
Aku langsung melayangkan wajah tenang di hadapan ayah dan adikku dengan setengah hati yang kusut.
"Ayah, kalau kita bosan 'kan kita boleh... ." Aku langsung terdiam dan menutup mulut dengan rapat.
"Boleh bohong Ayah," sambung adikku dengan gamblang.
Aku spontan terkejut sambil menganga melihat adikku yang ringan mengatakan itu kepada ayahku. Aku semakin pucat dan keringat dingin melihat adikku yang gamblang mengatakannya.
"Mana boleh, Nak," balas ayahku langsung mengayunkan telunjuknya ke udara sebagai isyarat melarang.
"Gak boleh, Yah. Tapi kenapa masih ada aja yang bohong? Kalau memang gak boleh," cetus adikku memelas seakan bercampur rasa kecewa.
Glek!
Aku semakin menelan ludah dengan kasar. Melihat adikku yang tiada henti-hentinya bertanya tentang kebohongan. Aku semakin depresi bercampur muka yang kusut dan pikiran yang kacau. Sekarang pikiranku berjalan tidak tentu arah. Jemariku semakin dingin dan gemetar membayangkan jika nanti ayahku tiba-tiba tahu tentang diriku yang sebenarnya.
Tubuhku semakin dingin melihat ayah dan adikku yang duduk di atas pangkuannya. Adikku tidak menyadari kalau dia bisa saja keceplosan, pikirku dengan kalut. Sementara lain lagi dengan ayahku sendiri yang belum peka dengan perubahanku saat ini. Aku semakin dilanda kecemasan dan terus menatapnya lekat.
"Liyan, Ayah heran kenapa Adikmu hari ini suka bercerita tentang kebohongan?" tanya ayahku melihatku. "Kayak di rumah ini ada yang bohong aja!" lanjutnya memutar kepala melihat adikku dan sesekali di ikuti oleh lirikkannya melihat lantai yang teronggok di atasnya belanjaan tepat di antara dinding kamar dan pintu, terlihat dari ekor mataku yang diam-diam mengikutinya.
"Ayah," kataku. Turun. "Kenapa belanjaannya gak di taruh ke dapur, Yah?" tanyaku. Berjalan dan menghampiri plastik.
Ayahku langsung memalingkan tatapannya dari adikku. "Biar saja, Nak. Ayah lagi ingin bercerita dengan Anak Ayah yang dua ini. Kemari Nak!" kata ayahku. Memanggilku dengan mengayunkan tangan kanannya.
Plak!
Aku langsung meletakkan bungkusan plastik kembali ke atas lantai dan berlari kembali menghampiri ayahku.
"Iyah!" Ayahku mengangkat dan menjatuhkan tubuhku dengan lembut di atas pangkuannya. "Ayah sudah lama tidak bercanda dengan kalian berdua. Sudah lama tidak pernah memangku kalian lagi. Ayah terlalu sibuk Nak! Mencari uang hanya untuk kalian. Sampai-sampai Ayah lupa dengan kalian berdua. Makanya kalian sering bertengkar dan menangis," lanjutnya. Menatap kami berdua dengan wajah penuh kelembutan dan kasih sayang.
Aku langsung tertegun melihat tatapan ayahku yang penuh dengan kasih sayang itu mengelus kepalaku dan adikku.
"Aku sayang Ayah," kataku. Memeluk ayahku.
__ADS_1
"Aku juga Ayah. Aku sayaaaang sekali sama Ayah. Sampai-sampai kalau Ayah pulang aku sering nanya, Ayah bawa kue atau gak," kata adikku dengan suaranya yang manja.
"Hahahaha !" Ayahku langsung tertawa. "Kapan Anak Ayah yang manja ini nanya kayak gitu?" katak ayahku bertanya pada adikku.
"Mmm, aku lupa Ayah," jawab adikku langsung.
"Hahaha !" Ayahku kembali tertawa. Memeluk erat kami berdua.
"Tapi Ayah. Ayah gak ada bawa kue untuk kami?" tanyaku dengan wajah penuh harap. Melihat bungkus plastik yang teronggok di atas lantai.
Ayahku seketika manyun. "Ayah tidak ada bawa kue," kata ayahku bersedih. "Ayah tadi buru-buru mau pulang karena sudah hampir sore," lanjutnya. Menatap kami berdua dengan sendu.
Aku dan adikku langsung bergeming. "Ayah, tapi kenapa Ayah pulang bawa itu?" tanyaku ingin tahu. Menunjuk plastik yang teronggok.
Ayahku langsung menggeser tubuhnya sedikit untuk meregangkan otot -ototnya yang kaku.
"Ayah, kami berat ya?" tanyaku kembali ingin tahu. Melihat ayahku sedikit gelisah.
"Engga Nak. Ayah gak pernah lelah kalau mengenai kalian," jawab ayahku dengan suara rendah. Melihat sesekali ke luar rumah dari pintu yang masih terbuka lebar.
"Iya, Ayah tau," jawab ayahku dengan suara tidak bersemangat. Menenangkan raut mukanya yang mulai menua. "Makanya Ayah pulangnya cepat," timpalnya. Melayangkan raut muka tenang bercampur dengan tawa.
"Ayah, dia mungkin sudah pergi jauh," balas adikku sedikit konyol. Melihat ayahku dengan raut muka sedikit takut. Menjatuhkan pandangan sambil menutup mulut dengan tangannya diam-diam.
Ayahku refleks langsung memutar kepala melihat adikku dan melebarkan bola matanya. Sepertinya ayahku bagaikan tersambar petir sehingga tergugup membuka mulutnya.
"Ayah," kata adikku memanggilnya dengan raut muka menyesal.
"Ana, Ayah tidak pernah mengajarimu seperti itu ya!" tegur ayahku dengan sorot mata yang tajam.
Aku semakin cemas dan khawatir mendengarnya. Raut muka ayah dan adikku sangat jauh berbeda. Aku hanya bisa menghela dengan napas sesak sekali lagi melihat mereka berdua. Aku semakin diam berkutat dengan kepanikan di tengah ketenangan. Berkali-kali tubuh mungil ini sudah memberi isyarat rasa dingin untuk segera beristirahat dan menjauh dari angin yang berembus di tengah sore yang mau senja.
"Ayah, aku minta maaf," kata adikku dengan sesal bercampur harap. Menatap wajah ayahku dengan sendu. Lalu dia perlahan kembali melihat ke arahku yang masih duduk sama seperti dia di pangkuan ayahku. Sorot mata itu seakan memberi isyarat padaku kalau dia tidak akan bohong.
__ADS_1
Aku seolah cemas dengan yang kupikirkan. Aku kemudian meremas jemari di tengah tubuh yang terlihat tenang bercampur panik.
"Minta maaf kenapa Nak?" tanya ayahku dengan gurat wajah datar.
Wajah pucatku semakin khawatir tanpa di sadari oleh ayahku. Adikku kembali melayangkan lirikan secara diam-diam terhadapku.
"Minta maaf kalau aku sudah bohong Ayah," katanya kembali berulang kali. Melihat lurus ke bawah dan melayangkan sorot mata yang kosong.
Tubuhku yang sudah melemah semakin gemetar dan khawatir jikalau adikku tiba-tiba mengatakan yang sebenarnya sekarang. Pikiranku terus menerus panik dan takut.
"Anak Ayah 'kan tidak pernah bohong?!" sambung ayahku dengan polosnya. Tanpa melihat gelagat kami yang mencurigakan.
Namun, aku lagi-lagi belajar untuk tetap tenang. Obrolan ayah dan adikku yang seolah serius memaksa aku untuk membuka mulut.
"Ayah, kami berdua 'kan takut dengan Ayah," kataku dengan sepenuh hati. Menatap ayahku yang tetap polos.
"Liyan, mungkin kau benar. Kalau kau takut dengan Ayah. Karena Ayah terlalu tegas untuk mu," sambung ayahku dengan polosnya juga.
Aku semakin kalut dan bergulung di dalam hati hingga menjadi kusut. Semilir angin yang masih menerbangkan rambut pendek setengah leher ini membuat kau terusik dan melepaskan seketika derita yang mendera bersama angin yang berembus.
Tubuh semakin meriang dan ujung kakiku semakin dingin merasuk ke dalam tulang-tulang ini. Daya tahan tubuh pun semakin berperang bersama keinginanku yang masih ingin bertahan menutupinya dari ayahku.
"Ayah tapi aku gak pernah menangis kalau aku takut," kataku membalasnya. "Karena aku sayang Ayah," lanjutku.
"Iya Ayah. Kami sangat sayang Ayah. Makanya kami gak boleh bohong, 'kan Yah?" tanya adikku sebagai isyarat kalau aku harus berkata jujur.
"Iya Nak," jawab ayahku. Membelai rambut adikku dengan penuh kasih sayang dan melihat anaknya yang lucu.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...