Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Makan siang Part 2


__ADS_3

Begitu aku telah sampai keruang tamu. Tiba-tiba aku mendengar suara batuk seorang lelaki paruh baya.Aku segera berlari menghampiri ke ruang dapur.Begitu aku mendengar ada suara batuk. Aku berlari seraya dengan tersenyum.Mata kecilku yang bulat bersinar terpancar jelas diwajahku.Bibir kecilku yang tipis merekah melengkung membentuk sebuah senyuman yang indah di pelupuk mataku.


Senyum yang terpahat di wajah masih terus terlihat."Ayah!" Lari ku seketika terhentak menghampiri ayahku. Dengan langkah terseok-seok aku menarik lengannya yang terasa kasar.


Dengan tubuhnya yang kurus dan terlihat sedikit keriput datang menghampiriku.Terlihat begitu lelah."Kamu sudah pulang,nak!" Dengan ember yang berisi air penuh ditangannya.


Eem! Aku menatap Ayahku dengan menganggukkan kepalaku sebagai jawaban.


Tubuhnya yang sudah mulai layu. Berjalan masuk dengan ember ditangannya.******* napas yang begitu berat dan suara yang parau.Berjalan dengan tergopoh-gopoh.Melihatku yang berjalan disampingnya.


Aku menatapnya dengan lirih. Siang ini dia begitu cepat pulang kerumah.Memasak demi anaknya "sibuah hati".Dengan tubuh yang lelah dia menyiapkan semuanya.


Dari jarak yang cukup jauh aku melihat adikku yang manja. Masih elegan dengan permainannya yang begitu aneh bagiku, peralatan sekolah! Seragam sekolah masih terpajang rapi ditubuhnya.Sepatu hitam kilat yang menutupi kakinya tadi telah dilepas. Dan terduduk manis dilantai tepat disebelahnya.


Suara tawanya yang kecil terdengar sesekali dengan merdu ditelingaku.Gerakan bibirnya yang kecil bergerak dengan lekukan bibir kecilnya yang indah.Tawa kecilnya sesekali terdengar olehku yang berdiri di dapur bersama Ayahku.


Aku yang berdiri tepat disudut dinding dapur. Melihat wajah Ayahku yang sendu.Begitu tulus tanpa beban. Melakukan semuanya sendiri untuk kami. Dari setiap hembusan napasnya yang keluar terdengar begitu berat.Napas yang sudah lelah.Matanya yang terlihat sayu seakan jawaban kalau dia kelelahan.


Aku yang berdiri dibelakang ayahku mematung. Sesekali melihat ke pintu depan rumah.Melihat Ibu sambungku sudah pulang ataukah belum? Dengan napas yang panjang.


Aku menyeret kakiku keruangan depan. Dimana adikku terduduk manis sambil memainkan peralatan sekolahnya.Sesekali Ayahku berkata kepadaku.


"Liyan,kamu jangan pergi kemana-mana! Selepas Ayah selesai memasak kita makan bersama.Tapi Ayah masih belum melihat Ibu mu .Apakah dia sudah pulang?" Tanya Ayahku sambil menoleh kearah ku.

__ADS_1


"Ia,Ayah! Sepertinya Ibu belum pulang karena aku tidak melihatnya."Berdiri diam disamping disudut pintu tengah.


Lelah berdiri dan melihat ayahku yang sibuk dengan dapurnya.Aku pun pergi meninggalkan dia sendiri.Duduk didekat adikku sambil melihatnya bermain dengan peralatan sekolahnya.


"Kak,ayo kita bermain!" Melepas kesunyian yang tercipta diantara kami berdua.Dengan gelengan kepala sebagai jawaban aku menolak.


Bermain dengan peralatan sekolah itu bukanlah yang kusukai.Karena aku lebih suka bermain di alam bebas.Namun,karena penjagaan ayahku yang begitu ketat terhadap ku.Jadi,aku tidak memiliki peluang yang luas untuk bermain diluar.Ayahku kerap kali mengurungku dirumah karena dia takut kalau aku pergi berkeliaran. Ntah,kemana dan tidak tahu jalan pulang.Apalagi,semenjak kejadian beberapa hari yang lalu mengenai orang yang ingin membawaku pergi jauh darinya.


Beberapa menit setelah kecemasan ayahku akan Ibu sambungku.Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekati rumah kami.Dari balik pintu yang terkena biasan matahari. Terlihat bayang yang menoleh kerumah kami.


Aku yang duduk manis melihat adikku.Tersentak dengan bayangan yang kulihat dari ekor mataku.Refleks seketika aku memutar kepalaku melihat bayang itu.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam." Seketika ayahku yang di dapur menjawab salam yang didengarnya.


Tidak berapa lama! Ayahku memanggil kami sambil menyerahkan piring yang telah berisi nasi,lauk dan sayur diatasnya lengkap dengan minumannya.


"Liyan,Ana,mari kita makan, nak!" Panggil ayahku sambil memegang dua buah piring ditangannya.Sambil berjalan kami mengambil piring dari tangan ayahku yang berjalan menghampiri kami.


Untuk hari ini! Adikku yang manja tidak lagi meminta disuap untuk makan.Karena baru saja Ayahku berkata kepada adikku yang duduk berdekatan denganku."Hari ini! Anak Ayah,kan! Sudah sekolah berarti sudah besar.Jadi,tidak boleh disuap lagi kalau makan.Nah,mulai dari sekarang anak Ayah harus belajar mandiri,ya!"


Kata Ayahku merayu adikku dengan lemah lembut sambil membelai kepalanya.

__ADS_1


Aku yang duduk disampingnya tersenyum didalam hati.Sambil menelan makananku. Pandangan ku pun menunduk melihat makanan yang ada di piringku.Beserta melirik gelas di hadapanku.Membisu seribu bahasa hanya itu yang bisa kulakukan kalau aku sudah berada didekat ayahku. Kerena kalau aku sampai bersuara,apalagi! Sedikit menyinggung adikku pasti ayahku marah besar.


Dalam diam aku terus memakan nasiku sampai habis disiang hari ini. Suara Ibu sambungku pun terdengar dari dapur memanggil ayahku. Seketika ayahku yang menemani adikku. Berlalu meninggalkan kami. Terkhusus untuk adikku! Dengan nasihat yang barusan disampaikan kepada adikku. Adikku kulihat begitu baik mencerna nasihat yang diberikan ayahku barusan sebelum dia meninggalkan kami.


Tidak berapa lama. Aku sudah selesai.Aku yang ingin segera beranjak dan pergi bermain. Akhirnya, dihentikan oleh ayahku yang baik hati. Membawa piring yang berisi nasi. Menyuruhku duduk didekatnya.


"Liyam,kamu duduk disini!"


Aku pun menghentikan langkahku.


Seketika, aku duduk disamping ayahku memenuhi permintaannya.Menatap keluar pintu sambil melihat orang -orang yang melintas dari depan rumah kami. Ayahku terus berbicara kepadaku dengan menikmati hidangan yang ada didalam piringnya. Satu yang terlintas di benakku dari perkataan ayahku yang terdengar ditelingaku.Yang terekam jelas jelas di memori ku.


Matahari siang yang menyemburkan panasnya ke bumi. Menimpa atap seng rumah kami.Membuat hempasan mengenai tubuh mungilku.Udara siang yang panas. Tertiup terbawa angin menampar wajahku yang mungil.Seketika membawa angan ku terbang ketempat permainan.


Ayahku yang terus menikmati makanannya.Spontan ku abaikan begitu saja dalam pikiranku yang kosong. Sementara, adikku yang tadi duduk di kursi. Sudah menukar pakaiannya dengan pakaian bermain.Siap-siap akan pergi bermain.


Makan siang ayahku pun sudah selesai. Saatnya dia merebahkan badannya yang letih tadi sejenak.Pikiranku pun kini sudah mulai melaju pergi menuju khayalan bermain.


Tapi sayang lagi-lagi langkahku terhenti! Karena ayahku menyuruhku untuk tetap bertahan dirumah meskipun,dia sedang tidur.Selama dia tidur. Selama itu pula aku harus duduk didekatnya. Walaupun aku duduk ditempat yang lain.


Suasana di rumahku begitu hening tercipta. Siang yang begitu memenjara tubuhku membuat aku semakin terkekang.Riuh suasana permainan luar. Anak -anak sebayaku tak bisa ku nikmati dengan bebas. Ayahku yang menerapkan aturan begitu ketat kepadaku. Membuatku semakin terpojok.Tidak bisa melakukan apapun dengan mudah.Segala tindak tandukku harus berjalan sesuai keinginan Ayahku.Tak ada satu katapun yang boleh ku lupakan. Apalagi untukku tentang.


Didikannya yang begitu keras kepadaku. Membuat tubuh mungilku gemetaran dan rasa takut yang menganak didalam jiwaku.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2