
"Engga, Bu," jawabku pelan dan penuh kehati-hatian. Berdiri memegang tirai kamar sambil menajamkan pendengaran mendengar adikku.
"Heh!" cetusnya menyeringai sinis dan memutar kembali wajahnya melihat cermin menyisir rambutnya kembali. "Kalau kalian mengadu juga tidak masalah bagi Ibu. Yang penting, apa yang Ibu inginkan bisa Ibu dapatkan," lanjut ibu sambung kami refleks memutar kepala dengan sisir yang masih berjalan di kepalanya melihat ke arah tirai yang kupegang.
Tatapannya itu semakin membuatku gemetar diam mematung di depan pintu kamar yang tertutup oleh tirai yang tergerai.
"Kak, tirainya tutup saja. Biar Ibu kesayangan Kakak itu diam," saran adikku dari belakang.
Spontan aku terkejut dan memutar kepala miring seketika. "Ana, kau diam aja!" pintaku melirik ibu sambung. "Nanti kalau Ibu tau, kau kena marah," kataku menasihatinya.
Puk!
Adikku langsung memukul pundakku dari belakang sambil menarik bahuku memutar menghadap tepat ke arahnya. "Kak, Ibu udah memarahi Kakak," kata adikku pelan. Berdiri dan melihat aku yang lebih tinggi darinya.
"Ana, kau masih kecil dan kau juga lebih pendek dari Kakak! Jadi, jangan tarik-tarik Kakak, nanti kau jatuh!" sungutku sebal, memegang tirai dan mengintip keluar sesekali.
"Kak, aku kasihan lihat Kakak . Dia sering memarahi Kakak," katanya dengan pilu, menatapku yang sedikit lebih tinggi darinya.
"Ana, Ibu gak marah. Ibu cuma nanya, itu aja kok!" balasku mencegah adikku membencinya.
"Aku gak percaya," kata adikku lagi. Berdiri dan membuang mukanya langsung dariku. "Kakak setiap kali kayak gitu," cetusnya kembali naik ke tempat tidur dan menutupi wajahnya.
Sekelabat aku sibuk dengan adikku dan melupakan ibu sambung yang berdiri dan mengomel, kembali kuintip dari balik tirai yang masih kupegang.
"Kalau kalian mengadu sama Ayah kalian, itu tidak apa-apa. Malah Ibu makin senang," katanya. Tersenyum di depan cermin dan melihat ke arahku. "Jadi, Liyan! Bilang aja sama Ayahmu. Bair Ayahmu marah dan mungkin kalian berdua juga kena hukum," ancam ibu sambung menantang, melihat ke arahku sambil meletakkan sisir.
Ruangan kamar dan tamu semakin ramai. Suara ibu sambung semakin memenuhi semua dengan gamblang.
"Pasti kalian senang, iya 'kan? Kalian bisa bebas bermain diluar," kata ibu sambung kami. Meletakkan sisir dengan kasar.
Aku kini tetap berdiri dan diam sambil memegang tirai kamar kuat dan berjaga. Pandangan mata kini aku jatuhkan melihat lantai yang terasa dingin.
" 'Kan yang kalian mau. Bermain di luar dengan sepuas-puasnya. Biar gak usah ada yang melarang," lanjut ibu sambung kami, mendelik.
Kedua bola mata yang lemah ini pun menunduk pilu mendengar tuduhan yang menyerang diri. Saat ini hanya diri sendiri yang bisa menetralkan semua rasa yang menimpa.
__ADS_1
"Kak, udah masuk aja! Tutup aja tirainya!" usul adikku berkata pelan dari belakang.
"Kalau Kakak berdiri di situ sambil melihatnya, Ibunya Kakak itu pasti akan terus marah," lanjutnya yang semakin hari semakin sok dewasa.
Dengan diam-diam aku melirik adikku. "Ana, kalau Kakak tutup dan Ibu makin marah, gimana?" tanyaku, melirik ujung kaki adikku.
"Itu gak akan Kak. Ibunya Kakak pasti akan diam," sambungnya dengan penuh keyakinan, menaikkan kepala melihatku.
Seketika aku diam memikirkan yang dikatakan olehnya. Tirai kamar dan jendela yang terbuka lebar membuatku semakin kedinginan.
"Ana, Kakak gak berani," bisikku pelan di telinga adikku. Berdiri miring melihat dia yang semakin cemberut.
"Terserah Kakak! Kalau Kakak tahan dimarahi dengarkan aja sampai siap," cetus adikku, menjatuhkan tubuhnya duduk kembali menghadap ke arah jendela.
"Ana, kau jangan duduk di lantai. Nanti kau sakit!" tegurku, melihat adikku yang bermain anak Bp yang tertinggal.
"Kakak lupa masukkan ini?" tanya adikku mengalihkan topik pembicaraan, mengayunkan boneka setengah di udara.
"Iy... ." Aku langsung memutar kepala melihat ke arah sumber suara yang memanggil.
"Liyan, Ibu pergi dulu! Bilang sama Ayahmu. Kalau Ibu tadi udah pulang, ya!" harap ibu sambung mengiba.
"Jangan lupa! Sekalian bilang kalau Ibu tidak akan pulang, ya! Karena Ibu ada acara di rumah keluarganya Ibu," kata ibu sambung kami. Berdiri sambil memegang tas.
"Iya, Bu," balasku dengan lembut dan melihat tas yang dia gantungkan di lengannya.
"Jangan lupa! Kalau kau sampai lupa. Kau akan mendapatkan hukuman, mengerti!" tandas ibu sambung yang sudah menjauh dan mengambil sepatu yang sering dia gunakan untuk berjalanan.
Setitik rasa ini semakin larut dalam keheranan melihat dia yang begitu antusias ingin pergi dan berpakaian serta berdandan yang rapi.
"Sekali lagi Liyan! Jangan lupa! Karena Ayahmu akan marah besar dan tidak akan memaafkanmu kalau kau sampai lupa!" kata ibu sambung lagi membuka pintu dan melangkah dengan penuh semangat dan tawa bahagia. "Jangan nakal kalian dan jangan bertengkar. Jaga Adikmu baik-baik!" lanjutnya sambil berjalan meninggalkan kami.
Segaris sedih tertoreh di dalam wajah pucatku yang malang. "Ana, Ibu udah pergi," kataku. Berdiri membelakangi adikku sambil memegang tirai.
"Biarin aja Kak! 'Kan enak, gak ada yang marahi kita," sambut adikku dari belakang.
__ADS_1
Kepalaku langsung kuputar melihat dia yang duduk di lantai. "Ana, Kakak takut, kalau Ayah akan memarahi kita," ucapku panik, melihat ke bawah tepat ke arah adikku.
"Kakak aneh. Kenapa Ayah marah sama kita? Kita 'kan gak salah," lanjutnya sambil melemparkan baju anak Bp ke sembarang tempat.
"Karena kita biarkan Ibu pergi," jawabku sesal menunduk lesu.
"Ibu 'kan udah besar, Kak. Jadi, mana mungkin Ayah marah sama kita," ucap adikku. Duduk dan melihat daun jendela yang terhempas karena angin.
Brak!
Dengan keras jendela itu terhempas dan menyentakkan diri ini mendadak panik. "Huh!" Aku langsung mengurut dada.
"Tapi Dik. Kita kayak mana? Kalau gak ada Ibu?" tanyaku sedih menatap adikku yang terlihat tenang.
"Kita 'kan masih ada Ayah," jawab adikku enteng, menyeret tubuhnya mendekati mainan milikku.
"Tapi 'kan Ayah kerja," balasku. Berjalan membuka jendela.
"Ayah kerja 'kan gak lama. Bentar lagi Ayah pulang, Kak," sahut adikku, melihat kotak yang peot.
"Iya, tapi bentar lagi malam, Dik," ucapku. Berdiri di depan jendela yang terbuka untuk menyegarkan tubuh mungil yang lemah ini dengan angin yang berembus.
"Jadi?" tanya adikku singkat.
"Masang lampu siapa?" tanyaku bengong, melihat tirai yang sedikit terbang terbawa arah angin.
Adikku langsung memutar tubuhnya dan meletakkan sebelah tangan kanannya terjatuh di atas kotak yang peot.
"Kak, kenapa tadi gak Kakak bilang sama Ibunya Kakak? Sebelum dia pergi," tanya adikku sesal, menatapku yang berdiri.
Wajahku langsung murung terjatuh ke bawah melihat ujung kaki yang masih terasa lemah berdiri. "Kakak gak ingat!" sesalku, menunduk murung.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...