
Malam pun tiba. Kegiatan rutinku seperti biasa yaitu, mengaji selepas Maghrib telah selesai aku lakukan, bahkan begitu juga dengan adikku. Dia juga telah selesai melakukan kegiatan, seperti yang aku lakukan yaitu, mengaji selepas Maghrib bersama ayahku.
Setelah kami selesai, kami pun menikmati hidangan makan malam yang telah di sediakan. Hidangan kali ini terasa sangat berbeda, makan malam yang biasanya di siapkan oleh ayahku, kini di siapkan oleh ibu sambungku. Dia terlihat begitu sibuk dengan semuanya.
Malam ini kajianku dan adikku sangat lancar tidak ada sedikit pun kesalahan. Ayahku begitu senang melihatnya. Wajah senjanya terlihat sumringah seakan kekesalannya tadi terhadap kami berdua dia lupakan.
Di sela -sela aku dan adikku sedang mengaji ternyata ibu sambungku telah sibuk melakukan semuanya sendiri. Aku yang melihat kebiasaan, bahwa yang memegang dapur untuk memasak adalah ayahku kini dilakukan oleh ibu sambung kami. Dia melakukannya, seperti mana biasa yang dilakukan oleh ayahku.
Ayahku hingga ini belum pernah melalaikannya, walau hanya sehari. Dia sangat memegang teguh apa yang telah menjadi tugasnya, itulah yang sering dia katakan kepada kami.
Malam ini di mana aku, adikku, ayahku dan juga ibu sambung kami telah siap duduk untuk menikmati hidangan makan malam yang telah tersedia, begitu banyak makanan yang telah tersusun dengan rapi di atas lantai yang di lapisi dengan alas tikar yang sering di gunakan untuk makan.
"Liyan, Ana. Mari ke sini, makanannya telah selesai !" panggil ibu sambung kami.
"Iya, Bu," sahutku dari dalam kamar sedikit keras agar dia mendengarnya.
Aku yang menyusun perlengkapan mengajiku tadi dengan rapi segera bersiap- siap. Mukena yang tadi kupakai sesuai dengan ukuranku pun, aku gantung di mana semestinya. I'ROQku kini kuletakan di tempatnya dengan apik. Aku kemudian merapikan rambut dan pakaianku yang sedikit berantakan, kebetulan rambutku yang pendek begitu mudah untuk merapikannya, aku rapikan seketika.
"Ana! Apa kau sudah selesai?" tanyaku.
"Sudah, Kak," jawab adikku. Berada tepat di belakangku. Melakukan seperti yang kulakukan yaitu, menyusun perlengkapan mengaji kami.
"Kalau sudah selesai, mari kita makan. Ibu sudah memanggil kita," kataku.
"Iya, Kak."
"Liyan, Ana! Apalagi?! Kemarilah ,Nak! Malam ini kita makan bersama," teriak ayahku dari balik dinding kamar kami.
"Iya, Ayah," jawabku. Aku dan adikku segera keluar menghampiri ayah dan ibu sambung kami yang telah lebih dulu duduk menunggu kami.
Aku keluar, berjalan perlahan di ikuti oleh adikku dari belakang, lalu aku menghampiri dan menjatuhkan tubuhku yang lemah di lantai untuk duduk menikmati hidangan yang telah tersaji. Adikku pun begitu juga, dia duduk tidak jauh dariku, kemudian dia mengatur duduknya dengan rapi dan mengambil piring terlebih dahulu.
"Ayah. Ana duluan, ya." Tangan adikku yang kecil langsung mengambil piring yang terletak.
"Iya, ambillah, Nak," sambut ayahku dengan penuh kasih sayang.
Tangan ayahku pun langsung menyuguhkan beberapa makan yang telah selesai dia masak tadi kepada adikku.
__ADS_1
"Sekarang, Anak Ayah mau makan yang mana?" Aku yang mengambil piring mendengar ayahku bertanya pada adikku.
Adikku yang manja. "Ana mau itu Ayah!" Adikku menunjuk ayam goreng kesukaannya seakan melupakan kesalahannya.
"Yang ini!" Kedua bola mata ayahku langsung tertuju dan mengambil ayam goreng.
Aku yang menaruh nasi ke dalam piringku sendiri begitu jengah melihat adikku yang manja yang tidak mengingat kejadian tadi. Kedua bola mataku pun berputar menatap ke arahnya, namun sayang, dia tidak mau mengerti sedikit pun dengan tatapanku.
Ibu sambungku yang duduk tepat di depanku terlihat tenang. Dia seakan tidak mengingat masalah yang barusan saja terjadi antara aku, adikku dan ayahku.
"Liyan. Makan yang banyak agar kau cepat sembuh," kata ibu sambungku sambil menaruh makanan ke dalam piringnya.
"Iya, Bu," jawabku.
"Jangan makan, makanan yang lain, selain sup ikan dan wortel itu!" Ibu sambungku menunjuk dengan kedua bola matanya.
"Biar Anak Ayah, cepat sembuh, 'kan." Ayahku menatapku dengan penuh kasih sayang.
Aku yang bingung dengan sikap mereka membuat kedua bola mataku berputar bertanya pada diriku sendiri.
"Iya, Ayah." Mendengar Ayahku. Aku langsung membalas omongan ayahku dengan terperangah menunjukan pada adikku sambil menunduk.
Raut wajahku pun begitu tidak nyaman. Sakitku rasanya semakin menganak dengan setumpuk tanda tanya besar yang menyerangku saat ini.
"Liyan!" Ayahku tiba-tiba memanggilku.
"Iya, Ayah," sahutku sambil mengunyah.
"Apa hari ini sakitmu sudah ada kurangnya?" tanya ayahku yang menyambar diriku.
Deg! Seketika mulutku berhenti mengunyah.
"Ayah pengen dengar sendiri darimu," lanjut ayahku yang rasa ingin tahunya terlihat besar.
Seketika tanganku yang lemah semakin lemah. Sendok tiba-tiba terlepas dengan pelan. Hatiku begitu bergemuruh, kecemasan semakin aku rasakan dengan hebat.
Wajah dari mereka berdua adik dan ibu sambungku, satu per satu menatapku dengan panik. Ingin sekali mereka menyuruhku untuk pergi agar aku bisa selamat. Namun, itu tidak akan pernah terjadi karena melihat ayahku yang begitu tegas dalam menerapkan aturan.
__ADS_1
Ayahku pun memutar kepalanya ke samping melihatku. "Liyan, Kenapa diam saja?" tanya ayahku semakin penasaran.
Aku juga bingung ingin memberi jawaban apa pada ayahku. Aku memutar sendok makanku dengan pandangan kosong sambil memutar otak untuk menjawab pertanyaan ayahku.
"Kenapa menanyakan itu pada, Liyan?" sambung ibu kami memotong partanyaan ayahku.
Ayahku langsung memutar pandangannya melihat ibu sambungku. "Hanya ingin tahu saja. Apakah Liyan sudah sembuh atau tidak?" Ayahku kembali menunduk melihat nasi yang ada di hadapannya. "Karena tidak baik, kalau terus menerus minum obat. Efek sampingnya sangat besar dan itu tidak baik untuk Liyan yang masih kecil."
"Liyan, tidak akan selamanya minum obat. Sebentar lagi, dia pasti akan sembuh?!" kata ibu sambungku menenangkan ke khawatiran ayahku.
"Iya. Abang harap juga seperti itu. Liyan akan segera sembuh." Menatap nanar sambil menuang air ke dalam gelas.
"Ayah, Kakak akan cepat sembuh kalau bermain." Adikku tiba-tiba bersuara dengan polosnya yang membuat ayahku terkejut dan refleks memutar kepala melihat adikku.
"Bermain?!" Sambung ibu sambung kami yang ikut terkejut juga.
"Bermain apa, Nak?" Ayahku langsung meletakan gelas menatap adikku dengan serius.
"Apa saja Ayah?! Yang pasti harus bermain. Kalau Kakak mau sembuh cepat, jangan di rumah saja, Ayah," ujar adikku. Sok pintar.
"Jangan di rumah saja?!" Ayahku mencerna omongan adikku.
"Iya, Ayah. Kalau kita bermain di luar 'kan banyak teman dan banyak permainan," lanjut adikku menjelaskan kepada ayahku dengan berlagak sok tahu.
"Lalu. Anak ayah tahu apa lagi di luar?" Ayahku bertanya mencari tahu sampai di mana ke pintaran adikku.
"Banyak Ayah. Ada bermain kelereng, ada bermain petak umpet, ada bermain karet gelang, ada bermain bola kasti." Menatap dengan isyarat, kalau permainan itu telah kami mainkan tadi.
Aku dan ibu sambung kami hanya diam dan mendengarkan mereka berdua yang asyik bercerita. Kedua telingaku mendengar dengan jelas kalau adikku lagi berusaha merayu ayahku agar memberi izin untukku bermain ke luar.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
__ADS_1
❤️❤️❤️
Bersambung...