Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Tawa di tengah hempasan


__ADS_3

Aku dan adikku diam saling bertemu pandang bertanya satu sama lain dengan tatapan mata yang dalam.


Keingin tahuan ibu sambung kami yang dalam rasanya, seperti ingin menjebak adikku yang harus mengatakan dengan sejujurnya. Sorot matanya masih lekat menatap rambut adikku dan aku dengan harapan mendengar jawaban dari kami.


Tubuhnya yang di balut dengan pakaian daster rumahan yang menutupi seluruh tubuhnya, masih berdiri. Rambut pendek yang sering digunakannya sebagai gaya rambutnya, yaitu Bob sebahu sering digunakannya sebagai trend gayanya yang elegan. Ibu sambung kami lebih suka mengenakan style rambut seperti itu. Dia juga terlihat nyaman dengan rambut pendeknya. Ibu sambung kami tidak menyukai rambut panjang karena merasa gerah, apalagi di saat hembusan angin kencang, rambutnya akan berserakan.


Bibir tipisnya yang sering dilapisi dengan pelembab bibir yang berwarna, sedikit menambah keanggunannya hari ini.


Dia terlihat menambah kepercayaan dirinya di hadapan kami.


"Ayah kalian sudah kembali. Jika, dia melihat kalian seperti ini. Dia pasti akan marah?!Karena dia sudah lelah diluar sana mencari nafkah." Ibu sambung kami menekuk wajahnya karena sedih melihat kami yang bermain tidak kenal waktu. "Kalau kalian bermain saja, bagaimana kau akan sembuh, Liyan? Sementara hari semakin berlalu. Sebentar lagi kalian akan ujian, 'kan?" Melemparkan pandangan ke arahku.


"Iya, Bu," jawabku.


"Tapi belum tahu entah kapan, Kak?" sela adikku dengan pertanyaan yang masih ragu.


"Ibu tahu. Kalian belum tahu kapan ujiannya?! Tapi yang jelas kalian pasti akan ujian ketika nanti kalian ujian, tubuhmu semakin drop. Apa yang bisa kita lakukan nanti?" rintih ibu sambungku.


"Maaf, kalau kami berbuat kesalahan lagi," ucapku menundukan kepala melirik adikku yang tidak melihat ke arah ibu sambung kami.


Adikku dia sama sekali masih membenci ibu sambung kami hingga saat ini. Sedikit pun dia tidak ingin menatap wajahnya. Aku yang polos belum tahu, apa masalah adikku? Pada ibu sambung kami sehingga dia begitu membencinya sehingga dia tidak mau menerimanya sampai saat ini. Hatinya yang membatu semakin hari semakin keras, hingga menimbulkan kebingungan yang mendalam bagi diriku sendiri.


Sikapnya yang dingin terhadap ibu sambung kami masih saja terasa bagiku hari demi hari, begitu juga dengan sikap acuhnya yang membuat perasaanku kehilangan rasa bahagia dan kehangatan sehingga begitu hampa terasa saat ini ketika kujalani, hingga saat ini belum ada yang bisa melunakan hatinya yang keras.


Ayahku tidak mempertanyakan hal ini padaku atau pun pada ibu sambung kami. Ayahku berpikir kalau adikku tidak menyimpan rasa kebencian pada istrinya dengan kepolosan ayahku dia terus mengingatkan kami untuk menghargai istri yang dinikahinya beberapa tahun yang lalu.


"Kalian bersihkan sekarang diri kalian. Selagi Ayahmu pergi mandi. Ayo cepat, ikuti Ibu. Ajak adikmu!" Ibu sambung kami keluar.


"Ana. Jangan memasang wajah masam begitu, tidak baik, Dek." Aku dan adikku pun turun dari tempat tidur.


"Aku tidak seperti itu, Kak." Adikku menutupinya dariku dengan melemparkan pandangannya ke arah lain.


Kesedihan begitu mengiris hatiku kembali. Wajah polos adikku begitu lihai menyembunyikannya dariku. Dia begitu pandai mengatur Kata-katanya agar aku tidak mengetahuinya dan bersedih semakin dalam.


Mungkin adikku mengingat semua yang kukatakan kepadanya sehingga dia tidak ingin mengatakan yang sejujurnya kepadaku.


"Baiklah. Kakak harap kau tidak berbohong kali ini." Berjalan sambil melihat wajah adikku yang menunduk melihat lantai.

__ADS_1


"Kalau aku bohong atau pun tidak. Apa hubungannya dengan Kakak?" cetus adikku.


"Ana. Kakak ini seorang Kakak...," kataku.


"Aku tahu. Tidak usah kakak utarakan, dunia juga tahu, kalau Kakak itu adalah Kakakku, bahkan Kakakku satu-satunya." Adikku langsung memotong pembicaraanku dan menunduk melihat kaki yang diayunnya.


"Kau tahu?" tanyaku melihat adikku yang berjalan di sampingku.


"Hmm!" Adikku hanya mengeram memberiku jawaban tanpa melihatku sedikit pun.


"Kakak itu, di tugaskan oleh Ayah untuk menjadi Kakak yang baik, sekaligus menjadi contoh untukmu dan memberimu peringatan, kalau kau itu salah," tandasku.


"Bukannya Kakak sudah memberiku peringatan, nasihat dan Kakak juga terlalu banyak bicara hari ini," celetuk adikku.


"Apa? Jadi, kamu tidak senang, ya." Aku segera mencubit pipi adikku yang cabi dengan gemas.


"Kakak sudah! Sakit, tahu. Cubitan Kakak itu seperti cabai rawit, pedas sekali, Kak." Kedua tangan adikku yang kecil langsung melepaskan cubitanku dan mengelus kedua pipinya dengan lembut. "Kak, kalau sampai pipiku merah seperti tomat. Apa yang akan kukatakan pada Ayah?" Mengelus pipinya.


"Bilang saja pada Ayah, kalau pipimu di cium nyamuk, hahaha!" Tawa garing langsung keluar dari mulutku yang lemah karena aku telah berhasil menjahili adikku yang kesal.


Tawa pun menemani perjalanan kami menuju dapur untuk membersihkan rambut adikku dan wajahku yang terkena coretan badut yang gagal untuk kami bersihkan.


Deg! Tawaku dan tangan lemahku yang tadi mendarat di pipi adikku yang cabi, kini jatuh terkulai. Keceriaanku hilang seketika bagaikan di bawa arus ombak yang deras. Wajah pucat kini semakin pucat hingga menutup bibirku yang pucat dengan rapat.


Kebahagiaan sirna sudah. Adikku yang tertawa tadi bersamaku sekarang aku tidak lagi menghiraukannya, seketika yang ada di sampingku aku abaikan langsung.


Kata-kata ibu sambungku bagaikan pukulan yang mematikan bagiku. Rasanya sinar yang menerangi langkahku telah pergi meninggalkanku dan tidak mau lagi berteman denganku.


Kedua mataku menatap dengan nanar dalam kesedihan. Gelombang hantaman telah siap menyambutku saat ini. Tidak ada yang akan menyelamatkanku darinya.


Hanya secercah harapan yang masih tersisa yaitu yang ada pada adikku. Tangan lembut adikku yang masih memegang tanganku seakan menjadi keyakinan untuk diriku agar aku bisa bangkit. Butiran kristal yang ingin terjatuh segera aku hapus.


Adikku yang bersama denganku berjalan begitu bahagia terlihat dia sama sekali tidak mengetahui kesedihanku. Tangan kecilnya yang menyentuh air terasa dingin sekali ketika adikku memercikannya sedikit ke wajah polosku yang pucat.


"Auwh!" Membuatku memalingkan wajah membuka mataku dengan lebar. "Ana! 'Kan dinding," jeritku sambil mengilap pipiku. "Biar Kakak sendiri aja yang membersihkan wajah Kakak," pintaku, beranjak berjalan menghampiri air yang tergenang di dalam ember.


Tanpa merasa bersalah adikku yang manja merengek padaku. "Rambut Ana, Kakak yang membersihkannya, ya?! Aku tidak bisa membersihkannya sendiri." Dengan manja.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyaku.


"Karena aku tidak bisa melihatnya. Mau bagaimana aku membersihkannya?" gerutu adikku dengan penuh tanda tanya.


"Kita juga sama," sentilku.


"Sama apa Kak?" tanya adikku ingin tahu.


"Sama-sama tidak bisa melihat. Kau tidak bisa melihat rambutmu dan Kakak juga tidak bisa melihat wajah Kakak." Aku langsung menyunggingkan senyum kemenangan.


"Apanya yang sama? Kakak wajah! Sementara aku rambut." Mengayunkan tangan menunjuk dirinya sendiri.


Aku seketika terkagum melihat adikku. "Kalau begitu kita harus saling membantu," kataku.


"Iya, Kak," sahut adikku.


Aku pun mengambil air secukupnya di gayung lalu membersihkan rambut adikku yang putih terlihat seperti uban. Perlahan aku membasahi rambutnya yang pendek. Sedikit demi sedikit taburan bedak pun menghilang dan kini rambutnya telah kembali seperti semula.


Setelah aku membersihkan rambutnya. Adikku kemudian membantu membersihkan wajahku yang di coreti olehnya seperti badut.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...



Cyra menikah dengan Ryan, seorang pemuda yang menderita sakit leukimia sejak kecil, karena keluarga Ryan sangat kaya membuatnya bisa bertahan sampai usianya mencapai dua puluh delapan tahun, namun naas sebelum Ryan berulang tahun ke dua puluh sembilan tahun, ia harus menghembuskan nafas terakhirnya dan membuat Cyra menyandang status janda.


Cyra memohon kepada kedua mertuanya untuk membiarkannya hidup seorang diri,

__ADS_1


dan pergi meninggalkan rumah mertuanya, namun sayang permintaan itu ditolak mentah-mentah karena sebuah tradisi keluarga.


tradisi apa yang mengikat Cyra sampai ia harus tetap tinggal dan menjadi menantu dikeluarga itu?


__ADS_2