Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Lemparan yang menyerang


__ADS_3

Wajah Septiani seketika memerah tersipu malu. "Engga, ah! Siapa yang takut? Dia yang takut dengan ku, heh!" Memalingkan pandangannya dari Solihin dengan ketus.


Aku yang berdiri diantara mereka melongo melihat mereka saling ejek mengejek. Kedua netraku menatap Fikri tanpa kusadari. Tidak terkira waktu sudah cukup lama bersama kami di lapangan yang panas ini. Cucuran keringat pun telah membasahi kedua pipiku yang pucat.


"Pak Duan, kenapa belum beranjak kemari?" tanyaku pada Widia yang berdiri.


"Bapak itu lagi berbicara dengan Fikri." Widia menatap ke arah yang jelas. "Serius sekali. Fikri kalau sudah bertemu dengan Pak Duan, pasti mereka lebih akrab."


"Setahuku dimana -mana guru olahraga itu sangat memerlukan ketua kelas," ucap Septiani. Sok tahu.


"Sok tahu kamu," timpal Solihin meledek Septiani.


Aku terus saja melihat mereka berdebat. Dalam kenyamanan yang tiba-tiba aku rasakan, entah kenapa tatapan bola mataku tidak sengaja menoleh ke arah Fikri yang masih saja terlihat serius mendengarkan penjelasan dari Pak Duan.


"Anak-anak!" panggil Pak Duan dengan keras. "Kita hari ini akan bermain sebuah permainan yang seru." Pak Duan terlihat bersemangat. "Permainan ini saya yakin pasti kalian akan menyukainya. Apalagi yang Anak laki-lakinya." Wajah jenaka Pak Duan pun terlihat. "Solihin, kamu lagi apa di situ?" tanya Pak Duan refleks membuat Solihin terkejut. "Solihin pasti suka dengan permainan ini."


"Ha!" Wajah Solihin pun terlihat menatap Pak Duan dengan melongo. Solihin seakan tidak mengerti maksud dari pembicaraan Pak Duan yang tiba-tiba mengusik dirinya. "Pak permainan apa? Apa yang akan kita mainkan?" tanyanya dengan penuh tanda tanya yang menghantui kenyamanannya.


"Dari tadi saya sudah menjelaskan, bukannya kamu dengarkan. Sudah lama saya berdiri di sini hingga kepanasan tapi kamu malah tidak tahu. Sekarang mari ke sini, ayo cepat!" desak Pak Duan sambil mengayunkan tangannya memanggil Sholihin.


"Jangan dong Pak. Akan saya dengarkan apapun yang Bapak sampaikan," kata Solihin memohon agar Pak Duan membatalkan niatnya untuk memanggil Sholihin.


"Solihin ayo kemari!" Pak Duan terus memaksa Solihin untuk maju. "Jika, kamu tidak mau kita akan terus berdiri di lapangan yang menguras keringat ini."


"Pak, saya tidak melakukan apa -apa, Pak. Saya cuman melihat kaki saya, apakah menginjak kakinya Liyan?!" lanjut Solihin memutar topik pembicaraan.


"Kemari." Namun, Pak Duan terus saja memanggil Solihin sampai akhirnya, dia kalah berdebat dengan Pak Duan sehingga dia pun dengan sendirinya maju mengikuti keinginan Pak Duan.


Bibir pucatku langsung tersenyum melihat ekspresi Solihin yang menghela napas menyerah. "Pada akhirnya, mau tidak mau Solihin tidak bisa mengalahkan Pak Duan," bisikku.


"Iya Liyan, kau benar, bahkan Fikri yang sulit di kalahkan saja tidak bisa berbuat apa-apa jika, sudah mengenai Pak Duan. Hahaha!" Widia tertawa melihat reaksi Solihin yang lemah tidak berdaya.


"Solihin pasti merasa malu ketika nanti bertatapan dengan kita," ucapku dengan datar.


"Iya, dia 'kan punya harga diri yang tinggi, katanya. Setiap kali dia bicara pasti mengarah ke sana. Dia mana mau kalah dari siapapun," tutur Widia.

__ADS_1


"Liyan!" panggil Pak Duan tiba-tiba membuatku terkejut.


"Iya Pak," sahutku memutar kedua bola mata segera melihat Wajah Pak Duan.


"Keluar dari barisan," pinta Pak Duan. "Ayo cepat! Supaya yang lain bisa melanjutkan permainannya." Pak Duan mengayunkan tangannya setengah di udara.


Setelah mendengarnya, bukannya aku makin senang. Malah aku bertambah seperti, orang dungu diam membodoh dengan pandangan kosong. Benakku terus bertanya, pikiranku pun terus bekerja mengingat yang tidak kutahu.


"Pak, kenapa dia di panggil ke depan?" tanya Tania tiba-tiba terkejut.


"Dia mau di hukum kali," sambung Ecy dengan pelan.


"Untuk masuk kelas," jawab Pak Duan dengan tegas.


"Pak, enaklah dia. Masuk kelas dan tidak olahraga," cetus Tania tidak senang mendengarnya. "Emang dia itu Anak siapa?" gumam Tania bertanya dengan wajah sinis.


"Baru juga sakit seperti itu, sudah di suruh duduk, di suruh istirahat lah," gerutu Ecy melirikku dengan kebencian.


"Pak, kita 'kan sama-sama belajar." Tania terus bersuara mendesak agar Pak Duan membatalkan keinginannya.


"Bapak," jawabnya dengan menunduk malu.


"Jadi, kamu jangan bicara seperti orang yang tidak menghargai saya," tegur Pak Duan pada Tania.


"Liyan, sekarang kamu keluar dari barisan," pinta Pak Duan untuk yang kesekian kalinya.


Diriku mau tidak mau wajib mengikuti perintah dari Pak Duan karena beliau adalah guru kami. Jadi, apapun keputusannya baik itu menyenangkan ataupun tidak aku harus mematuhinya selama itu tidak merugikan siapapun. Berat atau ringan keputusannya tidak bisa di bantah sedikit pun.


"Liyan, pergilah! Tunggu apa lagi," pinta Widia mendesakku dengan semangat.


"Iya, Liyan apalagi, cepatlah!" Septiani juga terlihat senang karena aku di beri dispensasi untuk tidak mengikuti olahraga hari ini.


"Baiklah, aku akan masuk ke dalam kelas, tapi aku tidak enak karena di dalam kelas aku sendiri yang tidak ikut olahraga," kataku dengan sendu.


"Ngapain takut Liyan. Aku saja mau kalau Pak Duan menyuruhku tidak olahraga. Pasti aku tidak akan lelah, tidak akan terkena panas, huh!" Septiani menarik kera bajunya sebagai isyarat kalau dia kepanasan.

__ADS_1


"Pergilah sana! Kami akan memulai olahraga, Anak -anak sudah bubar dari barisannya. Nanti kau terkena bola karena mereka lagi bermain -main pakai bola," desak Widia dan Septiani.


Setelah itu aku kemudian melangkah keluar barisan karena tidak kuasa melihat desakan kedua temanku yang begitu mengkhawatirkanku. Kedua kakiku yang lemah pun segera melangkah.


Puk!


Tiba-tiba, aku terhenyak, seketika kedua kaki lemahku terhenti mematung, bagaikan terkena perekat yang kuat.


"Hahaha! Tawa mereka terdengar dengan terbahak terlihat senang karena telah melihat aku yang kesakitan.


"Dia kena bola, pasti sakit, ya, ups!" Tania seakan dia tidak mengetahuinya dan seolah-olah merasa khawatir. Layaknya dia seperti, orang yang berpura-pura tidak tahu.


"Pasti dia kesakitan Tania?! Kasihan sekali sudah sakit, terkena bola. Mana jalannya lama lagi, aduh, Liyan kasihan sekali dirimu," ejek Ecy dengan sumringah.


Kebisuan dari dalam diriku kurasakan seketika. Lemparan bola yang mengenai dadaku begitu membuat napasku sesak. Bibir pucatku tidak bisa berucap lagi, walau hanya mengatakan sakit. Hanya tangan lemahku yang lembut yang dapat berbicara untuk meredakan rasa sakit meskipun, tidak terdengar oleh telinga, cukup mata yang menatap yang bisa menjadi pendengar untuk menceritakan rasa sakit yang aku alami.


"Kau tidak mengadu dengan temanmu?" Tania dan Ecy langsung mendatangiku sehingga tidak ada jarak yang terlihat antara kami.


"Biasanya 'kan, temanmu yang sok hebat itu langsung datang menyamperinmu. Ini kenapa tidak?" tanya Tania berusaha mengadu domba.


"Mereka sudah bosan kali. Lagi - lagi menghadapi dia yang seperti ini." Ecy menatapku dengan memandang sebelah mata seperti, melihat kotoran yang menjijikkan.


Namun, aku tidak dapat bersuara sepatah kata pun. Rasa hempasan bola kasti yang mengenai bagian dari tubuhku membuat mati rasa separuh jiwaku yang lemah. Kedua mataku rasanya menatap dunia ini dengan gelap. Tatapan yang aku lihat lurus ke depan begitu berkunang-kunang. Tania dan Ecy pun tidak lagi aku hiraukan. Apa yang di katakan oleh mereka pun tidak lagi aku dengar dengan jelas.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2