Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kesenian yang mengusir lelah


__ADS_3

Kesibukan kantin pun kini telah selesai. Sekarang saatnya kami semua memasuki ruangan kelas.


"Jam mata pelajaran penjas telah berakhir. Sekarang kita masuk ke dalam kelas." Aku bergumam berdiri bergegas masuk.


"Tunggu! Aku mengikat tali sepatuku dulu. Sudah mau lepas tali sepatunya," teriak Septiani.


"Habis olahraga, kita makan jajanan di kantin. Apa guru tidak memarahi kita?" tanyaku pada Widia berdiri menunggu Septiani.


"Engga Liyan. Karena setelah olahraga kita 'kan ada jam istirahatnya," jawab Widia dengan lugas.


"Kenapa?" tanya Septiani mengagetkan.


"Liyan, dia takut, kalau guru akan memarahi kita karena membeli jajan di kantin," jawab Widia sembari menatapku.


"Iya, aku takut saja," sambungku berjalan bersama mereka masuk ke dalam kelas.


"Kalau pun kita di marahi oleh guru, 'kan ada Fikri dan Rasyd." Widia meledek Septiani setengah perjalanan.


"Huh! Mulai." Septiani menyeringai.


"Sudahlah, jangan ribut. Nanti kita terlambat masuk kelas," tegurku melanjutkan perjalanan.


"Yuk, melangkah dengan kencang," ajak Septiani dengan santai.


Kami bertiga pun kini mulai diam dan berjalan dengan kencang memasuki kelas. Dingin yang merasuki tubuh yang mungil memaksaku untuk berkonsentrasi mengatur langkah dengan baik. Paparan sinar matahari yang langsung menembus bumi membuat kedua pupil mataku mengecil.


Kini ruangan kelas pun kembali sesak dipenuhi oleh murid - murid kembali. Kegiatan belajar mengajar pun kembali di mulai seperti sebelumnya. Aku dan temanku pun menduduki bangku dan mengeluarkan buku dari dalam tas lalu meletakkannya di atas meja.


"Sekarang kita belajar menggambar," bisikku pelan pada kedua temanku yaitu, Widia dan Septiani.


"Cat gambarku ada atau tidak,ya?!" tanya Septiani sambil mengingat.


Aku dan Widia pun menarik bibir mendengarnya. "Kau sih, suka bermain orang- orangan dengan alat tulismu," cibir Widia.


"Setelah itu ' kan aku simpan," sambut Septiani mengatakan apa adanya.

__ADS_1


"Lalu, kenapa kau mengatakan seperti itu?" tanyaku. "Emang tadi waktu kau berangkat ke sekolah tidak menyusun roster, ya?" Aku kembali bertanya sambil melanjutkan perjalanan menuju bangku.


"Susun!" Septiani bergeming sambil mengingat. "Malam hari aku itu selalu menyusun roster. Seingatku sudah aku masukkan. Tapi terkadang adikku dia suka sekali memainkan tasku lalu mengeluarkan isinya."


"Adikmu seperti mu juga, ya?" tanyaku.


"Seperti ku? Seperti ku kayak mana sih ?" tanya Septiani dengan bingung.


"Suka bermain orang -orangan dari pensil atau alat-alat sekolah," jawabku.


Septiani kemudian diam memonyongkan bibirnya ke depan dan menggelengkan kepala.


"Seharusnya sebelum kau berangkat sekolah kau periksa kembali tasmu. Ada yang ketinggalan atau tidak," ucap Widia melihat ke arah Septiani.


"Aku malas," jawab Septiani dengan acuh memasuki mejanya.


Aku hanya diam mendengarnya sambil menaikkan kedua bahuku. Seiring berjalannya waktu, aku dan Widia pun telah sampai di bangku, begitu juga dengan teman-teman yang lainnya. Kami duduk dengan rapi dan tertib sambil menunggu guru melanjutkan mata pelajaran berikutnya.


"Selamat pagi Anak-anak!" sapa seorang guru kesenian memasuki kelas kami sambil tersenyum untuk mencarikan suasana hati kami yang telah lelah berolahraga. "Ini masih pagi 'kan?" tanyanya dengan bercanda melihat kami sambil meletakkan tas di atas meja.


"Ibu pikir ini sudah siang." Gurauan pun semakin terjadi dengan nada suara yang mendayu seperti, pelajaran yang dia bidangi yaitu, kesenian, ada melukis, bernyanyi dan juga menyulam . Untuk yang saat ini kami pelajari yaitu, menggambar bahkan, tidak jarang juga kami berlatih paduan suara untuk mengolah vokal suara kami. Terkhusus untuk anak yang ikut paduan suara.


"Waw, begitu menyenangkan hari ini," teriakku dengan girang.


"Senang? Apanya yang menyenangkan? Kamu baru dapat hadiah?! Boleh aku lihat?" tanya Widia meminta jawaban dengan mengacuhkan pandangan dariku.


"Bukan hadiah. Tapi hari ini menggambar. Aku suka menggambar," jawabku dengan bahagia.


"Ha!" Widia melongo mendengarnya dia pun langsung memutar kepala. "Mimpi apa kau tadi malam? Hari ini kau suka menggambar."


"Aku engga mimpi. Ini kenyataan Widia. Hari ini aku mau menggambar," sambungku memberi penegasan.


Widia hanya menaikkan sedikit bibirnya sebagai isyarat kalau dia menganggapku bercanda. Dia begitu acuh sampai tidak mau lagi melihat dan mendengarkan aku. Dia terus membuka tas dan mengeluarkan buku gambar dan cat air serta alat tulis yang lain yang di gunakan untuk menggambar oleh karena itu aku membungkam mulutku dan langsung duduk di bangku sambil membuka buku gambar.


"Keluarkan buku kalian, ya!" pinta Bu Damanik membuka lembaran buku yang terletak di atas mejanya.

__ADS_1


Bu Damanik! kami sering memanggilnya dengan sebutan itu karena kami lebih suka memanggil dia dengan nama Damanik. Padahal sebenarnya nama guru kesenian kami adalah Marnaik Parulian Damanik. Namanya cukup bagus tapi kami begitu sulit untuk menyebutkannya.


Setiap dia masuk ke dalam kelas kami, dia selalu seperti itu, bercanda dan bernyanyi dengan logat bataknya. Tak ayal kami semua kadang tertegun melihatnya dan juga tertawa mendengar candaannya yang menggunakan logat batak. Terkhusus, Solihin, dia sering bermain kata menggunakan bahasa Batak dengan ibu itu hingga guyonan yang berakhir dengan tawa pun terjadi. Kerap kali Solihin dan bu Damanik terlihat akrab seperti, teman yang sulit untuk di pisahkan. Solihin yang kesehariannya seperti, lakonan pelawak jelas dia tidak merasa canggung dan gugup ketika berinteraksi dengan bu Damanik.


Dia seolah telah lama mengenal guru kami ini. Setiap kali bu Damanik menjelaskan mata pelajarannya, dia selalu menggunakan gaya bahasa yang tidak membuat kami bosan. Dia pun sangat pandai menjadi guru sekaligus teman bagi kami sehingga membuat kami tidak begitu takut dengannya meskipun, wajahnya begitu galak.


Nada suaranya memang terdengar keras. Tapi hatinya begitu baik. Rasa simpatinya juga sangat tinggi. Apalagi terhadap murid yang tidak bisa menggambar atau pun bernyanyi.


Aku akui, aku memang salah satu murid dari sekian banyak kami yang tidak pandai menggambar. Apalagi kalau di suruh menggambar orang. Aku sering terjebak di hidung dan kepala, kalau bu Damanik sudah menyuruh kami menggambar orang, aku pasti manyun dan memelas. Berat rasanya hati ini mendengar perintah itu.


Namun, Bu Damanik sedikit pun tidak mempermasalahkan itu. Dia bersikap pro pada siapa pun. Dia selalu bilang, 'kalau tidak pandai menggambar orang tidak apa-apa, asalkan kalian mau mengerjakan perintah saya. Mau itu cantik atau tidak, itu tidak jadi masalah. Karena bagi saya bukan itu yang saya nilai. Akan tetapi, kepatuhan murid lah yang saya harapkan. Karena tidak semua murid menyukai pelajaran ini. Tidak semua murid juga yang bisa menggambar orang, apalagi kalian masih terlalu dini. Atau mungkin, kalian tidak ada bakat keturunan dari keluar kalian.' Itulah yang membuatku tidak begitu terkekang dengan bu Damanik.


Dia juga pernah bilang, 'banyak murid yang takut dengannya karena melihat wajahnya yang galak. Maka, dari itu sebisa mungkin dia harus bisa membuat dirinya berteman dengan murid -muridnya.


Setelah mendengar itu, rasa takutku hilang secara berangsur karena aku adalah anak yang terlalu penakut dan cengeng.


"Hari ini, Ibu ingin menyuruh kalian membuat sebuah gambar yang bertema air laut yang indah dengan gunung -gunung yang tinggi dan burung-burung yang beterbangan di atas air laut yang biru," pinta Bu Damanik dengan gerakan tangan melukis di udara dengan gayanya yang tomboi.


"Baik Bu. Kami akan mengerjakan perintah Ibu dengan segera," jawab murid yang lain.


"Tidak lama permintaan Ibu akan selesai." Solihin meletakkan buku gambar di meja dengan memberi candaan yang tidak melanggar kesopanan.


Bu Damanik tersenyum. Baginya, Solihin tidak melakukan kesalahan atas ucapannya karena mereka berdua memang sering bercanda terlihat seperti teman.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2