Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Permohonan maaf


__ADS_3

Dia terlihat begitu tenang, seolah-olah dia tidak mendengar apa yang di sampaikan oleh adikku tentangnya.


Sementara di wajah adikku yang manja masih terlihat gerutuan kecil. Dia sama sekali tidak menghiraukan, apa yang kusampaikan.


Sementara aku masih berharap sebaliknya, dia bisa memahami yang kusampaikan. Namun, dia hanya diam, sembari merapikan tempat makanku. Sikap bertahannya yang keras membuatku begitu jengah menatapnya.


Adikku yang manja. Dia terlalu bertahan pada pendiriannya yang sangat ambigu, sehingga dia tidak ingin, ada yang menggantikan posisi ibu kami yang telah tiada. Dia begitu sangat menyayanginya, sekali pun, dia tidak pernah melihat dan mengenalnya.


Terkadang hatiku merintih pedih, ketika mendengar adikku yang masih berharap, kalau ibu kami masih ada.


"Dek, Ibu kita 'kan sudah lama tiada, kata Ayah." Menatap adikku yang duduk sembari memungut nasi yang tidak sengaja terjatuh ke lantai.


Seketika tangannya terhenti dan menolehku sekilas. Wajah piasnya yang masam melihat jemari yang masih memungut nasi dengan suara yang berat, adikku, "Aku tahu kak," Memungut nasi. "Lalu, kenapa kalau aku seperti ini? Ada yang salah?!" Menatapku sekilas dengan datar.


"Setidaknya, kau hargai dia, Dek!" pintaku memohon dengan lembut menatap adikku.


"Menghargai seperti apa, sih ,kak?" Menatapku dengan sebal. "Apa selama ini? Aku tidak pernah menghargainya?!" tanya adikku dengan penuh penekanan. "Selama ini. Aku tidak pernah melakukan perbuatan yang membangkang," dalih adikku dengan penuh penekanan. Mendengus kesal sambil membuang nasi dengan kasar.


"Sesekali jika, dia memanggilmu. Panggil lah dia dengan 'Ibu' ," Menatap adikku dengan lekat.


"Apa?!" Dengan kesal. "Tidak, Kak! Aku tidak mau! Memanggilnya, 'Ibu' karena dia bukan Ibuku! Ibuku sudah tiada," jawabnya dengan tegas. Memutar badan membelakangiku. "Kalau Kakak, mau memanggilnya 'Ibu', Kakak saja, jangan aku!" tolaknya dengan acuh.


Spontan aku menutup mulut yang lemah ini dengan rapat. Melihat adikku yang begitu keras. Dia masih tetap bersikeras dengan ego yang menguasainya. Sekuat apa pun, aku dan sejauh mana pun, aku membahasnya dengan adikku hasilnya akan tetap sama, 'penolakan'.


Ibu sambung kami yang sedari tadi sudah pergi bersama pakaian kotor yang dia bawa. Terlihat begitu anteng seakan tidak ada masalah yang mengguncangnya. Melihatnya yang rileks seketika membuatku sedikit lega karena dia tidak mendengar perdebatan kami tentang dirinya.


Sungguh, dia begitu malang, setelah tiga tahun dia menikah dengan ayahku, dia belum bisa di terima oleh adikku sebagai ibunya.


Entah apa yang tidak di sukai adikku darinya. Dia masih enggan menceritakannya kepadaku, apalagi kepada ayahku. Mungkin dia berpikir panjang, jika dia menceritakannya kepada ayahku. Ayahku tidak akan percaya, belum lagi melihat ayahku yang tidak bisa mendengar anaknya yang terlalu jauh pemikirannya.


Rasa piluku terhadap ibu sambungku, membuatku terus melihatnya dengan sendu. Memperhatikan dia dengan penuh kasih sayang, meskipun dia tidak begitu menyukaiku.


Apa pun yang dia lakukan terhadapku dan dia katakan yang membuat relung hatiku retak. Aku tetap menghormatinya, sebagai bakti seorang anak terhadap ibunya, sekalipun dia bukanlah ibu yang melahirkanku.


Sedikit pun, aku tidak ada niat untuk melawannya, sekalipun dia berkata kasar terhadapku.


Begitu juga dengan adikku yang manja. Dia tidak pernah berkata kasar terhadapnya, sekalipun dia dalam ke adaan kesal.


Aku kembali memutar kepala, menatap adikku yang duduk membelakangiku dengan sendu.


"Dek! Jadi, kau mau sampai kapan? Tidak mau memanggilnya Ibu?!" tanyaku dengan lembut. Menatap adikku yang membelakangiku.


"Aku tidak tahu! Mungkin selamanya?!" tandasnya. Menatap lurus ke depan membelakangiku. "Lagi pula, kenapa Kakak begitu senang membahas itu?" tanyanya penuh penekanan. "Apa tidak ada, pembahasan yang lain, selain itu?!" ujar adikku dengan ketus.


Seketika aku menarik napas panjang. "Kakak bukannya senang..." Menatap punggung adikku dan diam.


"Lalu…?" tanya adikku ingin tahu.


"…tapi, Kakak sedih melihatmu yang masih mengingat Ibu yang telah tiada." Menunduk. "Kakak juga kasihan dengannya. Mungkin dia berharap, kalau kau mau memanggilnya 'Ibu'," sambungku.


"Apa?! Heh!" Tertawa sinis. "Dia tidak akan sedih Kak! Mau aku panggil ibu atau pun tidak!"


"Lagi pula Ayah tidak pernah marah. Mau aku panggil Ibu atau pun tidak!" balas adikku protes dengan kesal.


"Kamu benar. Ayah tidak marah karena Ayah 'kan tidak tahu?!" cetusku.


Seketika adikku terdiam dan memutar duduknya, spontan menghadapku. Menatapku dengan amarah yang mendalam.


"Kakak kenapa terus menerus memikirkan dia?" serang adikku dengan tajam. "Aku heran, melihat Kakak. Sebenarnya mau Kakak itu, apa, hm?" Mendelik. "Seolah -olah aku tidak menghargai dan menghormatinya?" Salah aku di mana, Kak?" tanya adikku dengan penasaran. "Tidak memanggil dia 'Ibu'?!" lanjutnya dengan wajah penuh tanda tanya yang memerah.


Seketika jantungku terhenyak dan mau lepas, pergi menjauh dengan berantakan.


"Bukan begitu, Dek!" balasku dengan pelan. Menatap mata adikku yang tajam. "Kakak cuman..." Berhenti dengan sedikit rasa takut, akan ucapanku selanjutnya yang menyinggungnya.


"Cuman...apa, kak?" tanya adikku ingin tahu. Menatap seakan dia ingin melemparkan sesuatu dengan keras terhadapku.


"...merasakan sedikit kesenangan, Dek! Kalau kau memanggilnya, 'Ibu', " ujarku dengan dalam.


Seketika adikku menegakan sedikit kepala dengan tawa smrik dan menatapku dengan sinis.


"Senang!" ulangnya kembali. "Hanya itu, Kak?!" Menatapku dengan acuh. "Asal Kakak tahu! Kesenangan kita cuman satu," timpal adikku dengan penuh penekanan. "Yaitu, kita adik beradik, tidak perlu bertengkar, Kak!" cetusnya. Berdiri dan menghampiri pintu yang terbuka kembali.


Sejenak aku menghela napas dengan tubuh yang lemah. Menatap adikku yang berdiri di depan pintu, seperti menunggu seseorang.

__ADS_1


"Itu tidak akan pernah terjadi, Dek!" balasku dengan spontan. "Kita akan terus bertengkar?!" sambungku. Menatap adikku yang berdiri membelakangiku.


"Dari mana Kakak tahu?" tanya adikku. "Kita akan terus bertengkar?" Memutar sedikit kepala menatapku dengan lekat. "Kalau kita terus bertengkar Kak. Mungkin saat ini, atau tadi, di saat wanita itu memarahi Kakak, kita masih ribut dan aku tidak akan diam. Apalagi membela Kakak," tandasnya.


Sejenak aku mencerna yang di sampaikan oleh adikku. Aku pun, terdiam dan menunduk seakan menyimpan sejuta rasa malu. Mata redupku yang menatap nanar semakin berakaca - kaca.


"Kakak tahu, Dek!" sambungku dengan datar.


"Kakak tahu, apa? Kakak cuman tahu, wanita itu saja," keluh adikku dengan kecewa. "Aku begitu kecewa dengan Kakak. Kakak masih memikirkan kesenangannya. Sementara dia tidak pernah memikirkan Kakak. Di saat dia memarahi Kakak," lanjut adikku dengan merintih. "Perlu Kakak ketahui, kalau aku mengadu pada Ayah, bahwa dia telah memarahi Kakak. Dia pasti akan di marahi oleh Ayah." Menatapku tajam. "Kakak pilih mana?! Kakak memaksa kehendak Kakak padaku?!" Dengan wajah berpikir. "Atau aku mengadukan dia pada Ayah?!" Menatapku dengan senyum ancaman. Menaikan alisnya.


Sontak aku terperanjat dan mengangkat kepala dengan tegak, berdiri sambil meremas jemari lemahku dengan kuat.


"Kakak mohon, Dek! Jangan beri tahu Ayah. Nanti kalau Ayah tahu semuanya, pasti akan terjadi keributan," pintaku memohon kepada adikku yang manja.


"Baiklah, Kak!" Menatapku dengan rasa kasihan. "Aku tidak akan memberi tahukannya kepada Ayah," balasnya dengan acuh.


Sejenak tubuhku yang lemah rileks kembali. Rasanya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bibir pucatku semakin membisu.


Aku terus menatap adikku yang berkubang dengan kesalnya. Dia begitu menggerutu dengan dalam, setelah mendengar yang kusampaikan kepadanya, sehingga membuatku kembali membeku menatap adikku yang terlalu keras dan terus berdiri di depan pintu.


Sementara diriku yang baru selesai meminum obat, terasa leleh dan kantuk. Ingin sekali aku merebahkan tubuhku yang lemah di tempat tidur.


Sesekali aku menatap tirai kamar yang jaraknya tidak jauh dariku. Menatap dengan hasrat keinginan yang dalam, kalau aku bisa memasukinya dan merebahkan tubuh lemahku.


Huh! Dengusan kelelahan pun, kini aku lepaskan dalam kecaman batin yang mendera.


"Liyan!" panggil suara seorang wanita dari belakang.


Spontan aku memutar badan menatap ke arah sumber suara yang memanggilku.


"Ibu," kataku pelan. Berdiri tegak menghadap ke arah yang memanggilku.


"Apa obatmu, sudah jadi, kau minum?" tanya ibu sambungku. Berdiri menatapku dengan lekat. Dari gurat wajahnya seakan dia tahu kalau aku jujur.


"Sudah, Bu," jawabku singkat.


Sementara, adikku yang tadi memutar kepala menatapnya dengan ketus, masih berdiri mematung dan tidak memberi reaksi apa pun, atas aku dan ibu sambungku. Dia begitu acuh melemparkan pandangan ke luar kembali.


"Iya, Bu! Ini akan aku antar segera," balasku. Bergegas.


"Setelah aku menegurmu, baru kau hantar piringmu," Mendengus dengan kesal. Merapikan pakaian yang bergantungan .


Aku hanya diam dan meremas piring yang aku pegang. Perlahan aku menyeret kaki lemahku berjalan ke dapur. Meletakan piring kotor beserta gelas yang aku bawa, ke tempatnya.


Sesekali, adikku yang berdiri mematung bersama kekesalannya melirikku dengan sedih yang berjalan ke dapur ketika aku melihatnya dari ekor mataku.


Dia ingin sekali menjawab timpalan dari ibu sambung kami. Terlihat dari gurat wajahnya yang menantang.


Sementara, setengah aku melangkah. Ibu sambungku bergumam dengan kesal terdengar di telingaku, sewaktu dia melihatku.


Rasanya aku begitu terhenyak dan ingin menangis mendengarnya ketika aku berjalan melewatinya.


"Dari tadi, kau tidak tergerak untuk menaruh piring itu ke dapur!" gerutu ibu sambungku kembali sambil menatapku yang berjalan.


Seketika, aku hanya diam dan berjalan sambil memegang piring yang aku bawa.


Dari belakang aku mendengar, ibu sambungku masih terus menyerangku dengan Omelan yang tiada hentinya sehingga gendang telingaku rasanya penuh dan ingin menumpahkannya.


Decakan kekesalan adikku pun, terdengar dari belakangku dengan jelas, seolah -olah dia memberi reaksi.


"Liyan!" panggil ibu sambungku dari belakangku. "Apa adikmu sudah makan?" tanyanya dengan pelan.


Aku hanya bergeming ketika mendengarnya, sambil menaruh piring kotor ke tempatnya.


"Iya. Aku akan segera makan," timpal adikku dengan acuh. Terdengar dari arah belakangku.


Spontan langkah kaki yang keras pun, terdengar tepat di dekatku, ketika aku memutar badan. Aku tidak sengaja menatap wajah adikku yang penuh kebencian. Menatapku bersama sorot mata yang tajam.


Aku begitu takut melihatnya. Di saat dia sedang mengambil piring dan sendok. Mulutnya yang cemberut tertutup dengan rapat. Hembusan napas yang keluar begitu kasar terdengar.


"Ana maafkan! Kakak," pintaku merasa bersalah dengan memberanikan diri. Menatap adikku dengan permohonan yang tulus.


Adikku yang kesal, dia hanya diam seakan dia enggan menjawab permohonan maafku.

__ADS_1


Dia terus berjalan mengambil nasi dan sesekali melewatiku yang berdiri tepat di dekat penyimpanan lauk.


Aku terus menatapnya dengan wajah memohon. Dia yang berjalan melewatiku tidak menoleh ke arahku sedikit pun. Namun, aku terus menatapnya dan memutar badan mengikutinya hingga dia mau membuka suaranya.


"Kenapa Kakak minta maaf?" tanya adikku dengan heran. Menatapku sambil memegang piring. "Kakak engga perlu minta maaf. Aku yang salah. Jadi, seharusnya aku yang minta maaf," ujar adikku dengan datar. Wajahnya terlihat begitu dingin menatapku. Melemparkan sindiran terhadapku.


Mendengarnya, seketika aku menutup mulut dengan rapat dan mengurungkan niat untuk kembali bicara. Seolah-olah adikku merasa kalau aku selalu menyalahkannya.


Kutarik napas dalam dan memalingkan pandangan ke arah yang lain. Kedua bola mata yang berkaca-kaca, berusaha aku tahan agar air mata tidak terjatuh.


Sementara, ibu sambung kami yang berada di tempat lain, menegurku sehingga membuatku tersentak. "Kenapa kalian berdua di situ...?" tanyanya menatap dengan penuh kecurigaan. "...apa kalian bertengkar?" Dengan antusias dia menunggu jawaban dari kami.


"Tidak! Kami tidak bertengkar," jawab adikku dengan datar. Berjalan ke depan dengan acuh tanpa melihat kami berdua.


"Lalu?! Apa yang kalian kerjakan di situ?Sehingga kalian begitu lama di situ?!" tanyanya dengan penasaran. "Apa kalian menceritaiku?!" tudingnya menatapku dengan sorot mata yang tajam.


Aku yang berdiri seorang diri, semakin terhenyak mendengar tudingan yang di lontarkan ibu sambung kami di hadapanku.


"Kalian berdua. Kakak beradik menceritaiku di situ, 'kan?!" serangnya berjalan mendekatiku selangkah.


"Ti-tidak, Bu," jawabku pelan. Menunduk.


"Kami tidak ada menceritai. Kami cuman berbicara saja," dalih adikku datar dengan ******* nasi yang memenuhi mulutnya terdengar dari suaranya.


Seketika, aku memutar kepala menatap adikku. Melihat mereka sesekali dengan ke khawatiran.


Ibu sambungku begitu emosi menatap adikku. Namun, dia berusaha untuk meredamnya bersama ke dewasaannya. Tidak berapa lama dia menggeleng dan menghembuskan napas serta pergi, sambil memijat kepalanya yang pusing.


Sementara adikku. Dia terlihat anteng dengan sikapnya barusan. Dia begitu santai menyuap nasi yang ada di hadapannya. Serasa di ufuk matanya tidak ada beban sedikit pun.


Belum lagi dengan diriku yang berdiri mematung di dapur. Menatap adikku yang acuh tak acuh terhadap masalah yang ada.


Perlahan, aku melangkah dengan menyeret tungkai kaki yang lemah. Menghampiri adikku yang sama sekali tidak memberi respon terhadap ke datanganku.


Aku menjatuhkan tubuh lemahku ke lantai yang sebenarnya ingin beristirahat tidur. Memaksa kedua netraku dengan lebar menatap adikku yang cuek.


Sesekali aku bergerak dengan mengusir keheningan. Mendekatkan sedikit wajahku melihat dia yang seakan berpura-pura mendiamkan diriku.


Sepintas dia menatapku dengan wajah yang jutek, kemudian dia kembali menunduk menatap nasi dan meneguk air minum.


"Kenapa kakak menatapku seperti itu?" tanya adikku berpura-pura tidak tahu sambil menyuap kembali nasinya.


"Kakak ingin tahu. Apakah kau masih marah pada Kakak atau tidak?" Menatap adikku.


"Liyan! Apa tadi pakaian sekolahmu tidak basah?" potong ibu sambungku. Berpura -pura tidak tahu dengan memberi pertanyaan baru.


"Tidak, Bu! Bajuku tadi, tidak basah," jawabku dengan sedikit menutupi kebenaran.


Adikku yang duduk tepat di hadapanku. Menatap kami dengan kecurigaan penuh tanda tanya, sambil mengikuti segala prahara kami dengan gerakan kedua bola mata, seperti seorang detektif .


Tapi dengan ibu sambung kami terlihat lain. Dia begitu terlihat senang dan bahagia setelah melihatku yang gugup.


Wajahnya seketika tertawa, seakan dia menyimpan kesenangan setelah bermain-main dengan serangannya.


.


.


.


Terimakasih teman-teman atas dukungannya yang telah memberikan like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...



Adrian Pratama terpaksa harus menikah dengan adik angkat yang selama ini selalu ia jaga dan ia lindungi. Putri kandung dari ibu angkatnya. Mak Alisa.


Semua itu terjadi karena calon istri Adrian Pratama berselingkuh di belakangnya tepat saat hari pernikahan mereka.


Sanggupkah Adrian Pratama menjalani pernikahan terpaksa dengan adik putri dari ibu angkat nya?

__ADS_1


__ADS_2