
Aku dan adikku yang berdiri melihat ayahku menghilang menjaga adikku agar adikku tidak pergi bermain yang nantinya membuat aku kewalahan untuk mencarinya.
Bagaimana pun aku harus bekerja dengan ekstra. Kelemahan tubuhku kini tidak bisa terkena angin terlalu lama.
" Kak, kakak masih sakit?" Adikku ingin tahu.
" Emang kenapa?" Dengan wajah penuh tanda tanya.
Sambil berjalan menuju kamar yang ingin aku masuki tadi. Tubuhku kini terasa kembali melemah seakan kedua kakiku tidak berdaya. Jemari tanganku yang hangat kini sudah mulai terasa dingin. Ingin sekali aku menghempaskan tubuhku segera. Mengembalikan stamina ku yang telah mulai menghilang. Lidahku kini mulai keluh dan terasa berat ketika berucap.
" Dek, kakak tidur dulu, ya." Aku yang memutarkan badanku meninggalkan adikku sendiri di depan pintu.
Mataku kini terasa sayu. Memaksa untuk melihat jalan yang akan aku lalui. Dengan gemerlap penglihatan yang melemah aku memaksa kakiku melangkah. Dengan perlahan aku menyeret kakiku yang lemah. Tiada berdaya lagi segala apa yang aku lakukan. Kekhawatiran pun kini memuncak didalam diriku yang abai akan kesehatanku selama ini.
Pintu kamar yang aku masuki kini mulai menunggu dengan keheningannya. Jendela yang terbuka lebar membawa angin luar masuk dengan sempurna kini aku tutup sedikit rapat.
Lidah ku yang berguna sebagai perasa makanan yang akan aku makan kini pahit seketika.
Aku Pun mengusap kedua jemari ku agar terasa hangat. Perlahan demi perlahan aku mulai merasa kan kehangatan dari jemariku yang aku usap tadi.
Tubuhku yang tadi panas terasa. Seketika dingin yang membuatku menggigil tak berdaya. Rasa kedinginan yang semakin memuncak yang berusaha aku tahan kini membuatku menyerah. Aku pun segera berjalan dengan terseok-seok menghampiri jaket yang tebal untuk menutupi tubuhku yang mungil. Dengan tangan yang gemetar aku berusaha mengambil jaket yang tergantung dari dinding kamarku.
Kakiku yang berat kini terasa dingin memijak lantai kami yang sedikit kasar. Spontan, kedua tanganku menyentuh kakiku yang kedinginan dan memaksa pikiran ku untuk mengambil kaus kaki yang dapat menutupi kakiku yang dingin.
Kaus kaki yang terlihat apa adanya. Aku pakai dengan tertatih. Tubuhku yang mengerang kedinginan membuatku harus menutupi tubuh mungilku dengan selimut tebal.
Adikku yang aku tinggal sendiri. Memanggil-manggil namaku. " Kak, kak, kakak dimana?" Suara panik nya pun terdengar tanpa henti. Langkah kaki seperti orang yang berlari ketakutan terdengar oleh telingaku.
" Kak, kakak dimana, ayo kita bermain!" Semakin lama adikku semakin mengeraskan suaranya.
" Ada apa? Kenapa kau teriak-teriak?" Suara ibu sambung kami terdengar begitu begitu keras dari dapur.
" Aku mencari kak, Liyan. Apa ibu melihatnya?" Tanya adikku dengan sedikit manja.
__ADS_1
" Engga tau aku! Tapi, tadi kan sama kamu berdiri di depan pintu itu!" Kesal yang masih terdengar dari nada suaranya.
" Ia, tapi tiba-tiba menghilang." Depresi.
Adikku yang kini semakin frustasi akan kehilangan diriku. Memaksaku berusaha mengangakat tubuhku yang menggigil. Untuk melihat adikku yang kini sepertinya dia sedang murung.
Aku pun berusaha memaksa kakiku turun dari tempat tidur. Kain yang tebal tadi menutupi tubuhku, kini aku tepis seketika. Kaus kaki yang aku pakai pun aku buka. Tak banyak kata yang terucap dari bibirku yang kecil. Hanya, gemetar yang berusaha aku tahan sekuat mungkin.
" Kak, kakak dimana?" Adikku kembali panik berjalan keluar mencari ku.
Aku yang berdiri didepan pintu kamar berusaha untuk menghentikan langkahnya yang bergegas keluar. Dari dalam aku melihat adikku berjalan mengitari halaman rumah kami sambil melihat kesamping rumah.
" Apa dek?" Dengan suara yang berat aku memaksa menyeret tubuhku menghentikan adikku yang seperti kehilangan induk.
Mata paniknya pun kini mulai terlihat nanar menatap hamparan yang luas.
Seketika, aku pun berdiri tegak di depan pintu. Melihat adikku yang belum juga menyadari kalau aku berada di dekat nya.
" Kak, kakak disitu," berjalan memutarkan langkahnya menghampiri aku.
Tubuhku yang tidak nyaman kini harus aku paksa untuk menemani adikku yang manja.Ia pun segera menghampiriku dengan mainan yang ada digenggamnya.
Aku yang berusaha menutupi tubuhku yang menggigil, tersenyum melihat adikku yang kini gembira. " Dek, Ibu itu mana?" Aku menatap adikku dengan lekat sambil menunggu jawaban dari nya.
" Kak, masak-masakan nya cantik, kan," mengayunkan masakannya ke udara.
" Ia." Aku sambil menjatuhkan tubuhku kelantai.
Aku masih menatap adikku dan mainannya yang teronggok berserakan. Dengan gembira adikku sambil tertawa riang ia bermain seorang diri.
" Dek, kamu tadi belum menjawab pertanyaan kakak," merasa khawatir adikku marah akan pertanyaan ku.
Wajah adikku sedikit masam mendengar itu. "Kak, kakak gak ada yang ingin di tanyakan lagi,"
__ADS_1
Dengan wajah kesal dan nada suara yang tidak menyenangkan.
Aku sedikit menarik bibirku dengan cemberut. Wajah malas adikku pun seketika tersirat dalam. " Kak, aku lihat kakak perhatian sama wanita itu," dengan ketus adikku melepaskan ucapannya.
Aku pun langsung diam dan terlihat seperti orang bodoh. Seakan aku malu sendiri kepada adikku.
" Tadi, Ibu itu pergi keluar kak," dengan wajah tidak suka.
Aku yang duduk disampingnya sambil menemaninya diam dan memalingkan pandanganku kembali melihat mainannya.
Panas yang kini menyinari bumi menembus kulit tubuhku yang mungil. Panas nya yang begitu hangat pun tak dapat membuat dingin didalam tubuhku hilang.
Aku yang teronggok melihat adikku yang asyik. Ingin segera beralih dan meninggalkannya. Aku semakin melemah rasanya, kini ingin segera beranjak.
Jujur aku tidak pernah melihat adikku yang seperti ini. Dia begitu gembira tak seperti biasanya. Aku sampai terharu melihat adikku. Tak terbayang betapa sulitnya ia untuk bertahan dirumah seperti ini.
" Ana, apa kau nanti bisa menyusun mainan kamu?" Tanya ku memohon kepada adikku.
" Bisa, kak," balas adikku.
" Tolong, jangan ada yang tercecer, susun sampai rapi semua." Memberi peringatan kepada adikku.
Aku memberikan contoh kepada adikku cara menyusun mainannya yang benar.
" Kak, coba lihat aku bisa kan, meniru kakak," dengan senang hati adikku mengikuti langkah- langkah yang aku ajarkan kepada dia.
Hasilnya lumayan bagus menurut ku. Jika, aku lebih sering mengajarinya maka akan semakin bagus lagi hasilnya.
Aku pun mengenal diri adikku yang selama ini tidak aku ketahui. Ternyata anak ini begitu supel. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan adikku menjadi anak yang jutek dan menyebalkan.
Aku berharap adikku bisa menyayangi dan berteman dengan aku. Kewajiban aku untuk adikku adalah menjaganya. Jadi, kedepannya aku harus jadi kakak yang jauh lebih baik. Memberikan contoh yang baik, bagus, dan mulia untuk adikku. Memberikan kasih sayang dan menjaganya dengan baik. Sehingga ia nanti menjadi anak yang baik. Agar ia tidak salah nanti saat ia sudah dewasa.
Bersambung.....
__ADS_1