Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Ke rumah Nisa Part 2


__ADS_3

"Masa kamu tidak pernah dengar Liyan?!" Sungut Widia dengan sedikit kesal. Mendelik.


Kekesalan Widia kini memenuhi wajahnya yang polos sampai ia tidak ingin melihat wajahku.


"Widia, aku sudah lama tidak masuk sekolah." Jawab Liyan dengan lirih. Melihat Widia dan memegang pensil.


Widia hanya diam saja menunduk sambil membuka buku. Dia tidak ada memberikan respon apapun kepadaku, sehingga aku memalingkan wajah darinya, kedua mataku kembali melihat buku.


Tidak berapa lama kami tenggelam dalam tugas. Tiba -tiba bel pulang berbunyi.


Teng! Teng! Teng!


Seluruh murid pun riuh berteriak senang. Sementara aku diam sambil menyusun buku dan alat tulis ke dalam tas.


"Anak-anak, tugasnya sudah selesai?!" Tanya Bu Dona. Menyusun buku ke dalam tas. "Kalau belum selesai, kerjakan di rumah, pertemuan selanjutnya akan di kumpul." Sambung Bu Dona. "Anak-anak Ibu pamit duluan karena Ibu masih ada urusan." Lanjut Bu Dona. Menghilang dari balik pintu.


"Ia ,Bu." Jawab kami serentak.


"Liyan!" Panggil Widia pelan dengan wajah merasa bersalah. Memasukan buku.


"Kita jadi, kan ke rumah Nisa?!" Lanjut Widia. Melihatku.


Tiba-tiba tanganku terhenti, diam menatap dengan nanar sambil mengingat ayahku dan kondisi diriku.


Aku hanya diam melihat Widia kembali memutar badan melihat meja.


"Liyan, kamu marah ya!" Bisik Widia melihatku. Mengambil tas. "Kalau aku salah, aku minta maaf. Lagian Ibu itu sih, memberi tugas kayak begini, aku kan engga pandai mengarang, apalagi buat puisi." Kata Widia dengan suara getir. Menyandang tas.


Melihat Widia, aku sedikit sedih. "Aku..." Menghentikan ucapanku menatap nanar dengan pandangan kosong seakan aku masih ragu.


"Aku..., apa Liyan?" Tanya Widia. Berdiri dan Melihatku.


"Aku belum tahu, aku masih takut kalau nanti Ayahku akan marah." Sambungku dengan getir. Bangun dari bangku.


Widia pun langsung memalingkan wajah dariku. Melempar pandangan melihat Nisa dan seluruh teman yang telah berlalu ke luar. Sementara Nisa kini telah bersiap untuk pulang.


Widia secepat mungkin mengayunkan langkah menghampiri Nisa yang akan meninggalkan kelas. Sementara aku masih berdiri menyandang tas di tubuh yang lemah.


Perlahan aku menyeret kaki dengan tertatih keluar dari bangku. Tungkai kaki yang lemah kini menapaki lantai kelas. Kedua mata yang sayu kini refleks melihat Widia dan Nisa.


Mereka berdua begitu asyik berbincang dengan ekspresi mereka masing-masing. Widia kini terlihat tersenyum getir, sementara Nisa terlihat datar.


Aku yang melangkah dengan gontai, tiba-tiba terhenti.


"Liyan, kamu ikut ya, ke rumahku." Pinta Nisa. Berjalan.


"Ia! Ikut ya, Liyan bersama kami." Seru Widia kembali. Melihatku.


Seketika aku, "Aku engga, jadi ikut nanti Ayahku marah." Balasku dengan nada suara pelan. Melihat Widia dan Nisa.


Mereka seketika diam dan saling menatap mendengar penolakan dariku kemudian aku kembali melanjutkan perjalananku.


"Liyan sekali saja!" Pinta Widia. Berjalan dengan kencang.


"Ia Liyan, aku kepingin kalian bermain ke rumahku." Ucap Nisa. Berjalan di samping.


Mendengar permintaan mereka yang terus merayu membuat aku mengencangkan langkah sehingga aku menjauh dari mereka. Di tengah jalan, langkahku sekali lagi di hentikan.


"Liyan!" Panggil Seseorang dari belakangku.


Sontak aku kembali memutarkan badan melihat ke belakang. "Septiani." Kataku di dalam hati.


"Liyan, Nisa mengajak kita untuk bermain ke rumahnya." Ucap Septiani. Menghampiriku.


Mendengar ajakan Septiani membuatku semakin goyah.


"Septiani, aku tidak bisa ikut. Nanti Ayahku marah, aku kan lagi sakit." Sahutku pelan. Berdiri melihat Septiani. "Kalau kau lagi sakit, ngapain sekolah!" Sindir Septiani. Melihatku.


Aku pun terdiam membeku, berdiri tegak dengan tas yang masih di sandang melihat Septiani, Widia dan Nisa. Mereka begitu tajam melihat ke arahku. Hari ini, aku rasanya bagaikan di kepung oleh musuh.


"Liyan, sekali ini saja. Ayolah ikut dengan kami!" Ajak Septiani dengan lembut. Berdiri.


"Ia." Sambung Widia dan Nisa. Berdiri melihat dengan gurat wajah yang penuh dengan pengharapan besar kepada diriku.


Melihat mereka, seketika pendirian yang kuat kini goyah kembali. Melihat wajah mereka yang begitu memohon dengan penuh harapan yang besar.


Spontan aku mengurungkan niat untuk pulang dan melangkah menghampiri mereka. "Kita pulangnya jam berapa?" Tanyaku. Berjalan menghampiri mereka. "Rumah kamu jauh, tidak?" Tanyaku kembali ingin tahu. Melihat Nisa.


"Rumahku dekat Liyan." Jawab Nisa dengan pelan. Melihatku dan memegang tali tasnya.


"Kalau begitu ayo, kita pulangnya cepat, kan?!" Sambungku. Berjalan.


"Ia." Kata Widia. Berjalan.


Kami pun pergi berlalu menyambangi rumah Nisa. Septiani yang berjalan lebih jauh di depan dariku, terlihat senang sambil berbicara pelan dengan Nisa. Sementara Widia terlihat biasa saja dan diam terus melangkah.


"Liyan, kalau aku tahu harinya sepanas ini, aku tidak bakalan mau ikut!" Keluh Widia. Mengangkat sedikit kepala melihat langit.

__ADS_1


"Kenapa kau bilang kayak gitu? Bukannya kau tadi yang mengajak untuk ke rumah Nisa. Sampai kau tadi marah padaku." Sungutku. Melirik Widia. "Jadi, jangan marah!" Bisikku.


Widia pun diam dan tak berkutik sedikitpun. Ia terus melihat lurus sambil melihat kakinya melangkah.


Panas yang menyengat menusuk kulit, membuat langkah kaki semakin kencang sehingga tubuh lemahku saat ini hingga terjerembab.


Nisa dan Septiani terlihat melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa seakan berlari menjauh dari kejaran seseorang.


"Coba lihat! Mereka sudah berjalan jauh dari kita." Ucap Widia. Berjalan di samping.


"Kalau kau mau duluan bersama mereka, pergi saja!" Sambungku. Melihat ke sepatu.


"Lalu, bagaimana dengan mu? Nanti kau jatuh lagi disini!" Sindir Widia. Melirikku.


Seketika aku terperanjat dan menutup mulut sambil melihat ke bawah kembali. Perkataan Widia begitu membungkam mulut dan membuat aku melihat wajahnya dari ekor mata.


Sindiran Widia yang membuat anganku kacau, tiba-tiba buyar setelah mendengar jeritan Septiani, sedikit berteriak memanggil dan melihat dengan memutarkan badan.


"Liyan, cepat! Biar kita cepat sampai dan cepat pulang." Jerit Septiani. Melambaikan tangan.


Sinar matahari yang membias tepat di wajah begitu mengganggu penglihatan yang membuat aku harus memasang kedua bola mata yang sayu dengan lebar untuk melihat Septiani.


Dengan terperangah aku terpaksa menyahut Septiani. "Ia Septiani." Berjalan dengan kencang memaksa kaki yang lemah.


Aku pun melihat ruas jalan yang kami lalui, seketika aku terbersit di dalam hati yang membuat pikiranku memutar badan ke belakang. Aku begitu tidak menyangka ternyata kami berjalan sudah cukup jauh. Wajah pucatku seketika berkerut melihat jalan yang telah kami lalui.


Khayalan yang masih menyelimuti tubuhku yang lemah, tiba -tiba terkejut.


"Liyan, kita sudah sampai." Kata Widia. Memukul pundak.


Sontak aku terperanjat dan menetralkan kembali keadaan diriku. Kedua bola mata yang kubuka dengan lebar begitu takjub melihat rumah Nisa yang besar dan di kelilingi oleh pagar yang tinggi.


"Nisa ini rumah kamu?!" Tanya Septiani. Berjalan lebih dulu.


"Ia, ayo masuk!" Ajak Nisa. Membuka pagar.


Wajah kami begitu terperangah dengan kagum seakan terhipnotis. Widia yang berada di samping bersamaku, berjalan sambil melihat halaman rumah Nisa yang di penuhi dengan bunga.


Septiani yang lebih dulu masuk semakin melongo melihat sofa yang terpajang rapi di sudut rumah.


"Widia rumahnya besar, ya dan sofanya juga cantik." Ucap Septiani. Melihat sofa.


"Ia, untung saja kita ke sini." Sahut Widia. Terpelongo.


Tubuh mungilku yang kurang sehat membuat aku tidak begitu menanggapi tingkah laku dari Widia dan Septiani. Aku hanya masuk, duduk dan diam sambil melihat Nisa yang berjalan meninggalkan kami.


"Ia." Sahut Septiani. Menganggukkan kepala.


Nisa pun kini menghilang dari hadapan kami.


Setelah lama Widia dan Septiani mengitari ruangan yang kami duduki, akhirnya mereka berdua pun duduk sambil meletakkan tas di samping masing-masing.


"Liyan." Panggil Septiani yang ingin menunjukkan betapa senang hatinya saat ini. Melihatku. "Itulah, kamu jadi ikut, kan. Kalau tidak kamu engga bakalan tahu kayak mana rumah Nisa." Bisik Septiani. Duduk di sebelahku. "Ia, kan Widia!" Lanjut Septiani. "Kalau kita engga ikut mana mungkin kita tahu rumah Nisa, kan." Lanjut Widia kembali menegaskan. Melihat langit-langit rumah.


Widia kini memutarkan kedua bola matanya melihat meja, bunga yang terletak di atas meja serta foto yang terpasang dengan rapi di dinding. "Ia Septiani, kamu benar." Ucap Widia. Melihat dinding dan foto.


"Liyan, tapi Nisa kok lama sekali, ya?!" Tanya Septiani. Melirikku. "Padahalkan kalau ganti baju cuman sebentar." Gumam Septiani. Melihat kamar Nisa.


Aku yang duduk di dekat Septiani merasa risih mendengar ocehannya yang tidak berhenti, sehingga membuat Widia memutarkan kepala ke arahku melihat Septiani.


"Septiani, sudah diam! Jangan seperti orang bodoh, malu-maluin." Ledek Widia. Menatap Septiani. Mendelik.


Aku yang duduk di antara mereka hanya memutarkan kepala melihat mereka saling melemparkan ledekan.


"Sudah diam! Jangan ribut!" Pekikku dengan sedikit keras. Melihat mereka.


Sorot mata mereka begitu tajam dengan wajah kesal memalingkan pandanga ke depan. Aku pun, demikian setelah mereka diam, aku kembali memutarkan kepala ke depan melihat Nisa .


Tiba-tiba sesaat kami diam, seseorang terlihat berjalan dari balik dinding kamar, ia berjalan dengan sedikit kencang sambil membawa nampan yang berisi makanan dan minum.


Wanita setengah baya itu terlihat begitu senang melihat kami, ia berjalan melihat kami sambil tersenyum.


"Adik-adik ini makanan dan minumnya." Katanya dengan lembut. Meletakkan.


"Ia Kak, terimakasih." Jawab kami. Tersenyum.


Dia pun menaruh yang di bawanya di atas meja. Lalu meletakkan di hadapan kami masing-masing. Dengan senyum, kami meraih makanan dan minum yang di sajikan olehnya.


"Adik-adik silahkan di minum, ya." Tawarnya dengan sopan. Berdiri.


Kami hanya mengangguk sebagai isyarat memberi jawaban lalu melihat ia pergi menghilang.


"Sepertinya minumnya enak." Cetusku. Mengambil dari meja.


"Ia, aku rasa seperti itu!" Sambut Septian. Mengayunkan gelas ke udara.


"Aku juga suka, sepertinya rasa jeruk." Sambungku. Mengayunkan ke udara dan menghirup.

__ADS_1


"Kalau begitu kita minum saja." Ajak aku. Memegang gelas, melihat Widia dan Septiani.


"Tunggu!" Sanggah Septiani. Memegang tanganku. "Nisa belum datang, mana mungkin kita minum duluan." Lanjut Septiani. Melihat aku dan Widia.


"Septiani, engga apa-apa, lagian Nisa terlalu lama." Celetuk Widia. Melihat Septiani dan dinding kamar.


Sontak Septiani pun menurunkan tangan, melihat gelas dan sambil menelan ludah.


"Ia, ya! padahal aku sebenarnya sudah haus, tadi perjalanan kita terlalu jauh." Cetus Septiani. Melihat kami dengan wajah di tekuk.


Setelah itu kami diam menatap satu sama lain dengan kekacauan hati masing-masing sambil melihat gelas yang ada di genggaman.


"Kita minum, yuk!" Ajakku . Melihat mereka.


Widia dan Septiani pun mengangguk memberikan isyarat.


Glek! Glek! Glek!


Suara air pun terdengar menyelinap memasuki tenggorokan kami yang kering, membasahi bibir yang telah lama menantikan siram air. Mata yang tadi mulai melemah kini melebar kembali, begitu juga dengan tubuh kami yang tadi ingin terkulai lemas kini tegak kembali.


Aku yang telah selesai menghabiskan minum, kini meletakan gelas di atas meja. Tangan yang lemah kini tidak sengaja menyentuh piring yang di dalamnya terdapat potongan bolu yang lezat.


Ups! Melihat tangan yang menyentuh piring.


"Hey!" Teriakku dengan terperangah. "Ini bolu kita makan, yuk!" Seruku. Mengambil bolu.


"Ia, ayo kita makan! Aku lapar." Kata Widia. Memelas.


"Aku juga lapar." Sambung Widia juga. Melihat bolu.


"Ya, sudah kita makan saja!" Seruku. Melihat Widia dan Septiani.


Melihat Septiani, aku menahan tatapan terlalu lama. "Septiani kamu kenapa?" Tanyaku ingin tahu. Menatap dengan dalam.


Seakan Wajah Septiani seperti ada beban, aku pun kemudian meletakan bolu spontan, memutarkan kepala melihat Widia. Sontak Widia yang melihatku ia pun mengangkat bahu dan melemparkan pandangan.


Keinginan untuk memakan bolu pun terhenti sesaat. Aku mulai hanyut kembali dengan keadaanku yang kurang sehat. Seketika wajah ayah dan adikku terlintas di benakku.


Sambil menunggu Nisa keluar dari kamar, pikiranku pun mulai kacau mengingat rumah.


Aku yang duduk termangu bersama tubuh lemah, tersadar dengan refleks, kakiku tidak sengaja menendang benda yang cukup keras di hadapanku.


Auwh! Cetusku dengan terperanjat.


Spontan aku mengangkat kepala. "Nisa. Kamu sudah kembali." Ucapku dengan sedikit terbata. Gemetar. "Maaf, aku tidak sengaja." Lanjutku. Menunduk.


"Engga apa-apa Liyan, lagian aku baru berdiri kok, di sini." Ucap Widia dengan datar. Duduk.


"Maaf, ya aku terlalu lama." Ucap Nisa. Minum.


"Ia, Nisa, kamu lama sekali, kami sudah mau pulang." Ucapku dengan datar. Memegang bolu.


"Pulang? Kenapa cepat sekali?" Tanya Nisa. Melongo.


Widia dan Septiani pun terperanjat sehingga Widia menumpahkan air yang di minumnya kedalam gelas, sementara Septiani meletakkan bolu kembali ke dalam piring.


"Aku takut nanti Ayahku marah." Jawabku dengan lirih. Menunduk.


"Ia! Ayah Liyan kan engga tahu, kalau Liyan ikut bersama kita." Timpal Widia. Menaruh gelas di meja.


Nisa yang tertawa bahagia sambil menceritakan tentang dirinya terlihat menarik senyum seketika.


"Kalian mau pulang sekarang." Sambung Nisa dengan wajah terperanjat. "Jangan pulang dulu, kenapa?" Pinta Widia. Sedikit sedih. "Padahal kita, kan ingin bermain." Lanjut Nisa. Lesu.


"Nisa bermainnya nanti saja, kalau kami ke rumahmu bermain." Lanjut Widia. Menguyah bolu.


Septiani pun langsung menghabiskan bolu yang di genggamnya, menelan dengan kencang sampai membuat ia tersedak dan meneguk air.


"Septiani, ayo cepat!" Seru Widia. Berdiri.


Sementara aku sudah bersiap menyandang tas dan mengembalikan bolu yang setengahnya di tanganku ke dalam piring.


"Besok kita bermain lagi, ya." Ajak Nisa. Melihat kami.


"Lihat besok ya, Nisa. Aku tidak janji karena Ibuku galak." Sambung Widia. Berjalan keluar.


.


.


.


Teruntuk semua terimakasih telah memberi like, komentar dan favorit.🤗🙏


❤️❤️❤️


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2