
"Kak, sudah siap biodatanya?" tanya adikku menegur dari belakang.
"Sudah," jawabku. "Apa piringmu sudah kau letakkan?" tanyaku.
"Sudah Kak. Tapi piring kotornya banyak kali ya, Kak?" tanya adikku dengan heran.
"Iya, mungkin itu piring kotor yang dari tadi siang. Belum di cuci barang kali," jawabku.
Aku dan adikku kini telah selesai dengan makan malam tadi. Sekarang sudah saatnya kami berdua untuk tidur.
"Iya Kak, piring kotornya banyak," imbuh adikku berjalan beriringan dengan ku.
"Ayah tidak sempat mungkin, Dik, mencuci piringnya." Aku menatap adikku sambil berjalan.
"Mungkin juga sih, Kak," sambung adikku. Berjalan.
Akhirnya, kami berdua pun membuka tirai kamar dan masuk. Aku yang masih melihat biodata dan membacanya di dalam hati. Duduk di pinggiran tempat tidur. Sementara adikku yang telah naik mengambil bantal dan selimut yang menutup tubuhnya dari dinginnya malam.
"Kak, Kakak belum tidur?" tanya adikku.
"Belum. Kakak masih ingin membaca biodata ini," jawabku. Duduk membelakangi adikku.
"Besokkan masih bisa di baca lagi, Kak," kata adikku. "Ini sudah malam. Besok Kakak terlambat berangkat sekolah," lanjut adikku.
"Kakak masih ingin membacanya," balasku sambil melihat biodata yang masih kupegang.
"Kakak serius sekali. Padahal 'kan, itu cuman sekedar biodata," celetuk adikku.
"Iya, Kakak masih ingin membaca nama Ibu. Kakak baru tahu kalau nama Ibu itu ini!" Aku menunjuk dan menatap biodata lekat.
"Nama Ibu?" tanya adikku dengan penuh tanda tanya.
"Iya," jawabku.
"Emang nama Ibu, siapa?" tanya adikku ingin tahu.
"Helena," jawabku singkat.
"Apa Kak?" Adikku seakan terkejut mendengarnya. "Helena," ucap adikku mengulanginya. "Cantik sekali Kak nama, Ibu. Pasti Ibu orangnya cantik?!" sambung adikku dengan penuh tebakan.
"Mmm, Kakak rasa iya. Pasti Ibu cantik?!" Aku memutar sedikit badan melihat adikku.
"Pantesan Ayah dulu tidak mau menikah, Kak," kata adikku pelan, seakan dia melamunkan sesuatu tentang ibuku. "...kalau tidak di jebak oleh Ibu kesayangan Kakak itu!" timpal adikku dengan santai.
"Ssttt! Jangan bilang begitu, Dik," ucapku berbisik melarang adikku. "Jangan sok tahu. Nanti dengar Ibu, bagaimana?" Aku memutar badan kembali melihat adikku, bertanya.
Adikku pun langsung terdiam sedikit menyesal dengan apa yang telah diucapkannya. Aku sangat terkejut karena adikku begitu berani belakangan ini mengatakan, kata-kata itu dan hingga saat ini, aku masih menatap adikku yang tidak terduga akan perkataan yang dilontarkannya.
Sebenarnya adikku tidak salah mengatakan itu. Kalau ayahku menikah dengan ibu pengganti kami karena jebakan. Akan tetapi, sebagai anak dan sebagai Kakak, aku tidak pantas mendukung adikku untuk mengatakan perkataan yang tidak mencerminkan kebaikan dan aku juga harus bisa menjaga nama baik ayahku di depan ibu pengganti kami. Meskipun terkadang aku sangat membenci perilaku dari ibu sambung kami itu.
"Maaf Kak," jawab adikku. "Aku janji tidak akan mengatakan itu lagi." Adikku menarik selimutnya dan menutup separuh wajah mengakui kesalahannya. "...tapi untuk di rumah saja, Kak," timpal adikku kembali membuatku kesal.
"Apa?!" Aku kembali terkejut dengan kedua bola mata melebar. "Kau ini sangat menyebalkan, Ana!" kataku pelan menahan nada suara sedikit sambil menggigit kedua geraham dengan kuat.
Hahaha ! Adikku pun langsung tertawa sambil menutup mulut dengan selimutnya agar tidak terdengar lagi suaranya dengan keras keluar.
"Kau memang sangat berani Ana... ." Tatapanku yang tajam melirik adikku. "...kau tidak takut dengan siapa pun, Dik," celetukku menggeser tubuh dan mencubit pipi adikku dengan geram.
"Tapi, benar 'kan, Kak... aku tidak salah 'kan, hahaha!" Tawa adikku semakin sumringah memenuhi langit-langit kamar kami. "Kak, sebaiknya simpan dulu biodata, Kakak itu! Nanti sobek," katanya sambil menutupi wajahnya. "Kak... ." Adikku pun mengeluarkan sedikit kepala mengintipku dari balik selimut. "...kalau itu sobek. Ayah pasti tidak akan mau lagi menulisnya?!" tutur adikku dengan penuh keyakinan.
Sementara aku yang masih ingin membacanya belum mau menyimpannya di dalam tas sesuai perintah adikku masih terus saja mencubit pipi adikku yang bijak.
"Ini tidak akan sobek," ucapku menatap biodata yang terletak di tempat tidur. "...'kan, Kakak letakkan di sini!" ujarku.
Adikku yang semakin suka menjahili. "Terserah Kakak lah. Yang penting sudah kuingatkan." Dia pun kembali menutup wajahnya dengan selimut.
Malam yang semakin larut. Canda gurauan antara aku dan adikku pun kini telah berakhir. Adikku pun sekarang telah tidur dengan nyenyak. Sementara aku yang masih memandangi biodata belum juga ingin tidur.
Nama ibuku yang tertera seakan mengingatkan aku akan masa kecil yang dulu di saat bersama dengan ibuku. Meski aku belum bisa mengingat dan mengenalnya. Nama ibuku kini seolah rasanya merasuki kalbuku hingga mendalam. Seakan aku merasakan, kalau ibuku sekarang sedang ada bersama dengan ku. Duduk di sini menemani putrinya yang telah lama merindukannya. Belaian tangan lembutnya seakan membelaiku dan menemani tidurku yang panjang.
Hari ini hatiku rasanya sangat bahagia kehadiran sosok seorang ibu yang kurindukan selama ini seakan hadir menemani tidurku. Kesedihan yang selama ini kurasakan karena ditinggalkan olehnya terasa terobati malam ini. Setengah kesadaran pun seketika bangun setelah aku lelah melamun panjang mengingat ibuku.
Aku pun menyimpan lembaran kertas yang telah tertulis biodata itu dengan rapi ke dalam tas. Tas ransel yang tergantung pun kuletakkan di atas tempat tidur dan kubuka lalu memasukkan lembaran kertas itu ke dalamnya.
'Sudah siap,' bisikku pelan pada diriku sendiri. 'Sekarang aku akan tidur,' kataku pelan sambil memutar kepala melirik adikku yang telah nyenyak tidur.
Setelah biodata kusimpan. Aku pun naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuh mungil ini langsung. Kepala yang telah kujatuhkan di atas bantal menatap langit-langit kamar. Sejenak aku menyempatkan melihat ke samping sambil menarik selimut, di mana adikku telah bermimpi.
Setelah aku melihatnya begitu nyenyak. Tidak berapa lama aku lalu memutar kepala menatap kembali langit-langit kamar sambil memejamkan kedua mata .
Awal pagi yang indah. Di mana, seperti dulu sewaktu aku pertama kali masuk sekolah. Aku selalu bangun lebih awal dari adikku. Suara berisik kelentengan sendok dari dapur pun terdengar membangunkanku langsung dari tidur. Tidak lupa aku membangunkan adikku terlebih dulu sebelum aku keluar dari kamar. "Ana, Ana, bangun," teriakku menarik selimut adikku sedikit. "... hari sudah pagi," kataku dengan keras dan kemudian meninggalkan adikku setelah beberapa saat tidak kunjung mau bangun.
Ayahku yang seperti biasanya selalu sibuk dengan rutinitasnya yaitu, memasak sarapan pagi terlihat sibuk mondar mandir seorang diri.
__ADS_1
"Ayah," panggilku dari belakang.
"Assalamualaikum, selamat pagi Anak Ayah." Ayahku langsung memutar badan melihat ke arahku. "Pergi mandi sekarang, Nak!" Ayahku memutar badan kembali menyelesaikan masakannya.
"Iya Ayah," jawabku segera beranjak mengambil sabun dan handuk. "Ayah, tapi Ana belum bangun?!" kataku memutar kepala melihat ayahku.
Ayahku seketika memutar kepala kebelakang melihatku seakan terkejut mendengarnya. "Adikmu belum bangun?" tanya ayahku terkejut.
"Iya, Yah," jawabku.
"Kenapa kau tidak membangunkan Adikmu, Nak?" tanya ayahku menghentikan masakkannya.
"Ana terlalu payah di bangunkan, Yah," balasku melangkah keluar.
Ayahku seketika gelisah ketika mendengar yang kukatakan dan dia pun bergegas memaksaku untuk membangunkan adikku. "Liyan, sekarang masih jam segini," kata ayahku melihat ke arah jam dinding yang tergantung.
Aku yang sudah jengah melihat adikku. Memutar badan kembali masuk membangunkannya yang masih terlelap. "Iya, Yah," jawabku dengan sedikit berat di dalam hati.
Sabun dan handuk yang tadi kupegang kini kuletakkan kembali di atas tanah dan handuk pun kembali aku gantung di paku yang terpacak tepat di samping pintu dapur kami.
"Liyan, bangun 'kan, adikmu dengan benar, ya!" pinta ayahku dengan sorot mata yang tajam.
"Baik, Yah," jawabku. Berjalan dengan kencang mengayun kaki yang sedikit gontai di bawah kesadaran yang belum penuh. Tirai kamar pun aku sikap. "Ana, bangun," teriakku dengan keras. "Ana, bangun kata, Ayah. Ini sudah pagi." Aku menggoyang-goyang tubuh adikku. "... nanti kita terlambat," teriakku memenuhi setengah ruangan kamar.
"Tidak Kak. Aku masih mau tidur. Ini 'kan hari minggu," rengek adikku.
"Tidak Ana. Ini tidak hari minggu... hari minggu itu semalam." Aku menarik lengan adikku dengan kuat agar dia duduk.
Praaak!
Adikku pun terduduk langsung. "Kak, aku masih ingin tidur." Adikku ingin menjatuhkan kembali tubuhnya.
"Ana! Jangan tidur lagi." Aku menahan tangan adikku dengan kuat.
"... kalau begitu aku libur aja, Kak," tukas adikku.
Aku yang semakin gerah melihat adikku. "... Kalau begitu Kakak panggil Ayah." Aku memutar kepala dan berteriak. "Aaay... ."
"Kaaak! Jangan panggil Ayah. Aku takut." Adikku segera menepis selimut dan turun dari tempat tidur. "Mari Kak. Kita mandi sekarang," ucap adikku menarik lenganku berjalan.
Akhirnya, aku dan adikku pun berjalan menuju sumur untuk mandi. Udara pagi yang seperti biasa selalu terasa dingin menusuk kulit ini hingga membuat bibir ini keluh dan tidak bisa bersuara dengan lantang. Menemani langkah ini.
Ayahku yang masih saja sibuk dengan sarapan pagi yang harus disiapkannya tidak begitu melihat kami dan banyak bertanya lagi. Aku yang membawa adikku bersamaku mandi hanya melihat ayahku sekilas saja.
Pagi ini aku yang memulai hari menjadi lebih baik bergegas secepat mungkin untuk bersiap ingin berangkat ke sekolah.
"Iya, tapi Ana, Kakak harap kau hari ini cepat sedikit bersiap," harapku dengan penuh permohonan.
"Kakak tenang saja. Aku sudah siap, kok." Adikku langsung berdiri di sampingku sambil membawa tas.
"Kalau begitu, ayo kita sarapan!" ajakku. Berjalan.
"Ayah sudah menyiapkan semuanya." Adikku melirikku.
"Iya. Ayah hari ini, sepertinya memasak nasi goreng kampung dan telur dadar ke sukaan kita," kataku sambil berjalan. "Itu 'kan, makanan kesukaan kita setiap pagi," kataku dengan tersenyum.
"Mmm, Kakak betul." Adikku terus berjalan sambil menaikkan alisnya.
Kami berdua pun kini telah tiba di depan sarapan yang telah terletak di atas meja. Nasi goreng kampung dan telur dadar kesukaan kami telah tersaji dengan aroma yang membuatku semakin lapar.
"Dik, ini adalah sarapan kesukaan kita," ungkapku kembali sambil mengayunkan piring ke udara menghirup aromanya yang lezat.
"Sekarang kita duduk di situ, Kak." Adikku menunjuk lantai yang sering kami duduki ketika makan sambil mengambil segelas susu.
Aku dan adikku pun langsung menjatuhkan tubuh ini duduk sambil meletakkan nasi goreng dan susu. Ayahku pun ikut menikmati sarapan juga. Pagi ini ayahku tidak seperti biasanya yang tidak pernah sarapan di rumah. Begitu juga dengan ibu sambung kami yang tadi tidak terlihat oleh kami kini telah duduk bersama kami sambil memakan nasi goreng kampung yang dimasak ayahku tadi. Ibu sambungku pun tidak lain dari kami yang membawa segelas susu juga di sampingnya.
Ini tidak seperti biasanya. Di mana ibu sambungku tidak pernah menyukai susu. Sementara dengan ayahku lain lagi. Ayahku yang ikut sarapan dengan kami hari ini meneguk secangkir teh manis yang setiap pagi selalu dia minum sebelum berangkat kerja.
Aku yang duduk dengan nasi goreng di depanku kini telah selesai dan beranjak bangun ingin berangkat sekolah.
"Ana, kayaknya kita sudah mau terlambat," ucapku. Menyandang tas.
"Iya Kak. Makanya kita harus berjalan dengan kencang," kata adikku pelan di telingaku memutar badan menyalam ayahku.
"Hmmm, kau benar," bisikku pelan di telinga adikku dan mencium punggung tangan ayahku yang telah berdiri di depan pintu.
"Assalamualaikum Ayah," ucapku dan adikku. Melangkah.
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati, ya Nak," jawab ayahku.
Kami berdua pun berjalan mengayun kaki dengan kencang. Seperempat perjalanan aku tersadar seketika. "Ana, Ayah tidak ada memberi kita uang jajan," kataku memutar pandangan ke samping melihat adikku.
"Iya, ya Kak," sambung adikku.
__ADS_1
Aku dan adikku pun bertemu pandang sambil mengayun kaki ini dengan cepat. "Mungkin uang Ayah tidak ada," imbuhku.
"Iya, aku pikir begitu juga, Kak," sahut adikku dengan lesu. "...tapi aku tidak bisa tidak ada jajan, Kak." Adikku dengan sedih mengatakannya.
"Sebentar." Aku langsung merogoh kantong kecil tasku. "Nah, ini untuk mu." Aku menyerahkan uang 500 perak pada adikku.
Adikku pun langsung memelas. "Segini , Kak." Adikku sedikit shock melihatnya. "Kak ini bisa beli apa?" tanya adikku pilu.
"Ana, itu cukup untuk beli permen," kataku. Menatap adikku kemudian melempar pandangan melihat jalan lurus ke depan.
Sepanjang perjalanan yang kami lalui dengan kesabaran. Akhirnya, kami berdua pun sampai di gerbang sekolah yang hampir setiap saat kami lalui untuk menuntut ilmu.
Anak-anak telah banyak yang berdatangan. Mereka sangat ceria dan bahagia di pagi ini. Simpulan senyum manis pun tersirat di wajah ini melihat tawa dari anak-anak sekolah yang ceria.
"Kak, pintu kelasku telah terlihat." Adikku melihat lurus ke depan.
"Iya, sebentar lagi kau akan sampai," kataku melihat adikku dari ekor mata. Berjalan.
Suara gemuruh tawa anak-anak pun semakin jelas terdengar. Suara sapu lidi yang menyeret sampah pun terdengar berjalan membuang sampah ke tempatnya. Sementara anak-anak yang lain pun ada yang mencari kesibukannya sendiri.
Dari mereka ada yang terlihat berlari berkejar- kejaran untuk mengisi waktu yang masih kosong. Ada yang duduk di pinggiran pagar untuk menunggu bel berbunyi. Ada juga yang masih berjalan sambil menyandang tas khususnya, seperti diriku.
Langkah pun semakin kencang aku ayun. Sementara adikku yang tadi berjalan bersamaku kini telah menghilang meninggalkan aku lebih dulu. Dia kini telah terlihat berjalan bersama temannya dan tidak lagi menyandang tasnya kulihat.
"Liyan," tegur seorang anak dari belakangku.
Aku pun sontak memutar badan membalik ke belakang dan melihatnya. "Fikri," bisikku pelan.
"Liyan, biodatamu sudah siap?" tanya Fikri berjalan bersama dengan ku.
"Iya, sudah Fikri," jawabku.
"Aku juga sudah siap," sambung Septiani memotong jalanku.
"Iya karena hari ini akan di kumpulkan semua," balas Widia.
Kami berempat yang berjalan sambil berbincang kini telah tiba di depan pintu kelas. Aku yang lebih dulu masuk ke dalam kelas sedikit pun tidak mendapat perlakuan hangat dari Widia dan Septiani. Mereka berdua masih saja bersikap dingin kepada ku. Meja yang kulalui seakan membisu dan tidak mau melihatku sama sekali.
"Jangan lama-lama di dalam kelas! Sebentar lagi bel akan berbunyi," teriak Rasyd sebagai wakil ketua kelas mengingatkan kami.
"Iya," jawab kami.
Aku yang meletakkan tas di atas bangku melihat Widia yang bersikap dingin berdiri di luar tepat di samping bangkunya. Aku yang melihatnya begitu gugup seakan aku adalah orang asing yang bertemu dengan orang asing juga.
Teng! Teng! Teng!
Bel pun berbunyi. Sudah seperti biasanya kami selalu berkumpul di luar tepatnya di lapangan sekolah untuk menjalankan upacara bendera yang setiap hari senin rutin dijalankan kecuali ketika hujan deras.
Aku pun bergegas lari dengan kencang untuk menghadiri upacara bendera. Di dalam barisan aku masih sama saja merasakan, seperti orang asing. Kedua sahabatku Widia dan Septiani begitu menjaga jarak dengan ku. Mereka tidak mau berdiri berdekatan dengan ku seakan aku seperti virus yang membahayakan.
Upacara yang berjalan dengan hikmat pun kudengarkan sampai selesai di tengah matahari yang terik menyengat tubuh ini. Aku terus saja menatap lurus ke depan melihat petugas upacara yang menjalankan upacara sampai selesai.
"Barisan di bubarkan!" teriak dari pembawa upacara.
"Bubar barisan jalan!" Terdengar suara pemimpin upacara dengan lantang berteriak membubarkan barisan.
Aku pun berserta teman yang lainnya memutar badan untuk meninggalkan lapangan upacara. Widia dan Septiani yang terlihat dingin berjalan beriringan masuk ke dalam kelas. Sementara aku yang berjalan di belakang mereka menatap nanar dengan sedikit pandangan kosong. Perubahan sikap yang derastis dari kedua sahabatku bagaikan sayatan pisau tajam yang menyayat hati ini hingga ingin meneteskan air mata.
"Liyan, tolong geser sedikit tubuhmu," pinta Widia yang berjalan bersama dengan ku.
Aku sontak terkejut mendengarnya dan tidak menyadari yang terjadi. Aku hanya diam menggeser tubuh ini sambil mengangguk.
Ruangan kelas yang adem pun telah terlihat di masuki oleh beberapa temanku terlebih dahulu. Mereka yang telah menaruh kertas dia atas meja refleks mengingat 'kan aku akan kertas tersebut juga.
Biodata yang diminta oleh Bu Dona kini telah siap untuk aku berikan pada Fikri. Aku yang duduk di bangku membuka tas dan mengambil biodata dari dalam tas.
"Teman-teman! Mana biodata kalian biar dikumpulkan sekarang. Sebelum Bu Dona masuk," teriak Fikri berjalan sambil mengutip biodata.
"Ini Fikri." Aku menyerahkannya.
"Yang lain sini!" pinta Fikri dengan sifatnya yang suka tegas.
Sesudah semuanya terkumpul. Bu Dona pun tiba-tiba hadir di depan pintu kelas kami. "Anak-anak! Selamat pagi!" ucap Bu Dona dengan wajah ceria.
"Selamat pagi juga, Bu," jawab kami serempak.
Fikri yang telah selesai mengumpulkan semuanya kini langsung menyerahkannya pada Bu Dona.
"Terimakasih, Anak-anak telah mengumpulkan biodatanya," jawab Bu Dona dengan sumringah.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...