Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Teguran Ayah


__ADS_3

"Besok kita gambar lagi, ya!" bujukku dengan lembut merayu adikku.


"Kalau kita dikasih keluar, Kak," bantah adikku. "Kalau gak ? Kayak mana?" dalihnya memberiku sebuah pertanyaan yang tidak bisa kujawab.


"Ana, kalau kita di luar. Ayah akan menutup pintu," kataku pelan sambil melepaskan tangan adikku yang ditepisnya.


Wajah cemberut dan bibir yang monyong sebal dia tunjukkan di depan pintu. Pintu yang sudah setengah tertutup dibuat angin yang berembus. Berdiri diam menatap bawah pohon dengan lirih. "Kak, aku udah lama menggambarnya. Masa harus kita tinggal," rengek adikku yang tiada henti menatap bahwa pohon jambu yang sudah tertutupi daun.


"Dik, makanya. Ikuti apa kemauan Ayah. Biar kita besok dikasih keluar," bujukku lemah lembut.


"Apa?" tanya adikku langsung terkejut. Dia membuang muka dariku seketika. "Aku udah sering berharap sama Ayah. Tapi Ayah gak pernah mau tau Kak," balas adikku berlagak sok dewasa.


"Tau apa?" tanyaku kembali ingin meledek adikku.


"Tau kalau aku mau main diluar," jawab adikku langsung ngotot.


Ingin tertawa tapi aku mengurungkannya langsung. Memang susah bicara sama anak kecil yang merasa sok tahu dan merasa sok paling dewasa . Tapi semua harus dianggap santai karena adikku yang masih polos memang selalu seperti itu.


"Dik, mana mungkin Ayah tau. 'Kan kita gak ada bilang sama Ayah ingin keluar," balasku langsung, menatap adikku yang belum bisa meninggalkan bawah pohon.


"Masa Ayah gak tau, Kak. Kalau kita mau bermain," bantah adikku tidak terima.


Berdiri diluar sambil mengikuti adikku menatap bawah pohon sangat membosankan dan bercampur resah sebab ayah sudah menyuruh kami masuk dari tadi. Gambar yang bisa diulangi kembali menyiksa diri ini terlilit oleh keegoisan adikku yang terlalu dimanja oleh ayah dari dulu.


Jengah dan lelah melihatnya serta bosan membuat aku menyerah dan hampir berputus asa. Pintu yang sedikit terbuka kutatap melihat lantai rumah yang sepi.


"Iya, Ayah 'kan cari uang lagi," sambungku, membela ayah yang sudah lama sendiri merawat kami.


"Iiih, Kakak!" bentak adikku meninggalkanku sendiri dan berlalu lekas masuk ke dalam rumah. "Kakak, gak pernah ngomong jujur," cela adikku dari balik pintu.


Deg!


Aku semakin terbungkam olehnya dan tidak bisa berkata-kata lagi. Menatap nanar melihat lurus ke depan dengan pandangan kosong, hanya itulah yang bisa kulakukan sebagai isyarat memberi balasan atas tuduhan adikku yang ambigu.

__ADS_1


Bayangannya yang meninggalkanku berdiri di depan pintu menghilang begitu saja. "Ayah, tau kok. Kalau kita mau bermain diluar. Tapi Ayah memang gak mau ngasih karena kita gak tau jalan pulang," gumamku pelan, menatap nanar dengan pandangan yang masih kosong.


Perlahan aku menyeret tungkai kaki yang lemas mendengar timpalan dan tuduhan dari adikku yang terus menerus garing terdengar.


"Karena aku takut, kalau kami berdua dihukum," selaku bergumam pelan. Berdiri sendu.


Suara adikku tidak lagi terdengar menyahut dari dalam. Aku heran karena tidak mendengar suaranya yang merdu mengusik pendengaran hari demi hari.


Berjalan masuk mencari tahu tentangnya mendesak agar aku segera menemuinya. "Ana!" panggilku dengan nada suara pelan yang terus mengalah, menatap sekeliling terkhusus ke ujung dapur yang gelap. "Ana!" panggilku lagi pelan melindungi diri dari ayah kami.


Namun, suara adikku tidak lagi memenuhi ruangan rumah. Sudut rumah yang tidak terkena biasan cahaya lampu setrongking kutatap lekat agar aku menemukan yang kucari.


"Ana!" panggilku lagi dengan nada suara lembut bercampur ringan.


Sedikit pun aku tidak mendengar suara adikku yang sudah lama kucariin. "Ana, kau di kamar, ya?" tanyaku berjalan masuk ke dalam kamar.


Lampu setrongking yang menyala menerangi seluruh rumah menerangi lantai yang kujalani mencarinya sampai ketemu.


Dooor!


Jantung yang hampir mau copot membuatku lemas dan pucat. "Kau sering kali membuat Kakak kayak gitu," kataku kesal. Berdiri di hadapannya.


"Liyan, Ana! Jangan terlalu senang kalian ketawa di situ, ya!" tegur ayahku dari dalam kamarnya. "Nanti tidak berapa lama bertengkar lagi!" sambungnya. "Kalau bermain jangan sampai kelewatan becandanya!" lanjutnya dengan penuh penekanan.


Mendengarnya aku dan adikku langsung menutup mulut dengan rasa tidak enak hati. Diam dan malu-malu aku menghentikan niat untuk memarahi adikku yang sudah keterlaluan.


"Itu 'kan dengar Ayah," kataku pada adikku yang selalu suka bersikap semaunya.


"Kenapa dengan Ayah, Kak?" tanya adikku yang menganggap semuanya dengan enteng.


"Ayah marah lagi," jawabku penuh penekanan.


Adikku langsung mengerutkan keningnya sambil memonyongkan bibir tidak rela. "Kak, Ayah memang sering kayak gitu," ucap adikku nakal. "Makanya, Kakak jangan takut. Nanti kita ketahuan," lanjutnya sebal seolah ingin bermain petak umpet dengan ku.

__ADS_1


Aku kembali terdiam dan terhenyak oleh ucapan adikku yang seakan memukulku mundur ingin terhempas ke dinding. Dia memang tidak bisa diajak kompromi. Dia selalu merasa paling benar dan sok berlagak sudah dewasa.


"Ana, kau jangan buat Kakak di marahi sekali lagi," harapku mengiba.


"Liyan!" panggil ayahku dari balik dinding kamar seolah dia mendengar kami yang masih juga saling tuding.


Diam membisu kembali menghampiri dengan sesak melilit diri ini. Sudah lelah tungkai kaki ini menopang tubuh mungil yang sering terkena tuduhan jinak oleh adikku.


"Jangan ribut lagi, ya! Bairkan Ayah sholat dengan tenang, ya Nak!" pinta ada dengan lemah lembut.


"Iya Ayah," jawabku langsung, memutar badan menatap dinding.


"Jadi, kalau kalian tau. Terus kenapa masih ribut?" tanya ayahku membalikkan pertanyaan kembali pada kami.


Sekelabat masalah terus menggulung diri ini yang diam mematung. Ketenangan diri adikku membuatku meremas jemari kuat bercampur sebal. Keluh kesah yang sering terdengar mengaum di rumah dianggap oleh adikku hanya sebagai angin yang numpang lewat begitu saja.


"Ayah, kami bukan ribut," jawabku sesal, melirik adikku yang sama sekali tidak meresponnya.


"Kalau kalian tidak bertengkar. Jadi, yang Ayah dengar tadi itu suara apa? Dari dalam kamar kalian? Teriak-teriak keras!" sesal ayahku.


Omongan ayahku semakin menggema memasuki gendang telinga. "Ayah masih saja bilang, kalau kita bertengkar, Dik," keluhku sesak melihat adikku yang entengnya menghadapi semua.


"Masih kecil jangan sering bertengkar, Nak! Ayah tidak mau melihat kedua Anak Ayah tidak akur. Apa kalian tidak sayang sama Ayah? Sampai kalian tidak mau mendengar yang Ayah katakan!" lanjut ayahku menelan kepahitan melihat kami yang sama sekali masih saja bertengkar.


Sontak aku langsung duduk dia atas tempat tidur. Merenungi yang dikatakan oleh ayah yang menggantungkan harapannya pada kami berdua.


"Nanti sekali lagi kalau kalian ribut, Ayah akan titipkan kalian di rumah kerabat Ayah yang lain. Apa kalian mau?" sambung ayahku memberikan kami pertanyaan yang tidak ingin kami dengar.


"Kak, aku gak mau," bisik adikku langsung. Duduk di sudut tempat tidurnya, memohon dengan sedih.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2