
Di rumah kontrakan yang kecil. Aku dan adikku duduk bersama menatap luar rumah yang hampa. Hatiku begitu gelisah dan khawatir ketika mengingat akan ayahku yang sepanjang waktu mencari adikku sampai dia mengalihkan tanggung jawabnya kepada ibu sambungku. Tugas yang seharusnya dia emban untuk menyiapkan makanan untuk kami hari ini kini di alihkan oleh ayahku kepada ibu sambungku.
Sesekali aku melihat ayahku yang begitu mencemaskan adikku. Kerapkali dia memandang pintu rumah kami yang terbuka. Aku yang melihatnya dari tempat aku berdiri tepat di sudut pintu tengah yang menjadi pemisah ruang tamu dan dapur. Terlihat dengan jelas raut wajahnya yang menggambarkan bahwa ayahku begitu seakan berharap kalau adikku telah datang.
Ayahku yang lelah berpangku tangan hanya menunggu adikku dirumah. Kini dia mengayunkan kakinya dengan menyarungkan sandal dikakinya dan bergegas langsung pergi.
Mataku yang menatap ayahku begitu nanar. Kini teronggok dilantai sambil menahan tulang tubuhku yang mulai terasa nyeri. Detik-detik ayahku pun menghilang ditelan udara yang berhembus.
Aku yang teronggok dengan napas yang kini terasa panas. Mencoba mengangkat tubuh lemahku dengan begitu pelan. Aku yang ingin mengangkat tubuhku dengan setengah masih di udara terkejut karena mendengar suara tawa ria anak gadis kecil yang bernyanyi melangkah mendekat menuju rumah kami.
Begitu aku mengangkat kepalaku dengan tegak. Sontak aku terkejut ketika mengarahkan kedua bola mataku tepat ke arah pintu yang terbuka lebar.
"Ana, Kamu darimana saja?" Menatap adikku dengan begitu heran. " Kamu tahu tidak,dek! Ayah dari tadi mencari kamu terus. Begitu, juga dengan Ibu sambung kita dia, pun mencari kamu." Menatap adikku sedikit mendelik dengan tatapan yang tajam.
"Kak, bagaimana kalau Ayah mencari aku sampai malam kak?" Dengan wajah yang begitu ketakutan.
Aku yang duduk bersama hanya menatap adikku dan diam. Aku pun beranjak menuju dapur untuk menutup pintu dapur dengan tubuh yang tidak sehat.
" Kak, apa kakak sudah mandi?" Adikku yang duduk memutar sedikit badannya diiringi dengan kedua matanya mengikuti langkahku.
" Kakak tidak mandi!" Kataku dengan tegas sambil memegang pintu dan mendorongnya. "Kakak kan, sakit! Mana mungkin Kakak mandi." Jemari kecilku yang memegang kunci pintu.
" Tapi,kakak kan sudah minum obat,kan?" Tanya adikku yang terus menatapku dengan serius.
" Ia,tapi tidak belum ada kurangnya." Aku yang terus berjalan mengitari dapur sambil memeriksa melihat seluruh sudut dapur. Hanya diam dan mendengarkan apa yang dikatakan adikku kepadaku.
"Ana,kamu itu cepat pergi mandi! Nanti kalau Ayah kembali kamu belum mandi Ayah pasti akan bertambah marah. Kamu tahu, kan! Bagaimana? Kalau Ayah sudah marah." Aku terus memeriksa semua dapur kami dengan langkah yang lemah.
Panas tubuhku membuat diriku semakin frustasi. Panas yang tidak seperti biasa yang mendera tubuh mungilku selama ini. Seakan, ini jauh lebih tinggi dari pada hari-hari biasa. Wajahku yang polos kini seperti mengeluarkan
__ADS_1
aura api yang begitu positif.
"Ia, kak!" Adikku pun langsung bergegas menuju tempat mandian yang begitu sederhana. Aku yang berjalan menuju ruang tamu kami yang begitu sederhana melihat adikku berjalan sambil memegang handuk.
" Kamu tidak membuka pakaian seragam kamu Ana?" Aku yang bersandar didekat lemari kami dengan meletakkan tanganku di badan lemari tepat disampingnya. Memutarkan kepalaku sambil melirik adikku yang melangkahkan kakinya keluar menuju tempat pemandian.
"Engga kak." Adikku pun berjalan tanpa menoleh ke arahku sedikitpun.
"Kenapa?" Tanyaku dengan penasaran sambil menatapnya lekat.
" Ia,baju aku sudah bau kak." Sambil berjalan dengan wajah yang terlihat begitu datar. Aku pun melihat adikku mengambil perlengkapan mandi dengan begitu lekat. Adikku yang manja selalu membuat begitu banyak ulah didalam hidupku. Dengan keinginannya bermain yang begitu sulit dikendalikan. Adikku yang suka berbuat semaunya kini telah membuat aku, ayahku dan ibu sambung kami lelah. Bahkan, tidak terkecuali juga dengan Andrini dan Rahmadani juga mereka begitu simpati dan mau menolongku untuk mencari adikku dengan iringan langkah yang begitu ringan.
Setelah adikku menghilang aku pun memutarkan kembali kepalaku melihat lurus kedepan.
Aku pun melangkahkan kakiku yang lemah dengan terseok-seok. Pikirku pun kini terbang bebas mengingat ayahku yang sedang berada diluar rumah demi mencari adikku yang suka membuat semua orang gusar.
Matahari yang terik terlihat kini sudah mulai terasa semakin bersembunyi dibalik gumpalan awan yang tebal. Ayahku beserta ibu sambungku yang tadi pergi beriringan berdua kini kembali terlihat seorang diri.
Aku yang melihat ayahku kini menatap wajahnya yang lelah. Sesekali dia menunjukkan gurat wajah yang begitu banyak masalah dan mengerutkan keningnya.
" Ayah, kenapa ayah sendiri?" Tanyaku yang menahan tubuh lemahku.
"Ia,Ibu kamu tadi ada di sana. Dia berjalan di belakang Ayah mungkin dia lagi ada urusan." Ayahku yang melangkahkan kakinya masuk melihat aku yang teronggok di kursi.
" Bagaimana keadaan kamu,nak?" Ayahku yang berjalan menuju kamarnya dengan tertatih-tatih.
Aku yang melihat ayahku terdiam.
"Liyan,ini tas adikmu, ya?" Ayahku yang ingin masuk kedalam kamarnya terhenti seketika melihat apa yang ada dihadapannya.
__ADS_1
" Ia Ayah! Adek barusan pulang Ayah." Kataku dengan suara yang sedikit berat melihat ayahku yang begitu terpelongo.
" Adikmu sudah pulang?" Tanya ayahku sambil memegang tas adikku yang teronggok dilantai dengan wajah yang mengeluarkan api panas.
"I-ia, Ayah." Kataku dengan berat dan terbata.
" Dimana dia sekarang?" Tanya ayahku dengan wajah yang dipenuhi oleh amarah dan mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam kamar.
" Mandi Ayah." Dengan suara berat dan sedikit ketakutan.
Ayahku pun diam berdiri seperti patung.Dengan wajah yang ketat. Dia melihat kebawah sambil memutarkan kedua bola matanya. Ayahku pun menarik napas panjang dan berjalan keluar dari pintu dapur.
Sementara, ibu sambungku yang keluar tadi bersama ayahku belum juga terlihat sampai detik ini. Aku yang duduk di kursi pun kini berdiri seketika melihat.
Di depan pintu aku berdiri seorang diri tanpa henti memandang keluar. Aku yang berdiri masih menatap keluar dengan jengah. Ibu sambungku yang tadi keluar kini belum juga kembali. Angin semilir sore yang beranjak memasuki senja berhembus.
Kedua mataku terus menatap lurus. Tanpa beranjak dari pintu aku melihat segala apa yang ada di hadapanku. Seketika mataku tertuju pada seorang wanita yang berjalan dengan sedikit tergopoh-gopoh. Aku yang berdiri pun melihatnya dengan penasaran tanpa memalingkan wajahku dari wanita itu. Perlahan aku mengikuti langkah wanita yang aku lihat seakan menuju ke rumahku.
Semakin lama wanita itu semakin mendekati diriku yang berdiri. Setiap langkah kaki yang diayunkannya aku pun mengikutinya dengan lirikan kedua mataku yang tajam.
Semakin lama wanita itu semakin mendekat. Aku tak sedikit pun mengenali wanita yang terus berjalan hampir mendekati aku. Wanita itu pun kini mendekat dengan begitu cepat. Dia mengayunkan kakinya dengan kencang. Aku yang berdiri ntah, kenapa? Tidak mengenali dia sedikitpun. Begitu, dia mendekat aku pun terdiam seketika.
"Ibu,kenapa Ibu baru kembali?" Tanyaku dengan begitu penasaran.
"Ia, tadi berhenti sebentar." Kata ibu sambungku dengan datar dan wajah yang merasa tidak bersalah.
Aku pun menatapnya dengan sedikit menyelidik dengan membuka kedua mataku yang sayu. Ibu sambungku yang barusan tiba kini masuk dengan menerobos udara kosong.
Bersambung n
__ADS_1