
"Kalau kau mau kita bermain saja," usul Widia bersemangat. "Tapi kita ulang alik dulu," saran Widia mengayunkan tangannya terlebih dahulu ke udara.
"Ayo, ayo!" ajak yang lain. Bergegas menghampiri Widia dan Septiani.
Sementara aku masih tetap diam mematung melihat mereka yang bersemangat untuk bergabung.
"Liyan," panggil Septiani tiba-tiba mengagetkan.
Aku langsung menaikan kepala menatapnya.
"Ayo sini kita bermain," panggil Widia melambaikan sebelah tangan kanannya ke udara sebagai isyarat mengajak. "Tidak usah takut, Liyan," kata Widia melirik Septiani sedikit. Seolah dia memberiku isyarat kalau aku tidak perlu takut dengan Septiani.
Aku sangat berat sekali untuk mengiyakan yang dibilang oleh Widia.
"Iya, Liyan. Ayo bergabung dengan kami," katanya mengajakku.
Ragu bercampur bimbang aku belum juga membuka mulut. Aku masih saja menatap Septiani dan Widia sesekali. Aku seakan bingung melihat sikap Widia yang berubah-ubah setiap detik.
"Biarin saja. Kalau dia tidak mau. Kenapa harus di paksa?" kata Septiani menatapku dengan kebencian yang tersimpan.
"Liyan, pasti mau, kok," jawab Widia.
"Iya, Liyan pasti mau?!" sambung yang lain. "Karena tadi Liyan sudah senang wajahnya melihat sepeda ini," ungkap salah seorang dari mereka.
"Tapi kenapa Liyan tiba-tiba berubah?" tanyanya dengan bingung.
"Berubah apa?" tanya mereka yang tidak mengetahuinya.
"Iya, sepertinya Liyan takut dengan Septiani," lanjutnya dengan gamblang.
Glek !
Aku menelan ludah kasar melihat mereka dengan tenang menyampaikan itu. Mereka sama sekali tidak tahu malu telah berani mengatakan itu, pikirku. Aku semakin bergulat dengan wajah yang sedikit pucat.
"Liyan, ayo!" Widia terus membujuk dengan melambaikan tangan tanpa lelah agar aku mau ikut.
"Liyan, cepat nanti keburu hujan!" kata Septiani dengan nada suara kesal.
"Iya Liyan, ayolah!" kata mereka juga.
Refleks perlahan kaki ini pun melangkah dengan ringan seakan, seperti ada yang menarik kakiku.
"Iya," kataku pelan bercampur takut. Aku pun mengayunkan tangan seperti yang mereka buat.
"Ompimpang alaiyum gambreng!" Seperti itu yel-yel dikatakan mereka dan langsung mengayunkan tangan ke udara kemudian melemparkannya dan sehingga berserakan tepat berhenti di hadapan kami masing-masing.
"Yeeee!" teriak kami bersorak.
"Liyan, kau duluan," kata Widia senang.
"Iya Liyan, kau duluan!" sambung mereka.
__ADS_1
"Ya udah cepat woiii! Mana sepedanya teriak Septiani lekas mengambil sepeda yang tadi di carinya dengan berputar -putar mencarinya.
Aku semakin gusar melihat keantusiasan Septiani yang mendadak menimbulkan pertanyaan besar di dalam benak.
"Ini Liyan, ayo naiklah!" suruhnya dengan nada suara yang aneh.
Aku pun mulai ragu dan bertanya-tanya melihat tingkahnya yang aneh. Segurat keraguan bercampur kejanggalan pun terasa dengan jelas di lubuk hati.
Gerak -geriknya yang mencurigakan semakin membuat aku diliputi kekhawatiran dan prasangka buruk terhadapnya.
"Ayo Liyan, naiklah! Cepat!" desaknya menyimpan kecurigaan.
Aku masih tetap diam dengan sejuta pertanyaan, di ikuti oleh kedua mata melihat Widia yang juga melirik Septiani dengan wajah tercengang melihat reaksi Septiani yang aneh.
"Ayo Liyan, cepat naik!" kata Widia menarik lenganku dengan kencang.
Dengan berat hati, aku pun naik dan duduk di atas sepeda. Dengan gemetar aku berusaha menetralkan kecemasan yang menyelubungi diri ini.
Kedua tanganku pun memegang kedua setang sepeda yang kunaiki. Kedua kaki pun perlahan kutaruh di atas kedua pedal sepeda yang terdapat di sebelah kanan dan kiri.
Bak seorang atlet pembalap sepeda, aku pun menatap lurus ke depan layaknya, seperti sedang menunggu aba-aba. Seketika..."Aaaaaaaaaahhgh!"
Baugh!
Aku pun terjatuh akibat sepeda yang kunaiki terlalu kencang. Sepeda yang melaju kencang membuatku semakin frustrasi melihatnya karena aku tidak pernah sama sekali bermain sepeda.
Huhuhuhu! Aku lalu menangis dengan kuat karena tubuh mungil yang terhempas ke tanah dan sepeda itu pun menimpanya kini.
"Liyan, kau tidak apa-apa ?" tanya Widia panik.
Huhuhu ! Aku semakin menangis dengan keras. Air mata pun bercucuran dan kedua kaki terasa sangat sakit tertimpa.
"Liyan," kata Widia dan yang lain panik. "Liyan, sepedanya terlalu kencang," ungkapnya mengangkat sepeda yang terjatuh menimpa kedua kakiku.
Brak!
Sepeda itu pun di buang Widia ke tempat yang lain.
"Liyan, maafkan kami. Kami lupa memberitahunya," kata mereka dengan kesal bercampur sesal. "...kalau mendorongnya jangan terlalu kencang," lanjut salah satu dari mereka. Mencari daun untuk membersihkan darah di kaki.
Huhuhuhu !
Aku semakin menangis sejadinya dengan memegang kedua lutut yang kutekuk sedikit.
"Liyan, kakimu terluka ," kata Widia memapahku dan menjatuhkan tubuhku duduk di bawah pohon.
"Iya, makanya kita harus membersihkannya," seru yang lain. Mengilapnya perlahan demi perlahan.
"Augh!" Aku mengerang kesakitan menahan daun yang menyentuh lutut.
"Liyan, jangan menjerit. Kami jadi takut," ucap Widia. Membersihkan luka dan mengambil pasir yang menempel di lutut yang sobek.
__ADS_1
"Lukanya lumayan lebar," kata yang lain.
"Makanya kita harus berhati-hati," ucap Widia memetik daun yang lembut yang bisa di remuk untuk mengilap luka.
Rintihan sakit yang kurasakan semakin menganak di benakku. Aku sangat sedih bercampur mata yang berkaca-kaca melihat luka yang melebar.
"Liyan, kenapa kau tidak menahan sepedanya?" tanya Septiani berpura simpati bercampur sedih. Berdiri melihat lukaku yang di bersihkan.
"Septiani, kenapa kau mendorong sepedanya terlalu kuat?" tanya Widia ingin tahu.
"Aku tidak mendorongnya kuat. Dasar si Liyan saja yang bodoh tidak pandai naik sepeda," terangnya.
"Kenapa kau menyalahkan Liyan?" tanya salah satu dari kami.
"Dia 'kan sudah bilang kalau dia tidak pernah naik sepeda," balas yang lain.
"Iya, dia benar," sambung yang satunya lagi.
"Septiani kau sengaja 'kan mendorong Liyan?" tuduh Widia melayangkan pertanyaan.
"Heh, Widia jangan sembarangan menuduh, ya?!" pekiknya dengan keras. "Aku tidak ada mendorongnya kuat," dalihnya. Tidak senang.
"Kau bohong! Aku tadi melihatmu mendorongnya sekuat tenagamu," kata yang lain menyela dalihan Septiani.
"Huh! Widia, kau juga! Kenapa kau tiba-tiba baik samanya? Selama ini 'kan, kau bilang kalau kau tidak mau lagi berteman dengannya!" kata Septiani menyerang Widia.
"Aku bukan tidak mau berteman, tapi Ayahku yang melarangnya," ungkap Widia membuatku terkejut.
"Berarti dia 'kan, Anak yang tidak baik. Makanya Ayahmu melarangmu untuk berteman dengannya," sungut Septiani mengaum di udara.
Kaki yang masih terasa sakit dan berdarah. Terus diilap oleh mereka yang peduli dengan ku.
"Septiani, kau tidak boleh seperti itu!" kata yang lain. Mengambil kembali daun yang bersih.
"Iya, makanya jadi Anak jangan jahat!" pekik Septiani memekakan telinga. Menunjukku dengan tatapannya yang tajam bercampur masam.
"Liyan, tidak pernah jahat Septiani," ungkap Widia membela.
"Heh! Kau sekarang baik sama dia. Besok kau tidak mau berteman dengannya. Hidupmu tidak jelas, kata Ibuku," cibirnya dengan pedas.
.
.
.
Bersambung...
Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku ya !🙏😊
__ADS_1