Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Keinginan yang mengekang


__ADS_3

"Sudah kak! Batunya sudah aku letakan," Mengangkat tubuhnya berdiri menghadapku.


"Apa kita harus bermain sekarang?!" tanyaku ingin tahu penuh penekanan.


"Kenapa Kakak bertanya seperti itu, lagi?!" tanya adikku mengulanginya kembali. Sedikit bosan.


"Entahlah! Kakak masih ragu," jawabku sedikit bingung. "Kita akan tetap melanjutkan permainannya atau tidak?!" Berdiri sambil berpikir.


Mendengar keraguanku, adikku kembali menekuk wajahnya. Dia seketika murung dan diam mematung sambil menatap batu yang di susunnya dengan lirih.


"Kenapa Kakak berbohong?" tanya adikku sedikit menangis.


"Kakak tidak bohong!" Menunduk menatap batu. "Kakak sedikit khawatir," Menatap dengan nada suara pelan.


Adikku hanya bisa diam mendengar ke khawatiranku. Dia semakin bergeming dengan air mata sedikit menetes.


Aku yang berdiri di hadapannya pun, seketika menarik napas panjang.


"Sebaiknya, kita bermainnya nanti saja, Dek." tolakku dengan lembut. "Setelah Ayah mengizinkan kita keluar," saranku.


"Ayah tidak akan mengizinkan kita untuk keluar, Kak," balas adikku dengan yakin. "Ayah tadi 'kan sudah menunjuk luar," lanjutnya. Melirik luar rumah yang panas.


Aku hanya mengerjitkan kedua bola mata memberi respon pada adikku. Aku pun kembali memutar kedua bola mata menatap dengan pandangan kosong sambil berpikir.


"Kamar kita kecil. Nanti kalau bolanya mengenai dinding. Ayah pasti bangun?!" Menatap adikku sedikit takut.


"Kalau begitu, aku akan bicara pada Ayah," usul adikku. Memutar badan.


Refleks aku menarik tubuh adikku. "Jangan! Nanti, kalau kau mengatakan pada Ayah. Apa Ayah mengizinkannya?" Menarik baju adikku dengan nada suara sedikit meninggi.


"Aku rasa begitu, Kak! Ayah pasti akan mengizinkannya," sambung adikku dengan percaya diri.


Kemudian aku melebarkan kedua bola mata menatap adikku dengan lekat.


"Itu tidak akan terjadi! Ayah tidak akan memberi izin! Yang ada malah, Ayah akan menyuruh kita untuk tidur siang, kau mau?!" Menatap bola mata adikku, mendengar jawaban darinya.


Semangatnya yang menggebu kini langsung terkulai. Meratapi ke inginannya yang gagal. Rasa kepercayaan yang telah dia dapatkan kini harus ditelannya dengan pahit.


Bola matanya pun seakan kembali berkaca-kaca. Aku melihatnya, dia ingin sekali menangis sambil mengadukan sama yang mau mendengarkan rintihannya.


Aku kemudian menghela napas sambil menetralkan tubuhku yang lemah, akibat penyakit yang menyerangku hingga membuatku depresi sampai saat ini. Berkali-kali, aku berusaha menenangkan adikku yang begitu mengekang, agar dia tidak menangis, tapi tidak berhasil sedikit pun.


"Jangan menangis, Kakak mohon!" pintaku dengan lembut kembali.


"Kakak jahat! Kakak tidak mau menemaniku," gerutunya dengan kesal. "Padahal kalau kita bermain. Kita bisa bermain dengan pelan, Kak!" sambung adikku sedikit keras.

__ADS_1


"Sst! Ya sudah! Kakak mengalah demimu," Menutup mulut adikku dengan tanganku. "Tapi ingat, kalau Ayah sampai bangun dan marah....," Mengayunkan telunjuk ke udara ke wajah adikku. "...kau harus menyelamatkan, Kakak!" kataku dengan ancaman sedikit tegas.


"Iya Kak! Aku akan menyelamatkan, Kakak," ucap adikku. "Kalau Ayah menghukum, Kakak! Aku akan ikut juga menjalani hukumannya, Kak," kata adikku tanpa bersalah sedikit pun.


"Apa?!" tanyaku terkejut. "Kau bilang apa, tadi...?!" Menatap adikku seakan tidak percaya dengan ucapannya. "...kau bilang, Kakak akan di hukum," Menyeringai menertawai diri sendiri. "Kakak lagi sakit, malah kau do'a 'kan Kakak akan di hukum Ayah, huh!" Memijat kening sambil mendengus. Menggeleng melihat kebodohan adikku.


"Bukan, Kak! Bukan begitu maksudnya," sanggah adikku. "Itu seandainya!" Menatapku. Berdalih dengan hebat.


"Jadi, kalau kau yang di hukum, bagaimana?!" tanyaku menantang.


Adikku langsung terdiam, memutar kedua bola mata sambil berpikir untuk mencari alasan yang tepat.


"Hm! Bagaimana?" tanyaku kembali menaikan alis menantang adikku. Menunggu jawaban.


Seketika dia terlihat kalap dan diam begitu lama memberi jawabannya. Berdiri seperti patung menghadap tubuhku yang lemah.


Aku terus menatapnya dengan tajam. Mengangkat kepala sedikit mengangguk sebagai isyarat menantang jawabannya.


Adikku hanya memonyongkan sedikit bibir memberi alasan, kalau dia tidak mau menjawab. Dia masih ingin tetap bertahan dengan kebisuannya.


Aku yang lelah berdiri di hadapannya pun, spontan memutar badan dan menyeret kakiku yang lemah duduk di tempat tidur.


"Kalau begitu, kita tidak jadi bermain," cetusku dengan senang. Menarik tubuhku yang lemah untuk berbaring kembali.


Sontak aku kalap melihatnya dan bangun menatap adikku yang berlari keluar. Aku begitu lemas ketika melihatnya.


Entah, apa yang ingin di kejar oleh adikku?! Entah, siapa juga yang ingin di temuinya? Sehingga membuat dia begitu antusias.


Aku langsung turun dari tempat tidur, mengintip adikku yang aneh dari balik tirai. Kedua bola mata yang redup, aku buka dengan lebar sambil memaksa tubuhku yang lemah berdiri, mengikuti langkah kaki adikku yang tergopoh-gopoh.


Perlahan aku mengikutinya, seperti pencuri melihat ke sana kemari sambil berjaga-jaga agar tidak ada yang mengetahui.


Tingkahku ini menggelitik hati hingga membuat bibir pucatku tersenyum geli. Mengintai adikku yang sedang memasuki kamar ayahku.


Perlahan tubuh lemahku berdiri di balik dinding kamar. Aku kemudian menempelkan sebelah telinga memasang pendengaran dengan tajam.


"Ayah! Ana bolehkan bermain bola kasti?!" tanya adikku dengan lembut memohon pada ayahku.


"Bermain bola kasti?!" Ayahku diam sejenak. "Bola kasti yang seperti apa? Ayah tidak tahu," sambung ayahku dengan polos.


"Bola kasti seperti ini, Ayah!" kata adikku. Sepertinya adikku menunjukkannya pada ayahku?!


"Ya bermainlah!" seru ayahku. "Tapi ingat, kalian jangan bermain keluar, ya," lanjut ayahku dengan penuh penekanan. Melarang.


"Baik Ayah," sahut adikku.

__ADS_1


"Kau akan bermain dengan siapa, Nak?" tanya ayahku ingin tahu.


"Sama Kakak, Ayah," lanjutnya.


"Jadi, Kalian ingin bermain di mana?" tanya ayahku kembali menyelidik.


"Bermain di kamar Ayah," jawab adikku dengan tegas.


"Di kamar?!" tanya ayahku sambil berpikir. "Kamar kalian 'kan kecil?!" kata ayahku penuh tanda tanya. "Jadi, kalau nanti bolanya memantul ke sana kemari, bagaimana?" tanya ayahku kembali penasaran.


"Kami bermainnya pelan Ayah," jawab adikku singkat.


"Baiklah! Ayah izinkan, kalau kalian bermainnya pelan," kata ayahku. "Tapi ingat! Jangan ada yang menangis, kalau terkena bola itu!" sambung ayahku dengan penuh penekanan.


"Iya, Ayah! Kami bermainnya akan pelan, Ayah," kata adikku. "Kalau begitu, Ana pergi dulu, Yah."


Langkah kaki adikku pun, terdengar dengan kencang. Berjalan keluar kamar dengan senyum sumringah sambil membawa bola kasti.


Aku yang lemah berdiri menatap adikku dengan kekesalan yang menggunung di pelupuk mata. Aku masih tetap berdiri mematung sambil mengepal tangan menatap adikku yang semakin menjadi-jadi.


Sontak dia terperanjat melihatku yang berdiri tepat di dinding kamar ayahku. Wajahnya seketika terhenyak dengan gugup dan menunduk dengan rasa sedikit bersalah.


Diam mematung sambil meremas bola kasti yang di genggamnya. Memutar bibir getirnya ingin memberi beberapa alasan yang harus aku dengar.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...



Nasib sial harus dialami Sabhira Irani karena rem vespa-nya blong, gadis itu tidak sengaja menabrak mobil mewah milik Barun Praya.


Disaat yang bersamaan, pria itu sedang kacau karena saham perusahaan anjlok akibat rumor kalau dirinya seorang 'homo'. Tanpa berpikir panjang, Barun mengambil kesempatan dengan memberi Sabhira pilihan.


"Menikah denganku atau mengganti rugi kerusakan mobil sebesar satu milyar?"


Manakah yang akan dipilih Sabhira?

__ADS_1


__ADS_2