Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Ejekan yang konyol


__ADS_3

Tungkai kaki lemah pun berjalan dengan terseok-seok menghampiri pohon yang teduh. Pohon yang berdiri kokoh dengan akar yang menancap ke bumi seakan mengajariku untuk bertahan meski setiap saat badai datang menerjang.


Keindahan dari setiap daun kini menjadi penyejuk bagi diriku. Ranting yang rapuh tetap terlihat kuat meskipun ingin terlepas.


Aku, Widia dan Septiani melangkah perlahan dengan hati yang bahagia. Seolah-olah kami tidak pernah mendapat masalah hari ini.


"Kita sudah sampai." Ucapku dengan senyum merekah. Melihat pohon dengan kagum.


"Ia. Aku jadi senang, akhirnya kita engga terkena panas lagi. Hehehe!" Ujar Septiani dengan tawa malu. Melihatku dan Widia. Seakan ia ingin menyembunyikan wajah polosnya di balik seragam.


"Tapi aku letih!" Keluh Widia. Manyun.


Kami yang sibuk membersihkan tumpukan dari pecahan semen yang ingin kami duduki. Bertemu pandang dengan wajah penuh tanda tanya sambil mengerutkan kening seakan kami berpikir tentang Widia, begitu aneh!


Dengan terperangah heran, kami menatap Widia yang begitu kusut.


"Widia kamu kenapa?" Tanyaku ingin tahu memutar kepala melihat Widia sambil membersihkan pecahan semen.


"Liyan, ternyata aku letih juga mendengar pertengkaran tadi di kantin." Ucap Widia dengan menatap nanar. Berdiri.


"Kenapa masih kamu pikirkan? Kan sudah berakhir." Sambut Septiani dengan nada suara datar. Membersihkan pecahan semen dan melihat Widia.


"Aku tahu! Tapi aku takut kalau mereka akan mengadukannya kepada guru." Jawab Widia. Menatap dengan cemas.


Seketika kami berdua bertemu pandang. Septiani begitu terlihat cemas setelah mendengar apa yang di keluhakan oleh Widia. Sementara aku diam membeku sambil membersihkan dan melihat pecahan semen dengan wajah panik.


"Widia apa kamu yakin kalau mereka akan mengadukannya pada guru?!" Tanyaku dengan penasaran. Menaikkan tubuh dengan tegak melihat Widia sambil meremas daun.


Eem! Widia mengangguk pelan sambil mengerutkan kedua bibir dengan gurat wajah membenarkan.


"Kalau mereka sampai memberi tahu, habislah aku!" Ucapku dengan wajah khawatir.


"Kenapa Liyan?" Tanya Septiani ingin tahu. Berdiri sambil memutar-mutar helaian daun.


"Liyan pasti di marahi besar-besaran oleh Ayahnya." Jawab Widia. Menatap Septiani dengan memasang wajah cemas.


"Ia, aku pasti akan di marahi." Ucapku dengan lirih. Memelas. "Belum lagi adikku kalau dia sampai tahu." Lanjutku dengan segala ke khawatiran yang memenuhi seluruh ubun- ubunku.


Septiani dan Widia terlihat begitu panik. Mereka berdua diam seakan merasakan apa yang aku cemaskan. Wajah mereka memutar badan dan menjatuhkannya duduk di bongkahan semen yang telah bersih.


Menatap nanar dan bergeming seolah-olah berpikir sambil mencari jalan keluar.


Sesekali aku bersuara memanggil mereka yang duduk membelakangiku.


"Widia, Septiani kalian kenapa?" Tanyaku ingin tahu. Duduk membelakangi.


"Tidak apa-apa! Kami hanya memikirkan kamu Liyan." Jawab Widia.


"Ia Liyan! Kasihan kamu kalau di marahi Ayahmu." Sambung Septiani.


Matahari yang bersinar menerangi bumi memberi kehangatan bagi mereka yang kedinginan.


Wajah yang sendu dan mata yang redup menatap lurus ke depan kelas yang tidak lain adalah kelas adikku. Begitu tersentak aku melihat pintu kelas yang tertulis kelas satu. Seketika aku mengerjapkan kedua mata dan membukanya dengan lebar. Tanpa di sengaja aku Melihat adikku yang berdiri di dinding kelasnya.


Seketika aku dan adikku bertemu pandang. Aku yang duduk melihat adikku, ia begitu lekat melihatku dengan wajah curiga. Refleks adikku berjalan menghampiri diriku yang duduk sambil melepas ke pedihan hati.


Ia begitu tajam melihatku. "Kakak ngapain di sini?" Tanya adikku. Memegang jajan.


Septiani dan Widia pun sontak memutar badan ke belakang melihat aku dan adikku. Mereka berdua terdiam dan khawatir. Seakan mereka takut kalau adikku akan tahu dan dia akan mengadu pada ayahku. Lalu ayahku datang ke sekolahan ini dan terjadilah keributan, itulah yang terlihat dari raut kedua wajah mereka.


"Kakak cuman duduk aja dek!" Jawabku. "Kau ngapain ke sini?" Tanyaku dengan menyelidiki. Mengerutkan kening.


"Aku melihat kakak di sini! Makanya, aku samperin." Balasnya dengan suara datar. Memakan jajan. "Kak ini panas! Kakak jangan duduk di sini." Seru adikku melarang. Menatapku tajam sambil mengunyah makanan.


"Nanti kakak sakit lagi!" Sambungnya.


Perlahan Widia dan Septiani menyeret tubuh mereka duduk di sampingku seakan mereka mencemaskan Ecy dan Tania.


"Liyan kalau adikmu lama berdiri di sini! Aku takut nanti dia bertemu Ecy dan Tania di sini." Bisik Widia di telingaku. Duduk.


Saat ini aku begitu panik di mana aku harus menetralkan wajahku dari ke khawatiran akan adikku dan Ecy. Aku resah di samping diriku yang sakit. Aku juga harus bisa mengendalikan adikku yang begitu antusias ingin tahu.


Dalam situasi ini aku harus bisa mencerna dengan hati dan pikiran yang tenang. Untuk ini aku tidak boleh terlihat panik.

__ADS_1


"Widia jangan pasang wajah khawatir! Nanti adikku tahu, biasa saja!" Bisikku pelan memohon. Melirik ke tanah sedetik.


"Ana, kakak tidak apa-apa, kok! Kamu pergi saja bermain sama temanmu!" Seruku dengan pelan. Melemparkan kedua bola mata ke arah temannya.


"Tapi nanti mereka akan datang ke sini kak, menjemputku!" Sanggah adikku. Mengunyah jajan kembali.


"Liyan aku takut kalau Ecy dan Tania akan datang ke sini." Sambung Septiani dengan berbisik di telingaku. Berdiri .


Himpitan begitu berat menimpaku saat ini. Aku begitu bingung antara adikku dan ejekan terhadap diriku. Entah apa yang bisa aku lakukan saat ini. Aku begitu di lema, lagi-lagi aku di hadapkan di antara dua pilihan yang sama ingin aku pilih. Di sisi lain aku harus bisa membuat adikku pergi menjauh dariku agar ia tidak mengetahui, apalagi mendengar ejekan yang berselimut hinaan terhadapku. Tapi di sisi yang lain aku ingin sekali ejekan itu datang agar aku bisa melawannya.


"Kakak jangan berdiri! Duduk kak!" Perintah adikku. Menatapku.


Dengan hati yang berat aku harus mengikuti kemauan adikku demi menutupi semuanya. Menetralkan wajah dan menata hati yang lagi berkecamuk.


"Ana temanmu masih lama, ya! Baru datang ke sini?" Tanya Widia ingin tahu. Duduk.


"Aku tidak tahu kak. Mereka lama atau tidak!" Imbuh adikku dengan suara datar. Mengantongi bungkus jajan.


Widia dan Septiani terlihat begitu lemas.Bibir mereka tertutup dengan rapat, saling melemparkan pandangan dan bertemu tatap dengan begitu memelas.


Gurat wajah mereka seakan ingin berteriak dengan keras. Rasa gemetar yang menimbun tubuh yang lemah ini ingin membawaku lari dengan jauh.


Decakan pelan pun terdengar di telinga. Ke panikan akan Ecy dan Tania semakin menggunung. Adikku yang terlihat santai masih saja diam dengan wajah polos.


"Hay Liyan!" Sapa suara dari arah kanan.


Sontak aku tersentak memutar kepala melihat siapa yang menyapaku dengan lembut. "Ecy, Tania" sahut kami bersamaan dengan suara pelan.


"Kalian sedang apa di sini?" Tanya Tania. Menyeringai. Mengayunkan tangan di pundak Ecy. Menatap kami dengan sinis.


"Ia! Di sini panas la! Tania apa kau tidak ke panasan?!" Ucap Ecy memutar kedua bola mata melihat sekeliling sambil mengibas kera bajunya dengan tangan.


"Ia, kok aku baru terasa, ya! Di sini panas." Sambung Tania.


Sebesar apapun aku berusaha untuk menyembunyikan dari adikku, namun aku gagal.


"Kalau kakak kepanasan duduk di sini aja!" Seru adikku dengan polos. Melihat. "Kalau duduk di sini engga panas kak, kan di bawah pohon." Lanjutnya dengan suara datar.


"Eh, ia! Emang kamu siapanya mereka?" Tanya Tania ingin tahu. Sorot mata tajam.


Sepertinya badai akan datang menghampiri kami duduk di bawah pohon ini. Gurat wajah kami bertiga begitu terlihat panik. Melihat Ecy dan Tania berdiri tepat di hadapan kami seperti orang yang memberi hukuman berat.


"Tidak! Aku Anak kelas satu." Jawab adikku spontan dengan begitu polos. Menatap Ecy dan Tania.


"Ooh! Jadi, kenapa bergabung dengan mereka bertiga?" Tanya Tania ingin tahu. Menatap adikku dengan wajah masam.


"Tania, mungkin saja dia kebetulan duduk di sini." Sahut Ecy. Menatap adikku dan Tania dengan wajah penuh keyakinan.


"Liyan bisa gawat ini!" Cetus Septiani dengan berbisik.


"Ia! Aku takut kalau sampai mereka mengejekku...." Sahutku dengan pilu sambil menghentikan ucapanku. Melirik Ecy dan Tania sambil menahan wajah sendu. "......adikku pasti akan mendengar dan menyampaikannya pada Ayahku di rumah." Kataku pelan dengan perasaan tidak begitu tenang.


Huh! Aku menghembus napas dengan berat melihat ke adaan yang menimpa dengan begitu dalam. Semuanya terjadi dengan begitu perlahan namun, begitu pasti menghenyak batinku dengan tajam.


Kehadiran adikku di sini bersama dengan ku seakan menuai konflik besar yang akan menimpanya tanpa ia ketahui. Apa yang akan terjadi, pasti akan membuat dia terpukul dan membuatnya terlempar jauh dengan keras.


"Aku, adiknya kak Liyan." Jawab adikku dengan polos. Tersenyum.


Lemparan batu es yang besar kini mengenaiku dan menimpa dengan kuat. Sehingga aku diam menutup mulut dan berteriak di dalam hati dengan keras. Jawaban adikku begitu sebuah tembakan besar yang pelurunya mengenai jantungku. Wajah pucatku kini lebam seketika.


"Apa?! Hahaha!" Dengan tersentak, Tawa mereka pun pecah dengan keras mengisi udara hampa yang kosong. "Jadi, kau adiknya?" Sambung Ecy seakan tidak percaya. Mendesis. "Ooh! Kasihan, ya kakakmu." Balas Tania lembut dengan wajah mengejek. Tertawa.


"Ia, kakak siapnya kak Liyan?" Tanya adikku ingin tahu.


"Kami teman kakakmu! Kami satu kelas." Jawab Ecy. Menyeringai.


"Liyan, coba kau lihat adikmu begitu sehat! Tapi kenapa kamu sakit-sakitan?" Sindir Tania dengan melemparkan pertanyaan konyol kepadaku. Menarik sedikit bibir dengan mengejek. "


Cengkeraman jemariku begitu kuat menahan pedihnya perakataan yang menusuk jiwa. Wajah yang ingin merintih sekuat mungkin memaksaku untuk menyembunyikannya. Aku rasa dunia ini tidak begitu berpihak padaku. Sembilu yang datang semakin bertubi. Bahkan, saking seringnya, semaunya terlihat dengan ke konyolan.


Begitu apik semua susunannya terlihat, tanpa ada sedikit kekurangan ataupun keraguan. Cemoohan yang kini datang menyapa, berupaya membuatku menjadi sebuah perbandingan.


Jalan yang hitam membentang luas menggulung diri ini sehingga membuat aku tidak bisa menatap dengan sempurna. Mata yang menatap dengan pandangan kosong hanya bisa merasa senyuman getir yang pahit.

__ADS_1


Mereka begitu puas mengejek sambil tertawa riang seakan aku adalah mainan baru yang di buat untuk menghibur mereka.


"Aku dan adikku tidak sama!" Jawabku dengan suara berat. Malu dan menahan sedih. Menatap lurus ke bawah seakan menahan malu. "Kelas kami saja tidak sama." Sambungku dengan kesal. Mengelus kakiku.


"Emang kenapa Ecy, Tania? Kalian jangan suka membuat pertengkaran." Ucap Septiani dengan pelan. Berdiri. "Lagian kami tida mengganggu kalian." Lanjutnya dengan ketus. Mendelik.


"Ia Ecy! Sebaiknya kalian pergi saja!" Seru Widia. Mendengus. "Kasihan Liyan dia lagi sakit." Tandas Widia.


"Emang ada apa kak? Kenapa kakak bilang seperti itu?" Tanya adikku menyelidik. Mengerutkan kening. "Emang kak Liyan di apain oleh mereka?!" Sambung adikku dengan penuh tanda tanya. Berdiri memutar kedua bola mata dengan wajah seakan ingin tahu.


Melihat adikku yang begitu ingin tahu. Spontan aku, Septiani dan Widia menutup mulut dengan rapat.


"Kak kenapa kakak di ejek oleh mereka?!" Tanya adikku menatapku dan Widia dengan tajam. "Kak bilang aja!" Pinta adikku. Kesal


"Tidak ada yang mengejek kakakmu!" Keluh Tania dengan kesal. Memasang wajah ketat.


"Ia, Tania benar tidak ada yang mengejek kakakmu." Sanggah Ecy. "Kakakmu aja yang merasa kalau kami mengejeknya." Lanjutnya.


"Tidak ya! Itu tidak benar! Kalian mengejek Liyan karena Liyan sakit, ia kan!" Cetus Septiani dengan kesal. Mendelik.


Gerimis yang datang tanpa di undang membuatku tenggelam dan hanyut. Namun, aku lagi-lagi harus mencari kemarau yang panjang agar ia tidak segera turun dengan deras. Mendung yang menyelimuti awan dengan sebisa mungkin aku harus menjadi mentari terik.


"Kami bukan mengejek, tapi memang kenyataannya Liyan memang sakit-sakitan, Ia kan!" Sindir Tania. Melihat Ecy. "


"Kau bilang tidak mengejek! Jadi, itu apa namanya kalau kau bukan mengejek kakakku. Ha!" Teriak adikku dengan keras. Mendelik dan mengepal jemari dengan kuat. "Biar kau tahu ya ! Aku bisa saja meninju mukamu yang jelek itu!" Serang adikku dengan keras. Menghampiri Ecy dan Tania.


"Tania, adiknya galak! Aku takut!" Bisik Ecy. Melihat adikku dengan wajah panik. Menyeret tubuhnya mendekati Tania.


Tania begitu gusar wajahnya terlihat seperti orang yang lagi kebingungan. Ia hanya diam dan merapatkan bibirnya dengan kuat. Melangkah mundur ke belakang selangkah demi selangkah.


"Hey! Dengar ya! Aku engga takut samamu, tahu! Apa yang kau tunjukan!" Serang adikku dengan sejadinya. Mendelik.


"Ana sudah!" Sanggahku dengan melerai. "Nanti ada yang lihat, kita bisa kena hukum." Rintihku dengan sedikit keras. Menarik mundur lengan adikku.


"Ana sudah! Jangan lawan mereka!" Sambung Widia dan Septiani. Menarik adikku.


"Biarkan saja! Aku tidak takut, emang mereka siapa?" Pekik adikku dengan kesal. Memasang wajah memerah seperti api. "Meskipun aku masih kecil, masih kelas satu. Aku engga takut pada mereka." Gerutu adikku mendengus. Menarik napas kasar.


"Ana kakak tahu! Tapi kakak takut nanti mereka mengadu pada guru." Bisikku di telinga adikku. Melihat adikku dan sesekali melihat Ecy dan Tania. Dengan wajah yang di timpa rasa ketakutan yang dalam.


"Liyan, tunggu ya! Nanti Ayahku jadi pemilik sekolah ini! Kau dan adikmu akan kukeluarkan dari sini!" Ucap Tania dengan kesal dan wajah memerah.


Mendengar ancaman Tania, tubuh lemahku seketika mau terhempas. Rasanya serangan petir yang begitu keras mengenai tubuh mungilku yang lemah hingga membuat aku terkejut.


"Hahahaha!" Tiba -tiba terdengar suara tawa keras dari arah yang tidak aku ketahui.


"Ayahmu jadi pemilik sekolah?! Hahahaha! Mana mungkin." Sambut Fikri dan teman-temannya dengan tawa jenaka sampai mengangakat kepala. "Ayahmu saja kerjanya sama seperti Ayahku, satu kerjaan lagi! Dari mana Ayahmu jadi pemilik sekolahan ini! Kau aja jarang masuk, pemalas!" Sentul Fikri dengan suara datar dan penuh penekanan. "Mana ada Anak pemilik sekolah pemalas, bisa-bisa nanti semua muridnya bodoh!" Sambung Fikri kembali.


"Kalau begitu, Ayah Ecy saja yang jadi kepala sekolah, ia kan Ecy!" Sambung Tania. Melirik Ecy.


"Tidak usah Tania, Ayahmu saja! Ayahku engga mau jadi kepala sekolah katanya, dia takut korupsi dan masuk penjara kasihan kami nanti, Anak-anaknya mau di kasih makan pakai apa?" "Kenapa tidak Ayahmu saja Ayahmu kan pintar."


Sambungnya.


"Liyan, coba lihat mereka lucu sekali, ya! Hahahaha! Mereka saling lempar siapa yang mau jadi kepala sekolah, hahaha!" Cibir Fikri dengan tertawa puas seolah ia menonton lawakan yang lucu. "Sudah nanti kita buat pengumuman di kelas siapa yang mau jadi kepala sekolah." Lanjutnya. Menyeringai.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah mendukung cerita aku dengan memberi like, favorit dan komentarnya. 🤗🙏


Bersambung....


Sambil menunggu Author update !


Yuk ! Baca novel dari teman aku Author yang lain !


Pasti engga nyesel deh bacanya !🥰


__ADS_1


Hidup bahagia dengan bergelimang harta adalah mimpi semua wanita. Berfoya-foya dengan geng sosialita adalah kegiatan rutin yang harus dilaksanakan oleh keempat wanita yang usianya tidak muda lagi. Mereka tak lain adalah Astrid, Soraya, Dena dan Rahma. Lalu apakah hidup hanya dipakai untuk bersenang-senang? Lantas bagaimana dengan permasalahan masing-masing? Apakah hidup hanya untuk sekadar bersenang-senang, kemewahan dan gemerlap malam?


__ADS_2