
Adikku langsung terdiam mendengar sentakanku menyentilnya. Dia kembali merajuk mengambil boneka dan memeluknya erat seakan dia mengadu pada sang boneka yang menyeramkan itu.
"Dottie Kakakku jahat. Dia udah memarahiku hanya gara-gara mainan kertas itu," rajuk adikku cemberut. Mendekatkan matanya ke muka boneka yang seram.
Melihat tingkah adikku, aku semakin jenuh. Berkutat dengan kesebalan akibat ledekan adikku sambil mengerucutkan bibir dengan ketat melihatnya yang sedikit-sedikit merajuk dan murung.
"Ana, kau bilang Kakak cengeng, tapi kau cengeng juga," ejekku dengan ringan. Melihat anak Bp yang belum juga kelar kumainkan dan juga melayangkan sorot mata sesekali melihat ke balik tirai kamar yang tergerai dengan rapi yang menutupi kamar dan menjadi pemisah antara pintu rumah dan pintu kamar.
Aku semakin cemas bercampur khawatir melihat pintu yang sampai saat ini masih belum terjamah oleh kaki ibu sambung kami. Sorot mata yang sayu bercampur dengan kondisi tubuh yang kurang sehat, terus menatap lekat ke arah pintu yang sedikit terbuka dari balik tirai kamar yang tergerai yang menjadi pembatas antara ruang kamar dan ruang tamu.
"Ana, kau gak takut kalau Ibu pergi?" tanyaku ingin tahu. Duduk di atas lantai serta masih bermain dan menjalankan anak Bp dengan tangan sebelah kiri yang pusat perhatianku saat ini.
"Gak," jawab adikku dengan bantahan singkat.
Deg!
Aku sontak terkejut dan refleks memutar badan melihat adikku. Aku tercengang seperti orang yang mendengar kabar berita mendadak.
"Ana gak boleh kayak gitu," tegurku dengan gurat wajah lemah lembut. Duduk bersandar menaikkan kepala sedikit ke atas melihat adikku yang duduk di atas tempat tidur.
"Ibuku 'kan udah meninggal," sahut adikku. Duduk di atas tempat tidur sambil menjatuhkan sorot mata melihatku yang duduk di bawah tepat di atas lantai. Memangku boneka seakan dia sedang terlihat mendiamkannya.
Aku pun semakin menghela napas melihat adikku yang masih tetap bersikeras tidak mau menerima istri baru ayah kami sebagai ibunya.
"Tapi 'kan Ibu, istrinya Ayah juga," ucapku kembali.
"Kak, Ibu kesayangan Kakak itu jahat. Dia selalu memarahi Kakak. Dan dia juga sering memarahiku," tandas adikku dengan kesal.
Aku semakin gemetar mendengar adikku yang terus membencinya. Sontak dengan berat hati aku memutar sorot mata ini darinya dan melihat nanar lurus ke depan dengan pandangan kosong bercampur sedih dan kecewa.
"Ana, kau gak boleh bilang gitu," lanjutku kembali. Duduk bersandar di tepian tempat tidur sambil menatap lurus ke depan dan sekilas melihat anak Bp-ku yang bernama Lofya sedang duduk menunggu ibunya pulang.
__ADS_1
"Kak, tapi aku gak suka di marahi," sentak adikku menahan nada suaranya dengan rendah agar tidak terdengar keluar oleh ayah kami.
"Ayah juga memarahimu," dalihku, memutar kedua bola mata melirik ke arah kanan tepat di mana adikku duduk bersama bonekanya.
"Itu 'kan Ayah. Karena Ayah, Ayahku," bantah adikku kembali menahan nada suaranya agar tidak terdengar keras sampai keluar.
Suara adikku terdengar, seperti menyerang dengan hantaman yang ngeri. Volume suaranya terdengar begitu kencang seandainya tidak di tahan olehnya.
Aku yang teronggok di atas lantai dengan kondisi tubuh mungil yang lemah terpaksa sesekali menutup kedua mata dengan kuat sebagai isyarat seakan aku sedang menutup kedua telingaku.
Suara itu seakan membuat Lofyaku terkejut sehingga dia terlempar dari sofa empuknya ke depan pintu rumahnya.
"Suaramu kuat kali Ana," tegurku membelakangi adikku. "Sampai Lofyaku terbang sampai ke sini.
"Si Dottie-ku juga bangun. Gara-gara Kakak yang suka ribut," sesal adikku. Duduk membelakangiku.
Aku semakin diam dan terkejut melihat anak Bp-ku yang bernama Lofya itu terbang kembali ke depan pintu rumahnya karena embusan angin yang masuk melalui celah-celah jendela yang terbuka lebar. Disamping itu sembari aku terperangah juga melihat tingkah kami yang lucu dan nyeleneh.
"Karena Kakak ribut. Coba Kakak diam! Si Dottie-ku pasti gak bangun," singgung adikku sebal.
"Kau juga ribut!" bantahku dengan sebal. "Yang paling keras 'kan suaramu!" lanjutku melirik adikku dengan sorot mata yang tajam bercampur gurat wajah sinis yang penuh dengan kebencian mendalam menyerang ubun-ubunnya.
"Kakaaak!" jerit adikku dengan jahil. "Ayaaah!" teriaknya kembali dengan kencang, mengadu pada ayah kami yang lagi sibuk dengan dunia dapurnya. "Lihat Kakak Ayaaah! Kakak jahat!" teriaknya terus semakin menjadi-jadi.
"Liyaaan!" panggil ayahku langsung dari dapur sebagai isyarat memberi teguran untuk ku.
Glek !
Aku langsung menelan ludah panik dan bergegas menyeret kaki bangun dengan terseok-seok.
"Ana," jeritku pelan menahan suara adikku. "Diam Ana, ssttt!" Aku menyandarkan setengah tubuh di atas tempat tidur dan menahan tubuh yang setengah mengayun di udara dengan tungkai kaki yang sakit, di ikuti oleh sebelah tangan kanan menutup mulut adikku.
__ADS_1
"Kakak, ih!" teriaknya sebal, di ikuti oleh sebelah tangan kanannya menepis tanganku kasar. "Makanya jangan cari masalah!" cetus adikku dengan kesal. Menatapku dengan sorot mata yang tajam bercampur sinis. "Ayah ada di sini!" lanjutnya dengan gurat wajah senyum-senyum nakal.
Huh!
Aku langsung menghembuskan napas kasar sambil menetralkan kembali pikiranku yang panik. Tubuh mungil yang lemah ini sedikit terasa gemetar memegang tepian tempat tidur yang menjadi sandaran setengah tubuh mungil yang lemah ini. Di ikuti oleh kepala yang melihat ke sebelah kiri tepat di mana pintu kamar sebagai isyarat takut akan hukuman yang diberikan oleh ayahku.
"Ana, kalau Ayah nanti menanya... ." Aku diam menatap adikku dengan pucat. "...kita bilang apa?" rintihku melayangkan pertanyaan kepada adikku. Dengan kepala masih menoleh ke arah tirai pintu kamar.
Adikku langsung melayangkan gurat wajah terheran bercampur tanya. "Haa?! Aku gak tau. "Kenapa tanya aku, Kak?" tanya adikku dengan raut muka datar. Melayangkan sorot mata yang penuh dengan tanda tanya melihat ke arahku.
Aku semakin terpojok sejadi -jadinya di buat oleh adikku. Napasku langsung kubuang lagi dengan kasar ke udara. Tungkai kaki yang lemah mulai turun perlahan untuk duduk menenangkan diri di atas lantai. Jemari kecil langsung dingin bercampur wajah yang pucat terasa gemetar dan cemas ketika mendengar suara ayahku yang menyahut dari dapur.
Refleks tubuh mungil yang sudah lama terasa lemah ini terjatuh duduk bersandar di tepian tempat tidur dengan sebelah kaki terluka menjulur lurus ke depan.
"Kenapa kalian berteriak di situ, Liyan, Ana ?" tanya ayahku dengan suara panik dan sedikit tegang.
Aku tetap diam sementara adikku tidak mau membuka mulut walau hanya sebentar.
"Kalian tidak sedang berkelahi 'kan?" tanya ayahku dari luar dengan suara yang terdengar tidak jauh dari pintu kamar kami. "Ingat! Tadi sudah Ayah ingatkan 'kan? Jangan bertengkar. Kalau Kalian berdua bertengkar Ayah hukum lagi kalian berdua, mau?" tanya ayahku refleks berdiri dan membuka tirai sontak membuat aku langsung diam membeku seperti tersiram es, menatap ayahku dengan pucat bercampur panik dan tubuh mungil yang lemah serta tungkai kaki yang sakit.
"I-iya Ayah," jawabku langsung terbata membuka mulut dengan berat.
"Hm!" kata ayahku mendehem sebagai peringatan keras untuk kami dengan sorot mata yang tajam dan mendelik lalu memutar badan meninggalkan kami.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1