Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Adikku Sudah Kembali


__ADS_3

Ayah dan ibu sambungku yang pergi keluar mencari adikku. Aku pun tidak mau tinggal diam juga. Disamping sakitku. Aku yang berdiri memasang badan untuk menjaga adikku yang manja. Ditengah sakitku yang mendera tubuh mungilku aku tetap harus berjaga memasang kedua bola mataku untuk melihat adikku yang sampai sekarang belum juga terlihat.


Dalam diam ku sendiri menantinya. Aku melihat jam dinding yang sudah berdenting menunjukkan perputaran yang sudah meyakinkan, akan tiba malam hari. Aku yang berdiri didepan pintu semakin cemas melihat langkah adikku belum juga kembali. Napasku pun sudah mulai terasa sesak melihat perputaran waktu yang terus silih berganti. Sementara, udara kini semakin malu untuk menunjukkan sinarnya yang terang.


Tubuh mungilku yang tidak begitu membaik masih tetap berdiri menemani diriku yang masih dipenuhi akan mimpi bahwa adikku telah kembali. Setiap aku melihat kebelakang tepat melemparkan pandanganku kearah kursi yang kerap kali digunakan oleh ayahku. Aku selalu merasa adikku telah kembali dan sekarang berada didalam rumah bersama kami.


Dalam lamunanku yang masih terjaga tiba -tiba aku sontak terkejut melihat keujung jalan yang setapak yang berdekatan dengan halaman rumah kami. Aku melihat ada seorang anak yang berjalan begitu perlahan dengan menggunakan pakaian putih. Aku pun seketika menatapnya dengan penuh lekat tanpa berkedip sedikitpun. Aku yang berdiri pun terus menatapnya sambil bertanya didalam diriku sendiri. Tidak berapa lama anak itu terlihat semakin mendekat dan raut wajah yang aku lihat seperti orang yang aku kenal. Aku tidak begitu melihatnya karena kedua mataku tidak begitu berfungsi dengan baik saat ini. Kedua mataku terasa berat untuk melihat sesuatau dengan jelas karena sakitku yang begitu menderaku tanpa kenal lelah.


Anak kecil yang aku lihat dari pintu dalam keadaan aku berdiri tadi. Kini mulai mendekat dengan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya yang hembusan angin.


Aku yang melihatnya pun kini mulai bertanya dengan kepala yang begitu sedikit terasa sakit.


Seketika aku membalikkan badan. Tiba-tiba aku mendengar suara yang mengagetkanku dan membuat aku sontak terperanjat.


" Kak!"


Aku yang berhenti pun menoleh kebelakang melihat siapa yang memanggilku.


"Ana!" Sontak aku terkejut melihatnya yang begitu santai dan tidak merasa bersalah sedikitpun.


" Kamu dari mana?" Dengan kedua mataku yang mendelik. Aku menatap adikku yang melangkah masuk kedalam rumah dengan sedikit kesal.


" Kak,aku tadi bermain dengan temanku." Menatapku dengan wajah yang sedikit merasa menyesal. Sambil melihatku dengan mata yang sedih.

__ADS_1


"Ia,tapi kamu tahu kan,kalau ayah panik tidak melihat kamu." Menatap adikku sedikit tajam dan mendelik.


"Ia,kak aku tahu. Tapi tadi orang kakak kan pergi berobat." Katanya dengan datar.


" Ia,tapi kan kamu tahu kalau kami kan tidak begitu lama. Kataku dengan penuh penegasan.


"Mana aku tahu kak." Adikku yang begitu terlihat santai tidak menoleh sedikitpun. Dia begitu asyik dengan permainan yang dia dan temannya tadi main kan terlihat dari wajahnya yang begitu polos. Masih mengingat dan bercerita kepadaku dengan begitu senang terlihat dari ekspresinya yang menggambarkan kebahagiaan. Sesekali dia sambil tersenyum sementara diriku yang begitu gerah hanya menatap dia dengan jengah.


Sesekali tawa jenakanya tersirat diwajahnya yang polos dengan antusias dia berprilaku seperti didalam sebuah drama.


"Ana kamu begitu senang, ya?" Aku menatap adikku dengan begitu penasaran dan sedikit penuh penyelidikan." Sementara, ayah dek dia dari tadi mencari kamu Sampai ayah sholat ashar tidak tepat waktu." Aku menatap nanar keluar dengan memutarkan badanku dengan wajah yang sedih.


Adikku yang manja pun kini mulai terhunus oleh kata-kata yang barusa aku ucapkan. Dia pun seketika menunduk dan tidak berkata apapun walau sepatah kata. " Maaf kak! Aku tahu kalau aku salah." Menatap ku dengan wajahnya yang lirih sambil teronggok dilantai.


Semakin lama semuanya terlihat semakin buram sedikit gelap. Ayah dan ibu sambungku belum juga terlihat.


"Kak, Bagaimana kalau Ayah marah besar kepada aku kak?" Dia yang teronggok masih memakai seragam sekolahnya. Menarik tas yang disandangnya ke pangkuannya.


"Kakak tidak di tahu dek." Aku yang berdiri menjawab pertanyaan adikku dengan pasrah dan pandangan kosong. Aku yang masih diam mematung meremas jemari kecilku yang lemah.


" Kak, kalau Ayah marah aku takut kak." Adikku terus saja merengek tanpa henti.


" Dek, kamu sih sudah tahu jam segini baru pulang. Kenapa kamu tidak dari tadi pulang? Kalau kamu takut Ayah akan marah." Kataku dengan kesal melirik adikku.

__ADS_1


Adikku pun diam. Aku yang melirik dia pun ikut diam dan berdiri tegak seperti patung menghadap keluar pintu.


" Kak, sebentar lagi malam. Kenapa mereka belum kembali juga kak?" Adikku yang gelisah seketika berdiri dan menatap keluar pintu. Dia pun berjalan dengan perlahan. Wajahnya kini terlihat ketakutan. Tubuh kecilnya begitu terlihat gemetar. Air mukanya begitu begitu panik dan sesekali berdecak dengan pelan.


" Kak, apa kakak melihat Ayah sudah datang?" Adikku yang berdiri di sampingku menoleh aku dengan wajah yang gusar.


Aku yang berdiri disampingnya juga menatapnya sekilas. " Belum." Melihat adikku dengan lekat.


Adikku pun kini berlalu dengan kaki yang lemah . Aku yang berdiri memutarkan badanku mengikuti adikku yang berjalan menuju kamar dan menghilang dari hadapanku. Wajahku yang datar melihat kekaca untuk melihat wajah pucat ku. Aku yang bergeming menatap lekat.


Ayahku yang hari-harinya sudah lelah. Melihat kondisiku yang lemas.


" Dek,Ayah sudah dari tadi menunggu kamu." Kataku dengan tegas.


Seketika adikku pun melihat halaman. " Kak,kalau begitu aku cari Ayah dulu ya, kak!" Melangkahkan kaki dengan cepat.


" Jangan dek!" Aku menarik tangan adikku spontan.


" Kenapa kak?" Biar Ayah cepat kembali kak. Ini sudah mau Maghrib kak. Nanti pasti Ayah marah sama aku kak." Dengan tegas adikku kembali mengayunkan kakinya dan menepis tanganku yang menggenggamnya.


"Dek, jangan kakak takut kalau kamu sama ayah tidak ketemu nanti Ayah bisa semakin marah.Kakak takut kalau kalian nanti jatuh sakit.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2