Ayahku.
"Engga apa-apa Ayah."Menggelengkan kepalaku sambil menatap Ayahku.
"Kak, kakak kenapa?"Tanya adikku yang menuangkan air minum kedalam gelasnya.
"Kakak teringat."Sambil menatap ke pintu kamar.
"Teringat! Teringat apa kak?"
Sementara, ayahku yang duduk manis di kursi makannya. Sambil menikmati hidangan yang telah disiapkannya tadi di mejanya.
__ADS_1
Aku yang duduk di lantai bersama adikku. Tepat bersandar didinding kamar ayahku. Melihatnya dan melihat celana yang tergantung didinding kamar yang tak jauh dari pintu kamarnya.
"Itu!" Aku memutar kepalaku melihat celana ayahku dan menunjuknya dengan bibirku.
Adikku dengan penuh tanda tanya dia menatap celana itu dalam. "Itu kenapa kak?" Penuh dengan jawaban.
"Ia,tali pinggang!"
"Ha,apa!" Dengan sontak adikku kaget mendengar apa yang barusan ku katakan. Tali pinggang? Tanyanya spontan.Sendok yang di tangannya pun langsung terjatuh.Klenteng!
"Hahahaha!"Dia pun tertawa kecil yang sebenarnya dia pengen tertawa kencang namun, dia melirik ke Ayahku dan tak berani.
"Kau tahukan dek. Kalau sudah Ayah marah sama kakak seperti apa?!"
"Ia, kak."Adikku menganggukkan kepalanya sebagai jawaban membenarkan apa yang telah ku katakan.
"Kalau Ayah sudah marah itu tali pinggang pasti keluar dari lingkarannya,ia kan?"Menatap ayahku diam-diam dan tersenyum tipis.
"Sssttt! Kak,jangan kencang-kencang nanti kalau Ayah dengar bagaimana?!" Adikku melirik Ayahku dengan ekor matanya.
Ayahku!
Ayahku telah selesai menghabiskan makanannya dan dia pun, beranjak dari kursi kesayangannya.
Di tengah perjalanan dia menuju dapur,"Ana!"
"Ia Ayah." Jawab adikku dengan lugas.
"Apa setelah selesai makan kamu mau bermain lagi?"Ayahku yang lagi siap-siap mau tidur siang.
"Ia ayah,bolehkan ayah. Sebentaaar saja! Tadi, permainan kami belum selesai Ayah,boleh ya Ayah, ya?!"Adikku memegang tangan Ayahku dengan wajah manjanya.
"Ayah tadi sudah sholat,sewaktu kamu menjemput adikmu."
Sementara, di balik rengekan adikku kepada ayahku yang meminta diizinkan bermain pun, masih berlangsung.Namun,aku tidak fokus ke masalah mereka,yang aku fokuskan cuman Ibu sambungku yang sampai saat ini dia masih bertahan dengan pingsan pura-pura nya.
"Ayah,Ibu tidak dibangunin untuk makan siang."
Mendengar ucapan ku Ayahku langsung memalingkan wajahnya kearah jendela.
"Engga usah!"
Mendengar ucapan ayahku rasanya aku bagaikan, disambar petir yang menghancurkan seisi rumah ini.
"Kenapa Ayah?Ayah kejam sekali!" Gerutu ku.
"Ia,engga usah kalau pun dia bangun.Dia mau makan apa?"Ayahku masih tetap menatap ke jendela kemudian memejamkan matanya perlahan.
Dengan terkejut aku langsung. "A-apa Ayah engga usah."Dengan terbata,aku melihat Ibu sambungku.
Pasti dia kelaparan. Tapi, kenapa di bilang ayahku nasi sudah habis? Padahal kan tadi, kulihat masih banyak.Hm! Aku semakin tidak mengerti.
Aku pun, berlalu dari Ayahku dengan penuh tanda tanya yang mendalam.
Kasihan sekali Ibu ini bahkan ayahku pun, terlalu cuek kepadanya hari ini.
Mendengar ucapan ayahku. Ntah, kenapa tiba-tiba dia membuka matanya? Dan melihat keatas atap rumah kami tanpa berkedip dengan tatapan yang sangat tajam dan menakutkan dengan wajah yang pias.
__ADS_1
Ayah Ibu ini kenapa? Aku takut! Gumamku.
Berdiri mematung didekat meja makan Ayahku.
Tidak berapa lama dia seperti itu,kemudian dia
pun menghempaskan tangannya kelantai dengan keras.
"Liyan."Ibu sambungku.
Mendengar Ibu sambungku memanggil ku. Raut wajah pucat sudah terukir indah di wajahku dengan napas yang tidak beraturan. Di tambah lagi dia menghempaskan tangannya kelantai.
Tubuh ku diam dan tak kuat untuk melangkah. Bola mataku yang berputar mengelilingi ruangan.
Seketika, aku perlahan memutarkan badan dan kepalaku.
Ternyata!
Huh! Menghapus dadaku dengan tangan mungilku dan seketika menghembuskan napas perlahan.
Perlahan aku berjalan mendekat dari balik dinding kamar ayahku yang tak jauh dari sudut dinding kamar dimana dia terbaring.
"Ia Bu."Menghampirinya dengan perlahan dan wajah diam ku.
Dia pun, sudah duduk dengan menyilakan kakinya sambil menyisir rambut dengan tangan dia.
Aku diam bukan karena marah tapi karena aku takut,karena dia kan? Aneh hari ini!
"Masih ada nasi?"Dengan suara yang lirih dan wajah yang lesu.
Ha! Hihihihi! Tertawa geli di dalam hatiku.
Ternyata, dia bangun karena lapar. Berarti tadi dia mendengar apa yang di ucapkan Ayahku.
Hm! Berarti makanan gertakan dia supaya bangun. Pantesan aja Ayahku malas menggubris dia.Ternyata,betul juga kata ayahku kalau Ibu itu tidur.
Hm! Mengeram, ternyata dia pingsan bohongan.
"Masih bu."Jawabku
"Masih? Bukannya tadi kata Ayahmu sudah habis?"Menatap ku lekat.
Mendengar itu aku pun mendengus dan menghela napas kasar.
Ternyata dia***.Hm! Kesal yang menggerutu di hatiku.
"Bisa tolong ambilkan Ibu nasi,Ibu lapar."Dengan lirihnya dia mengatakan itu.
"Baik Bu."Dengan sopan.
Aku pun, mengambil piring menaruh nasi dan lauk pauk kedalam piringnya dan juga aku membawakan segelas air minum untuk dia.Kasihan juga sih!
"Ini Bu."Makanan dan minuman yang tadi kubawa. Kemudian,ku letakkan dihadapannya.
Ternyata dia kelaparan juga, ya! Aduh kasihan nya! Kenapa sih Ayahku seperti itu. Engga kasihan dia, apa? Tapi Ibu ini sih terlalu over. Masa pingsan bisa dibuat-buat tahan pulak lagi berlama-lama.Tahula Ayahku***menghela napas panjang sambil melihat ke kamar ayahku.
Ternyata, Ibu ini mendengar nasi habis. Dia baru bangun dari pingsan pura-puranya.Pinter banget Ayahku.Memang betul katanya, Ibu itu tidak pingsan cuman tidur.
__ADS_1
Bersambung.....