Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Pasar malam


__ADS_3

Jalan hening pun kami lalui memecah kesunyian dari beberapa pengendara yang melintas.


"Nak, kita sudah sampai. Kalian turun dan kemudian istirahat. Kalau ada yang mau mandi. Silakan mandi!" kata ayahku. Melirik kami yang turun membawa rantang. Di ikuti oleh kedua tangannya mensejajarkan becak berbaris rapi dengan dinding.


"Ayah, apa kita nanti malam gak bermain lagi?" tanyaku berdiri memegang rantang.


"Ngomong -ngomong, mau bermain kemana lagi ?" tanya ibu sambung. Berdiri sambil melipat kedua tangannya di atas dadanya. Memutar pandangan ke kanan dan ke kiri melihat aku, adikku dan ayahku silih berganti.


Ayahku sedikit gugup dan memutar pandangannya kembali melihat ke arah becak yang terparkir.


"Belum tau," jawab ayahku. "Kalau gak ada halangan malam ini kita akan keluar lagi," balasnya. Membawa tas ke dalam rumah.


Sementara aku dan adikku masih berdiri di luar bermain. Aku sangat gembira karena hari ini adalah hari pertama kami berekreasi bersama setelah sekian lama.


Bahkan semenjak ibuku meninggal ayahku selalu sibuk dan tidak pernah memikirkan untuk menghabiskan waktu bersama anak-anaknya.


"Keluar lagi?" ucap ibu sambungku dengan kesal melayangkan pertanyaan pada ayahku. "Kau 'kan tau keadaan ekonomi kita tidak terlalu baik," katanya dengan sebal.


"Aku hanya ingin membahagiakan kedua Anakku selagi aku masih hidup," tandas ayahku. "Itu pun tidak terlalu sering," tandasnya.


Aku berdiri dan mendengarkan perdebatan mereka yang terus saja terjadi.


"Ayah, aku mau bermain," pintaku dengan nada suara pelan bercampur sedikit takut memotong perdebatan mereka. Berdiri menaikkan kepala melihat ayahku.


Huh!


Aku menghela napas panjang mendengar perdebatan ayah dan ibu sambungku yang terjadi tadi.


"Nak, mau main kemana?" tanya ayahku. Menatapku dengan lekat bercampur wajah ingin tahu.


"Keluar, Yah," jawabku singkat. Berdiri memegang botol minum Mickey Mouse milikku.


"Lama?" tanya ibu sambungku langsung. Menaikkan kepala dan mengangguk.


Aku meremas botol minum dengan kuat.

__ADS_1


"Gak tau, Bu," jawabku pelan. Melihat lurus ke bawah tepat ke arah lantai.


"Nanti kau bermain lama dan tidak tau jalan pulang," lanjut ibu sambungku. Mengeluarkan isi tas.


"Tapi, baru bermain, Nak," sambung ayahku dari belakangku. "Kita baru saja kembali," katanya.


"Iya, Ayah tapi aku pengen bermain," balasku. Melirik lutut yang terluka .


"Liyan, kakimu baru terluka. Bagaimana nanti di sana kalau kau jatuh lagi?" ucap ayahku dengan khawatir bertanya. Berdiri tepat di hadapanku melihat lututku.


Aku diam dan menunduk mendengar kecemasan yang di berikannya terhadapku.


Sementara ibu sambungku yang masih mengeluarkan isi tas yaitu, pakaian dan celana yang masih bersih dan menyimpannya ke dalam lemari. Diam dan menoleh ke belakang tepatnya ke arahku yang berdiri di belakangnya.


"Ayah kalau aku boleh, ya!" kata adikku meminta izin langsung. Memeluk bonekanya.


"Ana, kalau Kakakmu tidak boleh, kau juga tidak boleh," terang ayahku dengan tegas. Mengayunkan telunjuk ke udara tepat ke arah adikku sebagai isyarat melarang kami agar tidak boleh keluar.


Bibir kecilku pun seketika kukerucutkan monyong ke depan. Sedikit kecewa dengan ayahku karena dia tidak ubahnya seperti yang telah lalu yaitu, masih berat hati untuk mengizinkan kami bermain di luar.


"Liyan, kalau di larang. Jangan lagi merengek minta main keluar," kata ibu sambungku memekik. Menyimpan tas ke dalam plastik dan menaruhnya di atas lemari. "Kakimu 'kan sakit. Masih juga mau bermain keluar. Di sana saja tadi kau kewalahan untuk berjalan berganti baju," tandasnya.


Sementara ayahku lagi duduk santai meneguk air minum sambil mendengarkan ocehan ibu sambungku yang senang mengomentari yang kami lakukan.


Lain halnya dengan adikku yang tidak terlalu mendengarkan ocehan itu. Bagi adikku ocehan ibu sambung kami adalah sebuah kata-kata yang keluar yang tidak memberi manfaat.


"Ayah, kalau aku keluar main-main. Aku gak sakit, kok," ucap adikku dengan gurat wajah yakin kalau dia tidak akan jatuh. Melihat ayahku yang duduk seorang diri masih menikmati secangkir air mineral.


"Ana," kata ayahku meletakkan gelas. " Ayah yakin kalau kau tidak akan jatuh, Nak. Tapi Ayah takut kalau kau bermain lari-larian dengan kawan-kawanmu dan akhirnya kau jatuh," tandas ayahku. "Karena Kakakmu juga sering bilang gitu. Tapi apa? Dia jatuh 'kan?" lanjut ayahku menjelaskannya.


Sementara ibu sambungku yang masih terlihat sibuk, sama sekali tidak menimpali apa yang dikatakan oleh ayahku sedikit pun walau dengan sepatah kata.


Ayahku sedikit diam menatap lurus tepat keluar pintu. "Bagaimana kalau nanti malam kita keluar lagi?" tanya ayahku pelan. Melayangkan tatapan menatap kami satu persatu.


Kami sontak terperangah menaikkan kepala dengan kedua bola mata membelalak. Melirik ke kiri dan ke kanan dengan gurat wajah penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Mau Ayah. Ayah serius 'kan?" kataku bertanya dengan senang padanya.


"Ayah, tidak bohong 'kan?" tanya adikku menghampiri ayahku dengan riang.


Ibu sambungku pun langsung. "Jadi, kau mau keluar lagi malam ini, ha?" pekiknya. Berdiri memutar, di ikuti oleh kedua tangannya memegang baju yang mau dia simpan ke dalam lemari. "Sudah uang tidak ada. Malam ini keluar lagi!" gerutunya meninggi.


"Mereka itu udah lama gak kubawa jalan-jalan," ucap ayahku sembari memeluk aku dan adikku.


"Itu 'kan karena kita tidak punya uang," balas ibu sambung kami sambil memasukkan pakaian yang di pegangnya tadi ke dalam lemari. "Coba kita seperti orang -orang. Punya banyak uang, rumah tidak ngontrak dan kerja Abang tidak membawa becak. Pasti kita bisa setiap hari jalan-jalan," ujar ibu sambung kami.


Aku langsung menaikkan kedua bola mata melihat ayahku yang sengaja memangku kami. Ayahku, wajahnya sangat sendu kulihat. Dia seakan memikul beban hidup yang berat. Wajahnya kini tersirat dalam ketika kulihat. Aku yang melihat ibu sambung kami terus mengoceh sepuas-puasnya.


"Jadi, nanti kalau tiba-tiba Anak Abang sakit. Pastilah uang yang akan habis lagi?! Alasannya la Anakku sakit..., Anakku sakit," cecar ibu sambung kami.


Ayahku hanya bergeming diam dan melirik aku dan adikku. Begitu juga dengan adikku yang duduk di pangkuan ayahku dan aku juga. Kami bertiga pun bertemu pandang menatap satu per satu di antara kami yang saling duduk.


"Kedua Anakku belum pernah mendapatkan kehangatan dan kasih sayangku dengan utuh semenjak aku menikah. Dan mereka pun, sudah sangat lama tidak mendapatkan kasih sayang dari Ibunya," ungkap ayahku mengeluhkan yang selama ini dia pendam.


"Jadi, kau benar-benar mau pergi malam ini?" tanya ibu sambung kami dengan antusias.


Ayahku hanya diam dan melirik istrinya itu. Sesekali ayahku menghela napas dan membuangnya dengan kasar.


"Cik, cik, cik!" Ayahku berdecak mendengar omelan dari istrinya itu. "Kau memang kebangetan. Hanya hari ini kita jalan-jalan ke luar dirimu sudah keberatan," kata ayahku dengan nada suara sesal.


.


.


.


Bersambung...


Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku ya 🙏🥰


__ADS_1


__ADS_2