
Perbincangan yang penuh perdebatan yang terjadi selama dalam perjalanan akhirnya telah selesai dan tibalah kami di tengah lapangan yang sudah di penuhi oleh teman-temanku yang menunggu pak Duan untuk segera memulai olahraga yang kami sukai. Tidak beberapa lama, aku tiba di lapangan yang panas dan melihat mereka ada yang tertawa dan ada juga yang bercanda. Tawa sumringah begitu menghiasi lapangan yang penuh dengan sinarnya mentari.
Aku mendekat dan berdiri bersama mereka yang antusias ingin segera bermain.Tawa dan desakan dari temanku telah bergema mengaum di udara yang segera ingin berolahraga.
Aku kini terlah berdiri di lapangan menjawab tantangan dari Tania dan Ecy. " Liyan, jangan dengarkan mereka. Istirahat saja." Widia mendekatiku.
"Widia, aku tidak apa-apa. Aku bisa kok," kataku dengan pelan di telinga Widia.
"Liyan!" Tiba -tiba terdengar suara Pak Duan memanggil namaku. Aku segera menghampiri pak Duan.
"Baik Pak," jawabku berjalan masuk ke tempat yang telah di tentukan. Jemari lemahku tanpa kusadari meremas ruas sisi jari yang terasa kaku berselimut gemetar yang menyelubungi tatapanku yang nanar.
"Liyan, apa kamu masih sakit?" tanya Pak Duan yang segera ingin mendengar jawabanku.
"Tidak Pak." Aku segera menjawabnya.
"Liyan, kenapa kamu berbohong?" Widia berbisik dengan kesal.
"Siapa yang berbohong?" Aku langsung mengalihkan pembicaraan.
Wajah Widia tampak begitu terperanjat mendengar ucapanku yang rasanya sedikit tidak menyenangkan. Wajah polosnya nan cantik itu pun menunduk seperti, orang yang terlihat malu.
"Aku tahu kamu berbohong," gumam Widia meyakinkan.
"Widia, apa kau dan Liyan ingin berolahraga ?" tanya Rasyd menatapku dan Widia dengan penuh misteri. "Apa dia sudah membaik?" tanya Rasyd berbisik ingin tahu sebenarnya menunjukku dengan lirikan matanya.
Widia hanya menggelengkan kepala dengan rasa kecewa yang mendalam. Sementara Rasyd semakin penasaran melihat reaksi Widia yang terlihat seperti tisu, lemah tak berdaya. "Lalu, kenapa Liyan mengikuti kita berdiri di sini bukannya dia harus berdiri di sana?" bisik Rasyd melihatku dari ekor matanya dengan serius yang pada akhirnya mempertemukan kedua pandangan kami sambil melihat lorong kelas dengan kedua bola matanya.
Secepatnya, aku langsung menarik pandanganku dan mengalihkan melihat yang lain. Sementara, dari ekor mataku yang samar tidak senagaja melihat Widia menelan ludah kecewa atas pilihanku untuk ikut berolahraga dengan mereka karena sedikit ego menerima tantangan dari Tania dan Ecy.
Betapa kasihannya aku hari ini yang masih sakit, tetapi harus berpura-pura sehat seperti, layaknya anak -anak yang lain. Sambil menahan jeritan hati yang memberontak hingga merintih yang sebenarnya menginginkan penolakan atas keputusanku yang terbilang tidak masuk akal untuk anak seperti diriku yang masih dalam pengawasan dokter. Semua terlihat begitu buram tidak ada titik terang sedikit pun untuk aku agar bisa menghindar dari cengkeraman omongan Tania yang sangat pedas dan menusuk hati hingga terlihat seperti, puing-puing yang roboh tanpa adanya kehidupan kembali.
Sakit yang menggerogoti tubuh lemahku masih saja terlihat ramah menyapa tanpa kenal lelah. Sedetik pun, ia enggan untuk pergi meninggalkanku, sekalipun, aku sudah muak dengannya. Ia tidak memperdulikan kejenuhanku yang telah bosan melihatnya yang terus saja bertahan layaknya ia seperti, malaikat yang ingin selalu bersamaku dan menjagaku.
__ADS_1
Demi tubuh lemah ini aku harus kuat menapakkan kaki berdiri kokoh di atas tanah yang di naungi matahari yang terik. Ekspresi Wajah Widia dan Rasyd yang melihatku begitu tajam dan panik. Sepertinya, mereka begitu mencemaskanku atas pilihan yang akan membuatku sendiri malu dan tidak masuk akal.
Seperti orang asing yang baru datang aku terpaksa menjauh dan menggeser sedikit tubuhku dari mereka yang tidak senang melihat apa yang aku lakukan. "Entah bagaimana aku akan berbicara kembali dengan mereka?" Aku terus bergumam sambil melihat kaki yang melangkah. Lalu aku kembali memutar kepala kebelakang melirik mereka yang membuang pandangannya dariku. "Widia dan Rasyd pasti marah denganku?!" kataku di dalam hati.
"Liyan, kau mau kemana?" tanya Fikri yang tanpa kusadari telah mendekat denganku.
Sontak aku langsung terkejut dan menaikkan kepala dengan takut kalau Fikri juga akan sama seperti, Widia dan Rasyd yang akan memarahiku juga.
Sorot matanya yang begitu dalam menatapku seakan dia ingin tahu yang kulakukan. Tatapannya begitu sulit untuk aku tantang. Bola matanya yang tajam menusuk pandanganku, membuat jantungku gemetar dan tubuh ini keringat dingin. Kedua bibirku masih saja tertutup rapat seperti, terkena perekat yang kuat.
"Liyan, kau belum menjawab pertanyaanku," ucap Fikri masih saja berdiri di hadapanku.
"Aku...," melihat kesana kemari sambil memutar otak mencari alasan yang akan aku berikan untuk menjawab pertanyaan Fikri. "...lagi berjalan saja," jawabku dengan acuh.
"Apa?!" Fikri seakan terkejut mendengarnya sambil mengerutkan wajahnya. "Kau hanya ingin berjalan saja?!" Fikri mengulangi ucapanku. "Rasanya, itu tidak mungkin," kata Fikri yang menatapku dengan curiga. "Mana mungkin kau berjalan di sini. Sementara di sini untuk orang yang akan mengikuti olahraga. Setahuku tidak ada yang boleh berjalan di sini, kalau bukan orang yang ingin ikut olahraga," kata Fikri menegaskan kembali.
Mendengarnya membuatku semakin tersudut. Aku pun terus berjalan meninggalkannya tanpa sepatah katapun.
Namun, naasnya Fikri yang cerdik dan memahami sikap temannya. Dia langsung mengeluarkan perkataan yang membuatku tidak bisa berkutik sedikitpun.
Sambaran petir rasanya saat ini sedang menghampiriku yang membuat langkahku terhenti. Aku tidak bisa lagi berucap apapun, bahkan untuk mengikuti egoku yang kuat.
Dari tempatku yang cukup jauh dengannya, aku mendengar dia masih saja bergumam pelan yang terdengar di telingaku meskipun, samar.
"Fikri, apa kau marah denganku?" tanyaku membelakangi Fikri dengan suara sedikit gemetar.
"Tidak, aku tidak pernah marah denganmu Liyan. Bagaimana mungkin aku bisa marah denganmu sementara, kau adalah temanku yang baik," tandasnya.
"Lalu, kenapa kau masih saja bersuara di belakangku seorang diri?" tanyaku ingin tahu.
"Tidak, aku hanya menghapal pelajaran saja," jawab Fikri menyembunyikan yang sebenarnya.
Lagi -lagi, aku hanya bisa menguraikan senyum tipis, mendengar alasan Fikri yang berbohong menutupi yang sebenarnya dariku. "Benarkah?!" tanyaku pada Fikri meyakinkan diriku sendiri kalau yang dibilangnya adalah benar.
__ADS_1
Tidak berapa lama kebisuan antara aku dan ketiga temanku terjadi. Aku kembali melangkah ke depan layaknya seseorang yang ingin bergabung mengikuti olahraga.
"Ternyata, nyalimu besar juga ya, Liyan?!" celetuk Tania. "Aku pikir kau tidak akan mengikutinya, padahal kau sendiri 'kan masih sakit," lanjutnya.
"Kalau sampai dia terjatuh dan sakit, bagaimana Tania ?" tanya Ecy menatapku.
"Kau ini. Yang pastinya dia akan terjatuh, hahaha !" Suara tawa Tania terbahak.
"Pasti kita yang repot dong," keluh Ecy. "Sebaiknya, tidak usah dia ikut olahraga Tania. Aku tidak mau lelah karena dia," ucap Ecy.
"Lelah apa Ecy?" tanya Tania dengan nada suara tidak senang.
"Ikut mengurusnya, kalau sampai dia terjatuh," balas Ecy.
Kaki lemah yang memijak bumi ini masih saja diam, berdiri kokoh sambil menikmati ejekan dari mereka berdua akan diriku.
"Kalian tidak perlu takut. Aku tidak akan terjatuh kok, apalagi sakit," sambungku dengan nada suara pelan.
"Dia yakin sekali, kalau dia tidak akan terjatuh," kata Tania melihat ke arah Ecy. Bagaimana menurutmu?" Tania menaikkan kepalanya sedikit ingin mendengar jawaban dari Ecy.
"Aku tidak tahu, maafkan aku Tania," jawab Ecy menunduk sedih sebab dia tidak bisa memberi jawaban pasti atas pertanyaan yang dilontarkan temannya.
"Heeem!" Tania langsung cemberut sambil menelan kecewa dan memalingkan wajahnya dari Ecy seketika. "Aku tidak heran melihatmu," kata Tania.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya, 🤗🥰🙏
❤️❤️❤️
__ADS_1
Bersambung...