
"Kalau Kakak mau, ya Kakak saja!" tolak adikku. Memutar badannya membelakangiku.
"Aku gak akan mau," tolaknya kembali.
Aku terkejut mendengarnya. "Ana, Ibu itu orang tua kita, Dik," kataku mengiba.
Adikku tidak mau memutar duduknya kembali menatap ke arahku. "Kak, aku udah berapa kali bilang. Itu bukan Ibuku! Ibuku udah gak ada," bantahnya.
Aku sudah menyerah dan mulai jengah. "Ana, jangan sampai Ayah tau, Dik. Kalau kau gak suka sama Ibu," kataku melihat punggung adikku.
"Engga usah takut Kak. Ayah udah lama kok tau!" ucap adikku.
Deg!
Jantungku semakin terkejut. "Iya, tapi 'kan Ayah gak tau kalau kau benar -benar gak suka," kataku kembali mengingatkannya.
"Udah lah Kak! Aku capek dengar Kakak ngomong. Kakak cuma bilang tentang Ibu kesayangan Kakak itu aja!" kata adikku. Meletakkan baju anak Bp yang di pinggangnya.
Aku pun diam dan menatap punggung adikku dengan lekat. Duduk di atas tempat tidur di depan jendela yang terbuka.
Saat ini aku melihat adikku memainkan anak Bp milikku. "Kak, kalau Ayah pulang kita di beliin jajan gak ,ya?" tanya adikku mengalihkan topik pembicaraan, melihatku sambil menggantungkan Lofya milikku di udara.
"Kakak gak tau," jawabku kesal. Memutar kepala dan menatap nanar keluar jendela kembali.
"Aku pikir Kakak tau. Udah lama Ayah, gak pernah beliin kita jajan lagi," ucap adikku pelan.
Aku diam menyimak yang di sampaikan oleh adikku dari belakang. "Ana, kalau Ayah punya uang. Pasti Ayah akan membelikannya," balasku dengan berhati-hati.
"Dari dulu Kakak selalu bilang, gitu, "Kalau Ayah punya uang," kata adikku sebal.
Perlahan aku memutar kepala kesamping kanan. "Ana, memang iya. Kalau Ayah punya uang. Ayah pasti akan membelikannya," kataku kembali mengulanginya.
"Liyan!" panggil ibu sambung dari luar kamar.
Netra yang masih menatap adikku lekas aku putar kesamping kiri," Iya Bu," jawabku langsung, melihat adikku yang duduk di bawah.
"Di mana barang -barang Ibu?" tanya ibu sambungku. Berdiri di depan pintu kamar.
Aku terkejut dan heran. Kedua netra langsung melirik adikku ke samping kanan secara diam-diam.
"Liyan, apa kau melihatnya ?" tanya ibu sambung panik. "Ibu udah mencarinya di mana-mana. Tapi tidak ketemu," katanya cemas. Menatap ke arahku.
"Ibu, kami gak tau," jawabku pelan sedikit takut. Melihat tatapannya yang tajam bercampur curiga.
__ADS_1
Sorot matanya terus saja menatap dengan serius. "Pasti kalian ini, 'kan?!" tanya ibu sambung. "Yang mengambilnya!" tuduhnya, melihatku dan sekilas melirik adikku.
"Engga Bu," jawabku menunduk bercampur takut.
"Lantas siapa? Apa ada orang lain yang masuk ke rumah ini?" tanya ibu sambung dengan penuh penekanan.
Aku tetap diam dan adikku juga tidak mau menjawabnya. Jemariku yang dingin dan gemetar kuremas dengan diam-diam sekuat-kuatnya.
"Kalian 'kan, di rumah ini suka main-main. Pasti kalian ini yang mengambilnya, iya 'kan?" kata ibu sambung bertanya dengan keras.
"Engga Bu," jawabku langsung. Melihat jemari yang kuremas.
"Alah. Kalian pasti bohong. Mana ada maling yang mau ngaku!" tandasnya pedas. "Pasti Adikmu itu yang ngambilnya, iya 'kan?" tanyanya menuduh, melirik adikku yang sama sekali tidak menatapnya.
Aku sangat takut mendengarnya. "Ibu, kami gak tau," kataku lagi mengulanginya.
"Kau dan Adikmu itu sama. Kalian berdua itu saling menutupi," pekiknya. "Kalian yang suka bermain di rumah. Pasti kalian itu yang mengambilnya, iya? Adikmu 'kan, suka main yang aneh-aneh!" katanya pedas.
"Kami dari tadi si sini saja Bu," jawabku bercampur takut, menunduk melihat lantai.
"Cih! Liyan, tanya Adikmu itu! Di mana dibuatnya barang -barang Ibu!" suruh ibu sambung kami, melepaskan tirai dengan kasar.
Huh!
"Kak, aku gak tau," jawab adikku. Duduk diam termangu.
"Tapi Ana, itu mana mungkin hilang, Dik. Apalagi di dalam kamar Ayah. Kita sekarang 'kan jarang masuk," kataku pelan, melihat adikku yang menunduk sedih.
Sekian lama aku dan adikku bertanya. Dia pun termenung menekuk mukanya. Aku sendiri yang menyaksikannya sangat risih melihatnya.
"Ana, kalau bukan kau, tidak apa-apa," kataku, mengurut dada.
Kembali netra ini aku putar melihat tirai . Angin yang berembus masuk menerbangkan rambut ini.
"Kak!" panggil adikku pelan dengan suara berhati-hati.
"Iya," jawabku dengan wajah seribu masalah.
"Sebe... ." Adikku langsung menghentikan omongannya setelah dipotong oleh ibu sambung kami.
"Liyan!" Ibu sambung kami kembali memanggil dari luar kamar memotong pembicaraan adikku.
"Iya Bu," jawabku langsung menegakkan kepala menatap ke arah tirai.
__ADS_1
"Apa kata adikmu?" tanya ibu sambung kami yang masih menunggu.
Refleks wajahku langsung pucat dan tangan kembali dingin. "Iya Bu," kataku sebagai isyarat hanya itu jawaban yang bisa aku akan untuk saat ini.
"Jangan Iya, iya saja! Tanya cepat! Cepat tanya !" seru ibu sambung kami marah.
"Iya Bu," gumamku pelan, melihat adikku dengan netra berharap.
Adikku yang sudah mendengarnya. "Kak, udah! Bilang aja kita gak tau," kata adikku enteng.
"Apa? Apa Dik? Jadi, kau suruh Kakak bilang lagi, engga tau!" sesalku. Duduk di atas tempat tidur, mendelik adikku yang di bawah.
Adikku refleks memutar kepala sedih bercampur iba menatap kedua sorot mataku. "Iya Kak. Karena lipstiknya aku yang ambil," kata adikku berterus terang, menunduk dengan wajah bersalah.
"Kenapa kau lakukan itu, Dik?" tanyaku panik. "Ayah pasti akan tau! Kita pasti dihukum lagi," sesalku mendalam. Menatap adikku yang sudah lancang.
"Kak, aku mau main badut," balas adikku mengiba.
Kepalaku semakin pusing dan tanganku pun reflek memijat kening. "Ana, kenapa kau senekat itu?" sesalku bertanya pada adikku. "Kau tau, Dik? Kalau Ibu udah marah dan ngadu sama Ayah, ha?" tanyaku kesal melihatnya. "Kita pasti dihukum yang seberat-beratnya?! Karena kau telah berani mengambil barang miliknya," terangku. Turun dari tempat tidur. "Ana, di mana lipstiknya ?" tanyaku serius.
"Itu, Kak!" jawab adikku menunjuk sudut tempat tidur yang banyak tumpukkan bantal.
Aku lekas berjalan untuk membuktikannya. "Ana, Kapan kau mengambilnya?" tanyaku lagi.
"Tadi," jawab adikku tenang.
"Tadi?" tanyaku berpikir dan mengingat.
"Iya Kak. Waktu Kakak dipanggil Ayah," tandas adikku dengan enteng. "Kenapa kau gak bilang, Dik? Huh!" tanyaku mendengus dan mengurut dada. Berdiri dan melihat lipstik yang aku pegang.
"Huhuhu! Kakak jangan marahi aku!" harap adikku mengiba dan menangis.
Lipstik pun langsung ingin terjatuh. "Ana, jangan nangis! Udah diam. Nanti kita makin dihukum," kataku menghampiri dan mengusap air mata adikku.
"Liyan!" panggil ibu sambung kami lagi. "Ada tidak?" tanyanya.
"Sebentar Bu," jawabku panik, melihat adikku dan lipstik yang kupegang. "Ana, udah hapus air matamu!" bujukku dengan lembut. Mengambil kain selimutnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...