Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Menjenguk Pudan


__ADS_3

Fikri semakin bingung harus menjawab apa dari tantangan Bu Rosita. Dia semakin mengerang dan bertingkah seperti orang yang tersesat. Bu Rosita kini bagaikan soal ujian baginya yang harus di jawab dengan benar. Jika salah maka habislah dia. Ini semakin menyiksanya dan semakin membuat dia semakin terjebak.


Wajah Bu Rosita semakin ketat menatapnya yang tak kunjung jua memberikan jawaban. "Fikri... ." panggil Bu Rosita. Menatapnya.


Sontak Fikri. "Iya Bu," jawabnya langsung sedikit terkejut. Dia yang dilanda kebingungan pun semakin meremas jemarinya dengan satu tangan yang terbujur kaku di sebelah kanan. Sesekali dia melemparkan pandangan ke arah Rasyd ingin meminta bantuannya. Namun, Rasyd yang berdiri bersamanya di depan sama sekali tidak menoleh ke arahnya sedikit pun.


Aku yang memerhatikan mereka tertawa geli di dalam hati melihat tingkah mereka yang konyol. Aku terus saja melihat mereka dengan tersimpul. Mereka berdua hari ini telah bisa membantuku melupakan ketakutan akan buku yang kukumpulkan tadi secara tidak langsung.


Dari bangkunya Widia pun, ternyata dia menyaksikan tingkah konyol Fikri dan Rasyd. Fikri kini terlihat telah kehabisan akal. Dia sampai saat ini diam saja setelah mendengar pertanyaan dan panggilan Bu Rosita yang memanggil namanya dengan penuh penekanan.


Fikri tampaknya sedang menunggu ide berilian dari Rasyd. Wajah yang penuh harap pun semakin terpancar dengan jelas menatap Rasyd yang masih ambigu dan melongo setelah mereka tiba di depan.


"Rasyd... ." Colek Fikri pada Rasyd. Melirik Bu Rosita dengan menggerakkan sedikit kepalanya ke kiri.


Rasyd semakin bingung dan panik melihat permintaan Fikri. Sesekali Rasyd menatap Fikri dengan tajam sebagai tanda penolakan.


"Kalian dari tadi berdiri di sini, ngapain, ha?" Bu Rosita yang merasa penasaran bercampur kasihan bertanya. Memutar duduk ke samping kanan tepat melihat ke arah Fikri dan Rasyd. Bu Rosita semakin dalam menatap mereka seolah Bu Rosita mengingat yang di katakan Rasyd tadi. "Apa rupanya persiapan ujian kalian?" tanya Bu Rosita semakin mengorek informasi.


Fikri dan Rasyd pun terlihat gugup dan tidak berani menatap wajah Bu Rosita. Mereka semakin terjerat oleh ide mereka sendiri. Yang bisa mereka lakukan di depan saat ini adalah berdiam diri dan mematung. Begitu juga pandangan, saat ini hanya lantai dan sepatu mereka lah yang bisa mereka lihat hingga bosan.


"Hihihi !" Tawa geli pun tersirat di hatiku dengan penuh hingga memancarkan aura berseri.


Mereka semakin bimbang mau berkata atau tidak. Gerak bibir mereka yang bergetar seakan terlihat malu-malu. Berulang kali Bu Rosita bertanya dan belum juga mendapatkan jawabannya.


Mereka sangat lucu, aneh dan konyol. Katanya, ingin menolong Solihin malah mereka sendiri ikut terjebak berdiri dengan suka rela di depan.


"Hahaha !" Aku tak henti -hentinya tertawa hingga Widia refleks menoleh ke arahku.


"Liyan, kau kenapa?" tanya Widia terheran.


"Aku lucu melihat Fikri dan Rasyd," jawabku sambil menahan tawa.


"Lucu?" tanya Widia terheran. Memutar bola matanya melihat lurus ke arah Fikri dan Rasyd. Widia semakin bingung karena setelah dia melihatnya dia tidak menemukan apa-apa. Dia semakin bingung dengan gurat wajah melongo. "Liyan, aku tidak menemukan apa pun," ungkapnya dengan nada suara yang pelan bercampur kecewa.


"Hahaha !" Aku yang semakin tertawa terkekeh. "Widia, Fikri dan Rasyd tidak bisa menolong Solihin, pttff!" Aku menutup mulut. "Jadi, mereka berdiri sendiri di depan tanpa di suruh Bu Rosita," lanjutku dengan suara bercampur tawa.


"Ha?" Widia terkejut dan memutar kepalanya langsung melihat Fikri dan Rasyd. "Hahaha, kenapa mereka bodoh sekali ?" tanya Widia sedikit kecewa bercampur tawa. "Fikri 'kan, Anaknya pintar. Dia biasanya pandai mencari akal... ." Widia bertanya pada dirinya sendiri dan juga padaku dengan terheran.


"Aku juga tidak tahu," jawabku. Menarik bibir dengan tipis. Manyun.


Setelah kami saling melempar tawa satu sama lain dengan terpingkal-pingkal di bangku yang kami duduki. Aku dan Widia pun terpaku sambil melongo melihat aksi konyol mereka berdua.


"Bu Rosita 'kan, galak," cetus Widia dengan pelan. "Mana belum pernah ada murid yang berani dengannya." Widia terus melongo menatap lekat ke arah Fikri dan Rasyd seakan dia belum menyangka kalau temannya seberani itu.


"Iya Widia, kau benar," sambutku dengan pelan. "Aku pikir mereka cuman bercanda," sambungku. Menatap mereka berdua dengan pemikiran belum menyangka kalau mereka senekat itu. Sambil melirik Bu Rosita yang tengah duduk di depan tepat di bangkunya.


Bu Rosita pun semakin menekan mereka berdua di depan. "Fikri, tadi kata temanmu si Rasyd, kalian mau menyiapkan persiapan ujian." Bu Rosita semakin menatap. "...ujian apa? Ibu tanya?!" Bu Rosita semakin menantang mereka berdua dengan memberi pertanyaan itu lagi.


"Ujian semester, Bu," jawab Fikri spontan dengan lugas. Menatap lantai.


"Ujian...?" Bu Rosita bertanya semakin terheran. Melihat jam yang melingkar di tangannya lalu menatap kembali ke arah Solihin, Tania dan Ecy.


"Kalian bertiga jangan ada yang bergerak sana dan bergerak sini!" tegur Bu Rosita dengan tegas.


Solihin dan aku yang mendengarnya pun menoleh ke arah Bu Rosita setelah mendengar suara tegurannya.


Solihin hanya diam menatap Bu Rosita dan dia kembali memalingkan pandangannya dari Bu Rosita untuk memperbaiki hukumannya dengan sebaik mungkin. Aku juga melihat Solihin yang sesekali melemparkan pandangannya ke arah Fikri dan Rasyd. Solihin seakan kasihan melihat Fikri dan Rasyd yang terjebak dengan ide mereka sendiri.


Bu Rosita, dia tetap santai dan tidak terlalu mencemaskan Fikri dan Rasyd. Sikapnya yang cuek dan acuh itu semakin membuat Fikri dan Rasyd berdiri dengan suka rela.


"Anak-anak! Dengar sebentar lagi kita akan ujian. Jadi, kalian jangan banyak bermain. Belajar yang giat di rumah. Perbaiki nilai kalian di semester ini nanti. Biar kalian naik kelas dan dapat ranking," cetus Bu Rosita dengan suara yang lantang dan keras. "Apalagi, ini pelajaran saya. Ini memang mudah tapi jalan untuk mencari jawabannya cukup rumit. Jadi, kalian harus sering latihan di rumah, mengerjakan soal-soal yang telah kita pelajari." Bu Rosita menatap kami satu per satu. "Ibu tidak mau, kalau kalian di ujian ini nanti ada yang nilainya tidak baik... ." Bu Rosita langsung memutar kepala menatap ke arahku seakan dia mengingatkan diriku. "...apalagi sampai nilainya, nol," kata Bu Rosita penuh penekanan dengan nada suaranya yang keras. Memalingkan tatapannya dari ku dan melihat ke siswa yang lain.

__ADS_1


Bu Rosita pun kembali menatap jam yang melingkar di tangannya kemudian dia memutar kepala menatap muridnya yang berdiri di depan, ada lima orang. Sontak Bu Rosita pun sempat ingin tertawa geli ketika sorot matanya melihat Fikri dan Rasyd. Bu Rosita yang bercampur dengan tawa pun, menundukkan pandangannya melihat lantai dengan gurat wajah menahan tawa sedikit.


"Kalian mau sampai kapan berdiri, hm?" Bu Rosita kembali bertanya memutar kepala melihat Fikri dan Rasyd.


"Bu, kata Fikri sampai Solihin duduk," jawab Rasyd spontan yang sudah gerah menghadapi Fikri. Cemberut.


"Ha?" Bu Rosita langsung terkejut. "Pttff!" Bu Rosita pun menahan tawa terdiam dengan mimik wajah tersimpul manis.


"Hahaha !" Seluruh siswa termasuk aku dan Widia pun tertawa. Akan tetapi, aku dan Widia langsung berhenti tertawa dan merapatkan bibir dengan kuat.


"Solihin belum bisa duduk... ," ucap Bu Rosita dengan suara bercampur sedikit tawa. "...jam pelajaran ini masih lama," tandas Bu Rosita seakan memberi tantangan pada Fikri.


Rasyd yang sangat kesal semakin jengah. Dia dan Fikri malah mundur ke belakang mengambil posisi rapi untuk berdiri. Aku yang melihat mereka dari bangkuku semakin tertawa terbahak di dalam hati.


Bu Rosita pun semakin tersimpul manis hari ini. Dia yang terkenal galak dan suka bersuara dengan keras hari ini dia terlihat bukan seperti dirinya.


"Fikri, kau itu ketua kelas," terang Bu Rosita menjelaskan. "...lantas kenapa kau mau berdiri?" tanya Bu Rosita ingin tahu.


Fikri pun semakin terjebak dan sangat bingung harus berkata jujur atau diam saja. Wajahnya semakin panik. Hari ini dia terlihat seperti orang bodoh. Berdiri sendiri, diam dan tidak memberi alasan apapun sama sekali.


"Bu, dia ingin menemani Solihin berdiri," cetus Rasyd dengan lugas. Menatap Fikri dengan wajahnya yang ketat.


"Benar Fikri? Yang di katakan temanmu itu?" tanya Bu Rosita kembali . Mengurut dada.


Fikri yang mendengarnya masih tetap menunduk dan berdiri tegak lurus. "Kalau ada, ketua kelas seperti ini?" sindir Bu Rosita bertanya entah pada siapa. Menggeleng. "Jadi, kalian berlima berdirilah di situ!" Kata Bu Rosita dengan acuh. "Kalau kalian lelah, silakan duduk!" saran Bu Rosita pada Fikri dan Rasyd. Melirik. "Tapi kalau kalian kuat, tidak apa-apa. Berdirilah sampai bel berbunyi," tandas Bu Rosita. Melihat kembali ke depan dan menarik bibirnya seolah mengurut dada.


Setelah semua terjadi hari ini. Baik itu dari Solihin, Tania dan Ecy. Maupun dari kekonyolan yang di buat Fikri telah mewarnai hari-hari ini menjadi sebuah hari yang penuh dengan momen yang menarik. Di mana keunikan dari masing -masing temanku membuat aku begitu ceria. Kegilaan mereka maupun kegilaan hidupku yang penuh dengan rintangan dalam persahabatan dan dalam kehidupan yang aku jalani menjadikan aku sebagai anak yang bergembira di atas itu semua. Baik itu bahagia yang bercampur dengan duka maupun bahagia yang hanya sekedar datang. Itu sama sekali tidak menjadi penghambat untukku terus tertawa dan berdiri kokoh.


Sama halnya dengan Fikri yang tidak pernah lelah berkorban demi sahabatnya sekali pun pengorbanannya terlihat konyol dan tidak masuk akal. Dia tidak pernah mempedulikan yang berbisik di sampingnya sama sekali. Dia lebih baik malu dari pada harus berpisah dari sahabatnya. Itulah yang aku lihat dari Fikri. Hari ini itu terjadi padanya. Di mana Rasyd yang menggerutu dan bermuka masam serta memasang wajah yang ketat melihatnya. Namun, Fikri sekali pun dia tidak pernah menghindar dan begitu juga dengan Rasyd dia tidak pernah mau egois mementingkan dirinya sendiri. Dia juga sama seperti Fikri menempatkan sahabat nomor satu di bandingkan egonya. Inilah yang tercipta dalam pertemanan kami berenam. Hal inilah yang memaksaku untuk tetap bersikap tenang meski Septiani dan Widia telah bersikap dingin dan tidak lagi menganggapku.


Namun, aku tidak pernah menjauh dari mereka.


Belum lagi dengan Bu Rosita yang begitu menggeleng melihat tingkahnya yang sangat aneh. Sedikit pun Fikri tidak pernah menghindar. Dia terus diam dan meletakkan kakinya di atas lantai bisu yang dia injak.


Lambat laun Fikri dan Rasyd pun bergeser ke sebelah kanan di mana tempatnya Solihin berdiri. Fikri pun semakin menempelkan bahunya di sebelah Solihin begitu juga dengan Rasyd. Akhirnya, mereka bertiga bertemu pandang dan tertawa sumringah.


Solihin yang tadi membisu diam seperti patung kini tidak lagi. Terlihat dari wajahnya yang telah berbinar dan melebarkan senyumannya.


Aku dan Widia pun langsung tersenyum dari bangku kami ketika melihat mereka bertiga saling tertawa. Solihin yang masih mengangkat satu kakinya dan menarik telinganya merasa tenang sekarang. Sementara Fikri dan Rasyd dengan tingkah mereka yang konyol mengikuti, seperti apa yang di lakukan Solihin yaitu, mengangkat kaki dan menarik kedua telinga mereka.


Mereka pun tertawa geli melihat tingkah mereka yang terlihat bodoh dan konyol. Aku yang terus memerhatikan mereka menggeleng kecil seolah mengurut dada melihat kekonyolan Fikri dan Rasyd.


"Liyan, mereka bertiga memang sepaket, ya?!" celetuk Widia di telingaku. Sumringah.


"Iya," jawabku melihat Widia yang duduk di bangku tepat di sebelah bangkuku.


Widia yang bersikap dingin dalam satu minggu ini. Hari ini dia sangat senang berbicara padaku seolah dia tidak pernah membenciku, apalagi bersikap dingin. Celotehannya tentang Fikri dan Rasyd seakan menjadi jembatan mulus untuk kami berteman, seperti dulu lagi. Aku masih saja terus menatapnya dengan lekat. Sesekali aku menarik bibir tersenyum melihatnya lalu sejenak aku melupakan perselisihan kami.


"Liyan, ini baru namanya sahabat," ucap Widia spontan. "Fikri ternyata mau, ya berdiri menemani Solihin," ungkap Widia.


"Iya, aku pikir dia engga mau," balasku dengan nada suara datar. Memalingkan pandangan seketika dari Widia.


Perlahan ingatan itu terlintas di hadapanku lagi. Di mana Widia telah bersikap dingin padaku, bahkan dia membeli buku "Lima Sekawan " setelah ingatan itu terlintas. Aku langsung sadar dan membuang harapan jauh. Widia dan Septiani mana mungkin mau berteman dengan ku lagi. Aku lalu melirik Widia dengan lekat tanpa dia ketahui.


Aku semakin diam menunduk seperti orang yang sedang sakit. Bergulung dengan sikap yang asing terhadapku selama satu minggu ini.


Celotehan Widia tidak kunjung jua berhenti. Dia masih bercerita layaknya kami seperti sahabat yang dulu. "Liyan, aku mau kita berteman, seperti ini sampai kapan pun," ungkap Widia yang keceplosan.


Sontak aku langsung terkejut menoleh kembali melihatnya. Aku berpikir Widia mengatakan itu dengan serius atau dia tidak ingat kalau kami sudah sedikit renggang.


Sorot mataku semakin lekat menatapnya dengan gurat wajah penuh tanda tanya.

__ADS_1


Lama kelamaan Widia pun, terdiam dan tersadar. Setelah dia mengetahui aku tidak merespon yang dia katakan. Dia menunduk seakan dia malu kepada ku atau dia telah menyadarinya. Aku terus bertanya di dalam hati ketika melihatnya yang kembali diam.


"Widia, kita pasti akan berteman selamanya, kok," kataku dengan nada suara pelan. Melihat dan merasa sedikit asing.


Widia hanya menyeringai. Dia seolah masih enggan mau berteman dengan ku lagi. Wajahnya yang tadi berseri ketika bercerita kini langsung berubah datar dan dingin. Widia tidak mungkin semudah itu mau memaafkan aku kalau aku tidak mau membalas perlakuan Septiani waktu itu kepada ku. Aku tahu Widia sangat membenci Septiani karena kata-katanya yang kasar waktu padaku terhadapku.


Aku semakin risau akan masa mendatang. Perlahan aku mengunci mulut dan menutup bola mataku darinya. Aku sekarang sudah terlihat, seperti anak yang haus akan kasih sayang dan perhatian. Begitu memilukan sekali diriku ini teman yang aku miliki satu-satunya sudah tidak menghiraukanku lagi.


Tok! Tok! Tok!


Sontak Bu Rosita memukul mejanya dengan pena. Kami pun termasuk aku langsung bangun dari lamunan seketika mendongak melihat Bu Rosita.


"Jadi, kapan kalian menjenguk Pudan?" tanya Bu Rosita. Menatap seluruh siswa yang ada di dalam ruangan kelas.


"Kami tidak tahu, Bu," jawab yang lain.


"Itu 'kan tugasnya ketua kelas,"cibir yang lain.


Sontak Bu Rosita pun memutar setengah duduknya melihat Fikri dengan tatapan seakan bertanya.


"Pulang sekolah nanti, Bu," jawab Fikri sembari menaikkan sebelah kakinya dan memegang kedua telinganya.


Aku langsung menoleh ke arah Fikri dan kembali tersenyum ketika aku kembali melihat tingkahnya yang konyol.


"Jangan lupa tanya Pudan, kapan dia akan masuk sekolah kembali ?" tanya Bu Rosita. Memutar kepala melihat kami dengan duduknya yang masih setengah miring menghadap ke arah Fikri dan yang lain.


"Bu kami datang menjenguk saja 'kan?" tanya Septiani.


"Bawak lah buah tangan, Nak," jawab Bu Rosita dengan nada suara datar. Menghela napas.


"Contohnya bawa apa, Bu?" tanya Tania dari depan. Memotong.


"Bawa buah atau roti," jawab Bu Rosita. Memutar setengah badannya melihat Tania.


Tania yang sama seperti Solihin berputar-putar kecil untuk menghilangkan Lelahnya akibat berdiri dengan satu kaki. Sesekali dia menurunkan kakinya untuk menghilangkan letih tanpa di ketahui oleh Bu Rosita.


Ecy pun tidak lain melakukan hal yang sama juga, seperti Tania. Dia pun ternyata menurunkan kakinya dengan waktu yang menyenangkan yaitu, cukup lama dari yang di lakukan oleh Tania.


"Jangan kalian tidak melihat Solihin lagi!" seru Bu Rosita dengan tegas. Melihat kembali jam tangan yang melingkar sembari melirik ke arah muridnya yang berdiri di depan kelas.


"Iya Bu," jawab Rasyd dengan nada suara parau.


"Kami akan membawa jeruk, Bu," timpal Septiani menjawab dari bangkunya.


"Jeruuuk?!" ucap Ecy dengan ejekan bertanya.


"Itu 'kan asem," sambut Tania. Berdiri.


"Apa kalian akan membawa jeruk?" tanya Bu Rosita kepada kami memastikan. Menatap lekat bercampur serius.


"Iya Bu. Karena Pudan suka jeruk, Bu,"jawab Fikri yang masih menyimak pertanyaan Bu Rosita.


"Lagi pula Bu. Jeruk 'kan sering di makan sama orang yang sakit," tukas Rasyd. Sok tahu.


" Siapa bilang?" tanya Solihin yang sudah leleh berdiri. Menurunkan kakinya untuk menarik napas.


"Ibuku," jawab Rasyd langsung. Menutup matanya melihat lantai.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2