
"Kakak pikir kau tahu, Dik," ucapku dengan kekecewaan yang sedikit. Bersama kedua bola mata menatap lurus ke depan dengan kosong.
Aku dan adikku yang telah meninggalkan rumah berjalan mengarungi luasnya jalan raya yang sunyi. "Kak, Kakak terlalu cepat ingin berangkat ke sekolah," kata adikku memecah kesunyian.
Aku yang tiba-tiba terperanjat. "Lalu kenapa?" tanyaku menyelidiki. Melirik adikku dengan gurat wajah penuh tanda tanya.
"...'kan masih sunyi, Kak." Adikku melirikku. "...dingin lagi!" lanjutnya dengan gurat wajah sebal. Berjalan.
"Tapi Kakak takut terlambat," ungkapku. Menatap adikku dengan datar. Memegang tas ransel yang kusandang.
"Kakak memang seperti itu. Dari dulu Kakak selalu takut terlambat," cetus adikku. "Padahal jam masuk 'kan, telah di tentukan," lanjutnya. "...dan masih lama lagi, Kak!"
Untuk saat ini aku tidak lagi menanggapi apa yang di ucapkan oleh adikku. Aku hanya diam saja dan terus berjalan. Kami yang tidak lama lagi akan sampai. Melihat ke sekeliling badan jalan begitu banyak kendaraan yang lalu lalang melewati jalan.
Aku sangat tertegun melihat orang ramai yang bersiliweran di jalan. Mereka sangat menikmati pagi ini meski udara terasa sangat dingin.
Aku dan adikku terus mengayun langkah dengan semangat yang kuat. Aku ingin sekali segera sampai agar aku bisa bertemu dengan teman-temanku, pikirku. Meskipun mereka tidak mengingatku lagi. Langkahku semakin kencang hingga adikku yang tadi berjalan berdampingan denganku tertinggal jauh di belakang.
"Kak, kenapa Kakak tinggalkan aku?" teriak adikku bertanya dengan keras padaku dan bercampur dengan udara yang dingin.
"Kakak takut telat," jawabku dengan singkat tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Terus berjalan melewati embun pagi yang bertebaran akibat sisa hujan yang turun tadi malam.
"Iiiihhh, Kakak," rintih adikku ngedumel sendiri di belakang. Aku langsung memutar kepala ke belakang melihat adikku. Aku langsung menggeleng sambil tersimpul manis melihat adikku yang bawel. Dia tidak henti-hentinya ngedumel sampai telinga ini bosan mendengarnya.
"Kak! Kakak tega sekali," gerutu adikku. "...sudah aku temani berangkat sepagi ini. Tapi Kakak malah meninggalkan aku sendiri," sungut adikku. Mengayun kakinya sambil menendang batu-batu kecil.
Puk!
Lemparan batu itu pun terlihat melewatiku dengan keras dan hampir saja mengenaiku. Aku sangat terperanjat melihatnya dan kedua bola mataku pun refleks melebar.
Rintihan dan gerutuan adikku memang masih terdengar di telingaku hingga ini. Tapi aku yang mendadak jahil sangat senang mendengar gerutuan itu. Aku terus berjalan lurus sambil mendengar alunan suara adikku yang ngedumel dalam kesendiriannya. Pagi ini di jalan yang sunyi ini seakan terasa ramai. Ocehan adikku di belakang serasa menemani langkah ini.
Hatiku yang senang bercampur khawatir terus saja berjalan tanpa mendengarkan suara-suara di setiap sekeliling dan terus melangkah memasuki gerbang sekolah yang terbuka lebar. Aku yang sangat antusias ingin segera sampai. "Auugh!" Aku hampir saja terjatuh. Refleks aku menaikkan kepala. "Septiani?!" gumamku pelan. Sontak kedua bola mataku melebar dan terkejut. Tatapanku langsung mengikuti setiap langkah dan bola matanya yang bergerak mengikutiku. Tawa sinis terlihat seketika menyerangku. Septiani seakan membenciku saat ini. Sorot matanya yang tajam bercampur kebencian itu kini terlihat menyayat hatiku seketika. Dia sangat pias, bahkan bola mata yang lembut itu seakan mau menelanku.
Aku yang setengah badan ingin tersungkur ke tanah menahan rasa kebencian ini dengan sangat dalam. Aku bangun dan berdiri dengan tegak sambil melihat sepatu yang kupakai. Tanah yang tadi telah siap untuk menyambut tubuh ini seolah tersenyum sinis bahagia melihatku.
"Kak, Kakak kenapa ?" tanya adikku tiba-tiba dari belakang keheranan. Berdiri.
Aku langsung menjawabnya. "Kakak tidak apa-apa, Dik." Aku merapikan seragamku agar adikku tidak terlalu mencurigaiku kalau aku barusan mendapat nasib buruk.
"Kakakmu baik-baik saja, kok," potong Septiani langsung. Berdiri dan berpura -pura membantu.
"Kalau Kakak tidak ada apa-apa! Kenapa Kakak merapikan pakaian Kakak?" tanya adikku dengan penasaran. Berdiri menatapku yang merapikan pakaian.
"Kakak hanya takut, kalau Kakak nanti di kelas di ejek oleh teman Kakak karena pakaian Kakak tidak rapi." Aku langsung mengatakannya sambil berpura-pura melihat sekeliling baju dan rokku. "...'kan kita tidak punya setrika?!" Aku kembali berkata pada adikku dan melirik Septiani yang menyeringai melihatku dan lihai menutupinya dari adikku.
"Apa karena Kakak ini?" tanya adikku sedikit menyelidiki. Menatap Septiani dengan penuh kecurigaan.
Aku langsung menaikkan kepala dan jemariku refleks terhenti. Aku dan Septiani pun lalu bertemu pandang. "Tidak Ana," jawabku.
"Kakak tidak berbohong 'kan?" tanya adikku. Menyelidiki.
"Tidak. Kakak cuman merapikan pakaian saja," kataku kembali berpura. Menunduk dan merapikan rokku kembali. Melihat adikku dengan tatapan seakan mengatakan kalau kami tidak punya seterika pakaian.
Sontak adikku diam seakan dia menerima yang kukatakan. "Iya Kak," sambut adikku dengan sedih. "...aku juga... ." Adikku pun menunduk melihat seragam yang di pakainya.
Aku yang mendengarnya refleks mengangkat kepala menatap adikku yang sibuk merapikan seragamnya juga. Aku begitu sedih melihatnya dan sesekali aku melemparkan pandangan ke arah anak-anak yang baru datang seolah untuk menghilangkan kesedihanku. Aku pun sesekali menyapa dan menatap mereka yang masuk dengan seragam sekolah yang rapi.
__ADS_1
Hatiku sontak bersedih dan merasa terpukul karena keadaan keluarga kami yang serba kekurangan. Hati yang tadi tenang dengan udara pagi dan embun yang menemani kini langsung bercampur aduk. Septiani yang semakin hari semakin julit dan tidak senang melihatku seakan menjadi lilitan yang kuat mengikatku.
Untuk hari ini aku harus bisa bersikap netral apa pun yang aku hadapi. Aku kembali melepaskan pandangan ini dari mereka yang bercanda gurau bercampur dengan tawa memasuki sekolah.
Sejenak pandangan aku alihkan melihat adikku yang masih terlihat kewalahan merapikan lipatan roknya. Sementara Septiani berdiri dan berjalan selangkah demi selangkah untuk menjauh dariku.
"Ana, kenapa?" tanyaku. Melihat Septiani yang melihatku juga yang bertanya pada adikku.
"Ini payah sekali Kak untuk di rapikan," jawab adikku. Melihatku sekilas.
Mendengarnya aku langsung. "Mari sini Kakak bantu," kataku menolong adikku. Melemparkan pandangan kembali pada Septiani. Septiani seakan ikut bersedih karena mendengar dan melihat yang kami lakukan. Aku yang bertemu pandang dengannya memiliki keyakinan kalau Septiani sebenarnya masih sayang padaku. Sebagai sahabat dia masih mempunyai rasa simpati terhadapku.
Halaman sekolah yang telah kami masuki belum juga kami lalui semuanya. Kami berdua masih berdiri di antara pagar sekolah tepatnya di sudut gerbang yang tidak di lalui oleh anak-anak.
"Ana, apa kau tidak melipat bajumu langsung?" tanyaku ingin tahu. Melihat adikku dan kemudian melihat roknya.
"Kak, aku tidak pandai melipat pakaian," ungkap adikku dengan sebal mendengar pertanyaanku. "Kakak, 'kan tahu? Kalau yang melipat pakaian kalau tidak Ayah, Ibu tersayang Kakak itu!" imbuh adikku.
Aku langsung diam setelah mendengarnya. "Tapi, kalau Ayah atau pun Ibu. Ini pasti rapi ?!" balasku. Merapikan terus menerus rok yang di pakai adikku.
Adikku seketika diam dan menatapku dengan dalam seakan gurat wajahnya telah melakukan kesalahan. "Aku mengambil pakaian, asal tarik saja, Kak," sesal adikku langsung. Menunduk.
"Itulah makanya, rokmu seperti ini," kataku. "...ini tidak akan bisa rapi lagi." Aku melepaskan rok adikku langsung.
Plak!
Rok adikku yang kupegang pun terlepas. Adikku sedikit sedih melihat rok yang mengayun akibat kulepaskan. "Jelek sekali, Kak," rintih adikku dengan nada suara parau.
Huh! Aku menghembuskan napas dengan kasar kembali mengayun kaki ini berjalan. "Ana temanmu tidak akan melihatnya," kataku dengan yakin. Melirik rok adikku.
"Kenapa Kakak bilang begitu?" tanya adikku yang belum bisa menerima lipatan roknya yang rusak. "... padahal ini 'kan... ." Adikku menunduk diam melihat roknya. "... lipatannya jelas terlihat kusutnya, Kak," ungkap adikku menelan kepiluan.
"Benar Kak?" tanya adikku sedikit bahagia.
"Iya," jawabku. Berjalan langsung menghampiri adikku yang sejenak tersenyum manis. Adikku rasanya sangat bahagia karena mendengar jawabanku. Aku pun kemudian ikut tersenyum juga. Sungguh senang hati ini karena kebohonganku, aku bisa membuat adikku tersenyum bahagia seakan dia tidak pernah mengalami kejadian rok sekolahnya yang kusut.
"Ana, " panggil seorang anak. Menghampiri adikku.
"Ini siapa Ana?" tanyanya. Berjalan.
"Ini Kakakku," jawab adikku dengan lembut.
Aku dan adikku pun berpisah. Adikku yang telah pergi masuk ke kelasnya bersama dengan temannya. Sementara aku masuk ke dalam kelasku seorang diri.
Perlahan aku pun masuk sambil memegang tali tas ransel yang aku sandang sambil berjalan. Aku melihat sekeliling dan lurus juga dengan kedua bola mata yang sayu.
Seluruh teman-temanku terlihat bahagia menyambut ujian sekolah besok. Mereka begitu sibuk dan antusias bertanya bagaimana sistem ujian besok. Apakah ada perubahan seperti dulu atau ada pertukaran teman sebangku seperti sebelumnya? Itu terdengar menggema di ruang kelas memenuhi langit-langit.
Aku yang terus melangkah menghampiri meja . Masuk dan meletakan tas di atas bangku. Widia dan Septiani yang melihatku tidak menegurku sama sekali, bahkan mereka bersikap sangat dingin. Aku yang berada di antara mereka begitu gugup, seperti orang asing. Mulai aku berjalan hingga masuk. Mereka sama sekali tidak mau menyapa apalagi melihat wajahku. Pukulan ini begitu berat bagiku di bandingkan celaan Tania dan Ecy.
Sahabat yang dulu baik-baik saja kini telah menjadi asing dan rusak hanya karena salah paham. Kesalah pahaman ini sangat menganak dan melilit diriku hingga aku tidak bisa berbuat apapun.
Semakin lama persahabatan kami semakin renggang. Tidak ada satu pun penawar yang bisa untuk memperbaikinya selain ketenangan jiwa dan tetap bersikap layaknya seseorang yang masih menganggap persahabatan ini utuh.
Aku rasanya sangat sedih dan dilema atas kesalah pahaman ini. Septiani yang begitu iri dan cemburu dengan perhatian yang di berikan Fikri terhadapku semakin memanas. Begitu juga dengan Widia yang tidak menyukaiku tetap berbuat baik pada Septiani.
Inilah awal keretakan persahabatan kami . Di mana Septiani yang galak dan cerewet ketika menjaga dan membelaku dari Tania dan Ecy kini tidak lagi. Dia malah membenciku dan rasanya dia ingin sekali menindasku dengan sepuasnya. Namun, itu tidak bisa dia lakukan demi menjaga agar Fikri tidak mengetahui perselisihan kami hingga sampai saat ini aku dan Septiani tetap terlihat baik layaknya, seorang teman yang saling menyayangi satu sama lain.
__ADS_1
"Liyan, kau tidak pergi bersama dengan mereka?" tanya Rasyd.
Aku yang mengerti maksud dari perkataan Rasyd berpura -pura tidak tahu. "Pergi kemana?" tanyaku. Menjawab pertanyaan Fiktif dari belakang.
Aku yang terlihat murung membuat Rasyd khawatir dan curiga. "Liyan, apa kau sakit?" tanya Rasyd dengan perasaan seakan khawatir.
"Tidak," jawabku. Berdiri dan memutar pandangan melihat Rasyd.
"Apa kalian bertiga bertengkar?" tanya Rasyd menyelidiki.
Aku sontak terkejut dan menaikkan pandangan. "Tidak," jawabku. Menunduk menyembunyikan semuanya dari Rasyd.
"Liyan, kau akan sendiri di sini. Kau tidak keluar?" tanya Rasyd. Berjalan melewati dan memutar kepala ke samping sebelah kiri melihatku.
"Iya Rasyd. Aku akan keluar," jawabku dengan singkat. Melihat Rasyd dan Fikri.
"Liyan, kalau kau sakit bilang saja," kata Fikri. Menghampiri Rasyd.
Aku yang berdiri setengah melangkah refleks menaikkan kepala melihat mereka. "Aku tidak sakit Fikri," balasku langsung dengan cepat.
Akhirnya, setelah mendengarnya Fikri dan Rasyd yang tadi terlihat panik kini telah lega.
Wajah mereka berdua pun terlihat sangat rileks sekarang memutar langkah berjalan terus.
Wajahku yang tadi terlihat ketat karena kecurigaan Rasyd yang tertoreh secara jelas menatapku membautku semakin bingung. Kebingungan yang tadi menganak menghampiri kini telah terlepas. Aku sekarang jadinya lega setelah melihat mereka berdua pergi meninggalkan aku.
Fikri dan Rasyd yang saling berangkulan satu sama lain telah menghilang pergi dari balik pintu.
Kelas yang sunyi sepi dan senyap telah menjadi tempat yang paling nyaman buatku. Senyap yang melanda tidak menjadikan aku kesepian akan seorang sahabat.
Fikri dan Rasyd yang tadi telah keluar lebih dulu meninggalkan aku sendiri tidak terdengar lagi, apalagi suara berisik tawa canda mereka.
Aku pun langsung mengambil langkah berdiri di depan kelas. Aku yang berdiri diam memutar kepala melihat ke kantin dan ke pohon bunga kertas. Seketika aku terkejut karena tiba-tiba Widia mengayunkan tangan ke arahku seakan dia memanggilku untuk bergabung dengan mereka.
Aku pun langsung berjalan menghampiri mereka yang telah berdiam diri di bawah pohon bunga kertas. Bunga kertas adalah bunga inspirasi bagiku.
"Liyan, kau datang juga ke sini?" tanya Septiani ketika melihatku.
"Liyan, kau tadi kenapa cepat sekali berangkat ke sekolah ?" tanya Widia ingin tahu. Memotong pembicaraan Septiani.
"Aku takut terlambat," jawabku.
"Heh, bilang aja kau tidak ada teman," sindir Widia mengejekku. Menatap dengan tatapan sinis.
Seketika aku langsung diam malu menunduk. Tatapan Septiani yang sinis begitu memilukan dan tidak menyenangkan pagi ini.
"Septiani tidak seharusnya kau bicara seperti itu," singgung Widia pada Septiani.
"Aku tidak mengatakan apapun." Septiani memutar kepala langsung melihat tepat ke arah pintu kelas adikku.
Septiani tiba-tiba berbicara memutar kepala ke arah pintu kelas adikku dan juga melihat ke depan pintu kantor. Aku yang terheran melihatnya memutar kepala juga ingat mencari tahu apa yang terjadi dengan sikap Septiani yang tiba-tiba aneh.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...