
"Siapa yang ribut? Engga ada yang ribut." Sambung Widia. Membelakangi Fikri.
Aku hanya tersenyum melihat Widia dan Fikri terus bertengkar. Sementara Widia terlihat begitu kesal sehingga ia melemparkan sobekan kertas kecil pada Fikri yang jail.
"Widia, diam jangan ribut,nanti Ibu itu memarahi kita." Bisik ku pelan menatap Widia. "Aku takut Widia, kalau Ibu itu datang kemari lagi melihat kita." Kataku dengan penuh penekanan. Mendelik.
"Liyan, kau tenang saja, Ibu itu tidak akan datang ke sini. Ibu itu lagi sibuk dengan tugas nya,coba lihat! Lagi pula suara ku engga terlalu keras. "Jawab dia dengan ketus. Menulis kembali.
Mendengar ucapan Widia, aku kembali memutarkan kepalaku melihat tulisanku.
"Widia, kau benar kan,kalau Ibu itu tidak melihat kita." Ucapku kembali. Menulis.
"Ia Liyan, kau tenang saja!" Balas Widia. Melirikku. "Sebaiknya, kau tulis latihan mu sampai selesai." Lanjut Widia. Menatap ku.
"Baiklah." Sambut ku. Melanjutkan tulisanku.
Seketika, aku dan Widia pun hening. Kami terlihat begitu serius menyelesaikan tugas yang di berikan oleh Bu Dona kepada kami.
Kami pun, sibuk membuka halaman buku untuk mencari jawaban dari soal yang kami kerjakan.
Di dalam keseriusan ku,aku mendengar suara tarikan kursi yang tidak jauh dari mejaku.
"Bu, kalau sudah selesai apa bisa langsung istirahat Bu?" Tanya seorang temanku yang bernama Doni. Berdiri.
Aku yang mendengarnya seketika, memutarkan kepalaku melihat ke arah sumber suara itu. Melihat temanku yang berjalan membawa buku tugasnya menghampiri guru kami.
"Kumpul kan saja di sini, nak." Kata Bu Dona. Menunjuk meja. "Belum ada yang boleh istirahat jika, tugasnya sudah selesai silahkan antar ke depan." Lanjut Bu Dona. Melihat seluruh murid. "Sebentar lagi, bel akan berbunyi jadi, silahkan kembali duduk di bangkunya masing-masing bagi yang sudah mengumpulkan tugas." Sambut Bu Dona. Melihat jam yang melingkar di tangannya dan menatap Doni selanjutnya.
"Baik Bu." Kata Doni. Meletakkan buku. Kembali duduk di kursi.
Setelah aku mendengar yang di katakan oleh Bu Dona kepada Doni. Aku kembali melihat Widia dan buku tugasku.
"Widia, kamu sudah selesai,belum?" Tanya ku pelan. Melihat Widia.
"Aku sedikit lagi." Jawab Widia. "Kalau kamu emang sudah selesai?" Tanya Widia kembali. Melihatku.
"Sudah." Jawabku. Meletakan pensil.
"Apa! Kamu sudah selesai." Ucap Widia selanjutnya. Mendelik.
Spontan aku menarik bibirku sedikit terkejut, melihat wajah Widia yang terpelongo melihat ku.
"Liyan, aku tidak menyangka kalau kamu sudah selesai." Ucap Widia dengan wajah bengong. Menatap ku lekat.
Melihat Widia, aku jadinya tidak enak pada diriku sendiri seakan, ada yang salah dengan diriku.
"Emang kenapa Widia?" Tanya ku dengan wajah penuh keheranan. Memegang buku.
"Engga apa-apa." Cetus Widia. Memalingkan wajahnya seketika dari ku. "Aku engga percaya kalau kamu sudah selesai." Lanjut Widia. "Padahal kan kamu engga pernah sekolah." Sindir Widia. Melihatku.
Mendengar itu, aku seketika merasa sedikit terhenyak dan meletakkan buku yang ku pegang.
Aku pun menjatuhkan tubuhku di kursi dengan perlahan, duduk menghadap ke depan dengan pilu. Kaki yang ingin aku langkahkan ke depan, menuju meja guru untuk menyerahkan tugasku yang telah selesai kini terhenti.
Aku melihat buku tugasku yang terletak manis di hadapanku dengan sendu dan tubuh yang membeku. Bibir kecilku tertutup rapat dan lidahku begitu keluh untuk menyangkal perkataan Widia.
Melihat ku yang mengurungkan langkahku, Widia kembali menegurku.
"Liyan, kenapa tidak jadi? Kamu bilang kan tugasmu sudah selesai." Ucap Widia. Menatap ku dengan penuh tanda tanya.
"Ia." Jawab ku. Melihat lurus ke depan.
Melihat ku lagi, Widia pun memutarkan kepalanya kembali menunduk melihat buku yang ditulisnya.
"Liyan,kamu marah,ya?" Tanya Widia. Melihat tulisannya.
Aku yang duduk di samping Widia hanya diam mendengarkan kata penyesalan darinya, sedikit pun, aku tidak memutarkan kepalaku melihat ia.
"Liyan, kenapa kamu tidak melihat ku? Padahal kan aku bicara padamu." Lanjut Widia kembali.
Mendengar ucapan Widia membaut hatiku luluh seketika. Aku pun memutarkan kepalaku melihat ia yang tidak berani menatap ku, dengan wajah lirihnya, dia terus menulis seakan melemparkan kekesalannya.
"Widia kamu kenapa?" Tanya ku. Menatap Widia. "Aku engga marah,kok." Ucap ku. Melihat Widia.
Mendengar ucapanku spontan Widia pun memutarkan kepalanya dengan senyum yang merekah dari wajah polosnya.
"Ia Liyan, kamu tidak marah." Kata Widia. Melebarkan senyumnya. "Aku pikir kamu marah." Ucapnya dengan nada suara sedikit lirih. Melihatku.
Kemudian aku pun menggelengkan kepalaku dengan wajah tertawa.
"Liyan kau sudah selesai,kan. Ayo kita kumpul sekarang!" Ajak Widia. Berdiri.
"Ia ayo!" Sambut ku. Memegang buku.
__ADS_1
Kami pun beranjak dari kursi dan berjalan bersama dengan membawa buku tugas yang baru kami selesaikan, ke meja guru.
Perlahan kami berjalan, aku sesekali menoleh ke samping melihat Widia, dia terlihat begitu senang, wajah sedihnya tadi yang terlihat olehku kini telah hilang.
Tak berapa lama aku melihat Widia, tiba -tiba aku terkejut karena melihat meja guru telah begitu dekat dengan ku. Spontan aku langsung sadar.
Aku dan Widia pun menyerahkan tugas kami yang telah selesai.
"Bu, ini tugas kami." Kata ku. Menyerahkan kepada Bu Dona.
Bu Dona pun meraih buku tugas kami berdua dan meletakkan di atas meja tepat, di tumpukan tugas yang lain.
"Kalau sudah selesai,silahkan kembali ke bangku kalian." Pinta Bu Dona menatap kami. "Bel tinggal sedikit lagi baru berbunyi jadi,sebelum bel berbunyi silahkan duduk di bangku kalian dulu." Pinta Bu Dona kembali.
"Baik Bu." Jawab kami berdua serentak. Memutarkan badan.
Kami pun melangkahkan kaki perlahan menuju meja kami.
"Liyan kau nanti jadi, kan kenalan dengan anak baru itu?!" Bisik Widia menatapku. Berjalan.
"Jadi." Sahut ku dengan datar.
"Ya, sudah nanti akan aku kenalkan." Sambung Widia. Melihat anak baru.
Kami pun akhirnya sampai ke bangku kami kembali.
"Liyan, kau sudah selesai?!" Tanya Fikri dari belakang meja kami. Melihat ku.
"Ia." Jawabku sambil menganggukkan kepalaku. Melihat ia dari ekor mataku.
Setelah mendengar jawaban ku, Fikri pun melemparkan pandangannya kembali melihat buku.
Setelah Itu, aku pun kembali melihat lurus ke depan dan menunggu jam istirahat.
"Anak-anak cepat kumpulan tugas kalian sekarang! Sebentar lagi bel akan berbunyi." Seru Bu Dona. Menatap murid.
"Bu, tapi kami masih belum ada yang selesai." Kata murid yang lain. "Ia Bu tinggal sedikit lagi Bu." Sabung Nisa dengan suara lirih. Melihat Bu Dona dan buku tugasnya.
"Ibu tidak mau tahu! Waktu kalian tadi sudah banyak, kenapa belum siap juga?" Tanya Bu Dona sedikit keras. "Kamu Fikri, kenapa? Belum mengumpulkan tugasmu." Lanjut Bu Dona dengan suara sedikit keras. "Cepat bawa kemari tugas mu, ketua kelas kok belum selesai." Celetuk Bu Dona.
"Ia Bu, ini sudah selesai." Kata Fikri. Berjalan kencang sambil membawa buku tugasnya.
Tak berapa lama Fikri dan murid lainnya terlihat berkumpul di depan, tepat di meja Bu Dona untuk mengumpulkan tugas mereka, begitu juga dengan murid baru yang bernama Nisa, dia pun terlihat begitu sibuk dan menyelip diantara temanku yang berkumpul untuk meletakkan tugas mereka.
Kami yang mendengar peringatan dari Bu Dona yang berupa sebuah ancaman keras, membuat kami gemetar dan saling menatap satu sama lain tanpa berkedip dan bengong.
"Ketua kelas." Panggil Bu Dona. Mendelik.
"Ia Bu." Jawab Fikri. Menghampiri Bu Dona dengan wajah yang ketat dan takut.
"Periksa temanmu yang belum mengumpul." Pinta Bu Dona dengan tegas.
"Baik Bu." Jawab Fikri. Menunduk.
Fikri yang belum mengangakat kepalanya tegak melihat Bu Dona langsung beranjak dari kursinya.
"Fikri, tolong bawa buku ini semua keruangan guru." Seru Bu Dona. Berjalan.
Fikri pun, menarik napas dalam membuang kebekuannya dan ketakutannya sambil mengayunkan tangannya mengambil buku.
Dia pun berjalan dengan pelan sambil memeluk semua buku yang terkumpul di atas meja menghilang dari balik pintu.
Setelah semuanya berlalu kami pun, menarik napas dan melepaskan semua belenggu yang membuat kami seperti terikat.
Aku dan Widia pun terlihat lebih rileks. Kami kembali melanjutkan misi kami yaitu, berkenalan dengan anak baru! Yang masuk beberapa hari yang lalu yang aku tidak ketahui.
"Widia, bagaimana?" Tanya ku kembali mengingatkan. Melihat Widia.
"Ia sabar Liyan, be..." Widia menghentikan kata-katanya. Melongo.
Teng! teng! teng!
Aku begitu heran melihat Widia. "Widia kenapa? ...Be...apa?" Tanya ku kembali penasaran. Menatap Widia.
"Bel, Liyan! Sahut Widia dengan berteriak gembira. "Tadi aku mau bilang, bel belum berbunyi, sebelum aku melanjutkannya, bel sudah berbunyi duluan maknanya, aku berhenti." Sambung Widia. Menarik lenganku.
"Ayo cepat!" Ajak Widia melihat lurus ke depan. "Selagi si Nisa di situ, berdiri di situ!" Lanjut Widia. Berjalan kencang.
Tubuh mungilku yang lemah pun, merasa terseret dengan keras sehingga membuat aku menghentikan langkahku.
"Widia."Panggil ku dengan sedikit keras. Berhenti.
"Kenapa Liyan?" Tanya Widia dengan heran. Menoleh ke arah ku.
__ADS_1
"Kakiku sakit." Jawab ku dengan pelan. Melepaskan genggaman Widia.
"Kakimu sakit, Liyan." Kata Widia menatap ku dengan lirih. "Liyan kalau begitu kita berhenti dulu disini." Pinta Widia. Duduk di pinggir lorong luar kelas.
Kami pun, menyeret kaki kami sedikit dan menjatuhkan tubuh kami perlahan. Aku pun langsung meregangkan seluruh ototku yang lemah. Wajah pucatku kini terlihat lesu. Bibirku terlihat pucat dan kering. Kedua bola mataku menatap dengan lirih.
Widia yang ikut duduk bersama ku terlihat begitu khawatir dengan kondisiku.
"Liyan." Panggil Widia. "Kamu sudah enakan, belum?!" Tanya Widia menatapku dengan pilu.
"Ia, mungkin sebentar lagi aku pasti baikan." Jawabku dengan sedikit terbata. Menyandarkan tubuhku di dinding.
"Kamu yakin! Kalau kamu tidak sanggup lagi bilang saja." Ucap Widia. "Selagi kamu belum parah, biar aku bilang sama Bu Dona." Lanjut Widia.
"Ia Widia, aku masih sanggup." Kataku dengan pelan. Melihat Widia.
Wajah Widia pun begitu sendu melihat ku yang kembali lemah tak berdaya. Sesekali Widia menghela napas dengan sedikit kesal karena ke egoisannya aku kembali terjatuh lemah.
"Liyan, gara-gara aku memaksa kamu untuk kenalan dengan anak baru itu, kamu jadi sakit lagi." Ungkap Widia dengan lirih. Duduk bersandar di dinding.
"Engga Widia, ini bukan salah mu. Aku kan yang meminta mu untuk mengenalkan aku dengan nya." Sambung ku dengan nada suara getir.
Sesaat wajah Widia berubah tenang kembali karena mendengar pernyataan dariku. Dia pun langsung melebarkan senyumnya dan terlihat gembira lagi.
"Liyan, kalau begitu aku akan memapah mu." Kata Widia. Berdiri.
Aku sontak terperanjat melihat Widia yang aneh .
"Memapah kemana?" Tanya ku dengan heran. Melongo.
"Ke situ!." Celetuk Widia dengan mengayunkan jari telunjuknya ke udara.
Aku pun memutarkan kepalaku mengikuti jari telunjuk Widia.
"Ke kantin." Sambut ku dengan melongo.
"Ia." Ucap Widia dengan wajah sumeringah.
Tubuh mungilku yang lemah semakin terkulai lemas melihat keinginan Widia.
"Karena di situ ada Nisa." Kata Widia dengan antusias.
Melihat Widia yang antusias ingin mengenalkan aku kepada Nisa, membuat ku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku terpaksa harus mengikuti ke inginannya yang begitu ambisius.
Dengan tergopoh-gopoh aku berdiri dan berjalan bersama Widia ke kantin. Widia begitu semangat membantu ku berjalan sampai ke kantin.
"Liyan, kau hari ini akan aku kenalkan kepada Nisa." Kata Widia dengan bahagia.
"Ia." Kata ku dengan wajah datar. Berjalan beriringan bersama Widia.
Dengan langkah ku yang lemah, aku memaksa tubuhku untuk segara sampai ke kantin.
"Widia, kita sudah sampai." Kataku dengan senang. Memasuki kantin.
"Ia sekarang kita duduk, ayo Liyan." Ajak Widia. Menarik lenganku.
Kemudian aku menjatuhkan tubuhku duduk di bangku bersama Widia dan Anak-anak yang lain.
Di sudut bangku yang lain, aku tidak sengaja melihat Nisa duduk sambil menikmati beberapa jajanan yang ada di tangannya. Ketika aku ingin memutarkan kepalaku, tiba-tiba aku terkejut melihat Widia telah berdiri dihadapan Nisa berbicara dengan serius. Aku terus menatap mereka. Nisa terlihat sesekali melihat ku begitu juga dengan Widia.
Aku pun demikian melongo melihat mereka dalam kondisi lemah. Nisa pun kemudian bangun dari duduknya membayar jajanan yang ia makan. Lalu mereka berdua pun berjalan beriringan sambil tertawa dan berbicara dengan begitu akrab.
Mereka berjalan seakan menuju ke arah ku yang masih duduk sendiri. Aku terus menatap mereka sampai akhirnya mereka berdiri di hadapan ku.
"Nisa, ini kenalkan teman sebangkuku dan satu kelas dengan mu." Tutur Widia. Melihat Nisa dan aku.
"Baiklah! Kenal kan, nama aku Nisa." Kata Nisa. Mengulurkan tangan.
"Kalau nama aku Liyan." Sambut ku dengan menarik bibirku melengkung di wajah pucatku. Mengulurkan tangan.
Senyum pun terlihat manis di antara kami bertiga. Aku dan Nisa pun akhirnya bisa berkenalan. Akhirnya, Widia terlihat begitu bahagia karena telah memenuhi janjinya untuk mengenalkan ku dengan Nisa.
.
.
.
Teman -Teman terima kasih atas komentarnya,like, favoritnya.🤗🙏
❤️❤️❤️
Bersambung....
__ADS_1