Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Pertemuan dengan olahraga


__ADS_3

Bu Dona diam lalu menyerahkannya padaku. "Sudah selesai?" Bu Dona bergumam bertanya pada dirinya sendiri. "Widia, kenapa kamu selalu risih kalau duduk di bangkumu. Apa di bangkumu ada durinya? Setiap saat kamu selalu bercerita, selesaikan tugasmu! Setelah itu kumpul. Waktu tinggal sedikit lagi." Bu Dona pun meninggalkan kami.


Bu Dona lalu kembali ke mejanya setelah pergi dari kami setelah itu aku segera menyimpan pensil ke tempat penyimpanan pensil. Aku kemudian menutupnya dan meletakkannya juah dariku lalu aku mengambil buku tulis yang terletak yang telah selesai kutulis kemudian aku membawanya ke meja bu Dona untuk nilai.


Begitu aku sampai, aku langsung menyerahkannya di hadapan bu Dona . "Tugas saya sudah selesai, Bu." Dengan suara lembut aku memberikannya.


"Bagaimana dengan teman sebangkumu? Apakah dia sudah selesai?" tanya bu Dona yang teringat akan yang tadi.


"Kata Widia, sedikit lagi Bu, baru selesai," jawabku segera memutar badan setelahnya Bu Dona hanya mengangguk dan menyuruhku untuk segera meninggalkannya sesudah itu aku pun pergi darinya kembali ke bangkuku.


"Liyan, kau cepat juga selesainya ?" tanya Fikri yang telah berdamai dengan diriku.


"Iya, aku tadi sudah membacanya terlebih dahulu. Jadi, aku hanya membaca sebahagiannya saja," jawabku segera ingin duduk.


"Kalau Widia, apa dia sudah selesai ?" tanya Fikri yang ingin mengusik Widia. Berdiri sambil meraih buku yang terletak di atas meja . Tertawanya yang jahil pun terbersit di hatinya yang polos. "Hei Widia! Tidak usah sedih dan merintih karena yang kubilang ' kan benar." Fikri dengan ketus sekali mengatakannya lalu dia keluar dari bangkunya menghantar buku ke meja bu Dona.


Langkah kakinya yang menghentak di bumi menggetarkan hatiku untuk mengikuti jejaknya yang semakin menjauh. "Widia, kau marah sama Fikri?" tanyaku setelah menjauhkan kedua mataku dari Fikri.


"Iya Liyan. Aku sangat marah padanya." Wajah Widia berubah menjadi bola api yang ingin membakar udara. "Dia selalu mengejekku. Aku sangat sebal melihatnya karena kalau dia di ejek oleh Septiani dia tidak pernah berani membalasnya, Liyan." Widia seakan ingin menghempak memukul bukunya ke udara.


"Widia, kau yang sabar, ya. Semoga Fikri masih ingat kalau kita itu bersahabat." Aku mengambil buku Widia yang terletak. "Sebaiknya, kau hantarkan saja tugasmu pada Bu Dona agar segera di nilai." Aku menggeser tubuh Widia agar dia keluar dari bangku.


"Liyan, sabar sebentar! Fikri masih ada di depan." Widia kembali menjatuhkan badannya di bangku.


"Kalau bel sudah berbunyi, Bu Dona tidak akan mau menerima tugas kalian lagi." Aku mendesak Widia agar dia turut mengikuti saranku.


Tatapan nanar kedua bola matanya pun melihatku dengan paksaan yang berat. "Kau benar juga Liyan," kata Widia memelas sambil mengingat dan mempertimbangkannya.


Aku begitu senang lalu mengayunkan tangan mempersilahkan Widia untuk maju. "Pergilah! Hantarkan bukumu." Mendorongnya.


"Iya, Liyan. Aku akan jalan, sabar! Jangan dorong aku. Nanti aku jatuh. Ibuku bisa marah padaku." Seakan Widia menjaga dirinya.

__ADS_1


"Oh, iya! Aku tidak ingat Widia, maaf." Aku merasa menyesal kemudian tidak berani untuk menunjukkan sorot mata melihatnya melangkah.


Huh! Widia langsung menghilang dari hadapanku. Aku yang berdiri melihat Widia menghilang, mundur menduduki bangkuku yang teronggok di sudut meja. Menyimpan buku dan mengeluarkan buku pelajaran selanjutnya.


Diriku yang seperti ketimpa membuka tas dan mengeluarkan buku penjas yang akan kami pelajari hari ini. Searah jarum jam yang berdenting aku membuka buku dan melihat pelajaran yang akan di pelajari sekarang.


Teng teng teng!


Bel pergantian jam mata pelajaran pun terdengar keras menampar gendang telingaku.


Suara bu Dona pun berbunyi. "Anak -anak sudah selesai semua 'kan?! Tidak ada lagi yang mengumpul. Waktu kita sudah habis."


"Bu, saya tinggal sedikit lagi, Bu. Tunggulah punya saya, Bu," jawab murid yang berlari mendekati bu Dona.


"Cepat! Bawa ke sini kalau ingin saya nilai. Waktu saya sudah usai, nanti guru yang lain marah karena mereka terlambat masuk." Bu Dona segera beranjak mempercepat tangannya menyusun barang-barangnya ke dalam tas.


"Ini Bu," teriak murid yang beradu memadati Bu Dona dari sepertiga kami. Napasku begitu sesak melihat mereka yang sesak.


"Kenapa kau bilang seperti itu?" tanyaku.


"Tidak ada apa-apa! Kalau kamu mengumpulkan sekarang pasti kau akan terhimpit oleh mereka." Widia mengagumi kecepatanku dalam mengumpulkan tugas.


"Widia, itu hanya kebetulan saja. Tidak ada siapa yang lebih cepat atau tidak antara aku atau mereka," ucapku dalam memantau situasi.


"Sudah ya, Anak-anak! Ibu permisi dulu. Semoga kita bertemu di lain waktu." Bu Dona langsung berjalan membawa tas yang sering menemaninya setiap hari.


"Bu ini lagi, Bu!" teriak murid yang terlalu lama bergerak.


Hahaha ! Aku tertawa lucu melihat tingkah jenaka temanku yang satu ini, selain Solihin. Berlari mengejar bu Dona dengan badan ingin melayang terbang ke udara.


Aku tertawa di bangkuku sambil membuka buku yang yang baru aku letakkan. Lenganku yang gemoy menyentuh buku dengan lembut dan membuka pelajaran penjas yang akan kami pelajari hari ini.

__ADS_1


Buku yang terletak di atas meja yang sejajar denganku terpaku menatap tawaku yang indah mengabaikannya.


"Assalamualaikum Anak -anak. Selamat pagi!" sapa suara yang melangkah masuk.


"Wa'alaikumussalam, Pak," sahut kami serentak bahagia karena pelajaran Bapak ini sangat menyenangkan terkhusus bagi teman-temanku akan tetapi begitu menyedihkan teruntuk diriku yang masih merasakan kepiluan.


Pelajaran olahraga raga adalah pelajaran yang paling banyak digandrungi semua orang baik dari kalangan anak-anak maupun dewasa.


Pelajaran ini banyak membahas masalah tentang kebugaran tubuh. Cara menjaga tubuh agar tetap sehat dan terlihat fit. Olah raga adalah kegiatan yang tidak terlepas dari kehidupan kita sehari-hari akan tetapi aku sedikit tidak bisa mengikutinya karena sakit yang menderaku. Rasa bahagia ketika mendengarnya tidak begitu membua merasuk ke dalam jiwaku yang relung sehingga aku tidak bisa mengeluarkan bahagia itu dengan refleks.


"Anak-anak, sekarang kita akan belajar bola kasti. Buat kalian semua, laki - laki dan perempuan sama harus ikut dalam olah raga ini.


" Olahraganya lama 'kan Pak?!" tanya Fikri dengan memecah kesunyian.


Guru olahraga raga kami yang telah mengetahui Fikri dia langsung bertanya. "Kenapa? Kamu suka diluar 'kan?! Berpetualang," kata Bapak itu seakan dia telah mengetahui maksud tujuan dari Fikri.


"Hehehe! Bapak tahu saja." Fikri langsung nyengir karena Pak Duan telah mengetahui maksud hatinya.


"Kita akan keluar hari ini," kata Pak Duan menatap Fikri dengan wajah keinginan mereka bersama. "Kalian akan bersenang-senang dengan permainan ini."


"Iya, Pak. Apalagi keluar," sambung Solihin di ikuti oleh senyum dari Rasyd.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏


❤️❤️❤️

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2