
Begitu pias terlihat wajah polos Ecy dan Tania. Mereka berdua berdiri melihat Fikri dan teman-temannya yang menertawakan mereka.
"Hey! Fikri awas kau ya! Aku bilang sama Ayahku. Ayahku tidak akan tinggal diam! Dia pasti akan memukulmu!" Pekik Tania dengan keras. Mendelik.
"Bilang saja! Aku tidak takut! Emang kau saja yang punya Ayah. Aku juga punya." Sambung Fikri tertawa.
"Ia, kami juga punya Ayah." Lanjut Solihin. Solihin bersama teman yang lain pun tertawa mengikuti seperti apa yang di lakukan oleh Fikri.
Lapangan yang luas serasa di penuhi oleh keramaian. Begitu berisik terdengar suara di mana-mana, bak dentuman yang memecah gendang telinga. Tubuh mungil yang lemah yang terkena paparan sinar matahari yang telah meninggi, sementara aku masih mencoba bertahan dalam situasi yang sulit.
Pertengkaran Fikri bersama Ecy dan Tania semakin menjorok ke dalam jiwaku yang relung. Mata yang redup menatap nanar mereka dengan harapan akan berakhir dengan damai.
"Hey Liyan! Siapa lagi yang kau bawa untuk membelamu, ha! Dasar pengecut! Kau cuman berani main keroyok aja!" Teriak Tania dengan suara meninggi. Mengepal tangan.
"Ia Liyan kau jahat! Ternyata kau lebih jahat dari pada kami!" Sergah Ecy. Kesal.
"Ecy, Tania asal kalian tahu! Kami tidak ada meminta bantuan sama Fikri untuk menyerang kalian." Ucap Widia dengan sedikit meninggi dan penuh kekesalan.
"Yang minta di serang kan, kalian sendiri. Jadi, terima saja kenyataannya. Enak kan, dapat makanan gratis yang panas!" Cibir Septiani dengan kesal. Mengepal daun.
Keributan yang semakin mengakar kemana-mana memaksa adikku yang tidak tahu apa-apa untuk ikut campur.
"Kalian berdua, asal tahu ya! Aku lebih garang dari pada Kakakku! Kalau sampai kalian menyakiti Kakakku, ingat kalian akan kutinju sampai pesek hidungnya. Biar kalian engga bisa mencium telur dadar." Sambung adikku dengan suara meninggi dengan penuh penekanan. Menunjuk. "Ia kan, Kak!" Lanjut adikku menoleh ke arahku.
Sepertinya keributan ini tidak ada akhirnya, pasti akan semakin mencuat hingga kemana-mana. Aku yang berdiri di antara mereka merasa kebingungan dan depresi yang mendalam. Kepalaku putar ke sana kemari bersama dengan kedua bola mata yang redup. Melihat lemparan kata demi kata yang akan memakan diriku. Tubuh mungil yang lemah ini ingin sekali rasanya meninggalkan mereka dan menyeret kaki lemah ini menghilang tanpa jejak.
Teriakan, pekikan, hinaan, dan entah apalah itu yang bisa membuatku terintimidasi di sini. Hari ini aku seperti di serang oleh mafia yang tidak bertanggung jawab. Sedih sekali aku rasanya bertahan di tengah cobaan yang menggulungku tanpa belas kasih.
Sakit yang menggulung tubuh mungil ini semakin membuatku frustasi. Cengkeraman yang mencabik -cabik seperti oase, menyeret tungkai kaki yang lemah ini ingin terkulai.
Bel tanda masuk yang satu-satunya menjadi penyelamat belum terdengar.
" Ecy, Tania! Aku tidak pernah memanggil Fikri datang ke sini. Apalagi memberi tahunya." Ucapku pelan. Menunduk.
"Kau bohong Liyan! Buktinya Adikmu aja ada di sini!" Kelakar Tania. Sorot mata tajam
"Ia Tania, aku setuju dengan mu! Atau jangan-jangan dia tidak sakit, hanya pura-pura." Sambung Ecy.
"Eh, ia kamu benar Ecy, kalau begitu kita bilang saja sama Bu Dona kalau dia berbohong." Saran Tania. Menatap Ecy dengan lekat.
"Ia, aku setuju, ayo!" Sambung Ecy. Memutar badan.
Tamatlah riwayatku hari ini. Ombak yang begitu besar datang menerjang dan menghempaskan hingga menyeret dan menenggelamkan aku ke tempat yang dalam . Pengaduan dari Ecy dan Tania yang mengatakan, kalau aku berbohong membaut wajah pucat yang polos ini terlihat cemas.
Bagaimana aku bisa mengatakan kepada ayahku nanti? Kalau ancaman mereka itu sampai menyerang. Apa yang akan di pikirkan oleh bu Dona? Apakah bu Dona akan percaya dengan mereka ataukah aku?
Pertanyaan ini semakin membuat dilema. Wajah panik pun terlihat begitu dalam dan jelas. Aku begitu malu rasanya kepada adikku yang berjuang membelaku.
Aku menatapnya dengan lekat dan di selimuti wajah sendu. Adikku yang seharusnya berada di dalam lindungan seorang kakak, ini malah berada di belakang membela. Rasanya ini tidak pantas untuk seorang adik. Akan tetapi, lagi-lagi aku di lemahkan oleh sakit dan perkataan ayahku.
Saat ini aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya waktu yang bisa kutunggu untuk menjawab semua. Belum lagi sahabatku, Widia dan Septiani yang terus membela di setiap langkah mereka berada di depan menjagaku.
"Liyan, kau jangan diam saja! Sesekali kau lawan mereka." Tuntut Septiani. Menatap tajam.
"Septiani, aku bukan...." Tiba-tiba aku menghentikan apa yang ingin aku sampaikan. Memutar kepala menatap adikku yang berdiri di samping.
"Jangan Kak! Jangan suruh kak Liyan untuk bertengkar. Kak Liyan nanti nangis karena dia cengeng. Makanya, Ayahku tidak mengizinkan kak Liyan untuk bermain karena dia mudah sekali menangis." Sambut adikku dengan wajah sedikit cemas.
"Liyan, kau cengeng juga, ya!" Ledek Fikri. Jadi, cewek itu engga boleh cengeng, itu kata Ibuku setiap kali memarahi adikku." Sambung Fikri. Menatap dengan mengerutkan kening.
"Ia Liyan! Jangan suka menangis nanti matamu bisa sakit." Ucap Solihin. "Ia kan! Kalau kita nangis pasti mata kita merah dan perih, seperti sakit mata." Tandas Solihin. Berdiri dan menulis tanah dengan ranting pohon.
"Ia Liyan, masa kamu suka nangis! Mau sampai kapan kamu menangis terus, mau sampai tua! Hahaha! Sambung Septiani dengan tertawa sambil menutup mulut dengan tangan. Menunduk dan tersipu malu sedikit merasa bersalah. "Maaf!" Mengatupkan kedua tangan ke udara.
__ADS_1
"Aku bukannya cengeng! Tapi aku takut dengan suara keras. Apalagi matanya mendelik. Aku takut!" Jawabku dengan polos. Menatap ke bawah dan menggeleng.
"Hahaha! Ia kakakku kalau Ayahku marah dia pasti diam, seperti patung di sudut dinding." Celetuk adikku dengan tawa sedikit mengejek. Menutup mulut dan menunduk dengan wajah rasa bersalah. "Dia pasti bicara sama dinding katanya, dinding itu temannya yang baik! Engga pernah marah samanya." Ledek adikku. Melihat sepatu.
Begitu puas mereka hari ini tertawa dan mengejek. Kedua bola mata yang redup melihat ke tanah melirik mereka yang begitu bahagia meledekku.
"Liyan, kau jangan sedih, ya! Maafkan kami kalau kami meledekmu." Ucap Solihin. Melihat ke bawah dengan wajah merasa bersalah.
"Ia Liyan, maafkan kami ya!" Ucap mereka Menatap dengan lirih. "Habis kau lucu! Kau bilang dinding engga pernah marah." Lanjut Fikri. Menarik bibirnya dengan tawa kecil. Duduk mengerutkan kening mantap lurus ke depan.
"Liyan benar, bagaimana mungkin dinding bisa marah? Dindingkan benda mati. Kata kakakku tidak bernyawa." Imbuh Rasyd. Duduk mengerutkan kening menatap ke bawah.
"Ia, tapi dinding juga jahat!" Cetus Septiani. "Kemaren dia menimpa kaki Ayahku sampai kaki Ayahku patah." Sambungnya. Menatap dengan lirih. Berdiri. "Sampai kami tidak di kasih uang jajan." Lanjutnya dengan lirih. Menunduk.
Melihat teman -teman yang sampai saat ini masih setia menemani dan membuatku bersemangat kembali, begitu aku terharu dan bahagia melihatnya. Seolah aku tidak pernah sakit, apalagi mendapatkan perlakuan buruk dari Ecy dan Tania.
Mereka begitu mahir untuk menarik senyumku yang telah hilang. Simpati mereka begitu besar terhadap diriku. Sedih yang membelenggu dan mengekang sesaat berlari dengan ketakutan.
Ecy dan Tania yang tadi berdiri seperti orang yang menghadang kini menghilang tak terlihat dari hadapan kami.
Entah kemana mereka pergi aku pun tidak tahu? Tapi biarlah! Biarkan mereka dengan semau mereka dan aku akan tetap berdiri dengan semauku. Hahahaha! Terkadang kata-kata itu membuatku geli dan tertawa sendiri.
Himpitan yang berat memaksa kami untuk berteriak melepaskan serangan yang datang menemui. Akan tetapi, sekarang serangan itu telah pergi menghilang dengan damai.
Meskipun hari ini aku telah di berkahi oleh Allah teman -teman yang baik. Aku tak lupa terus bersyukur, agar kedepan aku bisa lebih tegar dan tidak larut dalam kesedihan. Meratapi nasib seorang diri di pangkuan awan yang mendung.
"Ana, kamu di sini ternyata! Kami sudah mencarimu ke mana-mana." Tegur seseorang yang mebuyarkan perhatian kami.
Seketika aku dan teman-teman yang lain memutar kepala melihat siapa yang menegur adikku. Kedua bola mata yang redup menatap mereka dengan lekat.
"Maafkan, aku ya! Aku tadi menemui kakakku." Ucap adikku dengan wajah datar. Menunduk dengan wajah sedikit merasa bersalah.
"Ana, emang kakakmu kenapa?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Tidak ada apa-apa! Cuman..." Adikku berhenti sejenak sambil berpikir,...."aku pengen menemui kakakku saja! Kan sepanjang kita di sekolah aku belum menemuinya." Sambung adikku. Menunduk dengan wajah sendu.
"Widia, kenapa rasanya kita lama sekali bermain?" Tanyaku dengan penasaran. "Seharusnya, kita kan sudah masuk kelas." Sambungku. Menatap keseluruhan temanku.
Solihin yang setengah kesadarannya pergi entah kemana, tiba-tiba menyahut. "Kalau tidak salah, guru-guru ada kegiatan di kantor. Lanjutnya.
Sontak Fikri memutar kepala melihat Solihin dengan wajah tajam yang diselimuti kebahagiaan. "Apa? Kau serius! Eeee!" Sahutnya dengan wajah tawa dengan isyarat belum percaya. Mengayun telunjuk ke udara.
"Ia Fikri, Benar! Sambung Rasyd. Berdiri merangkul lengan di pundak Fikri.
"Fikri, bagaimana mungkin kau tidak tahu? Kau kan ketua kelas. Masa wakilmu yang lebih tahu." Cetus Solihin. Duduk di bawah pohon. Mengangkat kepala melihat.
Fikri seketika terdiam mendengar ledekan yang di berikan Solihin terhadapnya seakan mengejeknya. "Solihin bukannya aku tidak tahu, aku banyak urusan, kau tahu sendiri kan bagaimana Bu Dona." Sanggah Fikri. Melepaskan lengan Rasyd dan menghampiri Solihin.
"Tetap saja!" Sambung Septiani dengan ketus dan wajah datar. Melihat ke arah yang lain. Berdiri.
"Heh! Septiani, tetap saja apa?!" Pekik Fikri dengan kesal. Melihat Septiani. "Septiani dengar ya! Aku ketua kelas dan aku laki-laki. Kau itu perempuan." Teriak Fikri. Mendengus. Melempar pandangan ke arah yang lain.
"Emang kenapa kalau kau laki-laki? Apa masalah buatku! Engga ada yang salah setahuku!" Serang Septiani. Menatap lekat. "Lagi pula, kalau kita bertengkar di kelas. Kau selalu kalah dengan ku." Ejek Septiani. Menyeringai dengan wajah licik.
Kepalaku yang pusing semakin sakit rasanya, mendengar suara yang terdengar meninggi dan keras seperti dentuman peledak yang menghancurkan. Kegaduhan yang satu telah pergi, kini datang kegaduhan yang baru.
Septiani dan Fikri memang selalu seperti itu. Mereka selalu bertengkar di saat -saat yang memungkinkan, bahkan tidak jarang di saat di hukum oleh Bu Dona pun mereka bertengkar.
Tak jarang aku yang lemah menjadi penengah bagi mereka. Menyeret tungkai kaki yang ingin terjerembab dan tubuh mungil yang lemah. Sakit yang menyelimutiku tak membaut penghalang bagi diriku.
"Fikri, Septiani sudah! Kalian jangan bertengkar lagi. Nanti kita kena hukum. Kalian masih ingat kejadian yang dulu, sebelum aku sakit. Berapa lama kita di hukum di bawah tiang bendera. Kalian ingat, kalian waktu itu bertengkar gara-gara apa?" Ungkapku. Mendesis.
Pada waktu itu kalian bertengkar hanya karena sebuah kotak pensil dan pensil. Kau Fikri ketua kelas yang suka jahil . Kau selalu menjahili Septiani tidak pernah membuatnya tenang walaupun sedetik. Setiap Septiani mengeluarkan kotak pensilnya, kau selalu mengambil pensilnya dan meletakkannya di mejamu. Waktu itu, Bu Dona tiba -tiba masuk. Kami yang jadi penengah antara kalian berdua ikut terseret dalam pertengkaran kalian dan menerima hukuman di jemur di bawah tiang bendera bersama matahari yang begitu terik .
__ADS_1
"Aku dan Widia menjadi tumbal ke jahilanmu." Timpalku. Melempar pandangan sambil memijat kening.
Fikri begitu tersipu malu dengan di selimuti sedikit kekesalan dan merasa bersalah. Dia diam memalingkan wajah dariku dan menatap melihat tanah.
"Ia Fikri! Jangan bertengkar di sini. Apalagi di dekat kami. Nanti di lihat Bu Dona, kami kena hukum lagi." Keluh Widia kesal. Mengeluarkan topi dari saku rok.
Seketika Septiani dan Fikri terdiam mendengar keluhan Widia tentang diri mereka yang setiap saat selalu bertengkar.
"Tapi, kenapa bel belum juga berbunyi?" Tanyaku kembali. Melihat pintu piket.
" Kan sudah kubilang! Guru lagi ada kegiatan di kantor." Balas Solihin kembali. Berdiri menepuk kotoran dan merapikan celana.
Kami berdua menatap saling lempar pandang melihat Septiani berteriak kegirangan seperti orang yang terbebas dari ikatan penculik.
Horeee! Teriak Septiani dengan girang. "Berarti kita lama bermain." Ucap Septiani menatapku lekat. " Aku senang!" Teriak Septiani dengan menekan sedikit suara kerasnya. Berputar dengan bahagia.
"Itu tidak akan terjadi!" Ucapku dengan tegas. Bu Dona tidak seperti itu! Dia adalah guru yang disiplin dari yang lain." Sambungku. Memutar kepala melihat kantor.
"Kenapa kau seyakin itu, Liyan?" Tanya Solihin. Menatapku dan berjongkok mengikat sepatu.
"Ia Liyan, kenapa kau bisa bilang seperti itu?" Sambung Widia ingin tahu. Menyeret tubuh menghampiriku. "Liyan panas sekali, ya!" Rintih Widia. Lesu.
"Karena Bu Dona galak!" Ucapku dengan polos. Menunduk.
Ha! Seketika Fikri yang kesal tadi dengan ku tersentak dan mengangakat kepala tegak menatapku. Hahahaha! Liyan kalau Bu Dona memarahimu aku tidak mau membantumu." Tolak Fikri. Sambil mengayunkan tangan ke udara.
Bibirku yang pucat pun tertutup rapat. Wajah polos yang pucat tiba-tiba terlihat pias seketika. Kekesalan begitu menyelimuti hatiku yang bahagia. "Aku kan engga bilang apa-apa tentang Bu Dona." Selaku dengan pelan dan Khawatir. Meremas jemari dengan kuat. "Ia kan Widia, Septiani." Lanjutku. Menatap mereka dengan wajah sendu dan cemas.
"Hahaha! Ternyata dia takut." Celetuk Fikri dengan tawa. "Baru ini aku lihat si Liyan begitu takut." Sambungnya.
Setelah aku memasang wajah pias. "Fikri! Jadi, kau maukan, menolongku kalau di marahi Bu Dona." Kataku pelan melempar pertanyaan kepada Fikri. Berteduh di bawah pohon. "Widia, ternyata panas juga di sini. Ayo kita ke kelas, yuk!" Ajakku pelan. Menatap Widia.
"Kalau kita ke kelas pasti ada Ecy dan Tania. Mereka berdua itu menyebalkan." Keluh Septiani.
"Ia kamu benar, di kelas pasti ada mereka yang mulutnya selalu ribut. Tidak di kelas, di luar mereka selalu ribut. Setiap hari selalu bertengkar dengan siapa saja." Sambung Widia. Mendesis.
"Mereka cuman berdua, tapi mulutnya seperti orang sekampung yang lagi bicara." Ejek Septiani. Berdiri menatap pintu kelas.
Menurut dari hasil pertimbangan kami dengan matang. Kami memutuskan tetap berteduh di bawah pohon. Menunggu kondisi membaik.
.
.
.
Teman-teman terimakasih telah memberi dukungan like, favorit dan komentarnya. 🥰🙏
Bersambung.....
Sambil nunggu Author update!
Yuk! Baca novel dari teman aku Author yang lain!
Pasti engga nyesel deh bacanya! 🥰
Meski terlahir dan tumbuh dalam keluarga yang harmonis dan santun, tetapi Mirza tetaplah sosok anak muda yang butuh mengekspresikan diri dan ingin menikmati kebebasan masa mudanya.
Ia menjadi pemuda yang urakan dan sering gonta-ganti pacar dengan dalih penjajakan untuk menentukan sebuah pilihan yang tepat, gadis pilihan yang akan Ia jadikan sebagai istri.
Namun, dari banyaknya gadis yang Ia pacari, tak satupun yang bisa memenuhi kriteria Mirza. Kriteria istri idaman, yang membuat semua keluarga tercengang.
__ADS_1
"Mereka semua adalah gadis yang tidak bisa menjaga dirinya dengan baik, masak baru pacaran sudah minta cium?" gerutu Mirza.
Akankah Mirza, dapat menemukan gadis seperti yang Ia idam-idamkan?