
"Aku malas Kak. Aku 'kan gak pandai main kelereng," jawab adikku berterus terang.
Aku lekas mengambil kelereng yang terletak.
"Ana, kelerengnya masih banyak," kataku .Membuka tutup dan mengintipnya dari mulut toples plastik yang lebar.
"Mainkanlah, Kak. Biar aku yang jadi, penontonnya," kata adikku dengan gamblang.
"Hahaha !" Aku sontak tertawa setelah mendengarnya. "Kau mau jadi penontonnya ?" tanyaku geli. Melihat -lihat kelereng dari luar toples plastik yang bening. "Mana seru, Dik. Main kelereng cuma kita sendiri," cetusku.
"Anggap aja. Kakak mainnya ramai -ramai. 'Kan bisa," saran adikku yang konyol.
Aku seketika tergelitik mendengar sarannya. "Siapa yang menang dan siapa yang kalah?" tanyaku. Menatap adikku dengan penuh tanda tanya.
"Ya, pandai-pandai Kakak saja. Siapa yang menang dan siapa yang kalah? 'Kan cuma Kakak sendiri ketuanya, hahaha !" ucap adikku sambil tertawa.
Aku langsung meletakkan toples kembali ke tempatnya. "Itu gak mungkin. Mana mungkin Kakak sendiri yang menentukannya. 'Kan kurang kerjaan," tandasku. Menatap adikku yang memberi saran dengan konyol.
"Loh, kenapa tidak Kak?" tanya adikku. Terus memeluk boneka kesayangannya. "Kayak aku. Aku setiap hari main boneka seorang diri," balasnya. Melirik boneka yang di gendongnya.
"Kalau boneka, bisa kita bermain sendiri sama dengan Anak Bp, kita sendiri juga bisa," sambungku. Memutar-mutar toples plastik yang terletak di atas laci lemari yang terbuka.
"Kalau begitu aku bermain bonekaku sendiri la, Kak," ucap adikku. Beranjak meninggalkan aku sendiri.
Aku semakin manyun mendengar perkataan adikku dari belakangku. Toples plastik bening pun terus aku tatap dengan muka di tekuk sambil mengingat-ingat. Tiba-tiba. "Ha, Ana mainan Kakak semalam yang Anak Bp itu udah selesai kau gunting?" tanyaku. Berjalan menghampiri adikku dan berdiri di depan pintu kamar dengan sebelah tangan kanan membuka tirai sedikit. Mamajukan sedikit kepala masuk ke dalam kamar melihat adikku yang sibuk mengurus bonekanya layaknya, seperti anak bayi.
"Belum Kak," jawab adikku. Menatapku yang berdiri diluar pintu kamar.
"Kalau gitu. Itu saja yang Kakak kerjakan hari ini," ucapku. Berjalan masuk ke dalam kamar menghampiri adikku.
"Itu Kak," kata adikku. Menunjuk sebuah kotak kecil yang di atasnya terdapat sobekan-sobekan kertas. Tepatnya yang terletak di antara sudut dinding dan sudut lemari pembatas ruang tamu dan kamar kami.
Aku langsung memutar kepala mengikuti arah telunjuk adikku yang mengayun di udara.
"Kalau Kakak mau mengguntingnya. Gunting lah, asal sampahnya nanti Kakak buang!" kata adikku dengan penuh penekanan memberitahu.
Aku lalu berjalan mendekati mainan yang teronggok di sudut dinding. Aku kemudian mengambil gunting yang terletak di atasnya.
"Untung saja Ibu gak melihat ini semalam," kataku. Menggunting sambil mengingat kejadian yang tadi malam.
"Karena di situ agak gelap Kak," sahut adikku.
"Sebenarnya tidak juga," sangkalku. Melirik jendela yang terbuka dan sudut dinding. "Memang Ibu gak melihat -lihatnya kali," lanjutku.
__ADS_1
Aku dan adikku pun sangat seru bermain di dalam kamar. Adikku yang asyik dengan bonekanya, sementara aku lagi sibuk menggunting anak Bp yang menjadi mainan favoritku.
Ibu sambung kami pun sampai saat ini belum pulang. Dia pergi entah kemana hingga sampai ini dia belum pulang. Begitu juga dengan ayahku yang dari tadi pagi pergi mencari nafkah hingg saat ini dia pun belum juga pulang. Suara batuknya juga tidak terdengar, apalagi suara langkah kakinya.
"Kak, hari sudah mau malam. Kenapa Ayah belum pulang juga, ya?" tanya adikku. Menoleh ke arah jendela yang masih terbuka.
"Ana, mungkin Ayah lagi cari uang yang banyak untuk membeli sendal baru untuk mu," jawabku dengan nada suara cemas bercampur gelisah. Melihat Anak Bp yang kugunting.
"Kak, masih banyak lagi?" tanya adikku. Melirikku dari atas tempat tidur.
"Sedikit lagi, Dik," jawabku.
"Kak, kalau udah siap. Jangan lupa simpan yang rapi dan buang langsung sampahnya," suruh adikku dengan nada suara ringan. "Tapi jangan lupa buang semuanya, ya Kak," pinta adikku dengan nada suara manjanya. Melayangkan pandangan memohon.
"Kenapa semua?" tanyaku dengan keberatan.
"Sekalian sama punyaku yang semalam," cetus adikku menjelaskan.
"Masa gitu," gerutuku kesal. " 'Kan punya Kakak gak kau siapkan," celetukku.
"Tapi 'kan ada kugunting 'kan juga Kak," balas adikku dengan nada suara tidak rela mendengar penolakanku.
"Tapi 'kan gak siap," keluhku dengan kesal kembali.
"Kalau itu gak aku sembunyikan. Itu pasti sudah kena buang sama Ibu kesayangan Kakak itu," timpal adikku.
"Kaaaaak," balas adikku juga. Melirikku dengan gurat wajah yang bengis.
Aku langsung menunduk menahan kekalahan berdebat dari adikku.
"Kak, itu sampahnya langsung buang!" ucap adikku kembali mengulanginya.
Anak Bp ini pun langsung aku gunting hingga selesai. Serta sampah-sampahnya pun tidak lupa aku simpan ke dalam plastik yang teronggok tepat di bawah kolong tempat tidur.
Plastik hitam yang membuatku langsung diam membisu. Teringat akan kejadian dua hari yang lalu. Di mana adikku mencurahkan pasir ke atas lantai yang telah aku sapu .
"Kak, plastiknya ada di bawah kolong tempat tidur," kata adikku. Duduk di atas tempat tidur.
Kedua sorot mataku langsung melihat adikku ke atas tempat tidur. Di mana tempat adikku sedang duduk bersama bonekanya.
"Kak, buangnya cepat sebelum Ibu kesayangan Kakak pulang. Pasti merepet kalau sempat dia melihat itu," cetus adikku. Meninabobokan bonekanya.
"Kakak buang dulu, ya," kataku. Menarik plastik hitam yang teronggok di bawah kolong tempat tidur.
__ADS_1
"Kak, jangan ada yang tinggal," lanjut adikku kembali dengan rewelnya.
"Iya. Gak akan ada kok yang tinggal," balasku dengan nada suara datar bercampur dengan kenangan buruk ketika tangan ini memegang plastik hitam yang kutemukan di bawah kolong tempat tidur.
"Ana, tunggu dulu ya. Kakak buang ini dulu," ucapku. Berjalan keluar membawa plastik hitam.
Sesekali aku memutar kepala melihat ke belakang. Aku terus mengingat gundukan pasir yang aku temukan waktu itu. Sepanjang perjalanan peristiwa itu terus saja terlintas diingatanku.
"Liyan, kau bawa apa itu?" tanya ibu sambungku.
Deg !
Aku langsung membeku ketika mendengar suaranya.
"Sampah Bu," jawabku jujur.
"Kalian buat sampah di rumah, iya?" katanya dengan bertanya. Berdiri melihati aku yang membuang sampah.
Aku hanya diam bingung ingin menjawab apa.
"Rumah itu jadinya tidak jorok 'kan?" tanya ibu sambungku.
"Engga Bu," jawabku.
"Jangan engga, engga saja. Kemarin pun kau bilang kayak gitu. Sudah bersih. Tapi apa? Masih ada pasirnya 'kan?" pekiknya menggema di udara yang kosong.
Aku hanya diam berdiri membelakanginya sambil meremas kedua jemariku.
"Coba dulu Ibu lihat. Ada tidak sampah di dalam," katanya. Mengayun kedua kakinya dengan kencang. Di ikuti oleh aku yang berjalan di belakangnya.
"Itu untuk apa?" tanya ibu sambungku.
Aku diam dan tidak menjawabnya. Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku malam ini mau bermain Anak Bp, pikirku.
"Liyan, kau tidak menjawabnya?!" cecarnya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Yuk! Teman -teman mampir ke novel teman aku ya ! 🙏🥰