
Sepanjang sakit yang menggerogoti tubuh mungilku yang putih.Membuatku tak mengenal hari.Sepanjang saat aku hanya terbaring lemah diatas tempat tidur.Semakin hari. Semakin banyak kekurangan yang terlihat.Mulai dari fisik ku yang melemah. Mataku yang bengkak karena terlalu banyak tidur.
Angin luar yang berhembus membawa dedaunan beterbangan kini tak lagi kurasakan.Bintang- bintang malam yang berkedip memainkan mata diatas awan yang gelap kini tidak lagi kulihat.Sinar rembulan purnama yang terang tidak lagi kulihat dengan mataku yang sayu.
Hanya langit-langit kamar yang bisa kulihat sepanjang hari.Dinding kamar yang tak bersuara menjadi pelepas kesunyian ku dan menjadi teman setiaku setiap waktu.Pintu kamar yang sering ku lalui menatap ku dengan lirih dalam pembaringan.Suara hentakan kaki yang begitu terdengar oleh telingaku begitu berisik. Berjalan mengelilingi ruangan rumah kami.Namun,aku tidak bisa melihat siapa? Yang bersilewaran didekat pintu kamar ku.
Suara Ayahku dan adikku begitu hangat terdengar olehku sambil tertawa renyah.
Sesekali aku mendengar adikku berkata kepada ayahku dari balik dinding kamarku.
"Ayah,Ana besok pergi ke sekolah bawa bekal ya, Ayah."
"Ia,nak! Tapi kamu besok sekolah dengan betul, ya! Jaga dirimu baik-baik! Kakak kamu lagi sakit,engga ada yang menjagamu disekolah."
__ADS_1
Aku yang terkurung lemah mendengarkan pembicaraan mereka dari balik dinding kamar.Segala pembicaraan apa pun yang berada diruang tamu pasti akan terdengar kedalam ruangan kamarku karena dinding kamarku hanya tersusun dari papan yang tidak padat.Bahkan didinding kamarku terdapat celah-celah kecil juga.
Denting jarum jam dinding yang terus berputar terdengar oleh telingaku seperti nyanyian penyemangat rindu untuk diriku.Mataku yang enggan terpejam terus melihat -lihat sekeliling kamarku.Seakan rasanya aku tidak akan lama lagi. Senyum kecil terus terlukis di bibirku yang tipis.
Ayahku yang melihat kondisiku. Menghampiriku dengan memberikan simpati yang positif untuk diriku." Nak! Besok kita akan pergi berobat,ya! Ayah sudah dapat kabar baik dari teman Ayah.
Bahwa,teman Ayah katanya, pernah ada salah seorang dari keluarganya yang mengalami sakit seperti kamu ini juga.Alhamdulilllah sembuh! Di bawa berobat ke dokter ini. Jadi,dia menyarankan kepada Ayah untuk membawa kamu berobat kesana.Jadi,besok kita akan pergi kesan. Aku hanya menatap ayahku dengan lirih.Mataku yang sudah sayu rasanya tidak begitu jelas melihat wajah sedihnya. Dalam penglihatan ku yang samar.Ayahku begitu sedih melihat kondisiku yang terus melemah.Wajahnya yang bingung dan khawatir terus saja memuncak di pelupuk matanya.Mata lelahnya yang begitu cerah kini terlihat redup karena melihat kondisiku yang semakin hari semakin melemah.
Adikku yang manja yang sering diperhatikannya kini tidak lagi dihiraukannya.Setiap hari ayahku hanya memikirkan tentang diriku saja.Kasih sayang yang dulu tidak begitu sering aku dapatkan kini setiap hari tercurah kepadaku. Dengan dalam keadaan kondisi yang lemah.
Tidak jarang kalau adikku mengajakku untuk bermain boneka didalam rumah."Kak,kita main boneka, ya! Biar kakak jangan tidur aja." Kata adikku sambil menyerahkan sebuah boneka ketanganku.Tubuh lemahku pun aku paksa sebisa mungkin untuk bangun dari pembaringanku.Senyum ceria pun kini terlukis di wajahku yang pucat.Tubuh lemahku pun rasanya begitu segar dan seakan aku merasa bahwa aku lagi sehat.
Hahaha! Tawa adikku pun terdengar begitu riang memenuhi ruangan kamar ."Emang kamu tidak sekolah dek?" Menatap adikku yang memainkan bonekanya sendiri sambil berbicara. "Sudah kak! Emang kakak tidak tahu kalau aku tadi sekolah?! Makanya kakak jangan didalam kamar aja. Sesekali kakak keluar dari dalam kamar biar kakak lihat diluar sana banyak anak-anak yang bermain."Dengan asyik memainkan bonekanya.
__ADS_1
Telingaku yang mendengar apa yang dibilang oleh adikku.Mulutku hanya bisa diam. Menatap ruangan dari pintu kamar yang terbuka lebar."Kak,ayo sesekali kita keluar bermain! Kakak kan tidak sekolah.Biar aku bilang sama Ayah nanti! Kan, kalau aku bicara sama Ayah, Ayah pasti akan mengizinkannya." Dengan polos adikku menunjukkan wajahnya kepadaku."Mana mungkin dikasih Ayah dek." Kataku dengan pesimis. "Karena Ayah kan tidak pernah mengizinkan kakak untuk keluar rumah bermain diwaktu sehat." Apalagi, diwaktu kakak sakit? Mana mungkin Ayah mengizinkan kakak dek." Menatap kosong ruangan yang terlihat dari pintu kamar.
Permainan kami begitu menyenangkan diatas tempat tidur. Boneka yang lucu menjadi temanku hari ini.Senyum pun terus terukir indah disudut bibir kecilku yang tipis dan merah.Adikku yang terus menjalankan bonekanya kesana kemari sambil tertawa dengan ceria.Seoalah pada hari ini rasanya aku tidak pernah mengalami sakit apapun.
"Kak,ayo mainkan bonekanya! Kakak jangan diam aja."Sambil memberikan boneka kecil yang mungil kepada ku.
"Tapi kakak sudah lelah dek.Kakak mau istirahat saja.Melempar boneka ke sudut tempat tidur.Adikku mengambil boneka yang terlempar dan memberikannya kembali kepada ku."Jangan kak! Nanti, Ayah marah kalau kakak tidur saja." Menatapku lekat."Mana mungkin Ayah marah dek, kakak kan sakit!" Kata ku dengan protes kepada adikku yang keras kepala."Kakak itu engga boleh tidur saja! Ingat kata Ayah.Dengan wajah polos aku mengingat apa yang disampaikan Ayahku sebelum dia pergi untuk bekerja."Ana,nanti sepulang sekolah! Temani kakakmu biar dia tidak terus-menerus tidur! Jangan pergi kemana-mana kamu nanti,ya! Ayahku ternyata mengatakan itu dengan tegas dan adikku masih mengingatnya sampai sekarang.
Aku pun melawan kedua mataku agar tidak tertidur sambil menahan kepalaku yang terkadang menunduk ingin tidur. Berusaha aku menahannya.Karena kalau aku tidur adikku pasti akan mengadu kepada ayahku dan sudah pasti! Ayahku akan marah besar.
Sementara dari dalam kamar aku mendengar suara anak-anak yang seusiaku dan seusia adikku sedang tertawa keras begitu bahagia. Aku yang menatap diriku kini hanya bisa duduk diam diatas tempat tidur.Meskipun, sesekali aku keluar kamar namun itu hanya untuk sekedar melihat dunia luar.Adikku yang tadi duduk disampingku. Kini berlari melihat anak-anak yang bermain diluar.Aku hanya mendengar dari dalam kamar dengan memegang boneka.Mereka memanggil adikku. "Ana,ayo kita bermain!" Teriak mereka dengan kencang memanggil adikku dari balik pintu."Aku engga dikasih Ayahku keluar karena kakak ku lagi sakit." Dengan suaranya yang polos menolak ajakan temannya untuk bermain.Hati kecilku sebenarnya ingin sekali bermain dengan bebas selama aku belum sekolah.Tapi, apa dayaku. Aku tidak mungkin melakukannya karena kondisi tubuhku.Aku juga harus berjaga. Kalau sampai ada teman sekolahku yang melihat aku bermain. Pasti Ayahku akan malu. Karena mereka beserta guruku juga tahu kalau aku lagi sakit.
Begitu lama aku sudah tidak masuk sekolah. Bagaimana? Mungkin aku berani untuk bermain meskipun, hanya sekedar berjalan disekitaran halaman rumah kami.
__ADS_1
Bersambung......