
Puk!
Aku tiba-tiba tersentak karena aku merasa ada benda besar yang menimpaku. Refleks aku yang terkejut dan lekas membuka mata.
"Ana," kataku terperanjat dan bangun. Menatap adikku yang telah duduk dengan lurus dihadapanku.
"Kakak ini apa?" tanya adikku. Mengayunkan sebuah guntingan kertas origami berwarna merah.
Aku semakin menatap nanar adikku yang antusias ingin tahu. Bola mata pun berputar melihat ke bawah tepatnya di tempat tidur yang masih kami duduki.
"Ana coba lihat, itu apa?!" suruhku dengan nada suara sedikit kacau. Menunjuk kertas origami yang di pegangnya oleh kedua bibir dan bola mataku sebagai isyarat aku menyuruh adikku sendiri untuk menebaknya.
"Ini kertas," balas adikku memberi jawaban.
Aku semakin tenang dan lega. Akhirnya, aku selamat, pikirku sambil mengurut dada dengan sebuah isyarat hembusan napas yang panjang.
"Tapi Kak, ini keras untuk apa?" tanya adikku menyelidiki. Sok bertingkah sebagai seorang detektif lagi.
"Ana, itu cuma keras origami," jawabku sebal. Melihat adikku yang tak kunjung jua berhenti bertanya. Melihat tempat tidur seolah aku ingin merapikannya.
Adikku semakin serius melihat potongan kertas yang diayunkannya tepat mendekati kedua bola matanya. "Kak, aku tau ini kertas... ," katanya dengan lekat menatap potongan kertas. Setelah beberapa detik dia kembali melihatku yang mulai menutupi kegugupanku darinya. "Pasti Kakak bermain 'kan?" tanyanya dengan sorot mata yang tajam. Seakan sorot mata itu menjawab kebenaran dari pertanyaannya yang bercampur curiga.
Bibir pucatku semakin gugup dan berusaha untuk mencari celah kecil agar bisa berpaling darinya. "Ana Ka... ." Aku langsung menutup mulut.
"Kakak kenapa bermain ini tadi malam?" tanya adikku. Mengambil anak Bp yang terlempar jauh dariku tepat di bawah boneka kesayangannya.
Aku semakin pucat pagi ini berselimut tubuh mungil yang masih kedinginan. Selimut yang aku tepiskan menjauh dariku tadi malam terlihat teronggok menunggu tangan ini menjamahnya.
"Kakak tadi malam pasti bermain ini, 'kan Kak?" tanya adikku dengan gurat wajah penuh tanda tanya. Menatapku lekat.
Huh!
Aku semakin menarik napas panjang dan membuangnya dengan kasar melihat adikku yang semakin antusias ingin mencari tahu tentang sebuah benda yang ditemukannya dan membuat dia penasaran.
Tubuh mungil yang lemah ini terpaksa mengikuti keinginan adikku dengan berat hati aku pun membuka mulut. "Ana, Kakak tadi malam mau bermain dulu sebelum tidur," kataku berterus terang. Melihat tempat tidurku yang ditutupi oleh selembaran kain.
Adikku langsung membuang potongan kertas yang dipegangnya dan anak Bp yang dia temukan di tempat tidur bonekanya.
__ADS_1
Plak!
Keduanya pun terlempar tepat di dekat kedua kakiku. Potongan kertas dan anak Bp itu hampir saja mengenai wajahku yang pucat dan tidak bersemangat.
"Kakak 'kan di suruh Ayah tidur. Bukannya main-main," cetus adikku keras. "Udah Kakak sakit. Gak bisa jalan, tapi Kakak malah main itu!" celetuk adikku menunjuk mainan yang teronggok tepat di dekat kakiku dengan kedua bola mata dan memonyongkan bibirnya.
"Ana, Kakak baru ini bisa bermain dengan mainan ini," keluhku. Mengambil anak Bp yang terletak tepat di dekat kakiku dan menatapnya dengan lirih. "Kakak udah lama gak pernah bermain ini lagi semenjak Ayah menegur Kakak dulu. Supaya gak bermain lagi," ucapku lirih. Melihat anak Bp yang paling aku sukai.
"Alah, Kakak pasti bohong lagi. Biar Ayah menghukumku," celetuk adikku sebal. Menatapku dengan wajah yang ketat.
"Gak, Dik," balasku mengiba.
Adikku dan aku kembali lagi bergulat dengan perdebatan yang tiada pernah usai. Semakin hari kami semakin bertengkar dengan perselisihan yang tidak terlalu serius.
"Kakak setiap hari bilang kayak gitu. Tapi apa?Aku dan Kakak malah di hukum," sungut adikku mengerucutkan bibirnya dan melayangkan tatapan ke arah yang lain.
Tubuh mungilku yang lemah semakin membeku setelah melihat adikku yang protes tentangku di saat dia melihat mainan sedikit mencolok.
Krek!
Sementara aku masih duduk diam sendiri di atas tempat tidur. Kain panjang yang menutupi mainanku segera aku buka dengan lekas. Segaris senyuman pun tertarik di bibir yang pucat ini ketika melihat anak Bp.
Perlahan tangan ini pun mengambil anak Bp yang aku sebut sebagai ibu. Anak Bp itu pun kemudian aku ayunkan setengah di udara.
"Ini adalah Ibunya," gumamku pelan menatapi anak Bp yang setengah mengayun di udara.
"Kak, ayo kita makan!" ajak adikku. Berdiri di depan pintu kamar, di ikuti oleh sebelah tangannya menyikap tirai dan sebelah kakinya lagi terlihat sedikit masuk ke dalam kamar. "Kakak harus makan. Soalnya aku lihat di meja Ayah ada obat," cetusnya.
Glek!
Anak Bp yang tadi mengayun di udara sontak terlepas dari genggaman tanganku.
"Ayah udah pergi?" tanyaku.
"Udah Kak. Ibu kesayangan Kakak juga udah pergi ," jawab adikku dengan panjang lebar. Memutar badannya spontan ketika mendengar aku menyebut nama ibu.
"Ana, tunggu sebentar! Kakak mau menyusun ini dulu," kataku. Memutar badan menyusuni mainan yang tertutup di dalam kain.
__ADS_1
"Kakak menyimpan mainannya di dalam itu?" tanya adikku dari belakangku.
"I-iya," jawabku sedikit gugup dan menyusunnya pun agak gugup juga. "Kakak pintar juga... ," katanya. "...bisa menyembunyikan mainan di dalam itu," sambungnya.
"Hehehe !" Nyengir. "Kakak tadi malam sudah ngantuk. Jadi, Kakak malas menyimpannya," terangku. Melirik ke belakang tepat di depan pintu kamar.
Adikku pun diam dan suaranya tidak terdengar lagi dari belakang menyahut. Bergegas aku memutar badan dengan cepat, di ikuti oleh kedua tangan dan bola mata menyusun mainan serta melihatnya.
"Ana," panggilku dengan keras. Di ikuti oleh kedua bibirku mengarah ke arah tirai yang tergerai. "Kau udah makan, ya?" jeritku kembali bertanya.
Suara sedikit pun tidak ada terdengar dari luar kamar menyahut ucapanku. Mainan pun aku taruh di tempatnya dengan rapi.
Krek!
Suara tirai kain pun terdengar aku buka dengan ringan ketika mengusik gendang telinga. Bola mata pun kubuka dengan lebar mencari tahu sekeliling ruangan. Apakah adikku ada di rumah atau sudah pergi keluar ?
Aku langsung panik dan berjalan memutari ruangan rumah yang kecil sambil membuka pintu dapur yang tertutup rapat.
Dar!
Suara kejutan adikku pun terdengar dari belakang. Spontan aku refleks memutar badan yang lemah ini ke belakang tepatnya mengarah ke arah pintu kamar ayahku.
"Ana, kau di sini? Kenapa kau gak menjawab kakak tadi?" tanyaku dengan nada suara parau orang yang lagi sakit.
"Aku 'kan ingin mengejutkan Kakak," jawabnya sumringah dengan raut muka manjanya yang imut.
"Iya. Tapi tadi di kamar Kakak 'kan memanggilmu. Kenapa kau gak menyahutnya ?" tanyaku geram.
"Aku malas Kak," jawab adikku acuh. Berjalan mengambil piring dan gelas. Di ikuti olehku dari belakang.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1