Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Memetik bunga


__ADS_3

Aku dan adikku pun segera masuk ke dalam kamar sambil melihat ke jendela sebentar. "Ana, harinya masih gelap." Aku memutar kepala melihat-lihat.


"Iya Kak, padahal hujannya sudah berhenti," sambung adikku.


"Tidak, itu... hujannya masih turun sedikit." Aku menunjuk ke udara.


Aku sangat menantikan hujan ini turun agar aku bisa berlari keluar bermain. Bunga yang tumbuh tepat di halaman rumah kami begitu mekar terlihat sehingga aku ingin sekali memetik bunganya. Bunga yang indah yang telah lama menarik perhatianku.


"Ana, kalau nanti hujannya sudah berhenti, ayo kita keluar." Aku memutar kepala ke samping kiri mengajak adikku.


"Ayah nanti marah, bagaimana, Kak?" tanya adikku. Berdiri melihatku yang sedang melihatnya.


"Ayah 'kan sudah tidur," kataku memutar pandangan ke arah dinding kamar kami yang bertepatan dinding kamar ayahku juga.


"Kita lihat nantilah Kak. Kita bisa keluar atau tidak," tandas adikku yang berdiri menatap lurus ke luar. "Ayah pasti akan memarahi kita, kalau melihat kita bermain di luar hujan-hujanan, Kak." Adikku menatap nanar dengan pandangan kosong.


Bermain hujan dan setelah hujan reda itu adalah kebiasaanku dulu sebelum aku di dera penyakit yang parah. Akan tetapi, itu tidak lagi sekarang. Semua hanya tinggal kenangan yang tersisa ketika hujan turun. Bermain hujan adalah hal yang sangat menggembirakan. Aku bisa tertawa puas dan bermain lumpur dengan teman-temanku. Semenjak sakit aku mendapat larangan keras dari ayahku untuk bermain di luar. Jika aku ingin bermain ayahku menyuruhku harus meminta izin dulu dan memberitahukan kepada dia tentang permainanku. Itu membuatku semakin sedih.


Anak-anak seusiaku yang terlihat berlari di tengah hujan yang setengah mau reda. Membawaku ingin segera berlari keluar mengejar mereka. Keceriaan mereka yang terlihat dari jendela kamarku membuat aku tersenyum manis dan seakan-akan aku ikut bermain bersama mereka.


"Hahaha!" Tawaku pun terdengar dengan jelas di tengah udara yang berembus dingin masuk ke dalam kamar. Tawa yang terdengar dengan jelas itu membuat mereka menoleh ke arahku. Seolah tawa itu terdengar jelas di telinga mereka.


Mereka pun berlari menghampiri aku dan adikku yang berdiri tepat di depan jendela kamar. Melihat mereka yang asyik bermain. Aku langsung berteriak dengan keras. "Heeiii! Kalian lagi bermain apa?"


"Liyan, kau tidak bermain hujan?" tanya mereka langsung berlari mendatangiku setelah mendengar teriakkan dan berdiri tepat di hadapanku.


"Tidak, kami tidak di kasih Ayah kami bermain hujan," jawab adikku langsung memotongnya.


"Apa kau tidak di marahi oleh Ibumu?" tanya adikku ingin tahu. Berdiri.


"Ibu kami tidak pernah memarahi kami bermain hujan. Asalkan kami tidak bermainnya jauh-jauh," ucap mereka.


"Kalau kau Liyan, apa Ayahmu juga akan memarahimu jika bermain hujan di sini saja?" tanya anak yang satunya lagi.


"Iya, Ayahku akan memarahi...apalagi aku 'kan, baru sembuh," jawabku dengan nada suara pelan. Melihat temanku yang bermain tanah di halaman kami.


"Liyan, 'kan, dari dulu tidak pernah di kasih keluar bermain," sambung anak yang satu lagi sambil mengambil tanah dan menumpukkannya hingga tinggi.


Mereka begitu bahagia terlihat. Masa kecil mereka sangat manis. Masa kecil mereka sama sekali tidak sama, seperti masa kecilku yang di renggut oleh penyakit yang bertahun. Selama satu tahun sakitku menghampiri. Selama itu pula, masa kanak-kanakku hilang di telan bumi, bahkan sesudah aku sembuh pun aku tidak mendapatkan lagi kebebasan untuk bermain layaknya, seperti anak-anak yang lain.


Adikku yang berdiri di depan jendela terus tertawa dengan riang melihat anak-anak yang bermain di halaman rumah kami. "Hahaha! Kalian lucu sekali," jerit adikku sambil tertawa riang.


Adikku yang ceria begitu senang melihatnya sehingga dia melompat-lompat kegirangan terbawa suasana anak -anak yang bermain lari-larian dan petak umpet.


"Kak, mereka enak sekali, ya? Bermain lumpur," ucap adikku dengan tertawa bertanya.


Aku yang bercampur aduk melihatnya. "Andai saja, Ayah melepaskan kita untuk keluar... ."Aku menatap anak-anak yang bermain dengan dalam. "...pasti Kakak akan bermain itu juga," dengan lirih aku masih menatap mereka.


"Kita kasihan sekali, Kak. Setiap hari selalu di kurung di rumah," cetus adikku dengan gurat wajah di tekuk.


Aku yang memutar kepala langsung melihat adikku. "Ana, tapi nanti kita pasti bisa kok bermain, seperti mereka," balasku menyemangati diriku sendiri dan adikku.


"Iya Kak. Aku harap Ayah juga hari ini memberi kita izin untuk keluar. Adikku dengan rileks mengatakannya dan melihat ke sana kemari, seperti mengendap -endap. Dia pun berjalan sesekali mengintip keluar dari balik tirai pintu kamar.


Adikku memang cerdik. Dia sangat pandai melihat situasi untuk mencuri waktu agar dia bisa bermain keluar sesuai keinginannya. Perlahan dia membuka tirai dengan pelan dan menarik lenganku untuk berdiri menemaninya. "Kak, berdiri di sini! Bantu aku untuk melihat Ayah," pinta adikku sambil melihat keluar.


Aku yang ingin bermain keluar juga mengikuti keinginan adikku. "Kak, aku melihat Ayah. Sementara Kakak melihat Ibu kesayangan Kakak itu!" perintah adikku dengan pemaksaan yang keras.


Aku ingin sekali mengikuti jejak adikku yang cerdik. Aku pun berdiri, seperti pengintai yang mengintai maling. Kami berdua pun berjalan perlahan sambil mengendap-endap dengan kedua bola mata yang liar melihat sekeliling.


"Ana, apa suara kaki kita tidak terdengar ?" tanyaku berbisik di telinga adikku.


"Sssttt ! Kakak jangan bersuara!" Bisik adikku berjalan dengan pelan-pelan sambil memasang kedua bola mata dengan lihai.


Kreeekkk !


Aku pun membuka pintu dengan pelan dengan tangan kananku. Sementara tangan kiriku masih berpegangan dengan tangan kiri adikku. Perlahan aku melangkahkan kaki kiriku duluan keluar yang kemudian diikuti oleh kaki kananku. Aku yang telah tiba di luar terlebih dulu berhenti melihat adikku yang menutup pintu dengan pelan.


Kreeek!


Jeglek!

__ADS_1


Adikku pun menutup pintu. "Hihihi !" Tawa adikku geli hingga menggelitik hatinya. "Kak, kita sudah diluar," bisik adikku pelan.


Setelah sampai di luar. "Ana, Kakak takut kalau Ayah dan Ibu tahu kalau kita di luar," imbuhku dengan kegemetaran yang mulai menganak di dalam diriku.


"Kakak jangan takut. Aku jadi takut juga," sahut adikku menghentikan langkahnya dan menatapku dengan gusar. "...tadi Kakak berani, sekarang kenapa Kakak takut?" keluh adikku bertanya.


Gurat wajahku yang cemas menatap dinding rumah kami yang telah kami lalui sampai keluar. Aku begitu sedih bercampur panik karena telah berani melangkah keluar dengan diam-diam.


"Kak, ayo cepat kita ke sana!" ajak adikku menunjuk bunga yang banyak.


"Kakak takut, Dik," ungkapku masih bertahan diam di depan pintu.


"Ayah sama Ibu kesayangan Kakak tidak akan melihat kita, ayo Kak!" Adikku menarik lenganku dengan kuat.


Brak!


Aku pun tertawa dengan refleks mengikuti langkah adikku yang kencang. "Anaaa," jeritku dengan keras sambil melepaskan genggaman tangan adikku yang memegang lenganku dengan erat.


"Aaaaagh!"


Baugh!


Plak!


Aku pun terjatuh dengan keras terjerembab. Bajuku yang tadi kupakai kini telah kotor dan terkena lumpur. "Iiiiissss!" Aku melihat bujuku yang telah basah dan kotor. Aku yang sangat geli melihat lumpur yang menempel seketika bangun dari atas lumpur.


"Hahaha!" Tawa anak-anak yang melihatnya pun langsung tertawa mengejek.


"Hihihi! Ptfff!" Adikku pun ikut juga tertawa meskipun sesekali dia menutup mulut untuk menahan tawanya.


"Mmm, Kakak kenapa bisa jatuh?" tanya adikku seakan mengejek sambil melihat pakaian hoodieku.


"Ana, Ayah pasti akan memarahi Kakak," sesalku dengan mendalam. Melihat baju hoodieku yang sudah tidak layak untuk di pakai.


Adikku sejenak diam ketika melihat sesalanku. Dia pun menatapku seakan berpikir. "Kak, kalau tidak! Kita sama saja!" ujar adikku langsung bertindak.


Aku yang berdiri dengan kesedihan serta kepanikkanku menatap adikku dengan bengong.


Adikku langsung mengambil kotoran lumpur yang menempel di bajuku dan menempelkannya di hoodienya.


"Naaah!" Adikku dengan senang berteriak sambil menaikkan alisnya. "... sekarang kita sama, Kak," tandas adikku.


"Jadi, kita akan sama di marahi Ayah." Aku menatap adikku dengan melongo karena kecerdikannya.


Adikku hanya menyimpulkan senyum. "Sekarang, kita ayo ke sana, Kak!" ajak adikku sambil menarik lenganku berjalan dengan kencang menghampiri bunga yang rimbun.


"Kak, bunganya indah sekali." Adikku dengan terperangah menatapnya. Kedua bola matanya langsung melebar dengan ceria.


"Iya, Dik. Kakak sangat senang melihatnya," tuturku menatap bunga berkeliling sambil memetiknya. "Coba lihat, Dik! Bunganya indah sekali," cetusku menganyunkannya di udara.


"Hai, teman-teman, kemarilah!" teriakku dengan senang.


"Ada apa, Liyan?" tanya mereka.


"Apa ada yang aneh?" tanya salah seorang dari mereka yang berdiri dengan penuh menyelidik.


"Aku ada bunga," ungkapku dengan bahagia.


"Iya, kami ada bunga. Bunganya cantik dan harum lagi," terang adikku sambil menunjukkan kepada mereka.


"Alaaa, aku pikir entah apa?" keluh yang satunya.


"Rupanya bunga," sambung yang satunya dengan kesal.


"Iya, tapi bunganya indah," imbuhku dengan antusias menatap bunga yang telah kupetik.


"Iya, bunganya cantik juga, woyyyy," teriak Andrini tiba-tiba berdiri di belakang kami.


"Iya kan, Kak?! Cantik 'kan?!" Adikku mengayunkan setangkai bunga yang dia petik di udara tepat di hadapan Andrini yang telah lama tidak pernah berjumpa dengan kami.


"Kak Liyan," panggil Andrini.

__ADS_1


"Iya," sahutku.


"... kita sudah lama tidak bertemu 'kan?!" tanya Andrini.


"Iya, kau benar," jawabku dengan nada suara datar sambil menikmati setangkai bunga yang pertama kali aku lihat.


Aku begitu senang dan hatiku begitu bahagia melihat bunga mekar yang berbentuk seperti, kelopak yang indah.


Hahaha ! Tawa kami pun terdengar mengaum di udara dengan bahagianya. Hari ini hatiku begitu bahagia dan senang. Bunga yang indah berkelopak merah ini telah berhasil membuat kecemasan akan ayah dan ibu sambungku hilang dengan sekejap.


Tawaku pun semakin terlihat melukis di wajah yang bersedih karena hoodie yang telah kotor. Namun, itu tidak membuat aku semakin larut dalam kesedihan dan meninggalkan bunga yang ingin aku petik.


Adikku yang cerdik dan selalu bersama denganku dalam ke adaan suka dan duka menjadi teman sejatiku. Aku begitu senang karena mempunyai adik yang selalu ada untukku dan mendukungku dalam keadaan apapun.


Artinya, aku adalah bagian dari dalam hidup adikku. Ketika aku sedih adikku pun ikut bersedih dan sebaliknya ketika adikku bersedih aku pun ikut bersedih juga. Oleh sebab itu, hari ini ketika hoodieku kotor terkena lumpur adikku pun ikut bermain lumpur juga mengambil lumpur dan menempelkannya di hoodieenya juga.


Kekompakkan kami yang terjalin saat ini begitu membuatku bahagia. Kerap kali kesedihan yang singgah di dalam hati ini selalu hilang dengan sendirinya.


Aku, adikku, Andrini dan teman yang lain pun ikut bergembira ria bermain bunga hingga tanah pun tertimbun oleh kelopak bunga yang berwarna merah.


"Asyiiik! Bunganya banyak sekali," teriak kami berlari di tengah halaman yang basah.


"Kak, tangkainya aku buang di sini, ya?!" Andrini melemparkan tangkai yang telah gundul.


"Halamannya, kotor." Adikku berputar berjalan mengelilingi halaman yang kotor. "Kak, baju Kakak basah," singgung adikku dengan setangkai bunga yang dia cabut satu per satu


dari kelopaknya.


"Iya, Dik," jawabku. Melihat bunga yang berserakan di halaman. "Sebentar, ya!" Aku berlari mengambil sapu lidi yang terletak di dekat dinding rumah kami.


"Awas!" Aku menyapu halaman dan menyuruh mereka menjauh. "... kalian bermainnya di sana saja, ya!" Aku menunjuk halaman yang bersih.


Hujan pun kian mereda. Sampah yang aku sapu pun sedikit lengket dan sukar. Kelopak bunga dan putiknya berserakan entah sampai kemana. Aku pun begitu kewalahan menyapunya.


Tanah yang basah pun ikut menyipak ke kakiku sehingga kakiku jorok di penuhi oleh lumpur. "Heiii! Jangan mengotori halaman ini lagi, ya!" jeritku berteriak melarang mereka yang memetik bunga.


"Daunnya jangan di petik. Nanti Ibuku marah," tegurku kepada mereka yang berdiri tepat di dekat pohon bunga.


Sapu lidi yang menyapu tanah dengan bersih kini telah aku kembalikan ke tempatnya semula. "Tunggu aku, ya! Aku menaruh sapu ini dulu!" Aku berlari kecil membawa sapu dan meletakkannya di dekat dinding rumah.


"Kak, harinya dingin, ya!" kata Andrini yang telah kedinginan.


"Kakak, pulang saja! Kalau kedinginan," saran adikku yang masih menikmati sisa-sisa hujan yang turun.


"Iya Andrini, nanti Ayahmu marah," ucapku. Sok mengingatkan.


"Tapi, aku masih ingin bermain dengan Kak Liyan," cetus Andrini menghampiriku. "...aku sudah lama tidak bermain dengan Kak Liyan," ungkap Andrini yang tidak mau pulang ke rumahnya.


Andrini begitu senang sekali terlihat ketika dia bertemu denganku. "Andrini, si Ana benar, sebaiknya kau pulang saja!" desakku agar Andrini segera kembali.


"Kak, tapi kalau aku pulang sekarang ke rumah. Aku tidak ada teman," terang Andrini menatapku dengan wajah memohon agar aku tidak mendesaknya untuk kembali ke rumahnya.


Andrini begitu cemberut dengan manja agar aku mau menahannya tetap bermain bersamaku di sini. "Iya Kak, aku di sini dulu, ya!" pinta Andrini dengan nada suara yang lembut memohon kepadaku.


Seketika aku pun seakan merasa kasihan. "Iya sudah. Tapi, Kakak takut di marahi oleh Ayahmu," kataku.


Aku yang tadi antusias ingin berlari bermain petak umpet langsung menghentikan jalanku dengan kaki yang setengah mengayun di udara .


"Andrini, Kami juga takut, kalau kau nanti melihat Ayah kami juga marah," cetusku. Menatap Andrini yang berdiri dengan wajah sendu.


"Kalau begitu Liyan, kami juga pulang, ya! Terimakasih telah mengasih kami mengotori halamanmu, hahaha!" ucap mereka pergi sambil tertawa riang.


"Seharusnya kalian membantu kami. Bukan malah pergi dan meninggalkan sampah," celetuk adikku dengan kesal.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2